Langit Senja

Langit Senja
Reuni 2


__ADS_3

Senja kira, kata-kata sampah hanya akan keluar dari barisan para pria yang menyambutnya, Jingga dan Baskara tadi.


Tapi ternyata mulut perempuan juga tak kalah sampahnya.


Diakhir acara ketika mereka tengah menikmati hidangan makan malam, Diana, si musuh bebuyutan Jingga, datang mendekat dan ikut bergabung di meja yang Senja dan Jingga duduki.


Wanita dengan balutan mini dress dengan perpotongan leher rendah hingga memperlihatkan celah buah dadanya, juga bagian bawah yang jauh di atas lutut itu tanpa permisi duduk disana.


Tentu saja wanita itu bergabung bukan untuk saling sapa ramah. Tapi untuk mengacaukan suasana yang sebelumnya terbangun dengan damai.


"Gimana Ja, rasanya jadi saudara ipar Jingga?" Senja melirik malas mendengar pertanyaan itu. Karena Senja tahu dibalik pertanyaan itu pasti akan ada hal yang tidak mengenakan untuk didengar.


"Bersyukur karena yang jadi ipar gue bukan wanita sejenis lo!"


Bukannya tersinggung, Diana justru tertawa keras seakan apa yang baru saja Senja katakan adalah sebuah lelucon.


"Dulu lo nggak percaya sih sama gue, Ja. Padahal udah gue kasih tahu kalau Jingga sama Babas main hati di belakang lo. Ujung-ujungnya lo sakit hati sendiri kan?"


"Bukan urusan lo juga." Senja masih bisa menjawab dengan tenang dan acuh. Disebelahnya, Jingga menunduk dan bersalah atas apa yang terjadi diantara mereka dulu. Rasa bersalah pernah mengkhianati persahabatan mereka. Menyakiti sahabat yang selalu memperlakukannya dengan baik seperti Senja.


"Gue cuma kasihan aja sama lo. Pasti sakit banget kan ngelihat orang yang kita cinta mesra-mesraan sama sahabat yang paling kita percaya?" Diana terus saja mengompori hati Senja yang mulai panas. Bukan panas karena cemburu. Tapi panas karena marah pada Diana yang mengungkit masa lalu yang membuat persahabatannya pecah. Kenangan yang sudah ia tutup rapat dan ia buang kuncinya agar tidak lagi bisa ia kenang. Dan Diana datang mengacaukan suasana hatinya.


"Untung ada abang elo ya, Ja. Jadi Jingga bisa lo singkirin."


"Gue nggak pernah ada niat buat nyingkirin Jingga dari Babas, ya!" amarah yang berusaha Senja kendalikan akhirnya lepas juga. "Apa yang terjadi sama Jingga dan abang gue, nggak ada sangkut pautnya sama gue!"


"Woowooowoo... Sabar sis. Gue kan cuma lagi mengenang masa lalu. Bukannya itu tujuan kita bikin acara malam ini?"

__ADS_1


"Mengenang masalah sekolah! bukan mengenang masalah pribadi gue!" tekan Senja menatap nyalang kearah Diana.


"Jingga dan Baskara kan salah satu kenangan sekolah juga, pasangan fenomenal yang banyak dikagumi. Siapa sih yang nggak inget kisah cinta mereka?"


Senja meremat jemarinya dibawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Semenyedihkan itu lah ia dulu. Ditusuk dari belakang tanpa tahu apa pun. Beruntung ia memiliki pengalihan dan pengendalian diri yang baik. Membuatnya tak terlihat menyedihkan meski banyak tatap pasang mata yang menatapnya dengan rasa iba yang tak ia harapkan saat itu.


"Lo nggak curiga Ja? gimana bisa Babas dengan cepat move on dari kisah cintanya yang melegenda di Gemilang dan ngelamar lo dalam waktu dekat?"


Pertanyaan yang sama pernah terlintas dibenak Senja ketika Baskara melamarnya. Mempertanyakan apa tujuan Baskara mengajaknya menikah padahal mereka tak memiliki hubungan khusus.


Kedekatan yang kembali terjalin selama kurang dari satu tahun? bisakah itu menjadi alasan? mengingat betapa hancurnya Baskara ketika melihat Jingga menikah dengan kakaknya. Mengingat betapa cintanya Baskara pada Jingga saat itu.


