
"DASAR WANITA NGGAK TAU MALU!!" teriak Jingga mengagetkan Keysha dan Farri yang terpaku di tempat.
Farri bukan takut. Ia hanya kaget mendengar teriakan istrinya. Lebih tepatnya tidak percaya Jingga bisa melakukan hal demikian.
Farri sudah beranjak ketika melihat istrinya tergesa mendekati Keysha. Ia takut emosi Jingga yang masih remaja membuat gadis itu bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
Pasalnya Keysha tengah hamil. Farri tidak ingin sang istri nantinya di salahkan jika terjadi sesuatu dengan Keysha dan kandungannya.
"Kakak tuh urat malunya udah putus, ya?!" bentak Jingga. Dugaan Farri salah, Jingga hanya berdiri seraya berkacak pinggang disebelah kursi tempat Keysha duduk.
Keysha terlihat bingung dan kaget. Kaget melihat ada gadis remaja yang membentaknya tiba-tiba.
"Si-siapa dia, babe?" tanya Keysha pada Farri dengan kening berkerut. Tapi tatapannya tak lepas dari Jingga yang masih menatapnya tajam.
"Gue istrinya. Kenapa?" tantang Jingga yang seketika membuat mulut Keysha menganga tak percaya.
Keysha menatap Farri yang tengah memijat dahinya. "I-ini bener? ka-kamu nikah sama anak kecil?"
"Seenaknya aja ngatain anak kecil! Gue udah lulus SMA tau!" sentak Jingga tidak terima dirinya diremehkan seperti itu.
"Sayang?" panggil Farri lembut menarik tangan istrinya untuk mendekat.
"Apa sih, bang?" Jingga menatap suaminya tak suka. "Awas! aku mau kasih tau cewek yang nggak tahu malu itu!" tunjuk Jingga pada Keysha yang kini sudah berdiri disisi lain Farri.
"Bisa-bisanya ya, lo ngelakuin itu sama cowok lain terus minta tanggung jawabnya sama suami gue?! Mikir dong, sesakit apa dulu lo nyakitin suami gue! dan dengan nggak tau malunya datang dengan perut besar minta suami gue buat tanggung jawab disaat bang Farri udah bahagia! Dasar wanita murahan!"
Farri merengkuh bahu istrinya. Mengusap lembut disana. Ia tidak habis pikir, kenapa malah menjadi panjang seperti ini.
Dan sejak kapan istrinya ada di ruangannya?
Kalau Jingga tidak ada disana, urusannya pasti sudah selesai karena ia hanya perlu mengusir Keysha dari ruangannya.
Toh ia memang tidak akan pernah menuruti permintaan mantan kekasihnya itu.
"Sayang?" Farri kembali memanggil istrinya dengan lembut.
"Apa?" sahut Jingga kesal. "Abang nggak terima aku katain cewek itu wanita murahan?!"
"Bukan gitu sayang.. Abang cuma nggak suka kamu ngomong kasar. Sama siapa pun. Nggak cuma sama Keysha."
"Tapi dia ngeselin, bang!" ucap Jingga dengan wajah yang terlihat jelas marah. "Bisa-bisanya dia mau ngerebut abang dari aku."
__ADS_1
Farri menggeleng dan menuntun istrinya untuk duduk di kursinya. "Nggak ada yang bisa ngerebut abang dari kamu. Abang selamanya hanya akan jadi suaminya Jingga Radika Putri. Nggak akan ada Jingga yang lain di hidup abang."
Keysha masih terpaku di tempat. Melihat semua interaksi keduanya. Ia juga bisa melihat betapa Farri mencintai istrinya. Tatapan mata teduh yang dulu selalu memujanya. Kini telah memuja wanita lain. Bahkan Farri tidak pernah berlaku manis dan lembut seperti itu dengannya dulu.
Farri yang bersamanya terlihat biasa saja dimatanya. Tapi kini pria itu terlihat memperlakukan istrinya sepenuh hati.
"Ya udah kalau gitu suruh dia pergi dari sini!" Jingga masih memasang wajah ketusnya. "Aku nggak mau abang ketemu sama dia lagi!"
Keysha terkekeh kecil mendengarnya. "Dasar anak kecil!" gumam Keysha kesal.
"Abaaang aku dikatain anak keciiiiilll." adu Jingga pada suaminya dengan merengek.
Farri menarik napasnya dalam dan menghelanya perlahan. Ia menatap Keysha. "Lo udah lihat sendiri kan?"
"Gue udah punya tanggung jawab sendiri. Gue udah nikah, dan hati gue udah milik istri gue sekarang."
Keysha tertawa remeh. "Segitu putus asanya kamu putus dari aku sampai harus menikahi anak kecil?"
