
Diperjalanan pulang, Senja dan Jingga mampir disebuah apotek yang mereka lewati. Jingga ingin memastikan dugaan dokter disekolah tadi itu benar adanya.
Menggunakan beberapa buah tespek yang katanya hasilnya pasti akurat, Jingga langsung mencobanya begitu sampai di rumah.
Senja masih saja mengikutinya. Sahabatnya itu juga sama tidak sabarnya melihat hasil yang benda itu tunjukan pada mereka.
Setelah beberap menit, Jingga keluar dari kamar mandi dengan lutut bergetar. Masih tidak percaya dengan hasilnya. Hasil yang sudah suaminya nanti-nantikan sejak awal pernilahan mereka. Jauh sebelum hati keduanya terikat perasaan seperti saat ini.
"Gimana, Ngga?" tanya Senja tidak sabar.
Jingga hanya mengulurkan lima buah tespek yang menunjukan hasil sama. Dua garis merah terpampang nyata disana.
"Aaahhh beneran Jingga... Hasilnya positif.... Lo beneran hamil..." Senja berjingkrak-jingkrak bahagia.
Jingga hanya bisa mengangguk dengan derai air mata bahagia. Senyum tak lepas dari bibirnya.
Pantas saja belakangan ini ia sering mual dipagi hari. Meski tidak sampai muntah-muntah. Atau belum, ia sendiri tidak tahu.
"Mau kemana?" Jingga mencekal lengan Senja yang akan meninggalkan kamarnya.
"Mau kasih tahu mama, pasti mama seneng banget, Ngga."
Jingga menggeleng. "Gue pengen yang tahu pertama abang. Jadi jangan kasih tahu siapa pun dulu ya, Ja. Nanti biar gue yang kasih tahu yang lain kalau udah kasih tahu abang."
Untung Senja menghargai keputusannya. Dan dengan tidak sabar, Jingga langsung berganti pakaian untuk menyampaikan dua kabar gembira.
Iya, dua. Yang pertama tentu saja kabar hadirnya calon anak mereka. Dan yang kedua, Jingga lulus dengan nilai baik. Nilai yang melebihi prediksinya sebelumnya. Dan semua berkat bantuan sang suami.
Meski harus kecewa karena saat sampai kantor suaminya tidak ada, namun ia tidak menyesal karena disana ia bertemu ayah mertuanya.
Alvaro juga mengajak berkeliling kantor dan mengenalkannya pada hampir semua karyawan yang mereka temui.
Hingga disaat Alvaro akan pergi meeting di luar, Jingga memilih menunggu sang suami di kantor suaminya. Untung saja disana ada ruang istirahat. Jadi ia bisa tidur selagi menunggu.
Jingga langsung terlelap tak lama dirinya membaringkan tubuhnya di kasur empuk yang mungkin biasanya suaminya pakai untuk istirahat.
Gadis itu baru terbangun ketika mendengar pintu tebuka. Entah sudah terlalu lama ia tidur atau radarnya tentang keberadaan sang suami itu kuat. Hingga hanya dengan mendengar pintu yang dibuka saja, ia sudah terjaga.
Jingga beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya terlebih dahulu. Ia tidak mau menemui suaminya dengan muka bantal atau bahkan mungkin bekas air liur dimana-mana.
__ADS_1
Jingga sudah akan membuka pintu yang tak tertutup rapat sejak awal, namun diurungkan begitu mendengar samar-samar suaminya menyuruh sekretarinya untuk menyuruh tamunya keluar.
Tadinya Jingga tidak tahu siapa suara wanita yang tidak mau disuruh pulang padahal hari yang sudah malam seperti itu.
Jingga yang akan keluar karena tidak ingin suaminya macam-macam dengan wanita lain dalam satu ruangan, kembali mengurungkan niatnya begitu Farri menyuruh sekretarisnya menunggu dan tidak menutup pintu.
Jingga mendengar semua pembicaraan suaminya dan wanita yang ternyata mantan kekasih suaminya.
Disini Jingga tahu jika suaminya benar-benar setia padanya. Pria itu bahkan tidak terlihat ragu begitu menolak Keysha untuk bertanggung jawab.
Hanya saja Jingga begitu Keysha dengan tidak tahu malunya terus mendesak Farri untuk bertanggung jawab. Dan dengan emosi yang menggelegak, Jingga membuka kasar pintu hingga mengagetkan dua orang yang tengah duduk berhadapan.
