
"Sakit?" tanya Baskara ketika Senja membuka mata setelah terlelap beberapa saat.
Senja tersenyum mendapati wajah suaminya yang masih terlihat khawatir. Padahal beberapa jam yang lalu operasinya berjalan dengan lancar. Dengan bayi kedua mereka yang bisa dikeluarkan dengan selamat diwaktu yang tepat.
"Sedikit." jawab Senja pada akhirnya. Mungkin reaksi obat biusnya mulai hilang, hingga ia bisa merasakan rasa perih dan panas pada sayatan diperutnya. Tempat dimana bayinya keluar.
"Aku panggilin dokter ya?"
Senja mengangguk dengan tatapan berkeliling, hingga senyum lebar menghiasi wajahnya begitu mendapati bayi yang masih kemerahan dalam timangan ayahnya, Alvaro.
"Papa?" panggil Senja pada sang ayah. Membuat lelaki paruh baya itu menoleh dan menatap lembut putri kesayangannya. "Senja mau gendong baby kedua." pintanya meregangkan tangan.
Tadi ia hanya sempat mendekap buah hatinya ketika melakukan IMD diruang steril selepas operasi. Setelah bayi kecilnya dibersihkan dan diperiksa oleh dokter spesialis anak-yang ketika itu bukan ibunya langsung yang memegang karena Tiara tidak sedang bertugas pagi itu.
"Nanti, ya? Biar dokter periksa kamu dulu." tolak Alvaro tapi tetap mendekat. Membiarkan Senja membelai pipi buah cintanya.
"Kali ini mirip aku, ayy." ujar Baskara bangga karena akhirnya ada duplikat dirinya juga. Setelah anak pertama mereka lebih menduplikat istrinya. Melengkapi keluarga kecil mereka. Keluarga yang baru mereka bangun, keluarga baru belajar merangkak dan belum bisa berdiri sendiri. Masih membutuhkan bantuan orang-orang terdekat mereka. Baik dari segi finansila maupun dalam hal menjaga anak-anak mereka.
Senja terkekeh dan setuju. "Iya. Ganteng kaya daddy-nya. Nggak jadi nyesel deh nikah sama kamu, mas. Anakku ganteng gini." guraunya yang membuat sang suami mencebik dan memanyunkan bibirnya.
Anak kedua mereka laki-laki. Berkulit putih dan sangat tampan. Lahir dengan berat 3,5kg dan tinggi 51cm. Dengan mata sipit, hidung mancung dan bibir merah seperti ayahnya. Baby kedua benar-benar duplikat Baskara versi kecil.
"Ingat. Habis selesai 40 hari, langsung pasang kontrasepsi*. Jangan sampai baby kedua baru dua tiga bulan, udah hamil lagi."
Senja dan Baskara saling tatap dengan wajah tersipu mendengar nasihat dari Tiara. Memang tak salah, dengan semangat dan gairah muda mereka, bukan hal tidak mungkin kejadian itu akan terulang lagi jika mereka tidak memprogramnya. Tapi belajar dari pengalaman, Senja dan Baskara sudah mendiskusikan masalah itu bahkan dengan dokter. Tentang cara paling aman untuk mereka ambil.
Tak lama kemudian dokter datang menyelamatkan Senja dan Baskara dari rasa malu karena terus di godaan Tiara dan Alvaro.
Dokter menanyakan keluhan Senja dan memberikan obat pereda rasa nyeri untuk luka bekas operasinya. Juga meminta Senja untuk belajar menggerakkan tubuhnya dalam satu hingga dua hari kedepan. Seperti miring kanan dan kiri dan berlanjut duduk serta berdiri tegak diakhir.
Jika Senja sudah bisa melakukan itu semua, baik Senja maupun bayinya sudah diperbolehkan pulang. Karena tidak ada kondisi yang mengkhawatirkan dan memerlukan pantauan dokter.
"Mau dikasih nama siapa?" tanya Tiara yang menggantikan sang suami menimang cucu keempat mereka, karena Alvaro harus berangkat bekerja untuk menemui klien penting yang tidak dapat ditunda. Menyusul Farri yang sudah lebih dulu berangkat begitu Senja keluar dari ruang operasi.
"Kaisar aja, mah." jawab Baskara. "Biar nama keluarga dari papa tetap kebawa. Kalau nama belakangnya tetap nama keluarga Bas, Lazuardi."
__ADS_1
"Nggak kreatif banget." cibir Senja. Tapi ia memanggil juga anaknya dengan nama yang diberikan sang suami ketika Tiara meletakan baby kedua untuk tidur di sebelahnya. "Hai baby Kai.."
Baskara terkekeh dan mengacak rambut istrinya. Beralih membelai pipi putranya dengan punggung jari telunjuknya.
