
Kebahagiaan di rumah orang tua Baskara berganti dengan kebahagiaan di rumah orang tua Senja.
Kasih sayang Alvaro dan Tiara. Keantusiasan kakak dan kakak iparnya. Serta kelucuan dua keponakan membuat Senja tak henti-hentinya tertawa dan mengembangkan senyum bahagianya.
Suasana seperti itu lah yang tidak ia dapatkan ketika berada di NY.
Tapi sepertinya Senja lupa. Kehidupan tidak akan selalu berjalan seperti yang ia inginkan.
Langitnya tidak tercipta untuk selalu indah. Ada jingga yang terlihat menentramkan di pagi dan sore. Ada hari cerah dengan langit biru membentang dan kumpulan awan yang terlihat seperti kapas yang membuat hari ceria.
Tapi ada kalanya langit berubah kelabu yang tak jarang terlihat menyeramkan ketika hujan. Ada juga malam yang hadir tanpa bintang yang membawa kehampaan.
Senja hanya perlu bertahan apa pun warna langitnya. Membuat kelabu tak selalu membawa kesedihan. Membuat malam memberinya kedamaian.
"Kalian sudah satu tahun menikah. Seharusnya sudah terlahir anak diantara kalian."
Untuk pertama kalinya Oma langsung menyindir Senja ditengah keluarganya dan keluarga sang suami.
Malam ini mereka mengadakan makan malam bersama. Selain untuk menyambut kepulangan Senja dan Baskara, juga agar keluarga mereka bisa semakin dekat.
Awalnya acara berjalan baik. Semua nampak bahagia. Termasuk Oma.
Hingga kalimat tadi terucap, semua terdiam. Membuat suasana yang tadi terasa hangat dan menyenangkan, berubah menjadi tegang.
"Oma tunggu saja kabar baiknya." ucap Baskara.
Dibawah meja, tangannya menggenggam erat tangan sang istri. Memberi wanitanya kekuatan. Berharap tak terpancing dengan kata-kata Oma yang akan membuatnya sedih.
"Mau menunggu sampai kapan?" tatapan Oma tertuju pada Baskara dan Senja yang menunduk. Menatap kosong makanannya. "Kalau diantara kalian tidak ada yang bermasalah, tidak mungkin sampai selama ini belum juga hamil."
"Kami dulu juga membutuhkan waktu yang lama untuk bisa memiliki Baskara, mah." Aldo angkat bicara. Ia tidak mengira anak menantunya juga mendapatkan perlakuan apa yang dulu istrinya dapatkan. "Tapi pada akhirnya kami bisa mendapatkan Baskara tanpa bantuan medis sama sekali."
"Benar nyonya." Tiara ikut menimpali. "Belum hadirnya momongan diantara mereka, bukan berarti reproduksi mereka yang bermasalah."
"Mereka masih sama-sama sibuk. Lelah, cukup menjadi alasan belum hadirnya momongan diantara mereka."
"Karena untuk terjadinya pembuahan, keduanya harus sama-sama dalam kondisi yang vit agar kualitasnya juga bagus."
"Maaf kalau bahasanya sedikit kasar. Tapi itulah kenyataannya."
"Karena bukan salah mereka kenapa mereka belum memiliki anak."
Oma mendengus mendengar serentetan penjelasan Tiara. Baginya Tiara tak berbeda dengan Senja yang tidak tahu apa-apa. Tiara hanya anak kecil yang tidak pantas untuk menasehatinya.
"Kalau kalian tahu mereka masih muda dan sibuk, lalu untuk apa kalian menikahkan mereka?"
Telak. Tak ada yang berani menjawab baik orang tua Senja maupun Baskara.
"Mereka memang memiliki hak untuk memilih. Tapi kalian sebagai orang tua juga berperan penting dalam memberikan izin." imbuh Oma ketika tidak ada yang membuka suara lagi.
__ADS_1
"Kalau kalian tidak mengizinkan mereka untuk menikah. Tidak mungkin cucuku yang masih muda itu sudah beristri sekarang."
Oma menatap sinis pada mereka yang mengaku sebagai orang tua.
"Apa tujuan menikah jika bukan untuk meneruskan keturunan?"
Grace yang ada disamping Oma tersenyum mengejek kearah Senja.
"Dan sekarang kalian menyalahkan ku karena menuntut mereka untuk segera memiliki anak? lucu sekali kalian!"
"Bukan menyalahkan, mah. Hanya kita tidak perlu memaksa mereka. Mungkin Tuhan belum mempercayakan mereka untuk dititipi buah hati." Aldo paham betul bagaimana sikap keras kepala ibunya. Jika pembicaraan mengenai momongan ini masih berlanjut, Aldo takut akan ada perkataan ibunya yang menyakiti menantunya.
Meskipun Aldo tahu, sekarang pun Senja pasti sudah merasa sedih dan terluka.
Tapi lebih baik mencegah luka yang akan lebih dalam lagi untuk di torehkan bukan?
"Kalau Tuhan saja tidak mempercayai mereka, kenapa kamu percaya untuk menikahkan mereka?"
