Langit Senja

Langit Senja
Penyelinap


__ADS_3

Senja dan Baskara dalam perjalanan pulang sehabis berbelanja dipusat perbelanjaan sekaligus pergi menonton.


Natal yang hanya tinggal beberapa hari lagi membuat pusat perbelanjaan dipenuhi sesak.


Entah mereka membeli hadiah natal atau pernak pernik untuk menghias rumah mereka.


Meskipun Senja dan Baskara tak merayakan hari besar keagamaan itu. Namun melihat wajah-wajah ceria anak-anak yang begitu antusias menanti hari dimana mereka akan mendapatkan hadiah, turut membuat Baskara dan Senja ikut bahagia.


Senja bahkan membeli beberapa hadiah untuk ia kirim ke keluarga Mureen. Walau bagaimana pun mereka sudah seperti keluarga sendiri baginya.


"Senyum-senyum ngelihatin apa sih sayang?" Baskara yang berada dibelakang kemudi menatap istrinya yang tak berhenti tersenyum bahkan tak jarang tertawa menatap layar ponselnya.


Lampu lalu lintas tengah berubah merah, sehingga ia bisa menatap sang istri.


"Ini, anak-anak himpunan mahasiswa Indonesia disini. Mereka habis ada acara buat ngisi liburan gitu. Seru kayaknya. Pada kocak-kocak abis." jawab Senja masih tak mengalihkan perhatiannya dari layar datar ditangan yang menampilkan video di pesan grup.


"Eh lihat deh, mas. Ini kak Doni lucu banget. Ya ampun, hahaha.." lagi-lagi tawa renyahnya terdengar. Tawa yang kali ini terdengar menyebalkan bagi Baskara. Karena tawa itu bukan untuknya.


"Lucu darimana, begitu doang." cebik Baskara dengan nada tak suka. "Lucuan juga aku." gerutunya kembali melajukan mobil agar cepat sampai di apartemen. Tempat terhangat dimusim dingin seperti ini.


Berbicara belanja, Baskara tak membiarkan lagi Senja menggunakan uang saku yang diberikan mertuanya. Segala kebutuhan Senja, ia penuhi. Dari makan, uang saku hingga kebutuhan skincare sekalipun. Meski ia tak melarang ayah mertuanya untuk memberikan uang kepada istrinya.


Kecuali uang pendidikan. Karena pendidikan Senja sudah tercover asuransi. Dan Alvaro bersikeras pendidikan putrinya adalah tanggung jawabnya.


Jadi Baskara boleh membiayai segala kebutuhan Senja kecuali pendidikan. Karena itu sudah hak paten tanggung jawab yang Alvaro ambil.


Meski Baskara belum bekerja. Ia tetap sadar akan tanggung jawabnya menafkahi sang istri. Bukan hanya nafkah batin tapi juga lahir.


Karena ia belum bekerja. Jadi jalannya satu-satunya adalah berbagi uang saku yang setiap bulan keluarganya kirim.


Lagi pula tabungannya juga banyak. Karena sejak masih duduk dibangku SD, uang bulanannya tak pernah habis dan tertabung yang semakin lama semakin banyak.


Karena bukan hanya kedua orang tuanya yang memberinya uang saku. Tapi juga Oma, kake-nenek, serta om dan tante dari pihak ibunya.


Terlebih ketika opanya masih hidup. Pria tua itu yang paling besar memberinya uang saku setiap bulan.


Jadi bukan masalah besar untuknya menafkahi sang istri. Bahkan uang tabungannya cukup untuk menbangun restoran mewah atau sekedar hotel berbintang tiga.

__ADS_1


"Uluh uluh.. Suami aku cemburu." goda Senja mencolek dagu suaminya.


"Apa sih, nggak lucu!"


Bukannya takut, Senja malah tergelak melihat tingkah sang suami. Yang biasanya meski cemburu atau marah sekalipun masih bisa mengendalikan diri. Kali ini wajahnya terpasang masam.


"Tumben banget ngambek begini. Gemes deh." Senja semakin tak tahan untuk mencubit pipi suaminya yang masih menekuk wajahnya.


"Gemes. Gemes. Emang aku bayi."


"Lebih gemesin dari pada bayi malah, mas. Hahaha."


"Ck. Apa sih. Males ah ngomong sama kamu. Ngomong aja sana sama Dondong itu!"