"Gue rasa, gue nggak perlu cerita apa pun tentang pernikahan gue ke elo. Karena lo bukan siapa-siapa gue." ujar Farri dingin membuat Jingga tersenyum puas dan menjulurkan lidahnya pada Keysha yang membuat wanita itu geram di buatnya.
"Dan itu pintu keluarnya." tunjuk Farri pada pintu ruangannya yang sudah ada Ana yang berdiri disana. "Gue rasa lo tahu apa yang harus lo lakuin sebelum gue telfon security."
"Jadi istri kecilku... Sejak kapan ada dikantor, hm?" Farri mengangkat tubuh sang istri agar ia bisa duduk di kursinya. Mendudukan sang istri duduk di atas pangkuan menghadapnya. Bertepatan dengan pintu ruangan yang tertutup.
Jingga malah cengengesan. "Aku keren nggak, bang?" bukannya menjawab, gadis itu malah balik bertanya.
Farri merapikan rambut sang istri dan menyelipkan kebelakang telinga. "Belajar bar-bar dari siapa sih, hm? dari Senja?" Farri mencubit gemas hidung sang istri.
Jingga mengangguk bangga. "Kata Senja, aku nggak boleh lemah apa lagi kalah. Soalnya diluar sana banyak yang suka sama abang. Jadi aku harus bisa mempertahankan abang sebagai miliknya aku seorang." dengan manja Jingga menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Tangannya sudah mengalung di leher Farri sejak pria itu mengangkat tubuhnya.
Farri hanya terkekeh dan menggeleng kecil. "Jadi sejak kapan di kantor?" tanya Farri kembali ke pertanyaan yang belum istrinya jawab.
"Dari siang." Jawab Jingga cepat.
"Dari siang?" tanya Farri dengan mata melotot tak percaya. "Kenapa nggak kabarin abang, kan abang bisa balik dulu ke kantor."
Jingga menggeleng.
***
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Ketika Jingga beserta satu angkatan tengah merayakan euforia kelulusan, tiba-tiba kepalanya pusing dan pandangannya kabur.
__ADS_1
Hampir saja Jingga pingsan di lapangan di tengah siswa-siswi yang tengah antusias mencorat-coret seragam temannya satu sama lain.
Beruntung ada tangan kokoh yang menahannya sebelum ambruk. Dengan kondisi setengah sadar ia melihat Senja panik dan langsung meminta Baskara yang ternyata yang memegang bahunya untuk membawanya ke UKS.
Senja masih setia menemaninya ketika seorang dokter jaga memeriksanya. Hanya Baskara yang langsung meninggalkan UKS begitu selesai membaringkannya disalah satu brangkar.
"Sepertinya Jingga tengah hamil." ucap dokter wanita ragu-ragu. Karena tidak ada yang tahu jika dirinya sudah menikah.
Dokter itu sampai heran begitu Senja terlonjak senang dan langsung memeluknya. "Abang pasti seneng banget kalau tahu lo hamil."
"Pacarnya?" tanya dokter masih dengan kerutan didahi. Tidak mengerti kenapa hamil di luar nikah tapi Senja begitu bahagia mendengarnya.
"Suaminya dok. Dia sudah punya suami kok." jelas Senja tidak ingin dokter salah paham seraya menegakkan tubuhnya melepas pelukan mereka.
"Ooh." dokter itu ber-oh lega. Karena dugaannya salah besar.
"Maaf tadi hampir saja salah paham. Selamat ya Jingga, tapi untuk lebih akuratnya kamu benar hamil atau tidak, bisa di tes dulu dengan tespek atau langsung ke dokter kandungan untuk di periksa."
Jingga tidak menjawab, masih memantung dengan posisi berbaringnya. Sejak mendengar kata hamil, ia tidak bisa berkata apa-apa. Ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dadanya. Bahkan rasanya sampai sesak karena begitu banyaknya kupu-kupu itu. Semakin ia meyakinkan jika itu nyata, rasa bahagianya semakin besar.
"Sa-saya hamil, dok?" tanyanya dengan suara tercekat.
"Iya. Selamat ya Jingga."
"Gu-gue hamil, Ja?" tanya ganti pada sang adik ipar sekaligus sahabat. Matanya sudah berkabut. Rasanya dirinya begitu bahagia saat ini.
"Iya. Lo hamil Jingga. Lo bakal jadi ibu. Abang jadi ayah. Gue jadi aunty." Senja kembali memeluk Jingga dan mereka menangis haru bersama.
*
*
*
Eh ngegantung lagi...
Kebanyakan nanti babnya gaes...
Jadi buat bab selanjutnya saja ya...
Love sejagat untuk kalian ❤
__ADS_1