"Ayolah mah, itu sudah berlalu. Bas sudah menikah, jadi doakan saja yang terbaik untuk mereka."
Oma kembali mendengus. Tak menghitaukan putranya lagi.
"Apa ramuan yang Oma kirimkan lewat Grace sudah kamu minum, Senja?"
Senja menggeleng lemah. Baunya yang sangat tidak enak membuatnya mual, membuat Senja langsung membuang ramuan itu tanpa pernah mencoba untuk meminumnya.
"Lihat kan?" tanya Oma semakin terdengar sinis. "Aku tidak ingin memaksa Baskara untuk menikah lagi. Untuk itu aku membantumu agar segera bisa hamil. Tapi kamu malah menyia-nyiakannya."
Siapa pula yang akan percaya, jika barang itu saja di antar oleh orang yang mengaku akan menjadi madunya.
Jadi bukan sepenuhnya salahnya juga jika ia berpikir yang tidak-tidak.
"Apa kamu takut itu adalah racun atau bahkan obat yang akan membuat rahimmu rusak?"
Senja mengangguk dengan lugunya.
"HYA! Kamu pikir aku bukan seorang wanita?! mana mungkin aku tega melakulan hal seperti itu!!"
Mulut Senja memang tidak berani menjawab. Selain karena takut, ia juga hanya berusaha bersikap sopan. Karena seperti itulah yang orang tuanya ajarkan padanya. Untuk tidak menyela orang tua yang tengah berbicara.
Terlebih ia tidak ingin membuat orang tua dan keluarganya malu dengan sikapnya jika kurang ajar.
Tapi dalam hatinya, gadis itu tak hentinya menimpali untuk menguatkan dirinya sendiri. Juga karena jiwa pemberontaknya masih cukup besar.
Oma terlihat mengatur napasnya yang mulai tak beraturan. Menerima air yang putranya ulurkan dan meminumnya hingga tandas.
"Sepertinya aku terlalu baik padamu Senja. Berusaha membantumu tapi kamu malah tak menghargainya."
"Baik, jika itu yang kamu inginkan. Ikhlaskan Baskara untuk menikah lagi. Aku tidak ingin keturunan Lazuardi berhenti pada Baskara."
__ADS_1
Bola mata Senja membulat. Tak percaya Oma akan berkata hal yang demikian.
Ia menatap satu persatu keluarganya yang terlihat menegang. Terutama ayah dan kedua kakak laki-lakinya yang terlihat menahan amarah.
Ia tersenyum getir dalam hati.
Kini bukan hanya ia yang merasa sakit. Tapi keluarganya juga ikut merasakan.
"OMA APA-APAAN SIH! SAMPAI KAPAN PUN AKU NGGAK AKAN PERNAH MAU MENIKAH LAGI!!"
Baskara tak tahan melihat istrinya disakiti. Jika bukan karena wanita tua itu adalah nenek yang ia sayang dan hormati. Mungkin ia sudah menyakitimya secara fisik.
"Untuk apa kamu mempertahankan perempuan mandul! lebih baik kamu menikahi Grace yang dari hasil pemeriksaan di rumah sakit kemungkinan untuk hamil sangat tinggi!"
Mandul. Kata itu terputar berulang dalam kepala Senja. Semakin terdengar, semakin terasa menyakitkan.
"OMA!!"
"MAH!"
"NYONYA!!"
Teriak Baskara, Aldo dan Alvaro bersamaan. Tidak ada yang rela di antara mereka mendengar Senja dikatakan mandul.
Terutama Alvaro. Hatinya teriris melihat putri kecilnya terlihat pucat pasi mendengar hal yang belum tentu kebenarannya. Hal yang ia rasa sangat tidak mungkin. Melihat dari riwayat keluarganya dan sang istri yang semuanya sehat. Tidak mungkin Senja bermasalah sendiri.
"Saya membesarkan putri saya dengan kasih sayang. Bukan hal mudah untuk saya melepaskan putri saya kepada laki-laki lain untuk menjaganya." ucapnya dengan nada tegas. Menatap tajam pada Oma Baskara.
"Hanya karena saya mengenal Baskara makanya saya mampu melepaskan. Berharap agar Baskara bisa membahagiyakannya."
"Dan saya tidak terima anda memperlakukan putri saya seperti itu."
"Bahkan sejak pertama kami datang, tak ada sedetikpun tatapan hangat anda untuk putri saya."
Tiara menggenggam tangan suaminya. Memintanya untuk berhenti atau nanti akan menyesal. Karena walau bagaimana pun mereka kini keluarga.
Alvaro terlihat menarik napasnya panjang. Berusaha meredakan emosinya.
"Terimakasih untuk makan malamnya. Saya dan keluarga mohon pamit." lebih baik pergi dari sana dari pada ia lepas kontrol. Alvaro mendekati kursi putrinya dan membantunya berdiri.
"Ayo sayang kita pulang."
Senja yang sudah berdiri terlihat linglung. "Tapi pah.."
"Kita pulang dulu. Besok-besok kan kamu bisa menginap lagi disini. Sekarang tidur di rumah dulu, papa masih kangen."
Senja menatap Baskara dan mendapat anggukan.
*
__ADS_1
*
*