Langit Senja

Langit Senja
Benar atau Salah


__ADS_3

Senja tidak tahu apa keputusannya kali ini benar atau salah. Ia hanya mengikuti hati nuraninya yang tak tega pada keluarga Inggrid.


Ia juga mencoba membayangkan jika dirinyalah yang saat itu diposisi Inggrid. Ia mungkin akan melakukan hal yang sama atau bahkan lebih agar ibu dan adik-adiknya tidak perlu susah lagi.


Meskipun ia tidak memiliki adik, tapi ia memiliki ibu dan anak-anak yang membutuhkannya. Tak terbayangkan jika ia membawa ibu dan anak-anak dalam keadaan sulit.


Apalagi Inggrid terlihat sangat menyayangi keluarganya. Mana tega ia menghancurkan keluarga yang saling menyayangi seperti itu.


Kini keputusan sudah diambil. Jadi ia hanya bisa berharap Inggrid akan memperbaiki kesalahannya dengan sungguh-sungguh. Dan kejadian seperti sebelumnya tidak akan terulang kembali.


"Lo yakin mau pertahanin Inggrid, Ja? atau setidaknya dipindah jabatan aja. Jangan jadi asisten lo banget gitu."


Senja sudah mulai kembali pada pekerjaannya. Mendesain pesanan khusus untuk gaun pernikahan.


Sedangkan Jingga duduk didepannya karena merasa belum puas atas keputusan Senja yang bahkan tak memberikan sanksi apa pun untuk Inggrid.


"Dengan posisi dan gajinya yang segitu aja dia masih kekurangan sampai tega buat jual desain kita. Apa lagi kalau gue nurunin jabatan sama gaji dia?" Senja masih menjawab dengan tenang tanpa mengalihkan tatapannya dari gambar yang tengah ia buat.


"Ngomong-ngomong soal gaji.." Senja mendongak menatap Jingga yang menunggu dengan penasaran. "Gaji lo bulan ini gue potong."


"KOK GITU!" seru Jingga kaget. Ibu dua anak itu bahkan langsung berdiri dari duduknya dan menopangkan kedua tangannya diatas meja. Tak menyangka sahabat yang sekaligus adik iparnya itu akan begitu perhitungan tentang hari cutinya.


"Lo kan cuti cuma empat hari. Tapi lo nggak masuk lebih dari seminggu." Senja menyandarkan punggungnya dengan tangan terlipat didepan dada tanpa takut pada Jingga yang kini masih memelototinnya.


"Ya jangan gitu dong, Jaaaa.." kini ekspresi Jingga berubah memelas. "Gue disana kan juga kerja."


"Kerja apaan! senang-senang sendiri doang lo."


Sebagai bukti bahwa apa yang ia ucapkan tidak hanya menjadi sebuah omong kosong, Jingga kembali membuka galeri pada kameranya dan menunjukan pada sang adik ipar.


"Tuh lihat! Gue fotoin baju terbaru lo sama model yang gantengnya nggak bakal lo temuin dimana pun!"


Senja tertawa melihat isi didalamnya. Tak bisa ia bayangkan bagaimana usaha Jingga meminta kakaknya-Farri untuk menjadi model dadakan seperti itu. Apa lagi untuk bergaya-gaya yang memang bukan tipikal Farri sama sekali.

__ADS_1


Tak hanya satu model pakaian yang Farri kenakan untuk menjadi model pakaiannya. Tapi ada lebih dari lima model baru yang Jingga bawa tanpa persetujuan darinya.


"Ini sih baju gue yang keren." goda Senja. Mengagumi karya timnya. Juga mengagumi usaha kakak dan kakak iparnya yang sudah cukup membantunya dengan photoshoot yang mereka ambil itu.


"Hei! tanpa pakai baju pun, suami gue udah keren ya! jadi bersyukur deh tuh baju bisa dipakai sama suami gue yang gantengnya pari purna."


Senja menampilkan ekspresi ingin muntah dan menggosok telinganya berlebihan. "Dasar bucin!"


"Biarin bucin, wlee!"


Senja kembali tertawa melihat tanggapan Jingga. "Abang gue lo kasih apaan sampai mau begini?" tanyanya ditengah derai tawa. Menggulir dari satu foto ke foto yang lain. Menilai foto mana yang memiliki nilai jual yang tinggi. Yang akan lebih banyak menarik minat para pelanggan untuk membeli produknya.


