Langit Senja

Langit Senja
Membangun Kembali


__ADS_3

Pesta yang di gelar di salah satu ballroom hotel berbintang yang masih milik keluarga Tiara berlangsung cukup meriah.


Acara yang di mulai dari jam tujuh hingga sepuluh malam nanti dipadati banyak tamu undangan.


Mungkin karena ini pesta pertama keluarga Alvaro dan Tiara. Jadi hampir seluruh kenalan, kolega, dan saudara di undang.


Kedua orang tuanya tengah sibuk menyapa tamu undangan. Pasangan pengantin Vindra dan Fani tengah sibuk menyalami para tamu yang memberikan selamat juga doa untuk pernikahan keduanya. Farri juga tak kalah sibuk menyapa para klien dan mengenalkan istri dan juga anak mereka.


Sedangkan Senja hanya tersenyum melihat keluarganya yang tengah sibuk dan bahagia. Setidaknya kenangan ketika ia pulang di liburan kali ini, terisi dengan kenangan indah dalam keluarganya malam hari ini.


Dari pada bingung ingin melakukan apa, Senja memilih untuk mencicipi dessert yang disediakan di sana. Dari chocolate fountain, puding, macaroon, ice cream hingga cake pop, Senja coba semua dalam porsi kecil. Ia memang sengaja tidak makan menu utama. Karena ingin mencicipi semua dessert yang tersedia.


Ditengah keasyikannya mencoba semua makanan dengan cita rasa manis itu, ada pemuda yang mendekatinya dari belakang dan berbisik di telinganya.


"Jangan kebanyakan makan manis. Gendut baru nggak laku, lo!"


Senja mendesis sebal. Tangannya sudah menyikut perut Baskara, sayangnya pria itu ternyata berdiri cukup jauh hingga sikunya tidak mengenai perut pemuda itu.


Senja berbalik dan meninggalkan Baskara begitu saja ketika pemuda itu meledeknya dengan senyum smirk. "Ganggu tau nggak, lo!"


Lagi pula Senja tidak takut berat badannya akan bertambah. Mau ia makan sebanyak apa pun, tidak pernah berpengaruh pada berat badannya yang segitu-gitu saja. Paling hanya sakit perut jika tengah kalap makan.


Baskara terkekeh melihat raut kesal Senja. Rasanya menyenangkan juga bisa mengganggu gadis itu lagi. Ternyata ia rindu saat-saat mereka bisa saling meledek, mengerjai dan tertawa bersama seperti dulu.


Seketika tawa yang sempat muncul surut menjadi sendu. Merasa bersalah dengan semua yang terjadi saat ini.


Mungkin jika dulu ia tidak egois mencintai Jingga, persahabatan mereka bertiga masih tetap baik hingga saat ini.


Tidak membuat Senja menjauh. Dan tidak akan sakit hati melihat Jingga tertawa bahagia bersama pria lain.


Baskara menggeleng. Semua yang sudah terjadi tidak akan bisa berubah kembali. Ia hanya perlu memperbaikinya.

__ADS_1


Pemuda itu menyusul Senja yang sudah menjauh, mensejajarkan langkahnya mengikuti gadis itu yang mencari meja kosong.


"Makanya cari pasangan. Jadi nggak bingung pas kondangan begini." ucap Baskara melihat Senja kebingungan karena hampir semua meja telah terisi tamu undangan.


"Lo ngomong gitu, kayak yang kesini ngajak pasangan aja!" dengus Senja. Gadis itu mengikuti langkah Baskara yang sedikit menarik lengannya menuju meja paling pojok. Hanya itu meja yang kosong di sana.


"Gue maunya elo yang jadi pasangan kondangan gue." goda Baskara.


"Dih. Ogah banget!" sahut Senja langsung. "Bosen banget gue lihat lo dari bayi sampai mati. Nggak variatif banget keluarga gue itu-itu mulu!"


Cletak. Baskara menyentil dahi Senja yang omongannya mulai ngelantur. Padahal niat awalnya juga hanya sekadar menggoda.


"Lagian siapa yang ngajakin lo nikah? emang temen kondangan harus suami-istri atau pacar gitu?"


Senja yang sekan baru sadar dengan mengusap dahinya, mengangguk. "Iya juga sih?"


