Langit Senja

Langit Senja
Sakit


__ADS_3

Baskara tengah duduk diruang tamu. Berkaleng-kaleng soda berserakan menemaninya malam itu dengan segala kegundahan hati. Padahal hari semakin menuju tengah malam.


Biasanya Baskara selalu hidup sehat seperti yang orang tuanya selalu terapkan padanya sejak kecil yang berubah menjadi suatu kebiasaan. Ia hanya menolerir satu kaleng soda dalam sehari. Tapi pikirannya yang tengah gundah, melanggar aturan tak tertulis yang ia terapkan sendiri.


Ketika ia tengah memejamkan mata menunduk dengan bertopang tangan, memikirkan kembali bagaimana harusnya ia bersikap agar Senja tidak merasa tertekan dengan kehadirannya, ketika itu juga ia mendengar suara langkah tergesa terdengar menuruni tangga di ruang tengah.


Ibunya berjalan cepat sembari mengenakan cardigan untuk membalut piayamanya dan membawa tas medis yang selalu ibunya itu bawa kerumah sakit atau kerumah pasiennya.


"Mau kemana bun, tengah malam begini?" tanyanya seraya berdiri. Melihat jam besar di dinding ruangan.


"Senja demam." jawab Pricilla panik. "Tiara lagi jaga malam. Vindra lagi ada operasi. Jadi bunda mau kesana."


Baskara sudah terkejut dan memaku sejak ibunya mengatakan jika Senja sakit.


"Biar Bas anter, bun." pemuda itu menyambar kunci mobil yang belum lama ini ia gunakan untuk ke minimarket membeli soda dan minuman ringan lainnya.


Pricilla mengangguk dan mengikuti sang putra yang juga terlihat panik dengan wajah lelah dan memucat.


Alvaro sudah menunggu kedatangan Pricilla di depan pintu. Pria tiga anak itu terlihat sangat cemas.


"Gimana bisa sampai sakit?" cecar Pricilla begitu ia turun dan mendekati suami dari sahabatnya.


"Dia belakangan ini sibuk banget. Mungkin sering lupa makan. Tahu sendiri aku sama Tiara jarang dirumah kalau siang. Cuma ada Jingga yang juga repot punya anak kecil."


Pricilla mengangguk mengerti. Sedangkan Baskara sudah melesat memasuki kamar gadisnya.


Disana ada Jingga yang tengah mengompres dahi Senja. Dan Farri yang duduk disisi yang lain. Menggenggam jemari adiknya erat.


"Senja!" seru Baskara menggantikan Jingga yang berdiri begitu pemuda itu berjalan mendekat.


Disentuhnya pipi yang terasa panas ditelapak tangannya itu. Bibir Senja terlihat begitu pucat. Menjelaskan jika gadis itu benar-benar sakit.


"Dia nggak sadar bang?" tanyanya begitu Senja tak memberikan respon apa pun.


"Dari pagi sebenarnya dia udah kelihatan pucat. Tapi dia bilang baik-baik aja, terus sibuk sendiri." papar Farri. "Tadi makan malam dia nggak turun, pas didatangin dia udah demam tinggi cuma nggak mau ke rumah sakit. Makin malam malah makin ilang kesadarannya."

__ADS_1


Pricilla langsung memeriksa calon menantunya itu. Tak berapa lama ia langsung menatap putranya. "Bas. Tolong ambilin.." Pricilla menyebutkan beberapa alat juga cairan infus. "Dia kelelahan. Tapi demamnya tinggi banget. Kita bantu pakai infus biar cepat turun. Takutnya semakin parah."


Baskara langsung mengangguk dan melesat pergi. Ibunya menjelaskan dengan sangat jelas apa saja yang perlu ia ambil. Lagi pula sudah sejak kecil ia melihat barang-barang itu, jadi ia tidak merasa asing lagi.


"Dia kecapekan karena itu?" tanya Pricilla pada Alvaro yang hanya dijawab anggukan. Tidak ada yang bisa melawan kekeras kepalaan Senja jika sudah menginginkan sesuatu.


Baskara yang baru datang langsung menyerahkan apa yang ia bawa. Begitu juga dengan Pricilla yang langsung sigap memasang alat infus dipunggung tangan Senja.


