
Senja mematut penampilannya sekali lagi di cermin kecil yang ada dalam tasnya. Memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya malam ini.
Padahal hanya makan malam dengan Baskara. Hal yang sudah sering ia lakukan. Mereka juga sudah sering merayakan ulang tahun bersama. Tapi entah kenapa untuk kali ini ia merasa amat tegang. Seperti ada sesuatu yang aneh, tapi entah apa.
Pesan dari Baskara masuk ke ponselnya tepat pukul tujuh. Pemuda itu mengabarkan jika sudah menunggu di mobil depan lobi. Tidak bisa naik untuk menjemputnya karena akan membutuhkan waktu lama jika Baskara memarkirkan mobilnya di basement.
Restoran yang akan mereka datangi adalah restoran berbintang yang cukup sulit mendapatkan meja jika tidak memesan jauh-jauh hari. Apa lagi makan disana juga dibatasi hanya satu jam untuk sekali pemesanan. Agar lebih teratur dan bisa bergantian.
Pemilik restoran tidak membedakan konglongmerat atau bukan. Jika tidak memesan jauh hari, bisa dipastikan tidak akan mendapatkan meja. Kecuali restoran tengah sepi. Dan hal itu tidak pernah sekalipun terjadi.
Memiliki uang sebanyak apa pun dan berani membayar dengan harga berkali lipat pun tidak akan pernah diizinkan jika tidak mematuhi peraturan yang ada.
Untuk itu Senja cukup terkesan Baskara bisa mendapatkan meja disana. Selama dua tahunnya di NY, belum sekalipun Senja pernah menginjakan kakinya disana.
"Hanya masalah keberuntungan." begitu jawab Baskara dengan gaya tengil seperti biasa, saat memberitahu dimana mereka akan makan malam.
Senja dulu sempat ingin makan disana ketika orang tuanya berkunjung. Sayangnya nasib baik tidak sedang berpihak pada mereka.
Senja menarik napasnya dalam. Menghembuskannya perlahan. Memastikan sekali lagi rambutnya masih aman dalam tatanan. Melangkahkan kakinya cepat menuju lift. Tidak ingin membuang waktu dua jam yang berharga dan jarang terjadi. Karena Baskara memesan dua sesi.
***
Baskara berdiri tidak sabar bersandar pada pintu mobil. Pandangannya tak lepas dari pintu masuk gedung apartemen. Menunggu gadis cantik yang membuatnya semalaman hampir tidak bisa tidur.
Senyumnya mengembang sempurna begitu melihat Senja melangkah melewati pintu apartemen.
"Gadisku emang nggak pernah mengecewakan." gumamnya lirih.
Saat mencoba baju, Baskara sudah tahu jika Senja cantik. Lagi pula gadis itu selalu cantik dengan pakaian mana pun. Namun malam hari ini, Senja terlihat berkali lipat cantiknya.
"Happybirthday cantiknya Baskara." ucapnya dengan mengulurkan setangkai mawar putih kesukaan Senja.
Senja yang mendapatkan sikap manis tentu saja langsung tersipu. Dengan wajah merona, ia menerima mawar pertama di hari ulang tahunnya itu.
"Terimakasih.. Selamat ulang tahun juga Babas."
"Siap merayakan ulang tahun berdua malam ini?"
Senja mengangguk antusias. Perasaan gugup yang tadi sempat ia rasakan diapartemen hilang tak bersisa ketika mereka memasuki restoran yang bergaya Italian.
__ADS_1
Suara musik dan desain yang romantis membuat mata Senja berbinar.
Mereka dibimbing menuju meja yang sudah Baskara pesan. Bahkan Baskara juga sudah memilih menu untuk mereka sehingga tidak perlu menunggu pesanan terlalu lama.
Senja masih menatap sekeliling. Dimana orang yang datang juga rata-rata seperti mereka. Hanya berdua. Bedanya jika yang lain adalah pasangan, sedangkan mereka hanya sebatas sahabat.
Tiba-tiba tangannya terasa hangat. Mengembalikan tatapannya pada Baskara. Dan menatap dimana tangannya yang kini di genggam pemuda itu di atas meja.
"Senja. Gue pengen ngomong serius." ucap Baskara dengan suara yang terdengar gugup. Tanpa Senja tahu, pemuda itu gelisah. Kakinya dibawah sana bahkan tak berhenti bergerak.
Melihat ekspresi dan suara sahabatnya. Jantung Senja berdebar kuat. Menanti apa yang akan Baskara bicarakan.
"Mungkin lo akan nganggep gue ngigo , ngaco atau apa lah terserah." tatapan matanya lurus menghujam mata Senja. Membuat gadis itu tidak bisa berpaling. Seakan tenggelam pada mata sekelam malam itu. "Tapi lo harus percaya. Kali ini gue bener-bener serius. Dan nggak ada sangkut pautnya sama masalalu menyakitkan yang kita pernah lewatin. Ini murni dari hati gue."
