Langit Senja

Langit Senja
Keysha


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Tapi Farri baru kembali ke kantornya setelah meeting dengan klien.


Setelah satu bulan lalu tugasnya menjadi guru les pribadi sudah selesai karena istrinya sudah selesai ujian. Kini ia fokus dengan pekerjaan kantor yang menumpuk.


Hari ini hari pengumuman kelulusan sang istri. Tapi ia bahkan belum sempat memberi kabar akan pulang malam lagi. Ponselnya kehabisan daya sejak siang tadi. Dan ia juga baru sempat kembali ke kantor. Jadi belum ada kesempatan untuknya mencarge ponselnya.


Entah apa istrinya lulus dengan hasil yang diinginkan atau tidak. Semoga saja mendapat hasil yang bagus. Karena selama proses belajar yang mereka lalui setiap hari, istrinya semakin banyak kemajuan.


Farri melonggarkan dasi yang masih terikat rapi dilehernya. Menjatuhkan diri di kursi kebesarannya dan memejamkan mata menghilangkan penat.


Baru beberapa detik berlalu, pintu sudah di ketuk. Sekretarinya tengah berdiri disana.


"Permisi, pak."


"Lho kamu belum pulang?" tanya Farri heran. "Tadi kan saya suruh kamu langsung pulang saja."


Sekretarisnya seperti bingung harus bagaimana menyampaikannya.


"Kenapa? kamu mau pinjam uang? kenapa takut begitu?"


Wanita berumur tiga puluh itu terlihat malu dan menggeleng. "Tidak pak. Itu.. diruang tunggu ada yang menunggu bapak. Tadinya mau langsung masuk, tapi saya takut bapak marah, jadi saya suruh tunggu di ruang tunggu."


Farri mengernyit. "Siapa? sudah bikin janji?"


"Belum pak. Itu nona Keysha, mantan kekasih bapak."


Farri berdecak malas. "Ngapain lagi dia ke sini? suruh pulang saja!" tegasnya kembali memejamkan matanya.


"Ba-"


"Nggak mau!" potong Keysha sebelum sekretaris Farri menjawab dan menutup pintu.


Farri melirik ke arah pintu malas. Tapi dia tahu jika Keysha orangnya keras kepala. Tidak akan mudah mengusir wanita itu dari ruangannya jika keinginannya tidak terpenuhi.


Dan yang membuat Farri tertegun adalah perut Keysha yang menonjol. Itu jelas bukan tonjolan karena kekenyangan makan. Ia tahu tonjolan apa itu.

__ADS_1


"Kamu boleh keluar Ana. Tapi jangan pulang dulu sebelum wanita ini keluar dari ruangan saya. Dan jangan tutup pintunya."


"Baik pak."


Setelah Ana meninggalkan ruangan, Keysha yang akan mendekati Farri seperti biasanya, berhenti ketika mengangkat tangannya.


"Duduk disana. Kita sudah tidak ada hubungan apa pun!" tegas Farri menunjuk kursi di seberang mejanya.


Dengan mendengus Keysha duduk ditempat yang Farri tunjuk. "Kenapa sih, beb? biasanya juga aku duduk di pangkuan kamu?"


Farri tertawa sarkas. "Lo lupa, kita itu udah jadi masa lalu. Jadi jangan seolah-olah semua masih sama!"


"Tapi aku masih cinta sama kamu." rengek Keysha seperti biasa. Senjata yang selalu bisa meluluhkan Farri. Namun tidak lagi sekarang. Karena pria itu terlihat acuh saja.


"Mau lo apa, datang ke sini?" tatapan tajam dengan suara dingin itu asing ditelinga Keysha. Tidak ada lagi sisi Farri miliknya yang dulu.


Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah kejadian di apartemen Keysha waktu itu. Dan bisa Keysha lihat tatap benci dimata yang dulu selalu memujanya.


"Aku hamil." ucap Keysha dengan menunduk. Mengusap perutnya yang sudah menonjol. "Tapi Roy nggak mau tanggung jawab. Dia bilang karena kami melakukannya atas dasar butuh, jadi nggak ada yang perlu bertanggung jawab. Dan dia bilang, ini semua salahku kenapa bisa hamil."


