Langit Senja

Langit Senja
Merindu


__ADS_3

Harinya kini terasa hampa. Tidak ada lagi yang membangunkannya di pagi hari dengan panggilan telepon. Tidak ada lagi yang bisa ia tanyai melalui videocall tiap ia akan memasak. Dan tidak ada lagi yang mengirimnya pesan hanya untuk menanyakan hal remeh. Tapi hal remeh itu membuatnya bisa tersenyum. Dan kini tak ada lagi senyum ketika ia membaca pesan yang masuk pada ponselnya.


Baskara benar-benar menghilang. Bahkan Senja sudah menghubungi pemuda itu puluhan kali dan tak satu pun yang dijawab. Dan tak jarang panggilannya langsung ditolak. Begitu juga dengan pesan yang ia kirim yang hanya berubah centang menjadi biru. Pertanda pesannya dibaca namun tak pernah ada balasan.


Itu semua sedikit membuat Senja kesal. Namu lebih banyak rasa hampa tanpa kehadiran sahabatnya itu.


Padahal beberapa minggu lalu Senja merasa kesal dengan kehadiran Baskara dan segala aturannya. Namun kini ia justru ingin melihat pemuda itu muncul di apartemennya secara tiba-tiba.


"AKHHH BABAS SIALAN!" maki Senja ketika ia tengah menikmati makan siang di kafetaria kampus. Teriakannya menarik perhatian beberapa orang yang berada dimeja tak jauh darinya.


Untungnya Senja berteriak dengan bahasa ibunya. Sehingga tak satu pun orang yang tahu apa yang ia katakan.


"Hei. Sepertinya kau terlihat murung minggu ini?" Maureen yang ada dihadapannya juga merasa bingung dengan tingkah gila sahabatnya. "Seperti orang yang tengah bertengkar dengan kekasihnya. Padahal kau jomblo." kelakar Maureen lengkap dengan kekehannya.


Senja menatap tajam sahabatnya. "Aku bukan jomblo! tapi aku single karena pilihanku sendiri." protes senja dengan nada kesal. Meski ia tak sungguh-sungguh kesal dengan Maureen.


"Ya ya ya.. Lalu kenapa wajahmu selalu kusut seperti jahitan yang belum disetrika?"


Terdengar helaan napas panjang Senja. "Entahlah. Aku sendiri tak tahu." akunya.


"Apa kau ingin ikut kami berpesta besok malam. Besok malam minggu, kita bisa berpesta dan kau bisa menghilangkan sesuatu yang mengganggu pikiranmu itu."


Senja menggeleng, meski Baskara mengacuhkannya seminggu ini. Bukan berarti ia juga mengacuhkan pesan pemuda itu untuk menghindari club malam dan minuman kerasnya. "Tidak. Kau tahu aku tidak di ijinkan lagi untuk pergi ke club atau orang tuaku akan membawaku kembali ke Jakarta. Lagi pula kau tahu aku tidak minum alkohol, jadi tak ada bedanya mau pesta atau tidak."

__ADS_1


Maureen masih tak mau kalah. Ia merasa waktunya bersama Senja semakin berkurang. Mereka hanya bertemu di kampus. Tak pernah bertemu lagi di luar kampus atau pun weekend. Kecuali mereka datang ke Fashionweek bersama.


"Bagaimana kalau pestanya di apartemenmu?" tanya Maureen antusias dengan ide yang menurutnya brilian. "Kau tidak perlu pergi ke club malam bukan?"


Kelopak mata Senja memicing. "Maksudmu kalian akan membawa minuman keras kedalam apartemenku?" dan langsung dibalas anggukan semangat oleh sahabatnya.


"Tidak. Tidak." tolak Senja seketika. "Aku bisa digantung ibuku kalau dia tahu ada yang meminum minuman keras dalam apartemen."


"Ayoolah, ibumu jauh di Jakarta. Dia tidak mungkin tahu kalau kita berpesta minuman keras diapartemenmu." bujuk Maureen. Berharap Senja meloloskan permintaannya kali ini.


"Apa kau lupa dengan Baskara? dia selalu datang dihari sabtu dan pulang minggu sore." tuturnya membuat Maureen seketika kecewa ketika mengingat hal tersebut. "Bisa-bisa aku sudah di gantung terlebih dahulu olehnya sebelum orang tuaku."


