Langit Senja

Langit Senja
Surprise


__ADS_3

Seharusnya ia merasa senang dilamar oleh orang yang pernah ia cintai. Atau bahkan kini rasa itu kembali tumbuh meski ia sangkal sekali pun.


Tapi nyatanya ia malah gelisah dan takut Baskara kecewa. Senja memikirkan banyak hal. Ia belum lulus kuliah. Ia juga punya keinginan untuk mendirikan brand-nya sendiri ketika pulang ke tanah air nanti. Ia juga ingin menikmati masa mudanya dengan berkencan. Bisa merasakan manisnya kasmaran. Jatuh cinta yang berbalas. Dan menikah masih jauh dari bayangannya.


Tapi melihat keseriusan dan usaha yang Baskara lakukan, Senja sedikit goyah. Haruskah ia menerima lamaran itu?


Merelakan masa depan dan mimpinya?


"Jadi gimana, Ja, jawaban lo? Pegel nih kaki gue." suara Baskara kembali menyusup dalam pendengarannya. Menyadarkan Senja dari pikiran rumit dalam kepalanya.


Gadis itu berdecak, mengejek. "Perusak suasana! bangun deh, Bas, malu."


Sembari beranjak berdiri, Baskara bertanya. "Emang lo tersanjung sama yang gue lakuin?"


Terdengar helaan napas dari Senja sebelum gadis itu menjawab. "Papa bilang apa?" jawab Senja dengan pertanyaan lain. Meski jujur hatinya seperti dipenuhi bunga dimusim semi.


"Lo bisa tanya sendiri sama bokap lo, biar lo yakin." tunjuk Baskara ke belakang bahu Senja dengan dagunya.


Gadis itu seketika menoleh kebalik bahunya. Matanya memanas dengan hidung yang kian memerah. Ia sudah sempat sedih dengan ketidak hadiran orang tua dalam ulang tahunnya.


Tapi lihat sekarang, tak hanya kedua orang tuanya. Tapi juga Jingga dan Farri yang menggendong gadis kecilnya. Tak lupa kedua orang tua Baskara. Mereka semua sudah berdiri dibelakangnya, memberikan senyum yang membuat perasaan Senja lebih baik.


Tak menunggu lama, gadis itu beranjak dan langsung memeluk sang ayah. Mencari ketenangan dari cinta pertamanya itu.


"Papa kenapa bohong! papa bahkan belum ngucapin selamat ulang tahun buat adek." gadis itu menangis dalam dekapan hangat yang amat ia rindukan.


"Selamat ulang tahun Princes-nya papa yang paling cantik. Salahin orang yang barusan ngelamar adek. Ini semua rencana dia. Katanya pengen kasih kejutan buat adek. Maafin papa ya?" jawab Alvaro penuh kasih. Tangannya membelai rambut panjang sang putri dan memberi ciuman berkali-kali di puncak kepala anak gadisnya.


Untung Senja memakai make up waterproof. Jadi setidaknya penampilannya aman.


"Jadi papa udah tau..." lidah Senja terasa kelu untuk mengucapkan 'Baskara melamarnya.' beruntung sang ayah peka dengan putrinya itu.


Alvaro mengangguk. Senyum masih mengembang diwajahnya. "Dia pemuda pertama yang berani meminta izin untuk meminang anak papa. Jadi mana mungkin papa menolak." kekeh Alvaro.

__ADS_1


"Jarang ada anak muda yang lebih mengutamakan restu orang tua." nasihatnya untuk sang istri. "Bahkan diluar sana banyak pasangan yang nekat menikah meski tanpa restu orang tua. Dan adek harus merasa beruntung dilamar Babas dengan cara yang nggak biasa. Dia ngelamar ke papa dulu, baru ngelamar kamu."


Senja melirik Baskara yang kini tengah merangkul pundak Pricilla-ibunya. Yang dilirik mengedipkan sebelah matanya dan terkekeh. Bangga karena dirinya di puji calon mertua.


"Papa juga sempat kaget pas dia bilang begitu. Papa bahkan tanya apakah kalian menjalin hubungan dibelakang kami? dan kamu tahu apa jawabannya?"


Senja menggeleng polos. Namun sekilas matanya berkilat penasaran.


"Dia bilang, dia nggak mau pacar-pacaran sama kamu. Takut khilaf. Apa lagi sering nginep di apartemen cuma berdua."


Senja menunduk. Menatap ujung stilettonya. "Terus papa kasih restu buat Babas nikahin adek?"


Alvaro terkekeh melihat putrinya yang terlihat begitu polos. Sekarang malah ia yang ragu untuk menyerahkan putri kecilnya pada Baskara. Apa pemuda itu mampu menyayangi putrinya sebesar dirinya menyayangi Senja. Putri satu-satunya.


