Langit Senja

Langit Senja
Menghindar


__ADS_3

Akhirnya hari kepulangan yang ditunggu datang juga. Baskara datang dihari pertama libur musim semi. Menginap di apartemen Senja sebelum dini hari mereka berangkat kebandara.


Baskara memperlakukan Senja begitu baik dalam perjalanan. Seperti melepas sepatu Senja dan menggantinya dengan sandal yang disediakan maskapai penerbangan. Juga mematikan lampu dan menyelimuti tubuh gadisnya ketika Senja bilang mengantuk. Membantu menutup tirai jendela ketika matahari mulai menyongsong. Dan masih banyak hal manis lainnya yang pemuda itu lakukan.


Senja bahkan sampai bengong melihat Baskara yang seperti itu. Perubahan yang terlalu tiba-tiba seperti ini terlalu menakutkan untuknya. Ia takut Baskara benar-benar kesurupan setan romantis atau sejenisnya.


"Meskipun udah lama gue cinta sama lo, tapi gue masih punya gengsi yang tinggu. Dan nggak mau mengakui perasaan itu " jawab Baskara ketika Senja bertanya aneh dengan sikap Baskara. "Dan sekarang udah nggak ada gunanya lagi gue gengsi. Kan lo udah tahu perasaan gue."


Senja hanya mencibir dan enggan bertanya lagi tentang perubahan sikap Baskara padanya.


Senja sudah pernah melihat Baskara bertingkah konyol bahkan sampai ia enggan mengakui pemuda itu sebagai sahabatnya, dulu.


Ia juga sudah pernah melihat Baskara yang menyebalkan dan suka bercanda.


Melihat Baskara patah hati dan berubah dingin. Baskara yang berubah dewasa menjaga dan mengajarinya memasak.


Semua sudah pernah Senja lihat. Itu semua terasa biasa saja.


Dulu sekali. Senja juga pernah membayangkan diperlakukan bak ratu oleh Baskara. Tapi ketika kini terwujud didepan mata, kenapa rasanya justru aneh dan menakutkan.


"Jadi gimana, Ja?" todong Baskara begitu mereka menapakkan kakinya di tanah air.


"Gimana apanya?" tanya Senja linglung. Ia merasa sangat lelah setelah penerbangan belasan jam. Tak mudah memahami apa yang Baskara maksud.


"Ini kan udah di Jakarta." jawab Baskara berharap Senja tahu maksudnya.


"Terus?" Senja masih tak mengerti dan mengerutkan dahinya saat mereka melewati pintu pemeriksaan.


"Lo kan janji mau jawab lamaran gue pas udah di Jakarta!" cebik Baskara kesal.


"Ya ampu, Bas! kita bahkan baru sampai. Masih capek. Tunggu beberapa hari lagi, ya?"


Baskara menggeleng. "Lo janjinya kan pas kita udah di Jakarta! lagian mana ada orang ngejawab lamaran orang lebih dari sebulan!"


"Eh itu abang!" seru Senja begitu melihat kakak keduanya sudah datang menjemput. Sekaligus mengalihkan pembicaraan.


Meski kesal karena Senja menghindari topik tentang lamaran yang ia ajukan, tapi Baskara tetap mengikuti langkah Senja dengan mendorong troli berisi dua koper miliknya dan milik Senja.


***

__ADS_1


Baskara kira, Senja memang masih butuh waktu. Tapi ternyata gadis itu terus-terusan menghindarinya. Bahkan sangat sulit untuknya menemui gadis itu. Jika pun mereka bertemu, pasti akan ada keluarga Senja disana.


Senja seakan benar-benar membuat benteng pertahanan untuk ia tak menanyakan perihal masalah lamaran.


Sebenarnya apa yang di pikirkan gadisnya itu?


Apakah Senja kira ia main-main dengan lamarannya?


Apa Senja kira ia tengah bercanda dengan pernikahan?


Atau Senja belum percaya ia benar-benar mencintai gadis itu?


Baskara meraup wajahnya kasar. Ia merasa frustasi dengan sikap Senja. Meski pertanyaan terakhir lah yang paling masuk akal di pikirannya kali ini.


Mungkin Senja memang belum bisa percaya kalau ia mencintainya.


Siapa yang akan percaya jika melihat betapa patah hatinya Baskara begitu ditinggal menikah oleh Jingga.


Betapa kejadian saat itu merubah sikap Baskara menjadi sedingin Es.


