
Tidak mudah bagi Senja untuk mengurus kepindahan. Ia harus mengurus segala surat perizinan dari pihak berwenang dan sebagainya.
"Mesin baru gimana Nggrid?"
"Sudah diantar ketempat baru, kak. Hari ini mulai pemasangan."
Setelah surat menyurat selsai, Senja melakukan renovasi dan penataan tempat yang dibantu oleh ahlinya.
Mendesain senyaman mungkin. Tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk para karyawannya.
Mesin-mesin jahit baru juga ia beli. Karena mesin lama akan tetap diruko untuk produksi butik.
Karyawan baru juga sudah mulai di rekrut. Tenaga ahli jahit yang sudah profesional. Juga belasan karyawan untuk bagian packing dan pengiriman.
"Ibu kamu sudah siap juga kan?"
"Sudah kak. Ibu juga bilang terimakasih sudah memberikan kesempatan ini untuk ibu. Beliau juga akan datang berkunjung saat jadwal kakak senggang."
Senja tersenyum senang mendengarnya.
Ditempat yang baru, karena jumlah karyawannya yang cukup banyak, Senja menyediakan kantin untuk mereka makan siang. Dengan makanan gratis yang perusahaan sediakan. Sama seperti di ruko yang selalu ada jasa katering untuk makan siang yang Senja pesan.
Dan Senja memberi kesempatan ibu dari Inggrid untuk menyediakan makan siang dikantin yang telah disediakan.
"Bilang sama ibu, tidak perlu repot-repot. Biar nanti saya yang datang berkunjung."
Inggrid membungkuk dan mengucapkan banyak terimakasih pada atasannya yang sudah begitu baik padanya dan keluarga. Bahkan setelah apa yang sudah ia lakukan, Senja masih memberinya kesempatan untuk bekerja dan memberikan ibunya lahan pekerjaan.
"Untuk pabrik sepatu dan tas bagaimana?"
Belum lama ini Senja juga mengajukan kerjasama untuk pabrik sepatu dan tas. Ia yang membuat desainnya, mereka yang memproduksi.
Ia ingin koleksi butiknya lengkap. Tidak hanya pakaian yang bisa pelanggan pesan, tapi juga tas dan sepatu agar terlihat matching. Terutama untuk gaun pernikahan dan sepatu yang biasanya ia ambil dari toko spatu langganannya.
"Pabrik sepatu sudah setuju membuatkan kita sesuai pesanan, asal mereka diberi tempat untuk menyetok produk mereka juga dibutik."
Senja tidak masalah dengan hal itu dan langsung setuju. Meminta Inggrid cepat untuk penandatanganan kontrak. Jangan sampai mereka kehilangan kesempatan ini.
"Kalau pabrik tas masih akan didiskusikan dulu, kak. Owner mereka juga tidak sedang ditempat."
"Oke. Kamu follow up aja terus. Tanyakan kapan owner mereka balik dan kamu tanya lagi."
"Baik kak."
__ADS_1
"Saya pulang dulu. Nanti kalau Jingga sudah kembali, suruh dia pulang juga. Kerjaan dilanjut besok lagi."
Jingga tengah ikut pemotretan produk terbaru mereka. Berangkat sebelum makan siang dengan beberapa tim desain dan belum kembali.
"Baik kak."
Setelah Inggrid keluar, Senja mulai membereskan mejanya dan pulang. Ia janji untuk pulang cepat pada anak-anak. Berjanji untuk membuat makan malam bersama dengan dua bocilnya itu.
***
"Mommy.. Anna gangguin aku!" Kai berseru tatkala kakaknya mencolekkan tepung ke pipinya.
"Anna.. Jangan dong. Nanti Kai kotor."
Seakan tak mendengar nasehat ibunya, Anna terus saja melakukan aksinya ketika Kai dan ibunya tengah lengah. Terkikik geli ketika melihat wajah Kai yang hampir tertutup tepung.
"Anna!"
Senja yang tengah mencetak kue-kue kecil permintaan anaknya itu pun menghela napas melihat keduanya.
"Aku kan lagi dandanin kamu, Kai. Biar mukanya nggak galak."
"Aku nggak mau main sama kamu lagi! menyebalkan!"
"Kalian kalau masih berantem terus, mommy nggak bagi kuenya!" ancam Senja.
"Kan Anna dulu mom.. Dia yang jangan dibagi kuenya." seru Kai tidak terima. Karena dia sudah menjaga sikapnya dengan baik. Kakaknya saja yang tidak mau diam dan terus mengganggunya.
"Apa? aku kan nggak ngapa-ngapain. Aku anak manis dan baik." gadis kecil itu duduk patuh dengan melipat kedua tangannya dengan mata yang berkedip lucu. Kai yang melihat mencibir.