Apakah Baskara benar-benar sudah melupakan Jingga dan tulus mencintainya?


"Aneh nggak sih? atau lo cuma jadi pelariannya aja?" suara Diana kembali menarik Senja dari ingatan yang seharusnya tidak perlu ia pertanyakan.


"Diana!" seru Jingga menginterupsi. Ia sudah melihat ekspresi wajah Senja yang mulai berubah. Ia tak mau Senja salah paham dengan suaminya sendiri dan membuat hubungan mereka berantakan. "Babas nggak mungkin mempermainkan Senja kayak yang lo bilang!"


"Woooahh lihat kan Ja? Jingga bahkan masih belain suami lo." Diana tertawa puas melihat ekspresi wajah Senja dan Jingga yang mulai terpancing dengan profokasinya. "Jingga nikah sama abang lo, Jadi bukan hal nggak mungkin Babas deketin dan nikahin lo biar dia bisa pamer kemesraan di depan Jingga dan buat Jingga sakit hati secara langsung."


"Jangan didengerin, Ja." Jingga sudah akan menggapai tangan adik iparnya dan mengajaknya pergi. Namun Senja menepisnya dan tetap memilih duduk disana. Membuat Jingga menghela napasnya berat.


"Lo nggak curiga kalau laki lo itu nggak bener-bener sayang sama lo?"


"Stop Diana! jangan lo lempar lumpur ke air yang sudah susah payah mereka saring bersih!" Jingga sudah sangat geram dengan mulut Diana. Terlebih melihat Senja yang hanya diam tak membalas apa pun seperti biasanya. Mungkinkah Senja terpengaruh dengan kata-kata Diana?


"Kenapa? atau elo masih punya hubungan sama Babas sampai sekarang? kalian nikahin kakak beradik biar nggak ada yang tahu kalau dibelakang mereka kalian diam-diam ketemu dan berselingkuh?"

__ADS_1


Senja membulatkan matanya dan menatap curiga pada Jingga. Apalagi mata anak kedua Jingga dan Farri tidak bulat kecil seperti kedua orang tuanya. Bentuk mata Sheina jika tersenyum lebih mirip Baskara yang seperti bulan sabit.


"Jangan percaya, Ja! gue nggak pernah ngelakuin hal menjijikan itu! lo kenal gue! gue nggak kayak gitu!"


Senja memejamkan matanya erat, menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Berharap apa yang menggajanjal dihatinya bisa keluar bersama dengan napas yang ia keluarkan.


"Mau lo datang ke sini tuh apa sih, Di?"


Diana mengedik. "Gue cuma mau nyapa teman lama. Kangen lho Ngga, dibeliin minuman sama lo." tatapan Diana dari Senja beralih ke Jingga.


"Lo udah selesai kan nyapa Jingga-nya? karena yang gue lihat dari tadi justru lo nyapa gue dengan hal yang manis." Senja menekankan kata manis untuk apa yang dia dapatkan dari Diana. "Jadi mending sekarang lo pergi deh. Keberadaan lo cuma ganggu pemandangan gue!"


Diana lagi-lagi tertawa menanggapi ucapan Senja. "Lo emang udah nggak terlihat tomboy dan bar-bar. Tapi mulut lo masih sama pedesnya." setelah mengatakan hal tersebut, Diana melenggang pergi meninggalkan Jingga yang menatap Senja panik. Takut sahabatnya itu salah paham.


"Ja?" Jingga sudah akan kembali meraih tangan Senja. Tapi kali ini Senja menghindar.


"Abisin makanya Ngga. Setelah itu kita pulang. Gue cari Babas dulu buat ngomong."


Jingga sudah tak bernafsu dengan makan malamnya yang baru tersentuh sebagian. Ia menatap punggung Senja yang menjauh dengan sendu. Tidak ingin lagi hubungannya dengan Senja berantakan seperti dulu. Setelah mereka sama-sama bahagia dengan pasangan masing-masing.


*


*


*


Btw aku ada cerita baru judulnya "you're my antidote" klik aja profilku. Kalau berkenan, mampir ya.. ramaikan karyaku itu juga ❤

__ADS_1


__ADS_2