Langit Senja

Langit Senja
Posisi Berbalik


__ADS_3

Farri menggaruk pelipisnya ketika sang istri tak kunjung mengeluarkan suara. Apa yang salah dengannya? Apa Jingga marah karena Gladis? Tapi kenapa?


"Mau kemana lagi, mumpung masih siang?" tawarnya memecah keheningan ketika mereka selesai makan. Farri mengambil ponsel di tangan istrinya dan menyimpan di saku jaket yang ia kenakan.


Jingga tak protes dan membiarkannya saja. "Pulang aja, capek." jawab Jingga dengan dingin.


Rasanya Jingga masih sangat kesal dengan suaminya yang membiarkan saja wanita lain menyentuhnya.


Meski Farri tak membalas, tapi tetap saja. Harusnya Farri bisa memberi jarak dengan wanita lain karena sudah memiliki istri. Apa lagi Jingga berada di sana. Melihat semuanya. Jelas saja marah.


"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Farri selembut mungkin dengan meraih tangan Jingga yang ada di atas meja. Menggenggamnya erat meski sang empunya berusaha melepaskan belitan tangannya.


"Aku mau pulang, capek." ucap Jingga yang kini berani menatap Farri. "Kalau abang masih mau jalan ya udah. Aku pesen taxi aja nanti di depan."


Ingin sekali rasanya ia menangis saking kesalnya. Tapi Senja mengajarinya untuk tak menjadi wanita cengeng karena hidup berumah tangga akan lebih berat. Jadi ia harus tegar. Apa lagi untuk masalah sepele seperti ini.


Farri menghela napas dan mengalah. "Ya udah. Ayo kita pulang." Farri tak tahu kenapa istrinya bisa semarah itu padanya. Apa seperti ini resiko menjalin hubungan dengan remaja? masih banyak ngambeknya. Dan harus ekstra sabar.


Diperjalanan pulang pun, Jingga diam saja dan membuang pandangannya ke luar jendela. "Kamu tuh kenapa sih sayang? abang salah apa, hm? ayo bilang biar abang tau."


Jingga diam saja tak merespon. Memilih memejamkan matanya pura-pura tidur dari pada menanggapi ketidak pekaan sang suami.


Farri memaksa membawakan belanjaan istrinya ketika mereka sampai di rumah. Jingga mengikuti tubuh tinggi suaminya memasuki rumah.


Diruang keluarga ada Senja dan ibunya yang tengah menonton televisi. Farri mencium dahi ibunya dan mengacak pelan rambut Senja.


"Pesenan adek mana bang?" tanya Senja yang hanya melihat Farri memegang satu paperbag.


Jingga mengikuti Farri dengan menyalami takzim tangan ibu mertuanya. Senja yang baru saja akan menyemprot sahabat dan kakaknya begitu pesanannya tak dibelikan, mengurungkan niatnya begitu melihat ekspesi Jingga yang datar dan langsung pamit ke kamar.


"Jingga kenapa, bang?" tanya Senja akhirnya.


Farri mendesah tak mengerti. "Kenapa wanita tuh susah banget di mengerti si maaahhh?" keluhnya yang mendudukan dirinya di samping Tiara dan menyandarkan kepalanya disana.


"Kalian berantem?"

__ADS_1


Farri menggeleng sebagai jawaban untuk ibunya. Ia sendiri masih tidak tahu kenapa istrinya marah.


"Tadi tuh..." Farri menceritakan semua yang awalnya baik-baik saja hingga Jingga yang berubah dingin begitu mereka memutuskan makan siang.


"Hahahaha..." Senja tergelak melihat kakaknya terlihat frustasi. "Pasti ada cewek yang nyemperin abang terus goda-godain abang deh?" tebak Senja. Gadis itu sendiri sudah sering mengalami hal yang sama. Bedanya ia yang hanya sebatas adik hanya akan tertawa karena berhasil mengerjai wanita yang kegatelan pada kakaknya.


Berbeda dengan Jingga yang berstatus istri Farri tentu saja marah. "Waahhh Jingga pasti marah sama abang karena cemburu tuh bang..."


Farri menoleh pada adiknya yang duduk disisi lain ibunya. Mungkinkah jika istrinya cemburu?


"Cieee... udah cinta nih kayaknya Jingga sama abang." goda Senja pada sang kakak yang kini melengkungkan kedua sudut bibirnya dengan wajah memerah bahagia.


"Hahahaha.... Abang kelihatan banget bahagianya mah." Senja semakin tergelak melihat ekspresi kakaknya. Tiara hanya menggeleng melihat putra sulungnya yang terlihat tengah jatuh cinta itu.