"Papa cuma bisa kasih restu. Karena dari cara Babas ngelamar kamu, itu udah bisa buat papa nilai dia pria yang seperti apa setelah kalian menikah nanti. Dan kalau papa boleh milih menantu. Papa akan milih Baskara."


Senyum Baskara semakin lebar mendengarnya. Bahkan terlalu bahagiaya, ia sampai mendekap Pricilla erat dan menciumnya berkali-kali.


"Selamat ulang tahun sayang. Meski pun nanti adek udah nikah. Adek tetap jadi putri kecilnya mama yang akan selalu mama sayang sampai akhir."


Air mata Senja yang sebelumnya sudah mengering, kini kembali merebak mendengar penuturan sang ibu.


"Mama juga kasih restu buat Babas?"


"Kami sebagai orang tua hanya bisa memberi restu untuk orang yang menurut kami baik dan bisa menjaga putri berharga kami ini." jemari Tiara mengusap pipi halus putri bungsunya. "Tapi, kami nggak bisa memutuskan apakah kamu harus menikah dengan Baskara atau tidak."


"Maksudnya?"


"Menikah itu bukan permainan. Sebisa mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. Dan kami nggak bisa maksa adek buat nerima lamaran Babas. Keputusan itu kami serahkan sepenuhnya sama adek. Terserah adek mau nerima atau menolak. Kami nggak masalah."


Senja kembali memeluk ibunya. Bersandar didada sang ibu. " Tapi adek bingung, mah." ucapnya lirih. Ia memang bingung apa yang harus ia ambil.


Ayah Baskara mengajak mereka untuk duduk. Takut mengganggu pengunjung lain. Dibantu pegawai restoran, mereka menyatukan meja yang mereka pesan agar bisa makan bersama.

__ADS_1


"Apa yang buat kamu bingung, sayang?" kini Pricilla yang bertanya. Wanita itu sudah tidak sabar untuk menjadikan Senja sebagai menantunya.


Terselip sedikit kekecewaan ketika Senja tidak yakin dengan lamarannya ini. Bahkan mungkin gadis itu tak yakin dengan perasaannya sendiri. Tapi Baskara bisa menutupi kekecewaannya dengan bersikap seperti biasa.


"Senja masih kuliah, Bun." ucap Senja lembut. Tak ingin mengecewakan wanita yang menatapnya penuh harap itu. "Masih banyak hal yang pengen Senja lakuin. Terutama lulus kuliah dan meniti karir. Karena Senja jauh belajar kesini bukan hanya cari pengetahuan. Tapi karena Senja pengen punya butik Senja sendiri."


"Lo tetap bisa kuliah kok, Ja." sanggah Baskara. "Gue nggak akan ngelarang lo buat kuliah atau buka usaha lo sendiri seperti apa yang lo ceritain ke gue waktu itu. Lagi pula gue juga masih kuliah."


"Jadi lo cuma ngelamar? bukan ngajak nikah sekarang?" ada sedikit harapan dalam hati Senja. Setidaknya hingga mereka lulus kuliah.


Tapi ekspresi Baskara berbanding dengan yang ia harapkan. Sahabat yang baru saja melamarnya itu justru mengerucutkan bibirnya tanda tidak setuju.


"Gue ngelamar lo biar bisa cepat nikah sama lo, Ja." Jawab Baskara masih dengan ekspresi yang sama. "Kalau lo bersedia besok. Malah lebih baik."


Senja berdecak dan merotasikan bola matanya. Sedangkan yang lain tergelak dengan ketidak sabaran Baskara.


"Gue masih pengen seneng-seneng sama temen-temen gue. Lagi pula emang lo mau kita LDR setelah nikah?"


Baskara mengangguk mantap. "Gue nggak masalah. Lo tetap boleh main sama temen-temen lo asal bukan ke tempat yang berbahaya. Dan gue nggak keberatan cuma bisa ketemu lo di weekend."


Senja menatap satu persatu keluarganya mencari jawaban. Dan semuanya mengangguk meyakinkan jika ini pilihan yang tepat.


"Lo beruntung Ja, dilamar sedemikian romantis. Gentle pula ngelamar ke papa dulu." ucap Jingga meyakinkan. "Lo tau sendiri gue bahkan nggak dilamar. Abang nyatain cinta aja di atas ranjang."


Penuturan Jingga membuat semua orang tertawa. Farri menggaruk tengkuknya dengan senyum kikuk.


*


*


*


Senengnya hari ini like tembus 100.. Coba tiap hari begitu. Kan makin semangat.wkwkw ngarep

__ADS_1


__ADS_2