Langit Senja

Langit Senja
Ekstra Part 4


__ADS_3

Hari ini ulangtahun ke 9 untuk Anna. Tapi tidak ada perayaan apa pun dirumah. Rumah justru sepi karena semua orang hadir digedung pertunjukan dimana Anna tengah mengikuti kompetisi Jakarta Open Piano.


Gadis cilik itu sudah berlatih dengan maksimal untuk membawakan dua musik klasik milik komposer besar dunia.


"Tenang sayang.. Tidak apa-apa. Apapun hasilnya, Anna sudah berusaha." Anna yang terlihat gugup karena peserta datang dari seluruh penjuru negeri itu pun ditenangkan oleh Senja.


"Kamu berani tampil saja. Daddy sudah bangga." imbuh Baskara turut menyemangati.


"Nanti kalau kamu gugup. Permainanmu jelek." Kai turut angkat bicara.


Anna terlihat menarik napas dan mengeluarkannya dari mulut secara perlahan. Berusaha menenangkan diri seperti yang selama ini mentornya latih.


"Ayo Anna bersiap. Sebentar lagi kamu tampil." Mentor Anna dari sekolah musik Tiara's S&E pun turut hadir mendampingi anak didiknya.


"Sebentar miss." izin Anna. Gadis itu memeluk sang mommy dan berucap. "Doain Anna menang ya mom. Anna ingin jadi juara. Bukan hanya sekedar tampil. Nanti pialanya untuk hadiah kelahiran adik-adik bayi."


Senja tersenyum hangat. "Mommy doakan sayang. Adik-adik juga pasti didalam perut mommy mendoakan kakak Anna. Jadi.. Kakak harus menampilkan kemampuan terbaik kakak tanpa memikirkan menang atau kalah."


Anna mengangguk dan beranjak karena namanya sudah di panggil.


Senja menghela napas. Jika Kai, rasa ingin tahunnya berlebihan. Anna si ambisius. Membuatnya kadang merasa takut salah dalam mendidik atau menyikapi cara kedua anaknya berposes untuk tumbuh.

__ADS_1


Ini adalah pertama kalinya Anna mengikuti kompetisi besar setelah hampir tiga tahun mengikuti kelas Piano. Hanya beberapa kali mengikuti even kecil untuk melatih mentalnya tampil diatas panggung dengan banyak penonton.


Senja takut putri sulungnya itu akan kecewa jika hari ini tidak bisa mendapatkan apa yang ia harapkan. Karena kecewanya Anna tidak seperti anak kecil yang merajuk dan setelah satu dua jam akan kembali seperti biasa. Kecewanya Anna akan mengurung diri selama berhari-hari di dalam kamar tanpa mau berbicara dengan siapa pun. Itu juga yang menjadi pertimbangan Senja dan Baskara menyembunyikan kehamilan saat itu. Mereka tidak ingin membuat Anna marah dan kecewa.


Sikap Anna adalah buah dari mereka yang terlalu memanjakan putri sulung mereka itu. Hanya karena merasa bersalah tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Anna ketika Senja mengandung Kaisar, membuat Anna tumbuh menjadi gadis yang segala keinginannya harus terpenuhi. Menjadi gadis ambisius dan sensitif.


Anna membawakan kedua lagu dengan baik. Setidaknya bagus bagi Senja sebagai seorang ibu dari anaknya yang tengah bermain Piano itu.


Melihat Anna diatas panggung, mengingatkannya pada sosok mommy Shevi yang ketika ia kecil, ia sering datang dan melihat neneknya itu mengadakan pertunjukan besar. Menjadi bintang utama diatas panggung megah yang membuat bangga anak dan cucunya.


Ternyata darah seni dan minat yang mommy Shevi miliki menurun pada Anna.


Bahkan diantara ketiga anak mommy Shevi, hanya aunty Reina yang mengikuti jejaknya. Itu pun hanya sebatas menjadi Mentor di sekolah musik. Bukan menjadi musisi terkenal seperti mendiang mommy Shevi.


Dan Senja berharap, darah seni yang ditinggalkan mommy Shevi, bisa Anna bawa menjadi musisi terkenal seperti neneknya itu.


***


Anna terlihat ceria meski piala yang berhasil diraih hanya posisi tiga. Entah apa yang sang Mentor tekankan pada Anna setiap hari hingga mampu membuat Anna menerima sebuah kekalahan.


Bagi Senja dan Baskara, posisi 3 dari ribuan yang mengikuti seleksi selama satu bulan terakhir, sudah luar biasa. Langkah awal yang bagus untuk Anna. Dan apa pun minat dan bakat anak-anak akan mereka dukung.

__ADS_1


"Yang penting kan Anna naik podium." begitu bocah cilik itu berujar saat Kaisar menanyakan perasaan kakaknya itu yang tak terlihat sedih seperti biasa.


"Ini aja udah keren banget, lho, kak." puji Baskara yang semakin membuat dada Anna membusung bangga pada dirinya sendiri. "Kita akan makan di restoran favorit kakak untuk merayakan ulang tahun dan kemenangan ini."


Anna bersorak senang. Tapi tidak dengan Kaisar. Karena ia lebih suka makanan Jepang dari pada makanan Barat kesukaan kakaknya.


"Nanti kalau Kai dapat juara saat olimpiade sains. Daddy pasti akan merayakannya di restoran Jepang, Kai." hibur Anna saat melihat wajah masam adiknya.


Kaisar mencebik. Mana mungkin ia mengikuti olimpiade sains diusianya kini. Ia masih membutuhkan beberapa tahun untuk dapat mengikuti ajang bergengsi yang ia impikan itu.


Senja menggeleng melihat kedua anaknya yang duduk dibangku belakang. Padahal tanpa perayaan apa pun sekalipun, Anna dan Kai sering diajak makan direstoran favorit masing-masing.


Tak hanya keluarga kecil mereka. Dibelakang ada tiga mobil lain mengikuti. Orang tuanya dan Baskara dalam satu mobil. Farri dan keluarganya, begitu juga Vinda dan keluarganya.


Keluarga besar mereka itu sudah antusias dari jauh hari untuk melihat penampilan Anna diatas panggung. Anna juga memaksa mereka untuk hadir dan mendukung.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2