Langit Senja

Langit Senja
Mencari Dalang


__ADS_3

Baskara tengah berbaring di brangkar ekstra yang disiapkan rumah sakit untuknya. Brangkar yang diletakan menyatu dengan yang istrinya tempati.


Disampingnya, baby Kai tengah terlelap dengan posisi kepala miring kearahnya. Memudahkan nya menatap wajah tampan putra kecilnya itu.


Sedangkan Baby Anna sudah berhasil dibujuk dan diajak pulang malam harinya ketika Alvaro dan Farri datang menjemput Jingga dan yang lain. Karena bagaimana pun juga, rumah sakit bukan tempat yang baik untuk anak-anak. Disisi lain, Baskara juga kesulitan menjaga putranya karena baby Anna tak mengizinkan ia untuk menyentuh baby Kai sedikitpun.


Kini hatinya tengah berbunga-bunga dengan rasa yang tidak dapat dijelaskan. Memiliki baby Anna adalah kebahagiaan yang tiada tara. Dan memiliki baby Kai merupakan pelengkap keluarganya.


Kini ia sudah memiliki sepasang anak perempuan dan laki-laki. Ia rasa dua anak cukup. Ia tak ingin lagi melihat istrinya kesakitan ketika melahirkan. Juga tak ingin lagi melihat istrinya melewati masa sulit ketika hamil dan membesarkan anak-anak mereka.


Apalagi yang ia harapkan. Ia sudah memiliki penghibur hati yaitu putri kecilnya. Dan ia sudah memiliki jagoan yang akan menjadi penerusnya. Baik penerus perusahaan maupun penerusnya untuk menjaga keluarga kecilnya ini.


Hari menjelang siang dihari ketiga Senja dirumah sakit. Hari pertama dan kedua banyak anggota keluarga mereka yang datang silih berganti. Membuat tekanan darah Senja yanh sudah mulai stabil kembali naik karena kurang istirahat. Untuk itu dihari ketiga ini Baskara melarang siapa pun untuk datang menjenguk.


Baskara pandangi wajah putranya yang terlihat damai begitu pintu ruang rawat diketuk dan sosok asistennya masuk kedalam kamar setelah ia izinkan.


"Kamu pasti ingin menjenguk putraku kan, Ndi?" Baskara hanya melirik dan kembali memandangi wajah putranya sembari langsung bertanya disaat Andi belum sempat menyapa Senja yang tengah duduk memakan buah yang ibu mertuanya siapkan.


"Sebenarnya hari ini aku melarang siapa pun untuk datang. Tapi berhubung kamu baru kembali dari luar kota, maka aku izinkan. Lihat, betapa tampannya dia." ucap Baskara dengan bangga begitu Andi mendekati brangkar yang ia tempati setelah sebelumnya memberikan selamat kepada Senja dan meletakan buah-buahan di nakas samping wanita itu.


"Kamu pasti iri kan? aku sudah memiliki putra dan putri yang tampan dan cantik. Sedangkan kamu yang lebih tua belum kelihatan hilalnya." ejek Baskara pada asistennya yang langsung dicubit oleh sang istri.


"Kamu tuh, mas!"


"Biar dia semangat cari pendamping, ayy. Kalau dia iri kan, dia makin gercep cari calon." jawab Baskara dengan bibir mengerucut mengusap pinggangnya yang sakit bekas cubitan istrinya.


Sedangkan Andi tak menunjukan reaksi apa pun. Hanya menghela napasnya berat. Sudah nasibnya memiliki atasan seperti Baskara yang sering mengejek kejomloannya.


"Kedatangan saya kemari selain menjenguk istri dan putra bapak, juga ingin memberi kabar tentang perkembangan pelaku-"

__ADS_1


Belum sempat Andi menyelesaikan ucapannya, Baskara sudah langsung berdiri dengan cepat dan berkata. "Kita bicarakan diluar." ekspresinya berubah serius. "Aku kedepan bentar ya, ayy. Kasihan Andi pengen ngopi enak. Bunda juga bentar lagi balik." imbuhnya lebih lembut dan ekspresi yang juga kembali lembut kepada istrinya.


Hari ini yang menjaga Senja memang hanya Baskara dan Pricilla. Tapi wanita paruh baya itu tengah keluar mengantar makan siang untuk suaminya setelah mengupas dan memotong buah untuk Senja.


Senja mengangguk. Meski ia tahu kepergian suaminya bukan untuk menjamu Andi dengan kopi. Karena jika hanya itu alasannya, kamar rawat inapnya sudah dilengkapi dengan pantry kecil yang lengkap.


