
Senja diantar kembali ke NY di pagi hari terakhir sebelum kembali masuk kuliah. Sore hari baru Baskara kembali ke tempatnya menuntut ilmu.
"Jaga diri dan kehormatanmu baik-baik sebagai seorang istri." pesan Baskara disertai kecupan lembut dipuncak kepala istrinya. Memeluk erat sebelum mereka harus berjauhan selama beberapa hari kedepan. "Aku bakal lebih sibuk dari semester kemarin. Tapi jangan sampai komunikasi kita berkurang dari sebelumnya ya, ayy."
Senja mengangguk dalam dekapan sang suami. Menghirup aroma khas Baskara untuk ia rekam dalam memorinya. Agar ia bisa mengingat harum itu ketika nanti mereka berjauhan. "Kamu juga jaga hati, mas! jangan sampai dekat-dekat sama Lura-Lura itu!"
Baskara terkekeh dan mencuri cium diujung bibir istrinya. "Dia nggak semenarik dan semenggoda istriku yang cantik ini."
"Terus kalau ada yang lebih menarik dan menggoda, mas bakal kelain hati?!" tuduhnya sewot.
"Ya enggak dong sayang. Sampai kapan pun tetap kamu seorang. Sekali pun kamu yang minta aku mendua." kelakarnya tertawa puas melihat wajah kesal sang istri.
"Siapa juga yang minta dimadu!" gerutunya kesal. "Udah sana pulang. Nanti sampai sana kemalaman lagi."
Baskara mengerucutkan bibirnya bersikap manja. "Kok ngusir si sayang. Aku kan masih mau disini."
"Semakin lama mas disini. Semakin lama juga lulusnya. Emang mau LDR-an terus?"
Pemuda yang masih mengerucutkan bibirnya itu menggeleng mantap. "Doakan suamimu ini biar kuliahnya lancar. Tahun ini bisa lulus."
Senja mengaminkan perkataan suaminya.
Perasaan mereka masih menggebu-gebu. Mereka bahkan baru mengungkapkan perasaan satu sama lain.
Ibarat orang pacaran. Mereka tengah kasmaran. Tengah sayang-sayangnya. Ingin melakukan apa pun berdua. Tapi kini mereka harus rela terpisah jarak demi masa depan yang lebih terjamin untuk keluarga yang tengah mereka bangun ini.
"Aku kira nggak akan seberat ini karena udah terbiasa bolak-balik kesini tiap weekend. Tapi setelah nikah, kok rasanya berat banget buat berangkat ke Cambridge ya, ayy?"
"Salah sendiri minta buru-buru nikah." cibir Senja yang melihat suaminya menunjukan tanda-tanda mengeluh.
"Kalau aku nggak buru-buru ngelamar. Nanti keburu ada yang nikung lagi."
"Emang angkot ditikung." kekeh Senja dengan pemikiran suaminya.
"Lagi pula aku pengen jadi papa muda. Bikin anak yang banyak dengan jarak yang dekat. Biar nanti mereka besar, kita masih muda."
"Iish!" Senja memukul dada suaminya. "Meskipun aku belum pernah melahirkan, tapi aku tahu melahirkan itu nggak gampang. Enaknya aja minta anak banyak!"
Baskara menggigit hidung istrinya yang cemberut. "Biar rame, ayy. Nggak sepi kaya aku yang sendirian."
"Ya udah kamu aja yang ngelahirin sana!"
Baskara terkekeh dan menghujani wajah istrinya dengan ciuman. "Kasih senyum dong. Kan aku mau pulang."
__ADS_1
Senja menarik sudut bibirnya. Memberikan senyum terpaksa.
"Yang ikhlas sayang.. Masa kesan terakhir sebelum aku pulang malah dijutekin gini."
"Salah sendiri godain terus." pada akhirnya Senja tak kuasa untuk tak memberikan senyum terbaiknya. Senyum manis yang selalu membuat Baskara merasa candu dan ingin selalu menatap wajah cantik bidadari surganya.
"Ya udah, aku pulang ya sayang?"
"Iya hati-hati."
Keduanya masih berpelukan. Seakan enggan melepaskan satu sama lain.
"Aku pulang, ayy."
"Iya mas."
"Kamu hati-hati disini."
"Mas juga." Senja sudah akan melepas pelukannya namun ditahan oleh Baskara yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku pulang."
"Iya issh sana.. lepasin pelukannya!" lama-lama ia geregetan juga dengan suaminya itu.
