
Di sebuah apartemen, terlihat dua orang gadis remaja tengah duduk bersama dalam keheningan. tidak, bukan dua gadis, melainkan seorang gadis dan juga seorang wanita. ya, mereka adalah Alya dan Senja. Senja memang meminta untuk ke apartemen Alya saja dari pada di tempat ramai seperti cafe.
"Jadi?" tanya Alya, gadis itu lebih dulu memecahkan keheningan yang yang terjadi sejak mereka datang.
Senja menghembuskan nafasnya kasar. wanita itu lalu membuka tas selempang nya dan meraih sesuatu didalamnya. setelah mendapatkan apa yang dia cari di dalam tasnya, senja meletakkan benda itu di atas meja.
"tespeck? " Alya tidak langsung mengambil benda itu tapi Gadis itu menatap ke arah sahabatnya dengan mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti. "milikmu? "tanya Alya mencoba meyakinkan dirinya.
senja menganggukkan kepalanya tanpa ingin mengeluarkan suara. Alia lalu meraih benda meraih benda itu dan melihatnya. positif. itulah yang Alya lihat. Gadis itu sangat bahagia, dia tersenyum begitu lebar.
"Akhirnya gue bakal punya ponakan." teriak Alya, gadis itu lalu berlari kecil menghampiri Senja dan memeluknya dengan erat.
menyadari tidak ada pergerakan dari sahabatnya, Alya merenggangkan pelukannya. dia melihat senja yang begitu lesu.
"Lo nggak seneng sama kehamilan lo?" tanya Alya to the poin.
Senja menggelengkan kepalanya. "gue bingung Al" cicitnya.
Alya mengerutkan keningnya tidak mengerti. "bingung kenapa? harusnya lo seneng kan?"
Senja menghembuskan napas nya kasar entah yang ke berapa kali. "gue nggak ngerti harus senang apa sedih."
"harusnya lo seneng dong Nja, itu artinya kontrak pernikahan lo batal, karena suami lo nggak mungkin kan ceraikan lo saat di perut lo ada anaknya." ucap Alya. "lo udah kasih tau suami lo kalau lo hamil?" tanya Alya. senja menggelengkan kepalanya. Alya mengerutkan keningnya "kenapa?" tanya nya lagi. gadis itu benar benar tidak mengerti dengan pemikiran sahabatnya.
"gue takut." cicit Senja. wanita itu menundukkan kepala menyembunyikan air matanya.
"takut kenapa?" Alya benar benar tidak mengerti apa yang di takutkan oleh Senja karena memang Senja tidak pernah menceritakan hal ini pada Alya.
gue takut kalau kak Langit tau dia bakal gugurin kandungan gue"
Alya semakin tidak mengerti dengan apa yang Senja katakan.
"Gue makin nggak ngerti maksud lo Nja, gugurin kandungan? Gimana bisa Langit yang belum tau kehamilan lo ini udah mau gugurin aja. Mending lo ngomong dulu, Langit nggak akan mungkin...."
"Karena dia sudah memperingatkan gue Al!" Teriak Senja, tiba tiba memotong ucapan Alya. "Karena sebelum gue tau kalau gue hamil dia udah memperingatkan gue buat gugurin kandungan kalau gue beneran hamil Al." Senja tidak bisa menahan lagi, air matanya sudah keluar begitu deras kala mengingat ucapan Langit yang begitu menyakiti hatinya.
Sementara Alya, gadis itu seketika menutup mulutnya tidak percaya. Adakah seorang Ayah yang tega membunuh anaknya sendiri? Itu yang ada dalam pemikiran gadis ini.
"Brengsek tuh orang, nggak punya hati banget ya. Apa yang ada dalam otaknya itu sampai tega mau bunuh anaknya sendiri." Umpat Alya, dia benar benar marah pada suami sahabatnya yang tidak tahu diri itu.
"Al, gue mohon jangan kasih tau siapa pun ya, gue takut kak Langit akan tau terus dia...." Senja tidak bisa lagi melanjutkan kata katanya. Suaranya tercekat di tenggorokannya.