"Bilang aja lo ngarep gue ajak nikah."


"Dih. Amit-amit.. Amit-amit.." gadis itu mengetuk dahi dan meja bergantian seraya mulutnya yang tak henti merapalkan kata 'amit-amit'. Membuat Baskara mendengus melihatnya.


Gantian Senja yang mendengus. "Muji mah muji aja kali. Nggak pakai sedikit juga. Nyatanya gue emang cantik." Senja mengibaskan rambutnya kebelakang.


Baskara akui. Malam ini Senja memang terlihat sangat cantik. Dengan gaun malam warna baby blue model A-line tanpa lengan yang menjuntai panjang menutup kakinya. Gadis yang dulu terlihat tomboy malam ini terlihat sangat anggun dan menawan.


"Lo dandan cantik biar ada cowok yang ngelirik lo, kan?" picing Baskara seolah curiga. Padahal ia hanya menggoda.


"Kalau iya juga kenapa? nggak ada urusannya sama elo! kali aja ada yang model papa versi muda disini."


"Kalau ada juga nggak bakal mau sama lo. Terlalu bagus lo dapet model om Alvaro." Baskara tergelak melihat wajah kesal Senja.


Hubungan mereka memang membaik sejak acara lari pagi waktu itu. Seakan benteng permusuhan yang keduanya bangun runtuh begitu saja.

__ADS_1


Kini keduanya mencoba membangun jembatan untuk memperbaiki persahabatan di antara mereka yang pernah runtuh. Mencoba membangun dengan pondasi yang lebih kuat, dengan natural dan tidak terpaksa.


Agar semua yang terjalin kali ini tidak akan mudah untuk di runtuhkan kembali. Meski mereka tidak menyepakati secara lisan. Tapi keduanya tahu mereka tengah berjalan dijalan yang sama. Tidak lagi saling berseberangan dan menjauh.


"Mau pulang bareng gue?"


Senja menggeleng menjawab tawaran Baskara. "Gue nginep di hotel. Nggak ada orang di rumah kecuali yang kerja."


Baskara mengangguk mengerti. "Kalau jalan, mau nggak?" tawar Baskara lagi. Sudah lama ia tidak memiliki teman mengobrol. Bahkan kuliah saja ia tidak memiliki teman. Entah sejak kapan ia menutup diri dari dunia sosial. Waktunya hanya dihabiskan untuk belajar. Dan ketika ia kini menemukan Senja yang mulai kembali menerimnya. Ia ingin kembali memiliki sahabat yang bisa ia ajak berbgai suka mau pun duka.


"Cari angin aja sekitar sini, biar lo juga nggak kejauhan buat balik."


Setelah menimbang beberapa saat juga menatap mata Baskara yang begitu berharap akhirnya Senja mengangguk dan mengikuti Baskara keluar dari area hotel. Menuju taman belakang hotel yang di hiasi beraneka lampu.


"Lo kapan balik lagi ke NY?" tanya Baskara begitu mereka duduk di salah satu bangku taman.


Senja mengedik. "Mungkin bulan depan. Ada acara soalnya sama anak-anak."


"Lo punya banyak teman disana?" Baskara mulai penasaran dengan gaya hidup Senja disana. Apakah jauh dari keluarga, sahabat kecilnya ini bisa menjaga diri dengan baik. Atau justru gadis yang tengah mengusap lengannya mengahalau udara dingin itu ikut terjerumus pergaulan bebas.


Baskara melepas jas yang ia kenakan dan menyampirkannya di pundak Senja. Membuat gadis itu menoleh dan berterimakasih. Senja memang apa adanya. Tidak perlu repot untuk pura-pura menolak padahal ia memang kedinginan.


"Teman sih banyak, cuma yang bisa disebut sahabat cuma satu."


Baskara mengangguk mengerti. Memang tak semua orang yang dekat dengan kita bisa disebut sebagai sahabat. Kadang mereka hanya berada di dekat kita ketika senang saja. Tak jarang juga orang yang kita percaya sebagai tempat curhat, malah orang itu menjadikan curhat kita sebagai bahan gosip pada teman yang lain.


Apa lagi di kota besar yang kebanyakan rasa empati terhadap sesama sangat kurang.


"Masih mending. Gue malah nggak ada teman sama sekali."


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2