"Malu iih!" mereka berdua memang didepan pintu apartemen Senja. Untuk peluk, ia masih bisa mentolerir meskipun malu. Tapi untuk cium ditempat umum seperti ini, Senja menolaknya.
"Ya udah aku nggak mau pulang." acam Baskara yang akan kembali masuk kedalam, namu Senja menariknya dengan kesal.
"Iya ihh.. Ngambekan banget!" gadis itu menarik kerah kemeja yang suaminya kenakan agar pemuda itu menunduk dan Cup. Kecupan singkat mendarat dibibir indah suaminya.
Meski hanya kecupan, Baskara sudah sangat bahagia. Apa pun yang istrinya lakukan untuknya, selalu bisa membuatnya merasa bahagia.
***
Kehidupan yang sesungguhnya kembali dimulai. Waktu untuk berlibur dan bermesraan dengan orang tercinta sudah usai.
Kini Baskara kembali dihadapkan dengan dunia perkuliahan. Tentang segala materi yang harus ia kuasai. Segala riset dan tugas kuliah yang menumpuk.
Begitu juga dengan Senja yang kembali sibuk dengan kuliahnya.
Komunikasi suami istri itu terbilang cukup lancar. Bahkan terlampau lancar bagi Senja yang selalu diteror pesan atau bahkan telepon langsung jika ia tak langsung membalas pesan suaminya.
Ia yang tak pernah menjalin hubungan sebelumnya cukup jengah dengan sikap Baskara yang menurutnya terlalu berlebihan.
__ADS_1
Tiap jam, suaminya itu akan bertanya ia sedang apa dan dengan siapa.
Bahkan jika ia mengatakan ia tengah bersama teman laki-laki, Baskara akan selalu melakukan VC padanya meski suaminya itu ditengah dalam kelas dan ijin pergi ke toilet. Hanya untuk memastikan ia tak duduk terlalu dekat dengan teman lelakinya.
Yang lebih keterlaluan lagi adalah Baskara yang akan bertanya nama, usia bahkan hingga alamat tempat tinggal teman lelakinya dengan dalih keamanan Senja.
Baskara bilang, setidaknya jika nanti istrinya itu tidak bisa dihubungi dan hilang, ia tahu siapa orang yang terakhir kali dengan Senja dan sudah mengantongi alamat si pelaku.
Menurut Senja itu sudah benar-benar gila. Baskara terlalu mengekangnya. Yang sering kali membuatnya malu karena memaksa ingin berbicara dengan temannya hanya untuk mengatakan Senja sudah memiliki suami dan jangan berharap bisa mendekatinya.
"Ya Tuhan.. Riiinnnn... Mungkin tidak lama lagi aku akan gila dengan segala kegilaan Bas untukku."
Maureen tempat Senja berkeluh kesah bukannya bersimpati justru tertawa melihat temannya frustasi seperti itu.
"Dia hanya takut kehilanganmu." bela Maureen. "Yaa walaupun menurutku memang terlalu posesif." angguknya dengan mengulum senyum.
"Apakah kekasihmu juga segila ini?" ini bukan lagi posesif menurut Senja. Ini sudah taraf kegilaan Baskara.
"Dia memang sedikit posesif diawal hubungan kami. Tapi tidak untuk saat ini. Kami memiliki komunikasi dan rasa percaya yang baik."
Senja mengerang mendengarnya. Apakah itu berarti hanya Baskara yang bersikap demikian.
"Ambil positifnya saja sayang... Bahwa dia benar-benar mencintaimu dan tidak ingin memberi celah orang lain untuk mengambilmu."
"Aku bukan barang yang bisa di ambil."
"Kau tahu maksudku apa Senja."
Senja mengangguk dengan tangan yang sibuk memberikan balasan pada Baskara yang bertanya apa ia sudah makan siang.
Senja mengambil gambar Maureen dengan kamera ponselnya dan mengirimkan pada Baskara.
Dibawahnya ia ketikan balasan.
Aku makan siang bareng Maureen. Mas sudah makan?
Fokus kuliah boleh. Tapi jangan sampai lupa makan.
Setelah dua balasannya terkirim, ia menyimpan kembali ponselnya dalam tas. Untuk saat ini, ia tidak berani berbicara tetang sikap berlebihan Baskara. Ia takut menyinggung perasaan suaminya. Biar nanti saja jika sudah tak tahan lagi.
*
*
__ADS_1
*