
Setelah beberapa kali membujuk Langit agar mau makan, akhirnya pria itu luluh juga. ya, meskipun harus melalui banyak drama, kayak lagi bujuk cewek PMS aja harus di janjikan dengan sesuatu dulu.
"gue udah selesai makan, sekarang lo kasih tau gue di mana istri gue sekarang." ucap Langit yang sudah selesai dengan makan malam nya uang tadi di antar oleh Bik Sumi ke kamar nya. ya, Langit dan Dylan sudah pindah ke kamar Langit sendiri atas perintah Dylan supaya sahabatnya tidak semakin terpuruk.
"Gue nggak ketemu Senja Ngit, gue cuma ketemu Alya aja, saat Alya sepertinya membeli susu hamil. Mungkin saja itu buat Senja. karena gue juga nggak tau kalau Senja pergi dari mansion." jelas Dylan.
"itu artinya Senja ada sama Alya Lan?" terka Langit.
"bisa jadi" jawab Dylan dengan menganggukkan kepalanya. "apa lo tahu kalau Senja mengalami trauma dan itu karena lo?" tanya Dylan selanjutnya. Langit menganggukkan kepalanya dengan lemah. pria itu lalu berjalan menuju meja rias yang dulu di pakai oleh Senja saat mereka masih satu kamar. Langit membuka laci meja itu dan mengambil sebuah kertas lalu memberikannya pada Dylan. Dylan menerima kertas itu dan membaca nya dengan seksama.
"dia tidak sengaja meninggalkan hasil pemeriksaan nya ." ucap Langit. pria itu merasa bersalah karena sudah membuat istrinya sampai trauma terhadapnya.
"dia juga meninggalkan ini." Langit juga memberikan hasil USG pertama kehamilan Senja pada Dylan. "anak gue Lan." gumam Langit. pria itu kembali menangis tersedu istri dan anak yang ada di dalam kandungannya.
__ADS_1
"lalu, apalagi yang ia tinggalkan?" tanya Dylan kemudian.
"semuanya, dia meninggalkan semuanya. dia tidak membawa apa pun dari mansion ini. laptop, ponsel, pakaian kartu kredit, semuanya dia tinggalkan. bahkan dia nggak membawa uang sepeserpun Lan." ucap Langit. Dylan merasa kasihan pada sahabatnya yang terlihat rapuh seperti ini. Namun, dia tidak bisa berbuat apapun. sekalipun bisa, ia tidak akan melakukannya, menurutnya ini adalah ganjaran dari apa yang ia perbuat pada Senja di masalalu yang selalu bersikap egois.
"apa lo tau kenapa Senja lebih memilih untuk kembali ke kamarnya daripada di kamar lo?" Tanya Dylan lagi, membuat Langit yang tadinya menunduk kini mendongak menatap pada sahabatnya dengan lelehan air mata yang belum juga mengering itu.
"gimana lo bisa tau?" tanya Langit, dia merasa tidak pernah menceritakan hal itu pada sahabatnya. tap, bagaimana bisa sahabatnya itu tahu?
Dylan terkekeh melihat keheranan Langit. "lo lupa tadi gue bilang kalau gue baru saja ketemu Alya dan bicara banyak?" tanya Dylan pada Langit yang kembali menundukkan kepalanya.
tiba tiba Langit bangkit dari duduknya, berjalan menuju laci nakas, meraih sebuah kunci dan juga jaket yang tergantung di dalam lemari.
"lo mau kemana-mana?" tanya Dylan saat melihat Langit mengambil sebuah kunci.
__ADS_1
"gue mau cari istri gue Lan."jawab Langit. belum sampai ia meraih gagang pintu, Dylan dengan cepat meraih lengan sahabat nya dan menariknya sedikit kasar.
Langit menatap tajam ke arah Dylan yang sudah berani menghalangi langkahnya. "kenapa lo halangi gue." sarkas Langit.
"kenapa lo bilang? lo bego apa gimana sih Ngit? katanya lo tahu kalau Senja takut sama lo, terus apa yang akan lo lakuin nanti saat ketemu Senja? Mau paksa dia lagi? hah?" kesal Dylan. kenapa ia merasa kalau Langit kini jadi seperti orang bodoh? tidak bisa berpikir panjang.
Langit terduduk di lantai denga lemas. benar apa yang di katakan Dylan.
Aaarrrgggghhhhh
*****
Bersambung....
__ADS_1
HAPPY READING 😊