Langit Senja

Langit Senja
Keputusan Masih Sama


__ADS_3

Seminggu tak cukup rasanya bagi Senja menghabiskan waktu bersama keluarga. Apa lagi ia masih harus kuliah. Hanya bertemu mereka dimalam hari. Tapi setidaknya ia bisa merasakan suasana rumah. Dimana setiap pagi sang ibu membangunkan dirinya. Sarapan bersama dengan masakan khas yang dimasak dengan tangan penuh cinta oleh Tiara.


"Kenapa mama sama papa nggak disini aja nemenin adek?" rengek Senja tak mau melepas pelukannya pada sang ibu ketika mengantar keluarganya dan orang tua Baskara ke bandara. "Kan cuma tinggal berapa minggu doang."


Alvaro mengusap sayang rambut sang putri. "Mama sama papa kan punya tanggung jawab pekerjaan yang nggak bisa ditinggal lama-lama sayang. Kasihan pasien mama kalau mama nggak balik-balik."


Dengan berat hati Senja melepaskan pelukannya dan membiarkan mereka semua untuk kembali ke Jakarta.


"Bunda sangat berharap kamu terima lamaran Babas." ucap Pricilla sebagai orang terakhir yang Senja peluk. "Bunda sayang sama kamu seperti anak bunda sendiri. Dan bunda ingin kamu menjadi menantu bunda."


"Makasih bunda buat penerimaannya. Doain Senja bisa ambil keputusan terbaik."


Setelahnya Senja hanya bisa menatap ujung kepala mereka yang timbul tenggelam diantara orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama.


"Udah. Jangan sedih. Kan masih ada gue." sejak acara melamar waktu itu, Baskara selalu berkata manis dengannya. Tak pernah lagi bersikap dingin dan menyebalkan. Meski sikap usil dan meledeknya masih tetap ada.


Tepukan pelan diatas kepala juga uluran sapu tangan dihadapan, membuat Senja menarik perhatian dari tempat dimana keluarganya menghilang.


"Makasih." cicitnya ditengah air mata yang masih tersisa.


"Kok jadi cengeng gini sih, hmm?" Baskara membimbing tubuh Senja dengan memegang kedua bahu gadis itu dari samping untuk kembali ke mobil mereka. "Padahal dulu tukang berantem. Tapi sekarang jadi cewek cengeng yang sialnya manis banget. Bikin gue pengen nempel mulu."


Senja berdecih dan duduk di kursi penumpang. Mereka berangkat dengan mobil Baskara dan satu mobil jemputan bandara.


"Semakin dewasa seseorang kan emang semakin berubah." jawab Senja


"Dan kenapa harus New York yang ngerubah lo? kenapa nggak gue ajaaa?" kekeh Baskara dengan tingkahnya sendiri.


Senja menatapnya horor. "Geli gue dengernya Bas. Kesurupan apa sih, sebenarnya lo?" jujur Senja masih belum mengerti kenapa tiba-tiba Baskara melamarnya. Ia merasa ini semua mimpi. Tidak nyata. Bahkan hal yang tidak mungkin. "Pake ngelamar segala lagi."


Baskara mendesah. "Gue kan udah bilang. Kalau gue sayang dan cinta sama lo. Dan jangan tanya alasannya apa! karena gue sendiri juga nggak tau."


Entahlah Senja tidak bisa merasa canggung dengan Baskara meski pemuda itu tengah menyatakan cinta. Mungkin karena baginya ini semua hanya mimpi. Yang ketika ia bangun nanti, semua akan kembali seperti semula.

__ADS_1


"Aneh aja gitu tiba-tiba lo bilang....." ahh ya. Kata cinta masih terlalu kelu untuk Senja ucapkan. Seakan kata itu terlalu berharga untuk kondisi saat ini. Dalam mimpi ini.


"Cinta itu nggak bisa ditebak mau kemana dia akan jatuh. Hati juga nggak bisa dipaksa sama siapa dia akan berlabuh. Seperti perasaan gue dulu sama Jingga."


Wajah Senja seketika berubah muram ketika nama Jingga disebut. Seharusnya perasaanya baik-baik saja bukan? Toh Jingga kini sudah menjadi milik kakaknya, Farri.


"Gue bukan lagi menyesal pernah jatuh cinta sama Jingga. Tapi melihat apa yang terjadi sekarang.. Kenapa gue nggak jatuh cintanya sama lo aja dari awal. Jingga bahagia sama bang Farri dan kita bahagia bersama." Baskara menoleh menatap gadis yang juga tengah menatapnya.


"Biar nggak ada air mata." geleng Baskara. "Nggak ada yang namanya sakit dalam hubungan kita bertiga."


