Langit Senja

Langit Senja
Wellcome Home


__ADS_3

Perjalanan terasa canggung. Setelah sekian lama tidak berinteraksi, kini harus duduk di dalam mobil berdua rasanya aneh dan tidak nyaman.


Untung jalanan lancar. Karena hari yang masih terlalu pagi untuk beraktifitas. Hanya satu dua kendaraan yang berseliweran.


Senja memandang jalanan dari jendela di sampingnya. Hingga dehaman Baskara memecah keheningan. Disusul pertanyaan yang pria itu ajukan.


"Kenapa baru pulang?" suara Baskara tetap datar tanpa ekspresi. Seperti orang yang tidak berniat bertanya. Hanya untuk mengisi kekosongan. Padahal pemuda itu benar-benar penasaran.


"Hah?" bingung Senja. Maksudnya bagaimana? pertanyaan Baskara cukup ambigu untuknya. Baskara bertanya kenapa semester lalu ia tak pulang dan baru pulang sekarang. Atau bertanya kenapa ia baru pulang setelah dua minggu libur.


"Libur musim panas udah mulai dari dua minggu yang lalu." imbuh Baskara yang tahu kebingungan Senja.


"Ooh.. Ada acara dulu sama temen-temen."


Teman-teman dekatnya mengajak traveling. Tentu saja ia tidak bisa menolak. Apa lagi itu ramai-ramai. Dan dua minggu sebelum kembali masuk kuliah, mereka juga akan mengadakan acara yang sama ke tempat yang berbeda lagi. Untuk itu Senja hanya akan di Jakarta dua bulan.


"Lo udah lama balik?" balik tanya Senja karena Baskara tidak menanggapi apa pun.


"Dari hari pertama."


Baskara tidak terlalu dekat dengan teman-temannya disana. Hanya berteman biasa yang membuatnya tidak memiliki alasan untuk tetap tinggal di liburan seperti ini.


Senja hanya mengerucutkan bibirnya membentuk huruf 'o' dan mengangguk. Setelah itu keadaan kembali hening hingga Baskara memberhentikan mobilnya di dekat salah satu tenda bubur ayam yang ada di pinggir jalan.


"Gue lagi pengen makan bubur, nggak pa-pa kan?"


Senja mencebik ketika Baskara langsung keluar dari mobil begitu bertanya. Tidak menunggu jawaban apakah ia bersedia atau tidak.


Padahal Senja sudah ingin sekali sampai di rumah. Tidak sabar bertemu keluarganya. Dengan malas, Senja turun mengikuti Baskara dan duduk di kursi yang berseberangan.


"Mau pesan apa?"


Senja mengerutkan keningnya geli. Mereka berada di tenda tukang bubur. Tentu saja pesen bubur. Memang ada pilihan lain selain itu?

__ADS_1


Namun Senja tetap menjawab. "Bubur ayam nggak pakai daun bawang. Bawang gorengnya banyakin. Sate telurnya tiga. Minumnya teh hangat."


"Nggak berubah." gumam Baskara pelan dan mendekati penjual untuk membuatkan pesanan mereka.


Senja mengerutkan kening saat mendengar Baskara bergumam. Tapi karena gadis itu tidak mendengar dengan jelas, Senja lantas mengedikan bahunya acuh.


Mereka kembali saling diam hingga makanan pesanan mereka habis tak bersisa. Baskara diam saja, mengacuhkan gadis didepannya. Berbeda dengan Senja yang tersenyum senang sepanjang memakan bubur pesanannya. Tidak manyangka bubur yang tadi tidak ia inginkan menjadi seenak itu setelah satu tahun tidak pernah memakannya.


Baskara yang bingung harus mengajak Senja kemana sebelum pulang setelah sarapan, memilih jalan memutar terjauh menuju perumahan tempat rumah mereka berada.


Ibunya berpesan untuk membawa Senja sampai dirumah pukul delapan. Sedangkan saat itu saja baru pukul tujuh pagi. Dan rumah mereka hanya membutuhkan waktu setengah jam perjalanan. Dan Baskara sudah mengulur waktu saat sarapan tadi.


"Kenapa lewat sini sih, Bas? kejauhan kali!" protes Senja begitu Baskara berbelok kanan di banding belok kiri di sebuah perempatan menuju rumah mereka.


"Mobil, mobil gue. Jadi yang numpang dilarang protes." jawab Baskara tetap dingin.