***
Farri masih memangku sang istri. Mengusap pinggang istrinya lembut.
"Lain kali, kalau ke kantor bilang ya sayang. Abang bisa sampai malam baru balik ke kantor kaya sekarang. Kamu pasti bosan di kantor nunggu abang."
Jingga menggeleng tak setuju. "Aku nggak bosen kok bang. Aku diajak papa keliling lihat-lihat yang sedang kerja. Lagian aku nggak sabar kasih kabar gembira buat abang."
Farri ikut tersenyum melihat kebahagiaan istrinya. "Emang kabar gembira apa? hasil ujian?" tanya Farri berusaha menebak. Mengingat hari ini istrinya menerima hasil ujian.
"Taraaa..." menunjukan kertas berisi hasil ujian yang ia peroleh.
Mata Farri berbinar melihat hasilnya. Ia bangga pada sang istri yang tidak pernah patah semangat untuk belajar dan mendapat hasil yang memuaskan seperti itu.
"Selamat sayang... Hasilnya melebihi yang kamu harapkan." Farri memeluk erat tubuh istrinya dan mengurainya untuk bisa mengecup bibir ranum yang kini dibalut lipstick tipis berwarna baby pink.
"Berkat abang." jawab Jingga. Kini ganti gadis itu yang mencium suaminya. Tak hanya di bibir, tapi juga seluruh wajah suaminya. Meski setelahnya ia menunduk malu dengan perbuatannya sendiri.
"Makasih abang. Berkat abang, aku bisa dapat nilai bagus."
"Berkat usaha keras kamu sendiri." ujar Farri tak setuju.
"Yaaa terserah abang aja. Dan aku punya satu berita gembira lagi yang pasti bisa buat abang bahagia juga."
"Apa?" tantang Farri dengan menaikkan sebelah alisnya.
Jingga kembali mencari sesuatu dalam slingbag-nya. "Tutup matanya dulu bang." pintanya ketika tangannya sudah menemukan apa yang ia cari.
__ADS_1
Farri yang memang selalu menuruti permintaan istrinya selama itu bukan hal yang aneh-aneh dan melanggar hukum pun langsung memajamkan matanya.
"Memang se-surprise apa sih, sayang?"
Jingga menyusun lima alat yang sudah menunjukan hasil itu dikedua tangannya tepat didepan wajah sang suami.
"Sekarang boleh buka matanya."
Farri dengan ragu membuka kedua matanya. Benda yang istrinya acungkan padanya begitu dekat hingga pria itu sedikit memundurkan kepalanya karena tidak bisa melihat begitu jelas.
"I-ini?" tanya Farri tercekat. Ia bukan pria bodoh yang tidak tahu benda apa didepannya ini.
Meski belum pernah melihat benda itu secara langsung, tapi Farri tahu apa nama benda itu dan juga kegunaannya.
Dan disana tertera dua garis merah yang menandakan positif. Yang artinya, siapa pun wanita yang telah mencoba alat itu tengah dalam keadaan hamil.
"I-ini punya siapa?" tanya Farri memastikan tebakannya benar. Pria itu mengambil semua alat tes itu ketangannya. Melihat setiap hasil di dalam tespek.
"Punya aku dong bang." jawab Jingga dengan suara bergetar. Perasaannya masih saja meluap-lupa ketika mengingat kehamilannya.
"Ka-kamu ha-hamil?" tanya Farri memastikan sekali lagi.
Jingga mengangguk dengan senyum cerah.
"Bener kamu hamil?" kali ini suara Farri terdengar heboh dengan pria itu yang berdiri membawa serta Jingga dalam gendongan.
Gadis itu seperti koala yang melekat pada pohonnya. Berpegangan erat seakan takut jatuh.
"Iya. Aku hamil bang. Selamat ya, udah jadi calon ayah.." ucap Jingga yang langsung mendapat pelukan erat.
Jingga bisa merasakan tubuh suaminya bergetar. Gadis itu juga bisa merasakan jika baju di bahunya basah karena air mata sang suami.
Ia tahu suaminya pasti sangat bahagia. Karena sudah sejak lama Farri mengharapkan hadirnya buat hati diantara mereka.
Yaa... Mengingat umur suaminya yang memang sudah matang dan sudah sangat pantas menimang anak. Jadi wajar jika suaminya sangat berharap ia segera hamil.
*
*
__ADS_1
*