
Satu minggu sudah kepergian Senja, membuat Langit semakin terpuruk dan merasa bersalah. Bahkan, pria itu tidak menghentikan pencariannya terhadap sang istri, seluruh anak buahnya ia kerahkan di setiap sudut kota untuk menemukan keberadaan wanitanya itu.
"Ada apa panggil gue?" Seorang pria memasuki ruangan Langit tanpa mengetuk pintu maupun mengucapkan salam itu langsung melempar pertanyaan pada sang Bos.
Langit buyar dari lamunannya, pria itu berdecak kesal melihat kebiasaan buruk asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Bisa nggak sih masuk itu ketik pintu." Kesal Langit, seraya menutup berkas yang harusnya segera ia tanda tangani, tapi malah menemaninya melamun meratapi segala kesalahannya pada istri kecilnya.
"Biasa juga begitu." Gerutu Dylan, tanpa ada rasa takut sedikitpun pada Langit.
Tidak ingin semakin memperpanjang perdebatannya dengan Dylan, Langit menatap serius pada Asisten pribadinya itu.
"Gue mau lo carikan arsitek terbaik di negara kita. Bila perlu dari liar negeri pun tak masala." Titah Langit.
Mendengar permintaan mendadak dari Bosnya, Dylan membelalakkan matanya tidak percaya sekaligus tidak mengerti. Sebenarnya Langit sering memerintah suatu hal secara mendadak, tapi kali ini sangat di luar nalar menurut Dylan. Bagaimana tidak, menemui arsitek tebaik itu harus memiliki janji temu terlebih dahulu, itu pun tidak bisa mendadak. Dan itu juga baru ingin bertemu, pertemuan pun belum tentu permintaan akan langsung di setujui. Ah, membuat Dylan menjadi semakin pusing saja.
"Lo mau bangun rumah, sampai cari cari arsitek?" Tanya Dylan, namun mendapat gelengan dari Langit. Dylan menautkan kedua alisnya tidak mengerti, namun dia tetap diam di tempat menunggu jawaban pasti dari sahabat sekaligus Bosnya ini.
"Gue mau ubah mansion sekalian isinya." Jawab Langit dengan santainya. Tidak tahu saja betapa terkejutnya Dylan mendengar jawaban dari Langit.
Apa tadi katanya? Mengubah mansion dan isinya? Ckckck, pria satu ini mau merenovasi mansion seperti akan membeli permen saja, tanpa beban. Bahkan orang yang mau beli permen saja memiliki beban.
__ADS_1
"Lo yakin?" Tanya Dylan, mencoba meyakinkan keputusan Langit. Siapa tahu saja berubah pikiran dan mengurangi kinerjanya sebagai asisten dari sahabatnya ini.
Namun lagi lagi Dylan harus menelan pil pahit kala melihat Langit mengangguk dengan cepat. Hal itu membuktikan jika keputusannya sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi.
"Kenapa?" Tanya Dylan lagi. Sepertinya pria ini sedang bersimulasi menjadi wanita yang memiliki kekepoan tingkat tinggi.
"Gue mau saat istri gue kembali, dia kembali dengan tenang tanpa memiliki rasa takut." Jawab Langit dengan yakin.
Sekarang Dylan mengerti niat Langit untuk merenovasi mansionnya. Dia hanya ingin kenyamanan untuk Senja saat wanita itu kembali. Baiklah, kali ini Dylan akan dengan senang hati membantunya, tidak terpaksa lagi.
####
Di sebuah negara, tampak sepasang suami istri paruh baya yang terdiam tanpa ada yang berbicara. Mereka sepertinya sedang menyelami pikirannya masing masing.
Sejak tadi Devi sudah merasa khawatir mendengar kabar tentang kepergian menantu kesayangannya itu. Apalagi ia mendapat informasi dari mata matanya kalau menantunya itu sedang hamil.
"Sudahlah Ma biarkan saja, toh Langit sudah menyesali perbuatannya. Biarkan dia mencari sendiri istrinya itu. Biar dia merasakan apa yang senja rasakan selama ini." Sahut David dengan santai. Sebenarnya dia sangat geram pada putranya yang sudah menyia nyiakan gadis sebaik Senja. Dan setelah gadis itu pergi barulah dia merasakan kehilangan.
"Tapi Pa, mama khawatir pada Senja." Keluh Devi, mengungkapkan kekhawatirannya.
"Kita kan sudah tahu keberadaan Senja Ma, apa yang perlu di khawatirkan? Senja baik baik saja bersama Alya sahabatnya." David mengingatkan istrinya supaya mengkhawatirkan sesuatu yang sudah mereka ketahui.
__ADS_1
Devi menghembuskan napasnya panjang. Dia baru ingat kalau dia dan suaminya memang memantau keadaan menantunya selama ini. Bahkan perlakuan Langit pada Senja dan juga perubahan Langit pun mereka mengetahuinya.
Bukan maksud mereka membiarkan Senja menderita di bawah tekanan putranya, Namun mereka ingin mereka memiliki waktu berdua dan saling memahami yang berakhir saling mencintai. Dan semua yang mereka harapkan terwujud, sayangnya semuanya terlambat karena putranya menyadari cintanya pada Senja setelah gadis itu sudah benar benar menyerah.
Entahlah, pasangan paruh baya itu hanya bisa berharap semoga saja anak dan menantunya bisa kembali bersatu.
Tiba tiba ponsel David berdering tanda notifikasi pesan masuk. David segera meraih ponselnya dan membaca pesan yang baru saja masuk itu.
"Gila!" Umpat David, membuat Devi yang tengah menonton tv menoleh seketika ke arah suaminya.
"Ada apa Pa?" Tanya Devi.
"Putramu benar benar gila Ma." Keluh David seraya mengetik sesuatu di layar ponselnya.
"Iya memangnya Langit kenapa? Apa dia main perempuan? Atau apa, jangan terus mengumpat." Sahut Devi. Wanita paruh baya itu sangat tidak suka saat mendengar anak atau suaminya mengumpat.
"Baca ini." David menyodorkan ponselnya ke arah istrinya." Dia mau merubah total mansion kita." Beritahu David.
Devi yang membaca pesan dari ponsel suaminya terbelalak. Di sana tertulis apa yang David ucapkan tadi, dan juga di sertai dengan alasan putranya ingin mengubah mansion keluarga William.
"Pa, segera cari psikolog terbaik untuk Menantuku, Mama nggak mau Senja terlarut dalam traumanya Pa, apalagi dia sedang mengandung cucu kita." Seru Devi dengan paniknya.
__ADS_1
"Papa sudah menghubungi psikolog terbaik untuk Senja, mulai besok terapi dengan psikolog itu. Papa juga sudah memberitahu dokter yang menangani Senja sebelumnya." Beritahu David, membuat Devi bernapas lega.
__000__