Senja mendesis sebal. "Tau gini tadi naik taxi aja!"


Padahal Senja sudah lelah berada di dalam pesawat begitu lama. Transit yang hanya dua jam tidak mengurangi lelahnya. Meski ia menggunakan penerbangan kelas satu dan sudah senyaman mungkim untuk perjalanan yang memakan waktu cukup lama.


Diliriknya gadis yang kini memilih memejamkan matanya. Baskara mengeratkan genggamannya di kemudi mobil. Mencegah tangannya untuk merapikan rambut Senja yang berantakan menutupi wajah gadis itu.


Dia bisa saja membenci Senja. Melampiaskan rasa marahnya terhadap Farri pada gadis itu. Meski ia tahu Senja tidak bersalah disini.


Tapi sebesar apa pun ia berusaha membenci gadis yang kini sudah bernapas dengan teratur menandakan gadis itu sudah terlelap, tetap saja rasa pedulinya tidak bisa hilang.


Bagaimana pun mereka berteman sejak bahkan masih dalam kandungan. Sayangnya sebagai seorang sahabat bahkan saudara lebih besar dari rasa egonya yang berusaha membenci Senja.


Baskara hanya membutuhkan tempat untuk melampiaskan rasa marah dan bencinya saja. Dan ia menganggap Senja sebagai orang yang tepat untuk ia salahkan atas semua yang terjadi.


Toh Senja sudah lebih dulu menjauh darinya dan Jingga. Jadi Baskara rasa tidak masalah jika Senja harus ia jauhi dengan alasan benci yang tidak mendasar ini.


Baskara membunyikan klaksonnya dua kali ketika ia sampai di depan gerbang tinggi menjulang tempat dimana Senja dan keluarganya tinggal.

__ADS_1


Security yang sudah mengenal Baskara langsung membukakan gerbang yang sudah menggunakan tekhnologi gerbang otomatis. Sehingga Baskara tidak memerlukan waktu yang lama untuk bisa masuk.


Dihalaman rumah Senja, sudah ada beberapa mobil terparkir rapi. Termasuk mobil kedua orang tuanya.


Baskara mendengus. Mereka benar-benar menyambut Senja yang baru pulang. Padahal ketika ia pulang biasa saja. Bahkan hanya di jemput sopir di bandara.


Setelah memarkirkan mobil tepat di sebelah mobil sang ayah. Baskara mematikan mesin dan melepas sabuk pengamannya. Pemuda itu memiringkan duduknya menghadap Senja dan berusaha membangunkan gadis itu dengan menyentuh lengan Senja dengan jari telunjuknya berkali-kali.


"Bangun, Ja. Udah sampe."


Gadis itu menggeliat dengan memicingkan matanya. Menatap sekitar dan seketika kedua bola matanya berbinar.


Tanpa menanggapi Baskara yang masih duduk disampingnya. Senja buru-buru melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Berlari menuju pintu rumah yang sudah lama ia rindukan.


Baskara lagi-lagi mendengus dan ikut turun, setelah sebelumnya meminta sopir keluarga Senja yang kebetulan tengah mencuci mobil untuk mengambil dan membawakan koper Senja masuk.


Bersandar di pilar tak jauh dari Senja yang masih memencet bel karena rumah yang terkunci.


Sebenarnya Baskara belum siap datang ke rumah itu. Belum siap menyaksikan kebahagiaan Jingga sedangkan ia masih belum bisa bangkit dari kubang kesedihan.


Jika bukan karena menghormati orang tua Senja dan menuruti ibunya. Baskara pasti sudah memilih pulang.


Daun pintu yang tingginya hampir tiga meter berayun membuka ke kiri dan kanan. Dengan dua pria serupa yang membukakannya.


"WELLCOME HOME AUNTY SENJAAAA..." seru mereka semua yang ada disana. Kecuali Baskara dan Senja tentu saja.


Senja terkekeh mendengar sebutannya kini. Ahh yaa.. kini ia memang sudah menjadi aunty untuk bayi berpipi bulat bernama Meisie Maharani yang di panggil Sisi olehnya. Bayi menggemaskan yang tengah di gendong mamah muda, istri kakaknya sekaligus sahabatnya, Jingga.


*


*


*

__ADS_1


Baby Sisi menyapa aunty-aunty cantik nih ❤ biar dikasih like, komen, vote dan hadiah 😉



__ADS_2