
Pakaian yang sebelumnya Baskara beli sudah tersusun rapi di atas tempat tidur.
Senja yang baru keluar dari ruang ganti mengerutkan dahinya bingung. "Buat apa sih, mas? aku nggak suka."
Baskara membimbingnya duduk di depan meja rias. Menyerahkan coklat hangat sebelum kemudian mengambil salah satu mini dress dan menunjukan padanya.
"Menurut kamu, kenapa kamu nggak suka ini? padahal ini termasuk produk terlaris ditoko bulan ini."
"Warnanya." balas Senja cepat. "Warnanya tuh sama-sama strong tapi digabungin gitu."
"Oke... Kalau yang ini?" Baskara mengambil yang lainnya.
"Kerahnya terlalu turun. Baru bagus dipakai sama cewek yang punya dada yang besar."
"Kamu nggak termasuk?" goda Baskara yang langsung mendapat lemparan sandal rumah yang istrinya kenakan. "Aku kan cuma nanya, ayy." ucapnya ditengah derai tawa.
"Oke.. Oke.. Kita lanjut." Baskara mengangkat kedua tangannya ketika sang istri masih menatapnya tajam.
Satu persatu pakaian ditunjukan kepada Senja. Dan Senja akan memberi komentarnya pada tiap potong pakaian meski ia tidak tahu kenapa ia harus melakukan hal seperti itu.
"Kamu tetap nggak suka meski itu produk terlaris. Kamu tahu intinya apa?"
Senja menggeleng. Karena ia masih belum mengerti maksud dari yang suaminya lakukan.
"Nggak semua orang ngelihat dari sisi pandang kayak kamu. Bisa aja yang dadanya nggak besar tapi tetap mutusin beli dan ngerasa bagus saat dia pakai. Begitu juga pakaian yang lain. Karena setiap orang punya seleranya masing-masing."
Kali ini Senja mengangguk. Ia paham apa yang di maksud suaminya. Ia tidak hanya bisa membuat pakaian sesuai dengan yang ingin ia kenakan. Tapi juga harus mengikuti selera pasar. Menyesuaikan dengan apa yang pelanggannya inginkan.
"Dan desain rubahan kamu yang kata kamu nggak pas. Kamu udah tanya pendapat tim desain kamu?"
Senja menggeleng dan tersenyum malu. Ia merasa perlu menyelesaikan masalah sendiri tanpa melibatkan mereka. Tapi ujung-ujungnya ia dibuat pusing sendiri.
Baskara mendengus. Mengangkat sang istri dan memindahkannya keatas pangkuan. "Kalian kan satu tim. Jadi kerja juga harus kerja tim kan?"
"Tadi tuh nggak tega ngelihat ekspresi kecewa mereka. Jadi aku mikirnya gimana caranya aku harus nyelesaiin masalah itu mas."
"Tapi tim kamu juga pasti ingin dilibatkan sayang.. Mereka juga berhak tahu desain selanjutnya yang akan digunakan untuk mengganti desain sebelumnya yang dicuri."
"Iya aku salah." gumam Senja.
__ADS_1
"Dan siapa tahu desain yang kamu bilang nggak pas itu justru mereka suka, kan?"
"Iya mas. Tapi kayaknya sekarang aku ada desain baru deh." Senja langsung beranjak dari pangkuan sang suami, mengambil buku sketsa dalam tasnya dan duduk dimeja kerja.
Baskara meminta asisten rumah tangga untuk membereskan baju-baju yang berserakan. Setelahnya ia ikut bergabung dengan sang istri yang tengah serius dengan pensil dan alat warnanya.
Melipat kedua tangan didada dan duduk berjam-jam memandangi istrinya yang tengah serius bekerja tak membuat Baskara bosan.
Sesekali Baskara menarik kedua ujung bibirnya ketika sang istri mengerutkan kening dan menghapus gambarnya dengan kesal.
"Gimana kalau yang ini mas?" unjuk Senja dengan mata berbinar. "Aku rubah bagian ini sama ini." tunjuknya dengan pensil pada dua bagian. "Selebihnya nggak terlalu ngerubah pola yang udah dipotong."
Senyum yang seperti bulan sabit itu terbit. Memeluk istrinya dan berucap. "Kalau ngerjainnya pakai kepala dingin pasti selesai kan?"