Senja mengerutkan dahinya bingung. "Kenapa harus muter-muter sih, Bas, ngomongnya. Gue nggak ngerti tahu!" protesnya karena Baskara terlalu bertele-tele.
Mendengar itu, Baskara semakin gugup. Ketika Baskara melepaskan genggaman pada jemari Senja. Gadis itu merasa kekosongan melandanya. Membuatnya gusar tak beralasan.
Baskara mengambil kotak hitam dalam saku jasnya. Malam ini Baskara juga memakai pakaian semi formal. Jas, kaos dan jeans berwarna hitam.
Senja tertegun. Seketika tangannya membekap mulutnya yang menganga lebar ketika Baskara bangun dan berlutut disamping kursinya. Membuka kotak berisikan cincin berlian yang begitu indah padanya.
"Maukah kau menikah denganku Senja Maharani?"
"Lo nggak lagi ngeprank gue kan, Bas?" tanyanya setelah kesadarannya kembali. Karena kini bahkan mereka sudah menjadi pusat perhatian beberapa meja disekeliling mereka. "April mop masih bulan depan." cicitnya lagi.
Baskara menggeleng mantap. "Gue nggak bercanda. Tadi kan gue udah bilang kalau gue mau ngomong serius." senyum Baskara masih mengembang. Menunggu jawaban dari sang pujaan.
"Tapi kita nggak punya hubungan apa-apa." ucapnya lirih. Percayalah jika Senja mengatakan jantungnya terasa seakan mau meledak. Gadis itu bahkan susah menelan ludahnya sendiri.
Ada perasaan hangat yang menyusup hatinya. Namun ada kewaspadaan tinggi takut tersakiti dan kecewa yang juga membentengi hatinya.
"Gue tahu selama ini lo cuma anggep gue sahabat." jawab Baskara mengerti. Pemuda itu sudah memprediksi hal seperti ini akan terjadi. Tapi ia tidak masalah. "Gue juga nganggepnya gitu sebelumnya. Dan entah sejak kapan perasaan itu berubah, Ja."
Dari bawah, Baskara tak sedetikpun melepas tatapannya dari gadis cantik yang masih terlihat syok itu.
"Gue jadi sering kangen sama lo. Jadi uring-uringan kalo nggak denger suara lo."
"Gue juga merasa marah saat ada cowok yang gue rasa cukup dekat sama lo."
Baskara mencoba mengungkapkan segala hal yang ia rasakan selama ini.
__ADS_1
"Gue nggak tenang kalau nggak ada didekat lo, Ja. Dan gue nggak mau lagi pacar-pacaran." Baskara menggeleng. "Gue maunya langsung nikah. Biar selamanya lo jadi milik gue." Senja bisa mendengar keseriusan dari nada bicara Baskara. Ia juga melihatnya dari mata pemuda itu.
"Gue cinta sama lo, Senja." tegas Baskara. "Ini tulus dari hati gue. Bukan karena masa lalu kita. Tapi dari kedekatan kita selama disini. Gue benar-benar jatuh cinta sama lo, Ja."
Senja semakin bingung. Ia tidak siap untuk hal semacam ini.
Jangankan membayangkan akan di lamar oleh seorang Baskara Lazuardi. Membayangkan ditembak saja tidak.
"Ta-tapi, Bas.."
"Ja? sebelum gue berani nyatain perasaan gue dan ngajak lo nikah. Gue udah lebih dulu minta restu orang tua lo. Gue minta izin sama bokap lo buat minang anaknya."
Senja semakin tak percaya dengan apa yang Baskara katakan barusan.
Benarkah Baskara melakukan itu?
Sudah sedewasa itu kah sahabatnya ini?
Banyak lagi hal yang Senja pertanyakan dalam benaknya.
"Karena bagi gue. Restu mereka yang paling utama. Terlepas dari nantinya lo bakal nerima lamaran gue atau enggak."
Senja semakin kehilangan kata-katanya. Wajahnya benar-benar terlihat bingung. Hati dan pikirannya kali ini tidak sejalan.
Jika hatinya berkata "iya" otaknya berkata "tidak". Masih banyak hal yang ingin ia lakukan dan raih sebelum ia memutuskan untuk menikah.
"Jadi gimana, Ja, jawaban lo. Pegel nih kaki gue."
Ingin sekali tertawa jika bukan dalam kondisi hati yang bimbang.
Bisa-bisanya Baskara mengatakan hal tersebut di momen serius seperti ini.
*
*
*
Lanjut Besok. Kasih like yang kenceng buat semangatin Babas yang lagi nunggu jawaban Senja wkwkwk
Btw yg kemarin nebak bakal dilamar, bener yes.. hihihi
__ADS_1
Mudah ditebak ternyata ceritanya