
Langit menggeram marah mendengar cerita Dylan. bukan, Langit bukan marah pada Dylan yang gagal menemukan gadis yang di carinya. tapi pria itu marah karena laki laki bernama Daniel yang mengatakan jika dia adalah calon pacar dari istrinya itu.
"hubungi Jhony, suruh anak buahnya mengawasi laki laki itu." perintah Langit pada Dylan.
"kanapa? Lo nggak percaya nggak percaya sama istri lo?"
"gue bukan nggak percaya sama istri gue, tapi gue nggak percaya sama laki laki itu." Tegas Langit. entah kenapa dia sangat percaya pada Senja nya, padahal hubungannya dengan Senja belum membaik.
"Hm, gue hubungi Jhony dulu."
Langit mengangguk lalu pergi keluar perusahaan meninggalkan Dylan.
Senja pergi dari Cafe dengan menaiki ojek online yang dia pesan lewat sebuah aplikasi di ponselnya. gadis itu berhenti di sebuah apotek.
"pak bisa tunggu sebentar? saya mau beli sesuatu dulu di sini." pinta Senja pada tukang ojek itu.
"baik Neng, Bapak tunggu di sini."
Senja lalu segera masuk ke dalam apotek. "permisi mbak, saya mau beli tespeck." ucap Senja mencoba menenangkan dirinya.
pelayan apotek itu menatap ke arah Senja. untung saja gadis itu sudah memaki hody dan mengganti rok abu abunya dengan celana jeans panjang.
"tunggu sebentar ya kak." Senja mengangguk. pelayan itu pun pergi sejenak untuk mengambil apa yang di minta Senja.
"mau yang merk apa kak?" tanya pelayan itu setelah kembali membawa beberapa tespeck ditangannya dengan merek yang berbeda.
"yang paling akurat yang mana mbak."
"semuanya akurat kak, tapi yang paling sering diminta pelanggan yang ini." pelayan apotek itu menunjukkan 3 tespeck yang sering di minta para pembeli.
"ya udah saya ambil 3 ini ya kak." pelayan apotek itu lalu membungkus 3 tespeck yang di minta Senja dan Senja memberikan sejumlah uang dengan harga yang di yang di sebut oleh pelayan apotek itu.
sesampainya di mansion, Senja langsung masuk kekamarnya dan segera menuju ke kamar mandi untuk segera mengeceknya dengan tespeck yang di belinya tadi.
__ADS_1
gadis itu mencoba menggunakan satu tespeck. dia menunggu beberapa menit, setelah mendapatkan hasilnya, menggelengkan kepalanya masih belum percaya. Senja mencoba lagi dengan menggunakan dua tespeck yang masih tersisa, dan hasilnya masih tetap sama. gadis itu menutup mulutnya dengan menggelengkan kepalanya. bulir bulir bening dari sudut matanya yang menatap pada 3 tespeck di tangan yang menunjukkan dua garis itu tak bisa di bendung lagi.
kini Senja telah bergelung dalam selimut tebalnya. Senja tidak ingin keluar dari kamar, dia juga sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun sampai sampai Siska maupun Bik Sumi bolak balik mengetuk pintu kamarnya tapi gadis itu masih bergeming di atas ranjang. air matanya terus mengalir, tangannya terus mengusap perut ratanya itu. dia bingung, harus bahagia atau sedih? gadis itu begitu takut. takut dengan ucapan Langit tempo lalu yang memintanya menggugurkan kandungannya kalau dia hamil. Namun, di hati kecilnya dia merasa sangat bahagia dengan kehadiran sosok yang belum terbentuk dalam rahimnya.
"Bunda janji akan menjagamu dari orang orang yang akan menyakiti kita sayang." gumam Senja sambil terus mengusap perutnya yang masih rata. "Termasuk Ayahmu sendiri." Lanjutnya. suaranya tercekat saat mengingat sosok Langit yang entah sejak kapan begitu dia cintai. Senja berharap anak dalam kandungannya ini bisa menjadi kekuatan untuknya.