Senja yang juga membalas pelukan suaminya mengangguk. Dia sebagai orang tertinggi di perusahaan memang tak seharusnya terbawa emosi. Ia harus bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
***
Esoknya Senja langsung mengadakan rapat. Mendiskusikan hasil desainnya dengan tim desain. Dan mereka semua setuju dan ada yang menambahkan beberapa saran yang langsung didiskusikan sebelum menentukan hasil akhir.
"Akhirnya nggak jadi rugi." salah satu tim desainnya bernapas lega.
"Iya. Akhirnya jadi deh dapat bonus." seloroh yang lain menimpali. Membuat Senja tertawa mendengarnya.
Semuanya bersorak. Mereka percaya bahwa penjualan akan meningkat seperti sebelumnya.
Penjualan mereka memang selalu meningkat setiap bulannya. Meski tidak signifikan, tapi selalu ada peningkatan. Baik melalui penjualan online maupun yang berada di mall dan butik yang dipegang khusus oleh Senja.
"Tok tok.. Boleh gabung?"
"Kak Jingga!" seru beberapa karyawan ketika melihat Jingga berdiri di pintu dengan menjinjing paperbag di tangannya.
"Biang masalah! bisa-bisanya baru balik pas masalah udah kelar." cibir Senja.
"Bosmu kenapa sih, De?" tanya Jingga pada Dea yang paling dekat posisinya dengannya. "Baru datang udah disembur aja."
Sedangkan yang ditanya hanya terkekeh. Bukan hal baru ia melihat dua bersahabat itu adu mulut dan bertengkar. Tapi tak pernah ada perpisahan diantara keduanya.
"Kalian boleh keluar." perintah Senja yang langsung dituruti para timnya. Jingga menyerahkan paperbag pada Dea untuk dibagikan dengan yang lain. Sebagai oleh-oleh liburannya.
__ADS_1
"Duh duh duh.. Mukanya serem amat. Kenapa sih Ja?" Jingga mengambil duduk didekat Senja.
"Kenapa lo bilang? lihat perbuatan lo!" Senja menunjukan sosial media mereka pada Jingga. Dimana postingan terakhir kali yang tak lain gambar ketika mereka meeting terpampang disana.
"Lho, boleh upload beginian? gue kira cuma upload dagangan?"
"Bukan lo yang upload?" tanya Senja bingung.
"Bukan lah! gue kan uploadnya yang dijual doang kayak yang lo suruh. Nggak pernah upload foto beginian."
"Bukannya lo yang ambil gambar itu?"
Kebetulan kamera yang selalu Jingga kenakan tergantung dilehernya. Ia membuka foto-foto didalamnya termasuk foto ketika ia berlibur dengan keluarga kecilnya yang membuat Senja mencibir.
"Ini foto yang gue ambil." ujar Jingga mengabaikan keirian adik iparnya. "Sudut pengambilannya aja beda. Dan lo liat posisi gue dimana kan waktu itu?"
Senja mengamati foto yang ada di kamera Jingga dan membandingkan dengan yang sudah di upload di sosial media.
"Terus siapa dong?"
Jingga menunjuk CCTV. "Kalau ngelihat dari sudut pengambilan, orang yang duduk disini yang ambil gambarnya. Kita bisa lihat dari CCTV siapa orangnya."
Senja tertawa. Menertawakan pikirannya yang tak sampai kesana. Karena sebelumnya ia yakin gambar itu gambar yang Jingga ambil.
"Tumben otak lo bisa dipakai." puji Senja menepuk bahu Jingga yang langsung ditepis dengan jijik.
"Gue emang pinter ya! lo aja yang ngeremehin gue."
Tak menanggapi protes yang Jingga lakukan. Ia langsung menuju ruangannya untuk mengecek CCTV pada hari dimana ia mengadakan rapat bulanan seperti biasa.
Semua karyawannya masih muda. Baru lulus dan ia merasa bisa percaya mereka semua. Karena melihat karakter mereka, tidak ada yang bertingkah aneh apa lagi sampai menusuknya dari belakang seperti ini.
Dan ia tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan. Karena pasti siapa pun orang itu memiliki alasannya tersendiri kenapa bisa sampai berbuat seperti itu.
*
*
*
__ADS_1