
Waktu dimana mereka pulang, Baskara menjaga Senja begitu hati-hati. Bahkan mobil yang mereka kendarai akan berjalan seperti siput ketika melewati polisi tidur di perumahan.
"Kira-kira anak kita cewek apa cowok ya, ayy?" pertanyaan itu kembali terdengar. "Sayang banget kan tadi nggak kelihatan."
"Oh iya. Dikeluarga kamu kan turun temurun ada yang lahir kembar, ayy. Kok baby kita cuma satu ya? padahal kalau anak kita kembar kayaknya lucu deh. Imut-imut kaya kamu, ayy."
Jika bukan dalam suasana bahagia, pasti Senja sudah merotasikan bola matanya berkali-kali mendengar pertanyaan suaminya yang tiada habisnya.
Belum sempat ia jawab pertanyaan yang satu, sudah muncul pertanyaan yang lain lagi.
Tapi alih-alih kesal, Senja justru tertawa melihat ekspresi bahagia yang sangat terlihat di wajah suaminya itu.
"Biarpun cuma satu juga udah bersyukur mas. Akhirnya penantian kita berakhir juga." tersenyum menata perutnya. Membelainya lembut seakan takut menyakiti calon buah hati mereka.
"Terimakasih sayang. Terimakasih sudah memilih mommy jadi ibu kamu. Terimakasih sudah memilih rahim ini sebagai tempatmu berkembang sebelum siap melihat dunia." ucapnya haru.
"Aaahh kok kesannya aku nggak bersyukur banget sih, ayy. Kesannya aku menolak dia." tangan Baskara ikut membelai perut istrinya lembut. "Maafin daddy sayang. Bukan maksud daddy nyakitin hati kamu. Meskipun kamu datangnya sendiri nggak bawa saudaramu yang lain, daddy tetap sayang kok sama kamu. Karena kamu malaikat kedua setelah mommy kamu."
Sesampainya dirumah, Senja dibuat menganga melihat sebuah mobil boks yang tengah menurunkan beraneka kotak berisi sayur, buah dan makanan bergizi lainnya.
Disebelah mobil ada Oma yang tengah menginteruksikan orang-orang tersebut untuk membawa barang-barang itu kedalam rumah orang tua Senja.
"I-ini apa Oma?" tanya Senja.
"Ini. Oma membelikan makanan yang bagus untuk ibu hamil."
Oma membongkar kotak dan memperlihatkan isinya.
"Ini ada brokoli, ini bagus buat kamu. Karena didalam brokoli banyak nutrisi yang diperlukan selama kehamilan." Oma terlihat antusias menjelaskan.
__ADS_1
"Ini juga bayam. Bagus buat dikonsumsi selama hamil, apa lagi hamil muda seperti kamu. Karena bayam kaya akan asam folat."
Oma membuka kotak yang lain. "Terus ini juga. Pisang banyak vitamin B6-nya. Juga bisa ngurangin mual. Walaupun kamu tidak mual tapi makan saja. Vitaminnya bagus."
"Sama ini. Ibu hamil sangat dianjurkan mengkonsumsi alpukat. Karena kaya serat. Ibu hamil kan biasanya sering sembelit. Apa lagi alpukat banyak juga kandungan vitaminnya. Bagus buat kamu sama calon anak kamu."
"Ada jeruk dan mangga juga yang kaya vitamin C. Terus ubi yang kaya vitamin A. Ibu hamil tuh butuh vitamin A yang cukup. Sangat penting untuk pertumbuhan sel dan jaringan janin."
Jadi selama dirumah sakit, Oma mencari tahu makanan apa yang bagus untuk ibu hamil. Dan menyuruh orang kepercayaannya untuk membeli semua itu. Bahkan hingga bantal hamil dan perlengkapan hamil lainnya Oma belikan.
Senja tersenyum canggung. Ia berterimakasih dengan apa yang Oma berikan untuknya. Tapi masalahnya buah dan sayur yang Oma beli sangat banyak. Tidak mungkin dimakan satu dua hari akan habis. Yang ada nanti mubazir.
Sedangkan Baskara masih menatap Omanya datar. Ia memang bukan orang yang mudah melupakan masalah dan memaafkan.