Drrrrttt drrrrttt drrrrttt
ponsel Senja terus bergetar, tapi Senja tak menghiraukannya. pikirannya masih terasa rumit, dia masih memikirkan cara untuk menyelamatkan nyawa yang berada didalam perutnya dari suaminya itu.
"apapun akan Bunda lakukan untukmu. kamu harus kuat, kamu adalah penyemangat Bunda saat ini." Senja terus meracau tanpa henti. hingga dia terlelap dengan mata yang masih sembab.
sore telah tiba. Namun Senja belum juga keluar dari kamarnya, membuat Siska yang selalu ada didekatnya di mansion itu gelisah.
Langit yang baru saja masuk ke dalam mansion itu di buat bingung dengan tingkah Siska yang mondar mandir di depan lift. Langit berjalan mendekati wanita itu.
"kenapa?" tanya Langit, membuat Siska terkejut dengan kehadiran Langit.
"kenapa kamu mondar mandir di depan lift?" tanya Langit lagi, tanpa menghiraukan Siska yang terlihat sudah ketakutan itu.
"A...anu Tuan. N...nona muda...."
"ada apa dengan istri saya? apa dia belum pulang?" Langit sudah tidak sabar, dia memotong ucapan Maid itu.
"Sudah Tuan. tapi Nona belum turun sejak pulang dari sekolah." jelas Siska mencoba menenangkan perasaannya yang begitu ketakutan melihat wajah datar Tuan mudanya.
"kenapa kamu tidak memanggilnya?" Pria itu terlihat begitu khawatir. bagaimana bisa sejak pulang sekolah sampai jam 07:00 malam istrinya belum turun juga.
"sudah Tuan, saya dan Bik Sumi sudah bolak balik memanggil Nona muda tapi tidak ada jawaban."
Langit semakin di buat khawatir. tanpa berucap sepatah katapun pria itu bergegas memasuki lift.
__ADS_1
sesampainya di depan kamar Senja, Langit menjadi ragu. apakah dia akan memanggilnya atau diam saja? pria itu benar benar dilema.
sudah 10 menit Langit berdiri di depan kamar istrinya. dengan keyakinan penuh, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar itu.
Tok! Tok! Tok!
Senja yang berada di dalam kamar itu terjengit kaget mendengar ketukan pintu kamarnya. pasalnya, melamun, dan masih duduk di atas sajadah selesai menunaikan ibadah shalat maghrib.
" Senja, ini aku Langit. apa kamu baik baik saja di dalam?" tanya Langit dari depan kamar Senja yang pintunya tertutup rapat.
mendengar Suara orang yang membuatnya trauma, Senja langsung beringsut. tubuhnya kembali bergetar hebat. bulir bulir bening kembali keluar dari sudut matanya. dia begitu ketakutan. gadis itu memegang perutnya dan mengusapnya dengan tangan yang gemetar.
"tenang sayang kita akan baik baik saja. Ayahmu tidak akan menyakitimu, dia tidak akan tau tentang kehadiranmu. Bunda janji Nak." gumam Senja begitu lirih. tangannya terus mengusap perutnya yang masih rata itu.
"Senja, apa kamu baik baik saja? kalau kamu keluar
nanti ada Siska kesini mengantar makan untukmu di terima ya." ucap Langit lagi. Namun lagi lagi hanya keheningan yang ada. Langit menghela nafas pelan.
"apa kamu begitu takut dengan kakak sayang?" gumam Langit lirih, sangat lirih. sampai tidak ada yang bisa mendengarnya selain dirinya sendiri.
pria itu tertunduk Lesu, dia pun berjalan menuju kekamarnya.
sampai di dalam kamar, Langit menatap sofa yang dulu di tempati oleh Senja. pria itu berjalan menuju sofa dan duduk di sana.
"kenapa begitu sakit rasanya saat Senja menghindarikua? dulu saat Sarah berselingkuh tidak sesakit ini." monolog Langit. pria itu mengusap dadanya yang rasanya sangat sakit. dia lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang itu.
"Kakak merindukanmu Sayang." gumamnya, lalu ia menutup matanya menghilangkan rasa penat di tubuhnya.
***Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
oho... rupanya Sarah itu mantan nya Langit Yaaaa
__ADS_1
HAPPY READING 😊😊***