"Lalu? buat apa lo dateng ke sini. Itu urusan lo sama Roy. Nggak ada sangkut pautnya sama gue!"


"Aku takut." cicit Keysha. Gadis yang biasa angkuh itu kini menunduk tak berdaya. Tak pernah terpikirkan sama sekali dalam bayangan Farri jika seorang Keysha bisa segitu tidak berdayanya.


"Dia minta aku gugurin kandungan ini. Dia nggak mau tanggung jawab. Dia bahkan sudah punya tunangan."


"Terus apa hubungannya sama gue?" terlalu berbelit-belit. Hari sudah semakin malam, kasihan Ana yang menunggu mereka. Farri juga memikirkan istrinya yang pasti tengah menunggunya di rumah.


"Kamu mau kan, menikah sama aku?" pintanya penuh harap. "Jadi ayah untuk anak ini."


Kini tawa Farri benar-benar meledak. "Lo gila, Key?" tanya Farri dengan tatapan tak percayanya. Kenapa wanita didepannya ini tidak tahu malu sekali.


"Tolongin aku, beb. Dia nggak mau tanggung jawab."


"Terus lo ngarepin gue buat tanggung jawab sama hal yang nggak gue lakuin?"

__ADS_1


"Aku yakin kamu masih cinta sama aku. Kalau emang kamu nggak mengharapkan anak ini, kita bisa titipin ke orang tuaku. Tapi aku mohon.. nikahin aku, beb. Aku nggak mau anak ini lahir tanpa ayah. Aku nggak mau mencoreng nama baik keluarga." Keysha sudah menangis. Ini kali pertama Farri melihat sisi lemah Keysha. Tapi itu tidak merubah keputusannya.


Yang benar saja. Mereka yang berbuat, kenapa dia yang harus bertanggung jawab. Lagi pula, ia sudah memiliki tanggung jawab sendiri pada Jingga. Wanita yang kini ia cintai dan sudah ia janjikan kebahagiaan.


Farri tergelak. "Lucu banget sih, lo! kalau lo tau itu bisa merusak nama baik keluarga, kenapa lo ngelakuin hal menjijikan seperti itu?!"


"Aku khilaf, beb. Aku pernah dilecehkah saat kita kuliah dulu. Sebelum aku kenal kamu."


Deg. Jantung Farri berhenti berdetak. Ia tidak pernah mendengar cerita itu. Selama ini Keysha selalu terlihat ceria tanpa beban. Tak disangka, gadis itu menyembunyikan cerita pahit sendiri.


"Aku berusaha merayu kamu, karena aku kira kamu sama kaya cowok-cowok yang lain. Yang nggak akan pernah nolak saat dikasih tubuh. Dan berharap, kamu yang akan bertanggung jawab sama aku suatu saat nanti."


Keysha menghapus air matanya dan menatap Farri sendu. "Aku terlalu sombong untuk itu. Kamu pria baik yang nggak mempan aku goda. Tapi bolehkah aku egois dengan meminta tolong sama kamu buat jadi ayah untuk anakku?"


Farri menghela napas. "Sory Key. Selain lo adalah wanita yang paling gue benci dimuka bumi ini, gue juga udah punya tanggung jawab sendiri. Gue udah punya wanita yang gue cintai. Dan itu bukan elo." jawab Farri melembutkan nada bicaranya.


"Aku mohon, Ri. Cuma kamu yang bisa aku mintai pertolongan."


"Kalau lo minta tolong hal lain, mungkin masih bisa gue bantu. Tapi kalo lo minta gue tanggung jawab sama kesalahan yang nggak pernah gue perbuat. Maaf Key, gue nggak bisa."


"Kamu tega anak ini lahir tanpa ayah?" Keysha masih mencoba memelas dengan air mata yang berderai.


"Ka-"


Ruang istirahat Farri tiba-tiba terbuka keras. Menimbulkan bunyi debuman yang cukup kuat saat pintu beradu dengan tembok.


Bola mata Farri membulat mendapati istrinya keluar dari sana. Sejak kapan Jingga berada disana?


Dan apa Jingga mendengar semuanya?


Atau istrinya tidak mendengar apa pun dan kini tengah salah paham padanya?


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2