"Kamu bisa membaginya dengan pekerja dirumah kamu ini. Oma tidak menyuruh kamu memakan semua." ucap Oma ketika melihat tatapan bingung Senja pada kotak-kotak berisi buah dan sayur.
"Iya Oma. Terimakasih sudah perhatian sama anak Senja." Senja mengatas namankan anaknya, karena ia yakin Oma tidak mungkin bersikap seperti ini jika bukan karena ia tengah mengandung cicitnya.
Kini Oma tidak lagi marah ditatap tajam oleh cucunya. Tidak pula marah meski tatapan Senja tak sehangat jika gadis itu menatap anak dan menantunya.
Ia sadar, itu akibat dari apa yang sudah ia lakukan pada keduanya.
Pada dasarnya Oma adalah orang yang keras kepala dan memiliki gengsi tinggi. Tapi sepertinya kini ia harus menurunkan gengsinya untuk meminta maaf agar hubungannya dengan cucu dan cucu menantunya itu bisa kembali baik.
Bagaimana pun apa yang ia inginkan sudah terkabul. Tak lama lagi ia akan mendapatkan cicit yang ia nanti-nantikan sejak satu tahun yang lalu.
Tak ingin istrinya lelah karena terlalu lama berdiri, Baskara mengajak Senja dan mempersilakan Oma untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
Oma yang tadinya duduk cukup jauh kini beringsut mendekat. Menggenggam tangan Senja dan menatapnya lebih lembut.
__ADS_1
"Maafkan Oma, Senja. Oma pernah jahat sama kamu. Oma melukai hati kamu dengan perbuatan dan perkataan Oma. Sekarang kamu sudah mengandung cicit Oma. Jadi bisakan kita mulai semuanya dari awal? membuka lembaran baru dengan saling menerima dan memaafkan?"
Senja menatap Oma kemudian beralih pada suaminya yang hanya mengangkat sebelah alisnya.
Ia tidak tahu Oma benar-benar tulus meminta maaf dan menerimanya atau tidak. Tapi jika Tuhan saja maha memaafkan, kenapa tidak dengannya.
Toh tidak ada ruginya juga memaafkan Oma. Karena sepertinya Oma sangat menyayangi anak dalam kandungannya.
Senja hanya berharap, jika saat ini Oma hanya berpura-pura baik padanya. Semoga Oma akan lupa bahwa ia tengah berpura-pura dan akan selamanya baik padanya. Tapi jika Oma benar-benar tulus, ia akan merasa sangat bahagia.
"Harusnya Senja yang muda yang meminta maaf." ucap Senja membalas genggaman tangan Oma. "Maafkan Senja karena sudah membuat hubungan Oma dan suami Senja menjadi tidak baik."
Oma mengangguk dan memeluknya. Awalnya pelukan itu terasa canggung karena mereka tak sedekat itu untuk saling berpelukan. Tapi sepertinya itu awalan yang bagus untuk hubungan mereka.
Pintu tiba-tiba terbuka. Disana Tiara dan Alvaro berdiri sudah dengan derai air mata. Keduanya langsung meninggalkan pekerjaannya setelah Baskara menghubungi mereka dan mengabarkan jika hasil pemeriksaan menunjukan bahwa Senja tengah mengandung.
Untung saja Tiara tidak ada pasien yang gawat dan prakteknya sudah selesai karena tidak banyak pasien yang datang hari itu.
"Sayang.. Mama ikut bahagia mendengarnya." Senja dan Tiara sudah saling berpelukan. Dan Alvaro ikut memeluk kedua bidadari dalam keluarganya itu.
"Papa juga. Papa bahagia untuk kebahagiaan kamu. Dan papa janji akan sangat menyayangi anakmu nanti seperti papa menyayangi kamu."
Senja kembali menangis. Tangisan bahagia yang masih sama rasanya meski kabar bahagia itu sudah ia dapatkan sejak beberapa jam yang lalu.
"Biar papa yang jagain kamu disini. Sementara kamu cuti kuliah dulu."
Senja langsung mengurai pelukan mereka dan melayangkan protes. "Nooo papa. Babas tinggal beberapa bulan lagi wisuda. Aku tinggal satu tahun lagi. Aku nggak mau cuti yang entah kapan bisa ngelanjutin kuliah lagi."
*
__ADS_1
*
*