"Kita pantau sampai besok pagi." ucap Pricilla begitu selesai dan membereskan perlengkapannya. "Kalau besok masih demam, kita bawa kerumah sakit buat pemeriksaan lebih lengkap."


Semua orang mengangguk. "Aunty biar aku yang antar." tawar Farri. Daddy satu itu paham perasaan Baskara yang pasti ingin menemani Senja.


Pricilla mengangguk dan menepuk bahu putranya. "Jagain Senja. Kalau ada apa-apa langsung hubungin bunda."


Baskara hanya mengangguk. Tak melepaskan pandangannya dari wajah sang gadis.


"Kamu balik ke kamar aja, Ngga. Kasihan nanti kalau Sisi bangun nggak ada orang."


Jingga mengangguk dan menuruti perintah mertuanya. Menatap sejenak wajah Senja sebelum berlalu.


Alvaro menggeleng. Mana sanggup ia tidur jika putri kesayangannya tengah terbaring lemah. Seharusnya ia bisa meluangkan waktu untuk menjaga Senja selama musim liburnya. Dan melarang anak gadisnya itu untuk melakukan hal yang begitu menarik perhatian hingga lupa makan dan mengabaikan istirahat.


"Papa disini saja." Alvaro duduk di sofa yang ada di kamar itu.


Baskara mengangguk dan tak mempedulikan kehadiran orang yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri itu. Ia terlalu larut menatap wajah Senja dengan perasaan sendu dan khawatir.


"Kok bisa sakit sih, Ja? lo ngapain aja sampai lupa makan dan istirahat, hmm?" sebenarnya tak heran mendengar Senja begadang. Gadis itu sering begadang ketika ada tugas kuliah saat di NY. Tapi disana ia selalu memantau agar Senja tidak melupakan makannya.


Semenjak di Jakarta, Baskara memang tidak terlalu memperhatikan makan gadisnya. Karena ia pikir, Senja sedang berada ditengah keluarga yang tak mungkin membuatnya lupa makan.


Tapi ternyata ia lupa, jika gadisnya akan lupa makan jika tidak diingatkan ketika fokus mengerjakan sesuatu.


Dahi Baskara mengerut ketika merasakan ada yang terasa beda. Jemari yang ia genggam kini tidak kosong. Dijari manis Senja tersemat cincin berlian. Dan Baskara rasa ia mengenali cincin itu.


Baskara mengangkat tangan Senja untuk ia amati lebih dekat. Dan benar saja. Itu cincin berlian yang ia gunakan untuk melamar gadis itu di NY dulu.

__ADS_1


Hati Baskara berdebar kencang. Bahkan rasanya ia sulit bernapas. Senyumnya mengembang dengan luapan bahagia.


Benarkah apa yang ia lihat?


Baskara mengucek kedua matanya. Berharap ia tidak sedang berhalusinasi karena frustasi dan khawatir.


Apakah ini artinya Senja sudah mengambil keputusan untuk menerima lamarannya?


Bolehkan ia berteriak saat ini?


Karena rasanya ia sangat bahagia dan ingin seluruh dunia mengetahuinya.


Mengetahui jika ia tengah bahagia.


Gadisnya menerimanya!


"Pah? ini benar?" tanya Baskara dengan mengacungkan tangan Senja yang tersemat cincin dan tidak diinfus.


Awalnya Alvaro mengernyit bingung. Tapi tak lama kemudian pria itu berucap. "Papa nggak berhak untuk menjawab." jawabnya. "Nanti kamu tanyakan saja sendiri saat Senja sudah sehat." imbuhnya.


"Ingat! sa-at Sen-ja su-dah se-hat!" tekan Alvaro pada setiap kata begitu Baskara mengangguk dengan senyum sejuta wattnya.


"Cepat sehat sayang." bisiknya lembut ditelinga Senja. Ia ingin mencuri cium di dahi Senja. Hal yang sudah sangat lama ia tahan karena merasa tidak memiliki hubungan apa pun.


Tapi ketika tinggal beberapa centi, suara Alvaro menginterupsi. "Jangan berani-berani kamu cium anak gadis papa sebelum kalian menikah! apa lagi ada papa disini!"


Baskara merenges dan menegakkan kembali duduknya. "Papa saja cium mama saat kami sudah lama menikah! berani-beraninya kamu mau cium-cium sebelum halal!"


"Maaf pah." cicitnya malu dengan wajah semerah tomat.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2