
"Sebenarnya apa yang Oma inginkan?!" tatapan Baskara tajam dan tak bersahabat. "Oma menginginkan cicit atau menginginkan aku untuk menikahi Grace?!"
"Tentu saja cicit." jawab Oma lugas.
"Lalu kenapa Oma meminta aku untuk menikah lagi?! memang dengan menikah lagi bisa menjamin untuk aku memiliki anak!" sentak Baskara yang masih tak habis pikir dengan jalan pikiran neneknya itu.
Jika ia tahu akan seperti ini, ia lebih memilih tidak pulang dan tetap di NY. Hidup bahagia meski hanya berdua dengan istrinya.
Dan yang semakin membuatnya kecewa adalah Senja yang menyerah begitu saja.
Harusnya kini mereka berjuang bersama. Saling menggenggam dan menguatkan. Mendukung satu sama lain.
Menunjukan betapa bahagianya mereka berumahtangga meski belum hadirnya momongan di antara mereka.
Tapi apa yang istrinya itu lakukan?
Senja malah memintanya untuk memikirkan tawaran Oma. Dan meski tadi ia mendengar istrinya mengatakan tidak akan memaksa jika ia tidak mau, tetap saja membuatnya kesal.
Bagaimana jika ia mengatakan iya?
Apa Senja akan menyerah begitu saja dan melepaskannya untuk Grace?
Tak berniatkah Senja mempertahankan ia untuk dimiliki seorang diri?
"Jelas bisa! karena Grace sudah di tes dan dia subur! tidak seperti istrimu yang-"
"DARIMANA OMA TAHU?!" bentak Baskara. "Baik Senja dan Bas bahkan belum pernah melakukan tes sekali pun!" Baskara semakin emosi ketika tahu apa yang akan neneknya katakan.
"Nggak ada yang tahu siapa yang tidak subur antara aku dan Senja!" ucapnya lebih memelan. Tapi tatapan dan nada suaranya masih tajam.
"Tidak mungkin! tidak ada dalam sejarah keluarga kita ada yang mandul!"
Baskara tertawa sinis melihat Oma yang tidak terima.
Jika Oma saja tidak terima keluarganya ia katai seperti itu. Bagaimana dengan istrinya?
"Oke. Mari kita buktikan!" pungkas Baskara. "Oma boleh pilih rumah sakit manapun untuk aku dan Senja melakukan tes. Biar Oma percaya kalau nggak ada yang merekayasa hasilnya." putus Baskara.
Dulu ia takut melakukan tes karena takut ia lah yang tidak subur. Ia takut Senja meninggalkannya dan mencari pria lain. Karena pasti istrinya itu juga memimpikan untuk memiliki anak sendiri.
"Kalau terbukti Senja sehat dan subur. Oma harus meminta maaf padanya." ia tatap istrinya yang sedari tadi tak lepas menatapnya.
"Dan kalau aku yang terbukti tidak subur, aku harap Oma nggak kecewa."
Baskara mendekat dan meraih tangan istrinya dan berucap dengan dingin. "Ayo pulang!"
Senja terseok mengikuti suaminya yang berjalan begitu cepat. Ia bahkan setengah berlari untuk dapat mengimbangi langkah suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu tuh kenapa sih, udah tahu Oma kata-katanya selalu nyakitin kamu. Kenapa malah disamperin?!"
Senja menunduk takut sebelum menjawab dengan cicitan. "Nyari kamu, mas."
Baskara menghela dan memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam.
"Kamu kan tahu aku semalam bertengkar sama Oma. Jadi mana mungkin sih, aku ada disini?!"
Senja mendongak dan menatap suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Boleh nggak marahnya nanti aja? aku kangen."
Sudah sejak melihat Baskara diruang keluarga Oma, Senja ingin langsung memeluk suaminya itu. Tapi ia berusaha menahan diri karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.
Tapi kini ia tidak dapat lagi menahannya. Ternyata ditinggal suami ketika tengah dalam hubungan yang tidak baik rasanya lebih berat dan menyesakan.
Baskara mengalah dan membawa tubuh istrinya dalam peluk hangatnya. Mencurahkan rasa rindu yang sama.
"Kenapa pergi nggak bilang? kenapa nggak bisa dihubungi? kenapa mas jahat banget?"
Baskara mencibir. "Baru kayak gini aja udah mewek-mewek, segala minta dimadu!" ia menyentil dahi istrinya pelan.
Senja menggeleng. "Nggak mau! nggak mau dimadu. Nggak mau ditinggal. Nggak mau berbagi."