Alya langsung meraih pundak sahabatnya yang bergetar itu lalu memeluknya.
"Lo tenang ya, gue nggak akan kasih tau siapapun, gue akan lindungi lo dan calon ponakan gue dari orang orang yang berani nyakitin lo dan calon ponakan gue." Alya mencoba menenangkan sahabatnya agar tidak menangis lagi.
Gadis itu berjanji pada dirinya sendiri, dia akan melakukan apapun demi sahabatnya. Bila perlu dia akan meminta bantuan pada Papinya.
__ADS_1
"Thanks ya Al." Ucap Senja. Wanita itu langsung merenggangkan pelukannya dari Alya. Alya mengangguk dengan sebuah senyum yang terukir di bibirnya.
"Terus, rencana lo apa? Nggak mungkin kan lo akan tetap di sana, sementara perut lo akan semakin membesar nantinya."
Senja menggelengkan kepalanya lemah. "Gue tau Al, yang penting sekarang Kak Langit jangan sampe tau dulu sampai gue nemu jalan keluarnya." Ucap senja.
"Apapun keputusan lo bakal gue dukung, kalau lo butuh bantuan langsung ngomong sama gue. Bila perlu kita akan minta bantuan Papi gue."
"Oh ya, Om Irfan pengacara kan ya? Kalau gitu gue emang butuh bantuan Om Irfan. Nanti gue akan ambil surat kontrak yang gue simpan dulu." Ucap Senja. Sepertinya wanita itu menemukan jalan keluarnya.
"Terserah lo aja lah Nja, gue dukung apapun keputusan lo." Putus Alya, dia juga ingin sahabatnya merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. "Oh ya, lo udah cek kandungan?" Tanya Alya. Senja menggelengkan kepalanya lesu.
"Kenapa belum Cek? Kalau di hitung hitung setelah kejadian itu kayaknya sudah hampir sebulan deh Nja"
"Gue takut Al."
"Takut kenapa?"
Senja mengedikkan bahunya Senja juga tidak tahu. Yang jelas dia merasa takut saja. Alya menghembuskan napas nya pelan.
"Ya udah cek kandungan sama gue ya." Putus Alya.
"Tapi Al..."
"Udah, nggak ada tapi tapian, gue juga pengen lihat ponakan gue" Alya langsung menarik tangan Senja dan membawanya keluar dari apartemen tanpa menunggu persetujuan dari Senja.
"Al tunggu deh." Senja menghentikan langkah Alya yang dari tadi menariknya. Alya langsung berhenti dan menoleh ke arah Senja yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa?" Alya menaikkan kedua alisnya. Ia tidak mengerti kenapa Senja malah berhenti. Apakah dia takut? Atau....
"Kita belum daftar Al."
Oho, rupanya Senja melupakan sesuatu ya, sampai wanita itu balik menarik Alya menuju ke tempat pendaftaran. Namun, Alya menghentikan langkah Senja. Jadi tarik menarik nih.
"Senja lo lupa kalau tante gue kerja di sini?" Ingatkan Alya. Senja mengernyitkan keningnya bingung. Oh Gosh! Kenapa Alya merasa Senja jadi lola gini ya?
"Tante Arini Senja." Lagi, Alya mencoba mengingatkan bumil ini.
Senja menepuk keningnya. "Ya Tuhan, kenapa gue jadi pelupa gini sih." Keluh nya.
"Ya udah lah, gak usah ngeluh lagi. Ayo kita ke ruangan Tante Arini. Dia udah nunggu." Alya kembali menarik Senja menuju ke ruangan dokter kandungan.
Di perusahaan WILLIAM COMPANY, seorang pria duduk termenung di kursi kekuasaannya sampai tidak menyadari ada orang yang masuk ke dalam ruangannya.
"Selamat pagi Sayang." Sapa orang itu dan langsung mencium pipi Langit membuat pria itu terkejut.
Mengetahui siapa yang datang, wajah Langit langsung berubah merah padam, rahangnya mengeras, mata elangnya menatap tajam pada wanita yang kini berdiri di hadapannya dengan tersenyum begitu manis.