"Dan nggak ada kata saling menjauh seperti apa yang pernah kita lakuin. Menjauh yang pada akhirnya justru saling menyakiti hati sendiri."


Senja menggeleng tidak setuju. Ia percaya semua yang terjadi memang sudah pada tempat yang tepat. Memang harus seperti itu jalan yang mereka lalui.


"Mungkin emang itu jalan untuk kita. Kalau nggak saling menyakiti, kita nggak akan sadar makna persahabatan." Senja masih tak melepaskan pandangannya dari Baskara yang sudah kembali fokus mengemudi. Karena ia tertarik dengan pembahasan kali ini.


Selama ini Baskara tidak pernah mengungkit kejadian yang membuat mereka bertiga tercerai berai. Senja kira, Baskara masih menyimpan luka dan tak ingin membicarakan hal tersebut karena tak ingin membuka luka lama.


Untuk itu kali ini Senja tertarik. Apakah benar Baskara sudah mencintainya dan tak lagi menyimpan dendam dimasa lalu mereka?


Senja membayangkan tawa mereka disaat hubungan mereka masih jauh dari luka. Ketika hubungan mereka masih murni persahabatan tanpa bumbu-bumbu cinta.


"Dari air mata dan penyesalan. Jingga sekarang bahagia sama abang." memori dalam ingatannya kini memutar slide kebersamaan Jingga dengan Farri dan putri kecil keduanya ketika bercanda dan terlihat sekali jika ketiganya bahagia.


"Dan gue yakin. Kita juga akan berakhir bahagia. Entah kita bahagia bersama. Atau lo bahagia dengan cewek lain dan gue dengan cowok lain yang nanti akan menjadi jodoh gue."


"Nggak boleh!" sergah Baskara cepat dan menatap Senja dengan mata elangnya. "Gue udah berdoa sama Tuhan, kalau lo itu cuma buat gue. Nggak boleh buat yang lain."


Senja terkekeh dan memukul bahu Baskara. "Mana ada doa begitu? Percaya aja kalau Tuhan akan kasih lo jodoh yang terbaik."


"Tapi kan gue maunya elo!" jawab pemuda itu dengan bibir mengerucut.


"Kalau Tuhan bilang jodoh lo yang lain gimana?" usil Senja. Rasanya menyenangkan juga meledek orang.

__ADS_1


"Nggak mau!" jawab Baskara tanpa ragu.


"Tapi kalau Tuhan tetap bilang lo nggak sama gue. Tapi Tuhan kasih yang lebih baik gimana?" pancing Senja lagi. "Yang lebih Cantik. Lebih berwawasan. Lebih dewasa dan nggak kekanak-kanakan kaya gue?"


"Pokoknya gue nggak mau!" dengus Baskara. Kenapa pertanyaan Senja jadi nyeleneh seperti ini, pikirnya. "Mau secantik apa pun. Mau sekaya, seberwawasan dan apa lah terserah. Gue tetap nggak mau!" tegasnya.


"Karena yang gue mau cuma Senja Maharani. Buka cewek manapun di luar sana yang lo anggap lebih baik dari lo. Gue cinta sama lo bukan dari kelebihan yang lo punya. Tapi dari apa adanya elo, Ja." tatapan Baskara melembut ketika mengatakannya. Dan itu semua membuat senyum Senja mengembang sempurna.


Tanpa sadar Senja memeluk lengan Baskara yang tengah memegang perseneling dan menyandarkan kepala di bahu pria tersebut. "Makasih, Bas. Makasih sama semua yang lo ucapin. Dan makasih udah milih gue." ucapnya lembut.


Baskara tahu Senja memeluknya tanpa sadar. Untuk itu ia diamkan. Karena jika ia langsung bertanya pasti gadisnya itu akan langsung sadar dan tak mau lagi memeluknya.


"Apa ini jawaban untuk lamaran gue?"


"Eh?"


Benar kan? gadis yang baru sadar dengan apa yang ia lakukan langsung menegakkan tubuhnya dan duduk manis menatap depan dengan salah tingkah.


"Bu-bukan. Jawaban gue tetap sama." jawab Senja sedikit gugup. "Nanti di Jakarta."


*


*


*


Seneng aku tuh sama like kalian beberapa hari ini yang selalu tembus 100.. Semoga bisa semakin meningkat, atau minimal bertahan lah biar othornya makin semangat 😍


Makasih pokoknya yang selalu kasih dukungan dalam bentuk apa pun.


Makasih juga sama yang nyempetin mampin di Ig othor buat kasih semangat ngerjain tugas.


Itu isinya secuil cerita Senja yang nggak pernah di publish disini.

__ADS_1


Peluk online buat pembaca semua 🤗🤗


__ADS_2