Tawa Senja semakin berderai. Jadi seperti ini ketika suaminya tengah cemburu. Lucu juga pikirnya.


Bukan Senja tidak pernah melihat suaminya cemburu. Tapi biasanya prianya itu akan langsung mengatakan jika ia tak suka dan tetap bersikap lembut padanya. Bukan ngambek seperti saat ini.


Sedangkan Baskara semakin kesal ketika istrinya tak mencoba membujuknya malah kembali tenggelam akan ponsel ditangannya.


***


Keduanya saling melempar pandang ketika membuka pintu apartemen dan mendengar suara televisi dari dalam.


Pasalnya setelah menikah, passcode apartemen telah mereka ganti dan hanya mereka yang tahu. Mencegah Maureen -yang biasanya keluar masuk sesukanya-mengganggu privasi mereka.


Keduanya sama-sama mengedikan bahu sebagai jawaban dari pertanyaan yang tersirat dari tatapan satu sama lain.


Senja menjatuhkan barang belanjaanya begitu melihat orang yang menyambutnya dengan senyum dan tatap yang meneduhkan.


"Papa?" tanyanya tak percaya. "Cubit aku mas. Biar aku tahu ini bukan mimpi." pintanya pada sang suami.


Tak pikir panjang, Baskara mencubit pipi istrinya gemas melihat tingkah berlebihan istrinya itu.


Setelah mengaduh, ia berlari pada cinta pertamanya.


"PAPA.. PAPA.. PAPA.." serunya senang mendapati Alvaro datang.

__ADS_1


"Princess-nya papa sudah menikah tapi masih manja begini sih? kasihan Babas dong, ngasuh anak kecil." goda Alvaro mendekap putri-yang akan selalu ia anggap kecil-dengan hangat. Memberinya ciuman dikepala dengan segala rasa rindu.


Senja mencebik dengan mulut yang sudah terisak. "Papa jahat! papa nggak pernah nengokin adek lagi!"


Alvaro tersenyum dan mengusap lembut rambut dan punggung putrinya. "Papa juga kangen lho, dek." jawabnya.


Siapa yang tidak merindukan putrinya yang manja itu. Yang dulu setiap dua atau tiga bulan sekali selalu ia kunjungi. Dan ini empat bulan lebih baru ia datang berkunjung.


"Kalau kangen kenapa nggak datang?" rengek Senja semakin kencang menangisnya.


"Cup cup cup.. Masa sudah menikah nangisnya masih kayak anak kecil begini. Malu dong sayang sama suami kamu."


Senja tak menghiraukan. Ia masih menangis dengan keras. Menumpahkan rasa rindu yang sudah ia tahan sejak lama.


Bahkan Senja semakin menghindari komunikasi dengan keluarganya melalui telepon. Karena mendengar suara mereka akan semakin membuatnya rindu dan menangis. Jadi Senja lebih sering mengirim kabar lewat pesan teks. Agar tangisnya tak tumpah.


Baskara sudah melipir ke dapur membereskan belajaan. Memberi ruang untuk ayah dan anak yang membutuhkan waktu berdua.


Dan suara berisik Senja membangunkan Tiara yang sebelumnya tengah mengistirahatkan tubuhnya dikamar tamu yang biasa ia tempati.


"Lho anak mama kok nangis. Kenapa sayang?" Tiara yang masih setengah sadar dibuat khawatir dengan putrinya. Tapi bukannya berhenti menangis, Senja justru semakin kencang dan berpindah kepelukan sang ibu. Dengan tangan ayahnya yang masih setia membelai rambut panjangnya untuk memberikan ketenangan.


"Mama jahat! mama nggak sayang adek!" hal yang sama Senja utarakan pada sang ibu.


"Mana mungkin mama nggak sayang sama putri mama satu-satunya." sangkal Tiara benar adanya.


"Buktinya kalian baru datang setelah empat bulan!"


Baik Tiara dan Alvaro terkekeh. "Kami hanya memberi kalian lebih banyak waktu. Pasti kalian pengen nikmati masa pengantin baru." ucap Alvaro.


"Apa lagi kalian cuma ketemu pas weekend. Pasti lebih butuh banyak waktu lagi." timpal Tiara. "Ini aja sebenarnya mama sama papa mau datangnya nanti pas kalian ulang tahun. Tapi papa kaya anak kecil merengek tiap malam. Kangen sama anak kesayangan." imbuhnya menatap suaminya geli.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2