Dan tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Baskara melamar Senja dan mengatakan cinta.


Mungkin jika ia lebih dulu menyatakan cinta dan mengungkapkan segala perasaannya. Senja bisa mempertimbangkan lamarannya tanpa ada rasa ragu.


Apakah kini keputusannya salah. Apa ia salah langkah dan membuat Senja takut.


"Kok anak gantengnya bunda liburan begini wajahnya ditekuk gitu?" Pricilla yang baru pulang praktik dirumah sakit duduk disamping sang putra yang langsung merebahkan kepalanya di pangkuan.


"Aku salah ya bun langsung ngelamar Senja padahal belum nyatain perasaan?" tanyanya gusar. Ia sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa. Sedangkan Senja sendiri semakin sulit diajak bicara berdua.


Bahkan Baskara masih beruntung jika bisa bertemu Senja setiap hari. Karena kadang Senja menghindarinya untuk tak bertemu dengan alasan sibuk.


Entah kesibukan apa yang gadis itu lakukan. Karena tak jarang Baskara melihat lampu kamar Senja masih menyala hingga dini hari. Dan terlihat siluet gadis itu yang tengah melakukan sesuatu di dalam sana.


Ya. Baskara memang terlihat seperti penguntit akhir-akhir ini.


Jika jam sembilan ia sudah di usir pulang oleh kakak atau orang tua Senja. Baskara akan berdiri berjam-jam disisi kolam renang dibawah kamar gadis itu.


"Sebenarnya nggak salah kalau kalian saling suka meski nggak pernah saling mengungkapkan." tangan Pricilla bergerak lembut dipermukaan rambut putra semata wayangnya. "Tapi yang jadi masalah kalau Senja nggak ada perasaan sama kamu."

__ADS_1


"Maksud bunda?" Baskara yang mempunyai firasat tidak enak langsung menegakkan tubuhnya. Membuat Priculla tergelak melihat tingkah sang putra.


"Bunda kan bilang kalau, sayang. Kenapa serius begitu." kekeh Pricilla


"Ya tapi maksud bunda apa?"


"Ada dua kemungkinan kenapa Senja menghindari kamu dan belum juga menjawab lamaran itu."


"Apa?" sergah Baskara. Sebagai sesama perempuan, Baskara yakin ibunya lebih tahu perasaan Senja saat ini seperti apa.


"Kemungkinan pertama. Mungkin dia memang masih butuh waktu untuk berpikir. Berpikir dengan matang tanpa ada kamu yang akan merubah keputusannya nanti."


Baskara mengernyit tak setuju. Mana bisa ia tidak menemui Senja hanya untuk gadis itu bisa mengambil keputusan. Kalau memang kehadirannya menggoyahkan keputusan Senja dan menerima lamarannya, maka ia akan semakin sering berada dirumah gadis itu. Atau kalau bisa, ia akan memasang tenda di luar kamar Senja agar bisa menunggu gadis itu selama 24 jam.


"Jangan berpikir kamu malah akan semakin mengikutinya kemanapun dia pergi, Bas!"


Baskara yang merasa tertangkap basah dengan pikirannya pun hanya merenges tak jelas.


"Biarkan dia punya waktunya sendiri, sayang." nasihat Pricilla kembali lembut. "Kalau kamu ingin bertemu, coba telefon atau kirim pesan dan tanya apa dia ada waktu buat bertemu. Jangan datang setiap hari dan membuat Senja bosen sama kamu."


Baskara membulatkan matanya. "Emang Senja bisa bosen sama aku, bun?"


Priscilla merotasikan bola matanya. "Kamu pikir orang nggak akan bosen lihat kamu cuma karena kamu ganteng!"


"Terus kemungkinan kedua apa?" tanya Baskara setelah terkekeh melihat ibunya kesal dengan rasa percaya dirinya yang terlalu tinggi.


Priscilla bangkit menuju kamarnya. "Kemungkinan kedua adalah..." ibu satu anak itu sengaja menggantung kalimatnya untuk menggoda sang putra.


"Apa?" Baskara tanpa sadar mengikuti langkah ibunya.


"Dia sebenarnya menolak lamaran kamu, tapi nggak enak mau ngomongnya hahaha."


Setelah membuat sang putra mematung di depan pintu kamarnya. Pricilla menutup pintu dan semakin tergelak didalam sana.


*


*


*

__ADS_1


Eh? belum dijawab juga hahaha


__ADS_2