
Senja sudah dirias cantik dikamar hotel yang ditempatinya. Bukan kamar pengantin. Senja bahkan tidak tahu seperti apa kamar pengantinnya dengan Baskara. Begitu juga pria yang sebentar lagi akan menjadi suami Senja. Keduanya menempati kamar yang berbeda dengan kamar mereka nanti malam setelah sah sebagai suami istri.
"Jangan tegang Senja. Lihat tuh keringat di dahi lo! untung MUA-nya bagus. Jadi nggak ngerusak penampilan." Jingga membantu mengeringkan keringat sebesar biji jagung di dahi adik iparnya itu dengan hati-hati. Mereka sudah berpindah keruang tunggu yang ada di Ballroom.
Didalam sana, Baskara tengah mengucapkan janjinya pada Tuhan dihadapan penghulu.
Jingga dan Fani-istri Vindra-diberi tugas untuk menemani Senja hingga kedua mempelai pengantin itu sah dan membawa Senja kepada imam masa depannya. Karena Senja tidak memiliki banyak teman, jadilah keluarganya sendiri yang menjadi Bridesmaid.
"Lo dulu deg-degan gini nggak sih, Ngga?" Senja sangat gugup. Bukan mengkhawatirkan Baskara yang akan salah mengucapkan namanya. Namun entahlah, Senja tidak pernah merasa segugup ini dalam sejarah hidupnya.
Jingga berdecak. "Gue mah cuma sedih aja dulu. Perasaan kita saat menikah itu beda Senja. Lagian gue nikah kan duduk disebelah abang. Nggak dipisah kayak lo gini."
Senja menoleh saat mendengar nada sendu dalam jawaban Jingga. "Sorry Ngga. Gue lupa tentang itu. Yang penting kan sekarang lo udah bahagia."
Jingga tersenyum dan mengangguk. Ia paham apa yang Senja rasakan saat ini. Meski ia tak merasakan hal yang sama dulu.
"Nanti juga tegangnya hilang kalau sudah keluar dan bertemu Baskara yang sudah berubah status menjadi suami kamu. Kakak juga dulu gitu." Fani mencoba membantu menenangkan perasaan adik iparnya. "Nikmati aja rasanya. Biar kamu ingat betapa gugup dan bahagianya kamu hari ini."
Senja tersenyum ke arah kakak iparnya. Wanita yang belum lama melahirkan itu masih terlihat sangat cantik. Pemikiran dan tutur katanya pun berbeda dengan ia dan Jingga yang lebih muda beberapa tahun.
"Anak-anak nggak pada nangis sama daddy dan papanya?" tanya Senja heran pada Jingga dan Fani yang membiarkan kedua kakaknya yang jarang dirumah untuk mengasuh anak.
"Biar mereka belajar ngasuh anak." jawab Jingga dan Fani kompak. Disusul derai tawa dari ketiganya.
Senja mengehela napasnya lega. Setidaknya keberadaan Jingga dan Fani sedikit mengurangi gugup didirinya.
***
Dalam susana hati yang sama, Baskara tengah duduk dihadapan penghulu dan calon mertuanya. Dikanan dan kirinya sudah duduk para saksi dan disaksikan seluruh tamu undangan. Karena acara ijab kabul langsung resepsi, jadi yang menyaksikan dan turut mendoakan lebih banyak.
Telapak tangan Baskara berkeringat. Jantungnya bertalu-talu sekaan ingin keluar. Kakinya tak berhenti bergerak dibawah meja. Ia bahkan sudah beberapa kali ke toilet sebelum acara karena terlalu gugup.
Penghulu sudah selesai dengan nasihat untuknya sebagai kepala rumah tangga yang tak hanya bertanggung jawab dalam hal dunia tapi juga akhirat. Mampu mendidik anak dan istrinya dengan baik.
__ADS_1
Kini, penghulu memintanya berjabat tangan dengan Alvaro. Tangan yang sama dinginnya dengan miliknya.
Sepertinya tidak hanya kedua mempelai yang gugup. Tapi juga Alvaro sebagai wali dari putri satu-satunya. Berkali-kali pria tiga anak itu mengusap dahinya yang berkeringat. Juga menelan ludah berulang kali.
Ia sudah pernah menjadi wali untuk adiknya karena sang ayah yang sudah tiada. Tapi rasanya kali ini berbeda. Karena gadis yang akan ia lepas tanggung jawabnya adalah putri kandungnya. Buah cintanya. Dimana darahnya mengalir dalam tubuh Senja.