Padahal rencananya Baskara masih ingin mengabaikan istrinya. Tapi melihat istrinya yang menggemaskan seperti ini, ia menyerah. Imannya lemah jika sudah seperti ini.
"Aku juga kangen." gumam Baskara membawa istrinya kembali dalam pelukan dan menggoyangkan kekanan dan kiri. Tak lupa melabuhkan kecupan sayang didahi istrinya sebelum mereka memasuki mobil untuk pulang.
Langsung dua hari berikutnya, pasangan suami istri itu datang ke sebuah rumah sakit yang Oma pilih.
Semua akan jelas setelah mereka melakukan serangkaian pemeriksaan.
Mereka mendatangi dokter spesialis urologi.
Yang pertama diperiksa adalah Baskara. Dokter melakukan pemeriksaan fisik dan bertanya mengenai gaya hidup serta riwayat kesehatan Baskara.
Setelah selesai, Baskara diminta untuk menjalani beberapa tes. Seperti tes air mani atau sp*rma, tes pemeriksaan fisik, tes hormon, tes genetik, tes anti-sperm antibody, dan tes urin.
Baskara sempat mengeluh ketika diminta masuk kedalam kamar mandi untuk mendapat sampel air maninya.
Selama menunggu hasil pemeriksaannya keluar, Baskara menemani Senja menjalani tes.
Tes yang dilakukan keduanya tentu saja berbeda. Tes pertama yang Senja lakukan adalah tes pap smear untuk mendeteksi kanker serviks atau penyakit menular seksual yang mengganggu kehamilan.
dilanjut dengan tes urine untuk mengetahui hormon luteinizing (LH). Kemudian tes darah dan cek suhu tubuh.
Tak hanya Oma yang ikut hadir. Orang tua Baskara juga datang untuk memberi suport kepada kedua anak mereka.
Tapi tidak dengan orang tua Senja. Orang tua Senja enggan bertemu Oma yang begitu merendahkan putri mereka.
__ADS_1
Saling menggenggam, Senja dan Baskara saling menguatkan. Menunggu dokter menjelaskan hasil pemeriksaan mereka.
Harap-harap cemas dengan hasil yang akan mereka dengar untuk dokter jelaskan.
Dokter yang bernama Laila itu melihat hasil dengan serius. Kerutan terlihat didahinya begitu melihat hasil pemeriksaan milik Senja.
Membuat jantung kedua pasangan suami istri itu semakin berdegub kencang.
"Bagaimana hasilnya dokter? benarkan jika cucu menantuku yang tidak subur?"
Dokter menatap Oma dan tersenyum lembut sebelum bertanya.
"Sebenarnya tujuan kalian melakukan pemeriksaan ini apa?"
Mereka saling pandang dengan bingung. Jelas-jelas mereka melakukan tes kesuburan. Tentu saja untuk mengetahui kesehatan reproduksi mereka.
"Cucu saya sudah satu tahun menikah dan belum juga ada tanda-tanda hamil, dokter." lagi-lagi Oma yang menjawab karena yang lain hanya diam.
"Kapan terakhir kali nona mendapat tamu bulanan?" tanya dokter pada Senja.
Senja berpikir dan menjawab dengan ragu. "Setiap bulan saya rutin mendapatkan tamu dokter. Tapi dua bulan ini dalam satu bulan bisa sampai dua bahkan tiga kali. Itu pun hanya satu dua hari saja."
Dokter Laila masih tersenyum menenangkan. "Apakah yang keluar banyak seperti datang bulan biasanya?"
Senja menggeleng. "Hanya flek dokter."
Dokter terlihat mengangguk dan mencatat apa yang Senja katakan.
"Sebenarnya pemeriksaan ini tidak diperlukan lagi jika nona Senja bisa lebih memahami kondisi tubuhnya."
Senja, Baskara dan Oma mengerutkan dahinya bingung. "Maksud dokter?"
Aldo dan Pricilla sudah tersenyum senang karena paham apa yang akan dokter Laila sampaikan.
"Flek yang nonna Senja alami adalah tanda kehamilan. Dan melihat dari hasil pemeriksaan, semua terlihat baik. Tapi saya anjurkan untuk memeriksakan ke dokter kandungan agar kalian bisa lebih jelas mengenai kondisi si kecil."
Baik Senja, Baskara bahkan Oma tak bisa berkata-kata. Ketiganya terlampau senang dengan kabar yang mereka dapatkan.
Sesuatu yang sudah sejak lama mereka idamkan.
Sesuatu yang membuat mereka saling bertengkar. Tapi kini datang bak pelangi selepas hujan.
*
*
*
__ADS_1