__ADS_1
"Beraninya Anda masuk keruangan saya tanpa izin!" Ucap Langit dengan wajah marahnya.
Senyum wanita itu surut mendengar ucapan lelakinya. "Sayang, kenapa kamu bicara begitu? Aku ini kekasih mu, dan sebentar lagi kita mau tunangan loh." Wanita itu menampilkan wajah memelas nya.
Langit tersenyum miring, bahkan dia tidak merasa kasihan dengan wanita yang sudah berhianat padanya di masalalu. "Bahkan saya bersyukur tidak jadi bertunangan dengan wanita mur4h4n sepertimu." Sarkas Langit. "Dan saya sangat bersyukur telah mendapatkan istri yang begitu baik." Lanjutnya. Langit mengucapkannya dengan membayangkan wajah cantik istri kecilnya, Senja.
Wanita itu yang tidak lain adalah Sarah, mantan kekasih Langit yang hampir bertunangan itu terbelalak. Apa tadi? Menikah? Langit sudah menikah? Tidak! Sarah menggelengkan kepalanya.
"Langit, kenapa kamu tega sama aku? Kenapa kamu malah menikah sama wanita lain?" Ucap Sarah. Wanita itu mengeluarkan air matanya. Ya, air mata buayanya, mencoba mengelabuhi pria yang pernah dia hianati demi uang. Dia kira Langit masih belum move on dari nya.
"Jangan sia siakan air mata Anda di hadapan saya. Saya tidak akan terpengaruh." Sarkas Langit.
"Langit, aku minta maaf, aku..."
Brraaakkk
Belum juga Sarah melanjutkan ucapannya, pintu ruangan Langit di buka dengan keras dari luar.
"Dylan, lo bisa nggak sih masuk ketuk pintu dulu. Gue lagi melepas rindu sama pacar gue." Bukan, itu bukan Langit yang bicara, Melainkan Sarah. Wanita itu langsung berdiri di sisi Langit dan menggandeng lengan pria itu. Namun, sepertinya rencana wanita itu tidak berjalan lancar, karena dengan cepat Langit melepaskan lengannya dari tangan Sarah lalu mendorong Sarah sampai terduduk di lantai.
Sementara Dylan yang tadi di marahi oleh Sarah, dia hanya diam saja dan hanya bersedekap dada menyaksikan live streaming. Haha
"Sayang, kamu kok dorong aku sih? Sakit tau." Sarah merajuk, di kiranya Langit bakal nolongin apa ya?
"Langit tolongin." Rengek Sarah, wanita itu mengulurkan kedua tangannya ke arah Langit. Namun, pria itu bukannya menolongnya malah memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Lang..."
"Maaf Tuan Saya terlambat." Itu Mila, sekertaris Langit yang baru datang dengan membawa dua pria berpakaian serba hitam juga berbadan besar di belakangnya.
Iya, saat Dylan dan Mila baru keluar dari ruang rapat tadi, mereka melihat seorang wanita berpakaian minim yang tidak lain adalah Sarah tadi, Dylan langsung meminta Mila untuk memanggil bodyguard dan membawanya ke ruangan Langit. Dan benar saja apa yang Dylan pikirkan, Langit akan marah saat melihat Sarah.
"Sayang kamu kenapa panggil bodyguard kesini?" Tanya Sarah.
"Cepat seret j4l4ng ini keluar dari sini. Dan jangan biarkan dia masuk ke perusahaan ini lagi." Tanpa menghiraukan pertanyaan dari Sarah, Langit malah memerintahkan pada dua pengawalnya untuk menyeretnya keluar.
Dengan patuh, dua pengawal itu langsung berjalan ke arah Sarah yang masih terduduk di lantai dan menarik tangannya dengan kasar.
"Langit, apa apaan ini" teriak Sarah, namun tak dihiraukan oleh Langit.
"Ingat ya Langit, aku pastikan kamu akan jadi milikku lagi" Sarah terus berteriak tapi tidak ada respon dari siapapun.
***Bersambung
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
HAPPY READING***
__ADS_1