***
Baskara tengah mengganti popok putranya-karena ibu mertuanya tengah berada ditoilet-ketika pintu ruang rawat terbuka.
Terdengar suara orang-orang yang ia kenal menyapa sang istri. Tapi suara yang begitu menarik perhatiannya adalah suara putri sulungnya yang menjerit memanggilnya.
Baskara berdiri tegak setelah selesai dengan masalah popok putranya. Berbalik menatap baby Anna dengan senyum cerahnya. Tapi putrinya itu terlihat marah dan mengamuk meminta turun dari gendongan sang oma. Ibu Baskara bahkan sampai kewalahan dengan cucu pertamanya itu.
"Huaaaa daddy...." tangis baby Anna semakin melengking. Mengagetkan baby Kai yang kini jadi ikut menangis.
Baskara bingung antara menenangkan putranya atau putrinya. Ketika ia sudah akan menggendong baby Kai, ibunya berucap. "Udah, kamu gendong Anna aja. Biar baby-nya sama bunda." Pricilla buru-buru menyerahkan baby Anna kedalam dekap Baskara.
Gadis kecil itu seketika berhenti menangis. Meringkuk dan menyandarkan kepalanya di dada sang ayah yang menenangkan.
"Princess mommy kenapa sayang? sini duduk dekat mommy."
"Biarin aja, dia lagi kangen daddy-nya. Udah ngamuk dari bangun tidur dia." ucap Pricilla yang sudah membuai cucu keduanya setelah mencuci tangannya terlebih dahulu.
"Lihat aja, sampai suaranya habis begitu." timpal Jingga yang tak kalah pusing ketika baby Anna yang biasanya ceria justru mengamuk.
Tentu saja karena itu rumah sakit milik keluarga Baskara, makanya baby Anna, Sisi juga Zio bisa ikut masuk.
Lagi pula ayah Baskara sudah mensterilkan satu lantai hanya untuk kelahiran cucunya itu. Kelahiran pertama cucunya. Karena sebelumnya baby Anna lahir di NY.
Jingga mendekati Senja dengan mata yang berkaca-kaca sejak melihat adik iparnya itu terbaring tak berdaya. "Maaf ya, Ja. Gara-gara gue, lo harus diopersi." penyesalan terlihat jelas di wajah Jingga.
"Iya. Gara-gara lo perut gue harus disayat-sayat!" seru Senja datar tanpa ekspresi. Akting yang sangat meyakinkan Jingga.
"Maaf, ja. Gue nggak tahu.."
"Andai aja kata maaf itu cukup. Mungkin penjara kosong kali, Ngga."
__ADS_1
Jingga semakin menunduk dalam. Menggenggam tangan adik iparnya erat dan memohon.
"Jangan, Ja. Jangan masukin gue ke penjara. Sisi masih kecil. Kasihan dia kalau nanti sekolah TK nggak ada yang jemput. Dia pasti pengen dijemput mami nya kayak teman-temannya yang lain."
Kali ini, Senja tak dapat lagi meneruskan aktingnya. Ia tak sanggup menahan tawanya dan terbahak. Menyebabkan rasa nyeri diarea perutnya.
"Bisa nggak lo nggak ngelawak, Ngga? gue baru di operasi, nih. Elaah." keluhnya.
Dengan matanya yang polos, Jingga menatap Senja dengan bingung. "Emang gue ngelawak apaan? gue kan lagi minta maaf?"
Sisi menepuk dahi melihat ibunya yang terlalu lamban.
"Ya lagi siapa yang mau menjarain elo, Jinggaaaa? dan mana ada kasus kaya gitu dibawa ke pengadilan, astogee... Gue punya ipar gini amat."
Tiara yang baru keluar dari toilet menggeleng melihat ekspresi Jingga dan mengusap rambutnya lembut. "Mama malah seneng punya mantu kaya Jingga. Dari kepolosannya, kita bisa melihat ketulusannya."
"Itu sih bukan polos, mah. Tapi be-" belum selesai Senja menyeselaikan kalimatnya mulutnya sudah dibekap oleh sang suami.
"Banyak anak-anak disini. Dilarang ngomong kasar."
Senja meringis dan mengacungkan jari tengah dan telunjuknya. Meminta maaf pada sang suami.
*
*
*
Reader : Kok baru up thor?
Othor : Biasa, sibuk cari nama 😎
Reader : Nama apaan dah? perasaan tuh nama bayi nggak ada kreatip-kreatipnya 😏
Othor : hehehe... Karena pusing muter-muter cari nama pas kok nggak pas-pas. Jadi ya udah lah nama yang ada aja 🙈✌
__ADS_1