"Susulin bang. Jangan lama-lama biarin istri ngambek. Nggak baik." nasehat sang ibu.


"Tapi dia aja diemin abang terus, mah. Abang pegang tangannya aja nggak mau." adunya bingung harus bagaimana.


Senja semakin tergelak. Baru kali ini kakaknya terlihat bingung menghadapi pasangannya yang merajuk. Karena mantan Farri sebelumnya, cukup dengan di ajak shoping sudah langsung baik lagi. Jadi Farri tak pernah pusing dibuatnya.


"Terus harusnya gimana?" sepertinya bertanya pada ibunya adalah tempat paling tepat. Karena bertanya langsung pada perempuan yang pasti memiliki hati yang tak berbeda jauh.


"Biasanya kalau dia bilang abang buat menjauh, hatinya justru menjerit minta abang peluk. Dan perempuan cuma butuh itu kok. Diperhatikan. Dimengerti. Diperlakukan dengan manis saat lagi marah. Mama tau, abang tau apa yang harus abang lakuin. Kejar dia, beri tempat ternyaman untuk istrimu."


Farri mengangguk, membawa paperbag berisi belanjaan istrinya kedalam kamar.


Farri tersenyum begitu membuka pintu kamar mereka. Jingga terlihat sudah segar setelah mandi. Aroma sampo dari surai panjang milik sang istri yang tengah dikeringkan dengan hairdryer menguar memenuhi kamar mereka.


Farri mengambil alih hairdryer dengan lembut dari tangan istrinya. Memberikan kecupan ringan di pipi sang istri dan membantu istrinya mengeringkan rambut.


"Jangan marah sayang.. Abang nggak bisa di giniin."


Jingga diam saja. Hanya menatap wajah suaminya dari pantulan kaca didepannya dengan ekspresi datar. Yang dibalas Farri dengan senyum hangat dan kemudian mendekap sang istri dari belakang. Menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.


"Ooh iya. Baju-baju kamu tadi abang lihat belum dicoba ya?" Farri mengingat Jingga yang tengah melihat-lihat gaun dan tak lama kemudian sudah menemuinya. Tak melihat sang istri mencoba satu pun pakaian yang istrinya beli.

__ADS_1


Jingga menggeleng. Tadi memang ia tak sempat mencoba pakaiannya, karena dadanya sudah memanas melihat Farri dengan wanita lain.


Jangankan mencoba. Baju apa saja yang ia beli saja, ia tidak ingat. Ada beberapa yang asal ia ambil tanpa melihatnya sama sekali karena mengambilnya secara asal.


"Coba ya? abang mau lihat, mana yang pantas kamu pakai buat keluar rumah."


"Mana?" Jingga menanyakan belanjaanya. Ia juga ingin mencobanya. Menyesal tadi tak sempat memilih baju yang benar-benar ia suka. Hanya beberapa yang menarik perhatiannya di awal yang untung ia beli.


Farri menyerahkan paperbag yang ia letakkan di atas tempat tidur. Melihat istrinya mengeluarkan satu persatu pakaian dan mengepaskan dibadannya sebelum nanti dicoba.


"Itu apa?" tanya Farri begitu Jingga mengeluarkan dress model kemben dengan panjang jauh diatas lutut. "Mau dipakai kemana?" tanya Farri tak setuju dengan pakaian seksi yang istrinya beli.


Jingga menunduk malu dan langsung menyembunyikan baju itu dibalik punggungnya Ia merutuki dirinya sendiri yang asal ambil. Pantas saja kasirnya berbisik-bisik saat ia membayar tadi.


Jingga menelan ludahnya kelat melihat tatapan tajam suaminya. "I-itu... salah ambil." jawab Jingga jujur pada akhirnya. Dari pada suaminya mengira ia suka keluar dengan pakaian seperti itu.


"Salah ambil?" tanya Farri tak percaya.


Jingga menghela napas. Harusnya ia yang marah. Niatnya ia ingin mendiamkan suaminya hingga esok. Tapi kenapa sekarang ia yang merasa tersudutkan.


"Iya. Tadi asal ambil. Abis kesel lihat abang deket-deket cewek!" seru Jingga mengeluarkan unek-uneknya.


Farri menghujamnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


*


*


*


Holla... Maaf baru muncul 🙃


Othornya lagi dijangkit rasa malas.wkwkwk


Semoga menghibur 🤗

__ADS_1


__ADS_2