Bahagia, sedih bahkan ada rasa sedikit berat melepas Senja untuk pria lain. Ia ingin memiliki Senja bersama istrinya hingga akhir hayat. Tapi ia tak bisa bersikap egois seperti itu. Dan ia tersadar dan mengikuti apa yang penghulu sudah ajarkan padanya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Baskara Lazuardi bin Aldo Lazuardi dengan putri saya Senja Maharani binti Alvaro Kaisar dengan maskawin berupa tabungan emas murni seberat 1,7 kg. Dibayar tunai!"
Baskara menarik napasnya panjang dan menjawab lantang. "Saya terima nikah dan kawinnya Senja Maharani binti Alvaro Kaisar dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"
Penghulu menatap kedua saksi. "Bagaimana para saksi, Sah?"
"SAH!" tak hanya saksi yang menjawab tapi seluruh tamu yang hadir. Dan ucapan syukur menggema didalam ruangan.
Baskara mengedip berkali-kali dengan tak percaya. Benarkah baru saja ia menikahi Senja?
Tolong seseorang katakan padanya jika Senja sudah menjadi istrinya!
Ia tak percaya. Semua terasa seperti mimpi. Mimpi yang sangat indah dan ia ingin selamanya berada disana.
"Pah? ini Senja udah jadi istri aku?" tanyanya polos pada pria yang beberapa detik lalu sudah sah menjadi mertuanya.
Pertanyaan Baskara mengundang tawa orang yang ada disana. Karena pengeras suara didepan Baskara masih on.
"Iya. Senja sudah menjadi istri kamu sekarang." jawab Alvaro menepuk bahu menantu barunya pelan. "Papa titip Senja. Tolong jaga dan bahagiakan dia."
Baskara mengangguk dengan senyum dari telinga ke telinga. "Yes! akhirnya!" serunya cukup keras meski tak berteriak. Namun tetap saja hadirin yang datang mendengar dan semakin terdengar tawa berderai.
Doa dipanjatkan untuk kedua mempelai agar bisa menjalankan bahtera rumahtangga dengan lancar. Bahagia dunia dan akhirat.
Pembawa acara membimbing Baskara untuk berdiri menyambut mempelai wanitanya yang tengah berjalan diapit dua wanita yang juga sama-sama cantik. Namun di mata Baskara tak ada yang secantik istrinya kini.
__ADS_1
Senja berjalan memasuki ruangan yang sudah dipenuhi tamu undangan. Karpet terbentang membawanya pada pria yang sudah resmi menjadi suaminya. Langit-langit ballroom dipenuhi bunga putih seperti kapas dan hiasan kristal bergelantungan. Tak lupa lampu kristal dibeberapa sisi.
Ruangan didominasi dengan warna putrih dan baby pink. Dresscode untuk tamu undangan juga baby pink untuk wanita. Dan hitam untuk pria.
Senja terlihat sangat cantik dengan gaun yang ia desain sendiri. Meski bukan gaun bertabur berlian, namun tak mengurangi sedikitpun kecantikan pada wanita paling berbahagia itu.
Begitu juga dengan Baskara yang terlihat lebih berwibawa dan tampan dengan tuksedo yang ia kenakan.
Baskara menyambut Senja menggantikan Jingga dan Fani. Menatap lama mata indah yang di balut bulu mata lentik. "Sekarang aku udah boleh cium kan?" izin Baskara pada istrinya.
Senja menuduk malu dan lebih dulu mencium telapak tangan Baskara. Tangan yang akan bekerja keras untuk menghidupinya dan anak-anak mereka kelak.
Tanpa ragu Basakara mencium dahi Senja dengan lembut dan cukup lama. Tepuk tangan menggema melihat pemandangan itu. Ada juga beberapa yang mengabadikan moment tersebut.
"Hai istri." sapa Basakara lembut setelah melepas ciumannya.
Senja berdeham dan membalas. "Hai suami." menyambut semburat merah di wajah keduanya.
Baskara meletakan tangan Senja di sikunya dan membawa wanitanya itu berjalan menuju pelaminan. Dengan senyum bahagia yang mereka bagi pada tamu yang hadir.
Disisi lain, ibu dari kedua mempelai tak henti menyusut air mata mereka. Merasa terharu sekaligus tidak menyangka bayi yang rasanya belum lama mereka lahirkan kini sudah besar dan menikah.
Doa tak henti keduanya panjatkan demi kebahagiaan putra putri mereka. Karena kebahagiaan Senja dan Baskara adalah kebahagiaan mereka juga.
*
*
*
Maskawinnya jika sesuai harga emas sekarang 864.000 x 1.700 \= 1.468.800.000 ya kurang lebih 1,5M lah ya.hihihi
__ADS_1