Senja menggeleng dan membantu Kai membersihkan wajahnya dari tepung. Kedua anaknya memang sering ribut. Tapi jika tengah akur, tidak ada yang bisa memisahkan keduanya.
"Kalian diam duduk disini, tunggu kuenya matang. Mommy masak makan malam dulu sebelum daddy kalian pulang. Oke?"
"Siap mom!" jawab keduanya kompak.
Dan kekompakan keduanya tak berlangsung lama karena mereka kembali berebut dan mendebatkan siapa anak terbaik. Dan siapa yang paling di sayang kedua orang tuanya.
"Daddy!" seru Anna yang melihat ayahnya memasuki dapur dengan membawa sebuah map.
Tapi Baskara yang baru pulang dengan kabar yang ia bawa, tidak sadar dengan keributan kedua anaknya dan melewati mereka begitu saja untuk menuju sang istri yang juga belum menyadari keberadaannya.
"Mas!" Senja berusaha melepaskan belitan tangan suami yang ada disepanjang perut. Merasa malu karena ada asisten rumah tangga yang juga tengah membantunya menyiapkan makan malam.
__ADS_1
"Apa?" balasnya dengan kecupan hangat di pipi yang menimbulkan sensasi terbakar disana dan membuat wajah istrinya memerah.
"Malu iih, ada bibi!" cubitan dari sang istri membuat Baskara mengaduh dan melepaskan belitannya.
"Aku punya sesuatu buat kamu, ayy." menyerahkan map yang sedari tadi ia pegang.
Dengan dahi berkerut, Senja membuka isi map yang ternyata berisi sebuah sertifikat.
"Aku udah dapat tanahnya. Udah aku beli juga. Masih ada bangunannya, tapi bisa kita bongkar dan bangun ulang. Lagi pula itu bangunan tua dan nggak terlalu besar. Sedangkan tanahnya cukup luas untuk kamu bangun sesuai dengan kebutuhan." Baskara menjelaskan panjang lebar disaat Senja masih belum paham dengan apa yang ia pegang.
"Mas?" panggilnya dengan mata berkaca. Belum lama ia mengutarakan ingin membeli tanah dan membangun sendiri saja. Tapi kini suaminya sudah menyerahkan sertifikat sebidang tanah yang cukup luas. Padahal ia masih memiliki banyak waktu berhubung ia baru saja menyewa tempat.
"Lebih cepat lebih baik, kan?" ujar Baskara dengan senyum yang semakin membuat air mata Senja berjatuhan. "Anggap aja ini investasi seperti yang kamu bilang. Tapi hasil dari saham yang aku tanam ini, semuanya buat kamu. Itu hak kamu sebagai istri aku."
Senja tak tahu harus mengatakan apa. Ia hanya mampu memeluk suaminya erat.
Jatah bulanannya saja sudah lebih dari cukup. Padahal ia juga memiliki penghasilan sendiri. Dan kini uang hasil investasi suaminya, untuknya juga?
"Huaaaa..." terdengar tangisan Anna yang mengagetkan Senja dan Baskara yang seketika melepaskan pelukan mereka.
"Anna kenapa?" kedua orang tua itu mendekat. Tapi bukannya diam, Anna justru semakin mengencangkan tangisannya.
"Anna kenapa Kai?" mereka memang sering bertengkar, tapi tak sekalipun Anna menangis apa lagi sampai seperti ini.
"Anna sedih karena daddy." jawab Kai.
"Daddy?" ulang Baskara bingung.
Kai mengangguk dan bercerita jika tadi ayahnya itu mengabaikan sapaan Anna yang membuat kakaknya itu sedih. Dan Anna menangis ketika melihat kedua orang tuanya saling berpelukan.
"Anna.. Maafin daddy ya? tadi daddy punya kabar baik buat mommy.. Jadi daddy lupa kalau ada Anna disini." Baskara membujuk putri sulungnya dengan lembut. Tapi Anna menolak Senja dan Baskara untuk mendekat.
Baskara lupa, jika Anna harus lebih didahulukan dari pada Kai dan Senja. Karena Anna sangat pencemburu menyangkut dirinya.
"Nggak mau! .... daddy jahat! daddy nggak sayang Anna lagi!... Daddy sayang mommy dan ingin memiliki adik bayi sendiri kan?! habis itu Anna pasti dibuang kan?!"
"Eh?" baik Senja maupun Baskara sama-sama bingung dengan apa yang putri kecil mereka katakan. Dan darimana pula Anna bisa berpikir hal seperti itu.
*
*
*
__ADS_1
Jadi jarang update, isinya juga makin nggak jelas nggak sih, menurut kalian.huhuhu maafkan ya gaes.. Othor bener-bener baru pulih.. Semoga bisa up rutin lagi.. saranghae ❤