
"Jangan egois, ayy! kamu nggak hidup sendiri! ada Anna yang bergantung hidup sama kamu! Kamu harus mikirin dia juga!" Baskara terlihat emosi. "Kamu nggak sakit aja, ASI buat Anna berkurang. Apa lagi kamu sakit kaya gini! kamu mau dia lepas ASI diusia dia sekarang?!"
Mata Senja berkaca-kaca. Mentalnya tengah tidak stabil. Energinya sudah terkuras untuk mengerjakan skripsi. Ia menunduk dalam, ketika bulir bening itu jatuh membasahi pipi. Penyemangat yang Baskara selalu ucapkan setiap hari hancur hanya dengan kata 'egois'. Lelahnya terasa tak dihargai.
Ia bergumam lirih. "Iya.. aku egois." getaran dalam suaranya tak mampu ia cegah. "Egois karena mentingin kuliah. Nggak bisa meranin peranku sebagai seorang istri dengan baik. Nggak bisa jadi ibu yang becus, sampai ASI saja nggak mampu aku penuhi... Aku emang egois." dadanya terasa sesak, hingga untuk berucap aja ia tersengal.
Baskara yang seakan tersadar, seketika berubah panik. "Ayy.." Ia mendekat dan ingin meraih istrinya, namun gadis itu menghindar. "Bu-bukan gitu, ayy. Aku nggak maksud buat kesitu. Aku cuma mau kamu peduli sama tubuh kam-"
"Nggak perlu diterusin mas. Aku tahu kok. Aku juga sadar diri." ia hapus air matanya dengan kasar sebelum mengangkat dagunya untuk menatap sang suami dengan senyum yang dipaksakan. "Aku emang terlalu berambisi untuk bisa segera pulang."
"Aku egois dengan ingin segera wisuda agar bisa punya waktu lebih banyak dengan kalian. Aku emang egois!"
"Sayaaaang... Bukan gitu!" Baskara berlutut didepan istrinya yang masih duduk ditepi tempat tidur. "Maksu-" kalimatnya terpotong bersamaan dengan tangannya yang tertepis ketika akan menggengam tangan istrinya.
"Aku mau istirahat mas. Nanti aja kita omongin."
Baskara menghela napas. Ia tidak akan bisa berbicara dengan istrinya ketika gadisnya itu masih dalam suasana hati yang buruk.
"Ya udah, kamu istirahat aja. Aku buatin bubur. Nanti aku bangunin."
Senja yang sudah berbaring memunggungi sang suami, kembali menjawab lirih. "Mas nggak usah urusin aku. Karena itu bukan tugas mas. Itu tugas aku sebagai seorang istri. Aku nggak mau jadi semakin egois lagi. Tolong jagain Anna aja."
Baskara menghela napas dan meninggalkan kamar begitu saja. Bukan karena ia tak peduli. Ia hanya tidak ingin kembali terpancing emosinya. Lebih baik ia melakukan hal yang lebih berguna dari pada berdebat dengan istrinya. Sebelum baby Anna bangun dan ia tidak bisa melakukan apa pun.
Jika Senja tidak ingin ke dokter, tidak masalah. Ia yang akan merawatnya sendiri dengan baik. Meski istrinya menolak, ia tak peduli.
Ia akui ia memang salah mengatakan kata-kata seperti tadi pada istrinya yang jelas-jelas dalam keadaan tidak baik-baik saja. Baik secara fisik dan psikis.
Tugas akhir saja sudah sering membuat banyak mahasiswa tertekan. Belum lagi istrinya pasti tertekan karena tidak bisa memberi ASI full pada buah hati mereka. Juga tertekan karena belum bisa menjalankan perannya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Senja sering meminta maaf akan hal itu. Dan ia selalu menenangkan istrinya dengan mengatakan bahwa itu bukanlah masalah baginya. Karena memang kenyataannya demikian.
Ia tidak bermaskud mengatakan apa yang tadi ia ucapkan. Ia hanya ingin istrinya lebih memperhatikan kesehatannya. Karena ada anak mereka yang juga ikut bergantung hidup padanya.