Senja bergidik ngeri membayangkan kemarahan Baskara jika ia sampai membawa teman-temannya yang mabuk dalam aparteman.


Senja terkekeh melihat wajah tak bersemangat sahabatnya. "Kita masih bisa bermain bersama. Bermain kemanapun kecuali club malam dan segala yang berhubungan dengan minuman keras."


Namun pada akhirnya, Senja merasa kesepian. Pagi-pagi sekali Senja sudah bangun dan memasak untuk menyambut kedatangan Baskara. Meminta maaf apa pun kesalahan yang tak ia sadari hingga membuat pemuda itu marah. Tapi, pemuda itu bahkan tak muncul hingga makan siang. Panggilannya juga masih saja tidak di angkat.


Sudut hatinya merasa sedih. Sedih karena sang sahabat benar-benar marah terhadapnya. Dan ada rasa sedikit kesal karena sikap kekanakan Baskara yang tak mau mengangkat panggilannya. Tidak mau menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan membicarakan semuanya baik-baik.


Baskara malah memilih menghilang dan tidak memberinya kabar sama sekali. Mengacuhkannya berhari-hari. Menurut Senja itu terlalu kekanakan.


Hingga Senja memutuskan untuk menghubungi Maureen. "Aku berubah pikiran. Datang dan berpestalah di apartemenku. Jangan lupa bawakan aku cola."

__ADS_1


***


Niatnya adalah menenangkan diri. Menjauh dari Senja untuk melupakan apa yang membuat hatinya kesal. Namun bukannya melupakan, bayangan Senja bersama Robert justru semakin menari-nari di bayangannya.


Puluhan panggilan dan pesan dari Senja pun ia acuhkan. Ia hanya tak ingin terbawa emosi seperti waktu di apartemen milik gadis itu. Ia masih membutuhkan waktu untuk menenangkan hatinya.


Ia sendiri bungung, kenapa ia bisa sekesal ini. Apakah ia cemburu jika Senja dekat dengan pria lain?


Apakah ia mulai ada rasa dengan sahabatnya itu?


Ah tidak. Ia tidak ingin menghancurkan persahabatan mereka yang baru kembali membaik. Ia ingin lebih lama lagi merasakan hal seperti ini. Melihat Senja tertawa karenanya. Melihat gadis itu merengek padanya. Dan melihat gadis itu membutuhkannya.


Hampir seminggu ia memutuskan komunikasi dengan Senja. Seminggu pula ia tak mendengar suara gadis itu. Tak melihat wajah menggemaskan ketika tengah kesal saat ia menggodanya.


Ada rasa hampa di hatinya. Rasa kosong dan rasa rindu yang menyesakkan. Keputusannya untuk tak datang di hari sabtu ternyata salah. Karena ia semakin tidak tahan untuk menahan rindu. Ia ingin melihat senyum Senja secara langsung. Ingin melihat gadis itu cemberut ketika ia komentari ketika tengah memasak.


Dan ketika jarum jam menunjukan pukul sembilan malam. Ia langsung menyambar kunci mobil tanpa memikirkan penampilannya. Ia sungguh ingin bertemu sahabatnya itu. Jika bisa, ia ingin memeluknya.


Perjalanan panjang ia lalui dengan perasaan yang tak menentu. Ada rasa tak sabar, ada juga rasa khawatir. Khawatir kali ini Senja yang marah karena terus ia acuhkan.


Senja menghubunginya terakhir kali adalah siang tadi. Gadis itu bahkan mengirimkan foto makanan yang sudah Senja masak untuk mereka berdua. Tapi dengan teganya ia tak datang. Dan setelah itu, tak ada lagi panggilan atau pesan masuk dari Senja. Padahal biasanya gadis itu tak henti memberondongnya dengan pesan-pesan yang isinya random meski tak ada yang ia balas. Dari cerita tentang kuliah, tentang masakan yang semakin enak, atau Sisi yang terlihat menggemaskan ketika gadis itu melakukan videocall dengan kakaknya.


Dan ketika ia dengan tidak sabar memasukan passcode dan membuka pintu apartemen sahabatnya di pukul dua belas malam, yang dia dapati adalah...

__ADS_1


"APA-APAAN INI.. BRENGSEK!"


__ADS_2