Tapi Senja juga tidak ingin memaksa ingin tahu apa yang akan dibicarakan kedua pria itu. Karena suaminya pasti akan menceritakannya disaat yang tepat nanti.


***


Baskara membawa Andi ke cafe seberang rumah sakit. Ia sungguh-sungguh membelikan kopi untuk Andi dan dirinya sendiri.


Sejujurnya ia memang membutuhkan asupan kafein untuk membuat matanya tetap terbuka. Setelah semalam menemani putranya yang sedikit manja dan begadang.


Mungkin jika tadi Andi tidak datang, ia sudah menyusul putranya untuk terlelap. Tapi kini ada yang lebih penting dari waktu tidurnya.


"Jadi perkembangan apa yang kamu bawa?" tanya dengan menyesap kopi yang masih mengepulkan uap panas dan aroma yang tajam.


"Orang yang meracuni sapi-sapi sudah tertangkap. Tapi orang itu mengatakan jika tidak ada yang menyuruh atau menyuapnya untuk melakukan hal tersebut, pak."


"Motifnya?" tidak mungkin bukan, jika ada pegawainya yang dengan sengaja tanpa ada niatan tertentu. Apa lagi jika perbuatannya tidak memberinya keuntungan.


"Dia berdalih kesal pada manager yang memotong gajinya setelah tidak masuk selama sepuluh hari tanpa pemberitahuan."


"Bukankah itu wajar? padahal masih beruntung dia tidak dipecat."


Andi mengangguk setuju dengan pendapat atasannya. "Benar. Awalnya manager juga sudah akan memecatnya. Tapi begitu tahu alasan dia tidak masuk adalah karena ibunya yang meninggal dunia. Makanya perusahaan masih memberi kebijakan hanya dengan memotong gaji."


Baskara turut prihatin mendengarnya. Bagi ia yang masih memiliki orang tua lengkap tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya ditinggal oleh salah satu dari keduanya.

__ADS_1


"Ada santunan?"


"Ada pak. Perusahaan selalu memberikan santunan untuk karyawan jika ada anggota keluarganya yang meninggal dunia."


Baskara menakutkan jari-jarinya diatas meja. Masih merasa ada yang janggal. "Bukankah ini aneh? Serapi apa pun dia menyembunyikan perbuatannya, pasti polisi atau kita tetap akan menemukan dia sebagai tersangka. Dan keuntungannya untuk dia apa?"


Andi paham apa yang dimaksud bosnya. Karena sebuah tindakan yang bodoh untuk melakukan kejahatan besar seperti itu jika alasannya hanya karena gaji dipotong. Kecuali ada alasan besar dibelakangnya. Dan Andi juga sudah menyelidiki hingga sana.


"Dari hasil penyelidikan yang saya dan orang-orang yang kita miliki, dia berhutang pada rumah sakit untuk biaya perawatan dan operasi almarhumah ibunya. Biaya yang tidak sedikit untuk gajinya yang hanya sebagai karyawan kelas bawah."


"Aktifitas rekeningnya?"


Andi menggeleng. "Tidak ada aktifitas yang mencurigakan dari sana. Hanya ada uang masuk tiap bulan yang merupakan gaji dari perusahaan. Jika memang ada orang yang menyuapnya, kemungkinan uangnya langsung masuk kerumah sakit."


"Kamu sudah cek, atas nama siapa yang melunasi biaya rumah sakit?"


Bukan hanya Baskara yang kurang tidur menjaga bayinya. Andi bahkan tidak tidur demi menyelidiki kasus ini. Berpindah dari satu tempat ketempat lain untuk mendapatkan bukti yang akurat.


"Biaya rumah sakit diberikan cash oleh tersangka, pak."


Baskara menyugar rambutnya kebelakang dengan mata memejam frustasi. "Berarti orang ini sangat hati-hati dalam bermain dengan kita."


Ia melihat jam dipergelangan tangannya. Sudah terlalu lama ia meninggalkan istri dan anaknya. Ia khawatir ibunya belum kembali dan Senja kesulitan menjaga putra mereka.


"Pelakunya tidak perlu di penjara." putus Baskara yang membuat Andi kaget dan akan melayangkan protes jika Baskara tak menghentikannya dengan gerakan tangan. "Tapi minta seseorang yang bisa mengawasinya 24 jam. Jika memang ada dalang dibelakangnya. Orang itu pasti cepat atau lambat akan mendatanginya."


Andi mengangguk mengerti. Dan membiarkan atasannya kembali ke rumah sakit. Baskara sudah mengajukan cuti selama satu minggu. Jadi ia tidak akan mengganggu bosnya lebih dari ini.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2