Ia mengerti posisi Senja yang masih berstatus sebagai seorang mahasiswa. Terlebih ia masih belum memiliki kegiatan apa pun. Jadi ia bahagia saja menjalankan apa yang saat ini menjadi rutinitasnya.
Meski ia juga ingin segera kembali ke tanah air. Ingin segera mendapatkan pekerjaan untuk menunaikan tugasnya sebagai kepala rumahtangga. Mencari nafkah untuk keluarga dari hasil jerih payahnya sendiri. Bukan hasil dari pemberian orang tua atau warisan neneknya.
***
Senja tak kembali tidur, ia justru menangis dalam diam. Dirinya tengah berada dititik emosi terendah. Padahal biasanya ia gadis yang kuat. Tak mudah menangis. Tapi kini ia tengah lelah, jadi bolehkan jika ia mengeluh. Jika ia menangis menumpahkan segala perasaan dalam dadanya. Tapi ia juga berusaha berpikir dari sisi suaminya. Dan ia pasti akan melakukan hal yang sama jika Baskara yang berada diposisinya. Apa lagi itu menyangkut putri mereka juga.
Ia menghapus air matanya dan pura-pura tidur ketika mendengar pintu kamar terbuka. Juga suara langkah kaki yang mendekat.
Sekuat tenaga ia menahan isak ketika benda kenyal dan hangat menyentuh kepalanya. "Maaf sayang." ucap sang suami yang membuat dadanya kian terasa sakit menahan isak tangis.
"Biar aku aja yang susuin, mas." ujarnya begitu Baskara dan baby Anna keluar dari kamar mandi.
Baskara tersenyum dan mengangguk. Membawa baby Anna ketempat tidur untuk dipakaikan baju sebelum diberikan pada istrinya untuk diberi ASI.
Baskara bersikap seoalah sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Ia masih mengajak anak dan istrinya bercanda seperti biasa meski dibalas senyum kaku istrinya.
"Aku ambilin bubur ya, ayy. Nanti minum obat."
Sebenarnya Senja masih enggan. Egonya masih terluka. Tapi perutnya tak bisa diajak kerja sama. Terlebih ia tak mungkin memasak sendiri dengan kondisi tubuh yang begitu lemah.
Jadi yang bisa ia lakukan saat ini adalah mengangguk dan berucap dengan lirih. "Terimakasih mas. Maaf merepotkan."
Baskara tersenyum getir. Akibat yang ia katakan, istrinya jadi bersikap segan padanya.
__ADS_1
Ia suapi istrinya berharap istri bisa kembali seperti sebelumnya. "Jangan pernah mikir yang aneh-aneh tentang aku, ayy."
Senja diam tak menanggapi. Tangannya mengusap surai putrinya yang masih menempel didadanya.
"Kamu tahu seperti apa aku... Tadi aku marah karena khawatir sama kamu."
"Iya. Aku tahu." ucap Senja menghela napas. Ia sudah banyak berpikir tadi. Setidaknya ia sudah bisa sedikit membuka pikirannya. Meski kesal dan sakit juga tetap ada.
"Maaf buat kamu nangis." sesal Baskara. Padahal ia berjanji untuk tidak membuat istrinya meneteskan air mata jika bukan air mata bahagia. Tapi justru ia sendiri yang menjadi alasan luka dan tangis istrinya.
Senja mengangguk. "Mau peluk, mas."
Dengan senang hati Baskara membawa tubuh istrinya dalam pelukan. Membiarkan gadis itu untuk menumpahkan tangisnya. Agar tak ada lagi sesak yang menyisa. Agar hatinya bisa lega tanpa ada yang mengganjal.
"Maaf... Kali ini kubiarkan kamu nangis. Tapi aku harap ini yang terakhir.."
"Aku mau ke dokter, mas." ucapnya pada akhirnya.
Pelukan mereka terlepas karena baby Anna yang meronta terkurung diantara keduanya.
"Yakin mau ke dokter?"
Senja mengangguk. Ia ingin segera sembuh. Ia kasihan pada anaknya. Juga skripsinya yang sudah dikejar deadline. Jadi ia harus berusaha sembuh demi semua berjalan baik.
*
*
*
__ADS_1