Karena Senja yakin, meski yang mengagumi nanti adalah para wanita. Mereka pasti akan tetap membeli produknya. Entah untuk kakak, adik, pacar atau hanya sekedar gebetan.


"Yakin lo mau tau abang gue kasih apaan?"


Berhenti menggulir galeri. Dari nada suara Jingga, Senja menemukan firasat yang tidak baik. Ia menatap ngeri, Jingga yang tengah tersenyum penuh arti.


"Suci pala lo!" Jingga tak segan menoyor kepala adik iparnya itu. "Dari reaksi dan jawaban lo aja udah mengidentifikasi bahwa otak lo itu kotor dan perlu pembersihan."


"Siyalan!" maki Senja dengan gumaman. Tapi memang benar sih. Ia pikir Jingga membayar kakaknya dengan pelayanan tempat tidur paling memuaskan. Karena apa lagi yang akan terpikir olehnya tentang pasangan suami istri yang tengah berlibur bersama jika bukan hal seperti itu?


Ya masa iya dibayar pakai uang atau hadiah. Kakaknya bahkan memiliki sendiri dengan nominal yang lebih banyak.


"Terus kenapa abang gue mau begini?"


"Karena dia cinta lah sama gue!" Jingga mengibaskan rambut panjangnya. Membuat Senja melirik jijik dan Jingga tertawa puas melihatnya. "Gue cuma tambahin jam malam dia main game. Dia langsung setuju deh."


Rahang Senja jatuh. Ia tak menyangka dengan cara seperti itu Jingga membuat kesepakatan dengan kakaknya. Jika itu Baskara, tidak akan cukup dengan hal seperti itu untuk melakukan sebuah kesepakatan. Terlebih yang menjadi penawaran adalah hal yang tidak disukai seperti ini.


Jika ia yang jadi Jingga, ia akan membuat kesepakatan yang lebih menguntungkannya dari pada hanya sekedar berfoto. Selama suaminya mudah diajak kerjasama.


Ia akan meminta setengah saham yang suaminya miliki mungkin. Senja terkikik geli sendiri dengan apa yang ia pikirkan.

__ADS_1


Aah memikirkan suami, ia jadi merindukan suaminya. Suami yang mengembalikan semangatnya untuk mendesain dan membantunya meluruskan cara berpikirknya tentang dunia usaha ketika pikirannya tidak menentu kemarin.


Mungkin nanti ia perlu menyiapkan makan malam special untuk suaminya sebagai ucapan terimakasih atas masalahnya yang sudah dapat teratasi.


Ia juga perlu mentraktir Jingga makan untuk berterimakasih telah membantunya menemukan pelaku sebenarnya. Juga untuk foto-foto kakaknya yang Jingga bawa.


Mood-nya hari ini begitu berubah-ubah. Dari rasa senang bisa kembali melanjutkan desain yang hilang. Syok begitu mengetahui Inggrid dalang dibaliknya. Dan kini mood-nya kembali naik dengan adanya Jingga di sisinya. Dengan segala yang sahabatnya itu lakukan.


Ia beruntung masih memiliki Jingga sebagai sahabat. Karena ia membutuhkan tempat bercerita selain dengan suami dan keluarganya. Dan Jingga tetap bisa mendengarkan keluh kesahnya sebagai seorang sahabat. Bukan sebagai kakak ipar yang menceramahinya.


"Lo upload deh. Kalau banyak yang beli, gaji lo nggak jadi gue potong. Tapi justru gue kasih bonus berkali lipat."


"Bener ya?" tegas Jingga dengan begitu senangnya. Senang karena akhirnya ia bisa berinisiatif dalam bekerja tanpa harus Senja menyuruhnya terlebih dahulu.


Akhirnya ia melakukan hal yang tepat dalam bekerja.


"Iya. Masa gue bohong. Uang gue udah banyak sekarang." jawab Senja sedikit menyombongkan dirinya.


Jika pada Jingga, tak masalah ia untuk sombong. Karena menggoda Jingga adalah kesenangannya tersendiri sebagai hiburan di kantor ditengah pekerjaan yang tidak ada habisnya.


"Oke. Mari kita lihat, berapa puluh baju yang bisa terjual setelah satu jam di upload."


*


*


*




__ADS_1


__ADS_2