
Malam kian larut. Meski di luar sana Senja yakin masih banyak orang beraktifitas di hari yang menuju dini hari ini. Tapi tidak dengan apartemennya yang sudah sepi.
Sebagian lampu sudah dipadamkan dan hanya menyisakan lampu diatas nakas dan dimeja belajar yang ia duduki.
Gadis itu meregangkan tangan dan kakinya dengan mulut yang menguap lebar. Ia tidak sadar sudah duduk disana hingga selarut itu.
Ketika menoleh kearah tempat tidur, senyumnya mengembang. Pemandangan suami dan anak mereka yang tengah terlelap meluruhkan sedikit rasa lelah ditubuhnya.
Terakhir ia mendengar suara anak dan suaminya ketika sang suami tengah membacakan buku dongeng untuk putri kecil mereka yang sudah menginjak usia empat bulan. Usia yang bayi kecil itu lalui tanpa perhatian penuh seorang ibu.
Ia tengah berjuang menyelesaikan tugas akhir agar bisa cepat wisuda dan pulang dilibur musim panas nanti. Demi mereka yang tengah terlelap. Yang selalu memberikan suntikan semangat yang tiada habisnya untuk hari yang ia jalani. Juga demi menuntaskan tanggungjawabnya sebagai seorang anak untuk menyelesaikan pendidikan.
Ekspresinya berubah sendu. Kini waktunya benar-benar sedikit untuk keluarga kecilnya. Fokusnya tersita banyak untuk menyelesaikan tugas. Berharap bisa mendapatkan hasil yang memuaskan. Yang bisa membuat orang tua dan keluarga bangga padanya.
Apa yang kita lakukan pasti ada yang harus dikorbankan. Entah waktu, tenaga dan materi. Dan Senja mengorbankan waktu berharganya dengan sang putri. Membuat gadis kecil itu terbiasa tanpa dirinya dan lebih dekat dengan sang suami.
Baby Anna bahkan tidak ada sedihnya ketika ia berangkat kuliah. Tapi akan menangis meraung-raung ketika tidak mendapati Baskara dalam pandangan. Meski bayi kecil itu juga tetap terlihat senang begitu melihat dirinya.
"Ehek.. Ehekk.." Senja bergegas ketempat tidur begitu baby Anna menangis. Sepertinya bayi kecilnya sudah lapar.
Tak hanya Senja yang mendekat, tapi Baskara juga terlihat mengusap matanya dan bangun dengan mata yang terlihat berat.
"Kamu belum tidur, ayy?" tanya Baskara begitu melihat laptop serta lampu meja belajar yang masih menyala.
Senja berbaring disebelah baby Anna dan membuka kancing piyamanya. "Baru mau tidur tadi mas."
Baskara menepuk kepala Senja beberapa kali dengan pelan. "Jangan terlalu diforsir dong ayy. Kamu tuh akhir-akhir ini cuma tidur berapa jam doang tiap hari. Makan juga sering lupa kalau nggak di ingetin. Badan kamu tuh tambah kurus, ASI-nya juga jadi berkurang kan?"
Senja menghela napas. Ia akui gaya hidupnya tak sehat. Membuat stok ASI untuk baby Anna jadi berkurang dan dengan terpaksa dibantu dengan susu formula setelah berkonsultasi dengan dokter. Karena baby Anna sering menangis karena kurang kenyang.
__ADS_1
"Sering ngeluh pusing juga." imbuh Baskara mengusap lembut surai istrinya yang masih terikat asal.
"Udah dikejar deadline mas. Kalau nggak selesai, nggak lulus tahun ini. Masa harus ikut wisuda tahun depan."
"Tapi kamu juga harus perhatiin kondisi fisik kamu juga. Kasihan kan dibawa kerja terus nggak dikasih istirahat. Nggak dikasih makan yang bener."
"Kan ada kamu yang perhatiin." ucapnya dengan senyum semanis mungkin. Suaminya bukan kali ini saja menceramahinya tentang kesehatan. Tapi mau bagaimana lagi. Tanggungjawabnya lebih penting.
"Tapi aku tuh khawatir! kamu kalau udah kecapekan pasti jatoh sakit. Aku nggak mau kalau sampai kamu kenapa-kenapa."
Senja meletakan tangan kirinya dipipi sang suami. "Do'ain aja biar aku tetap sehat terus skripsinya cepet kelar. Udah bosen juga disini." candanya diakhir kalimat.
"Nggak perlu kamu minta juga selalu aku langitkan doa-doa terbaik buat kamu. Buat Anna. Buat keluarga kecil kita... Tapi kamu juga harus perhatiin kesehatan kamu sendiri, ayy. Karena yang paling tahu tubuhmu ya kamu sendiri."
"Iya iya sayang. Nanti lebih jaga lagi kesehatannya." ia duduk dan menangkup kedua sisi wajah suaminya setelah baby Anna tidur. Memberinya kecupan lembut untuk meredakan suaminya yang sudah mulai terlihat kesal.
"Ya udah. Aku buatin susu dulu. Abis itu tidur! besok ke kampus buat bimbingan nggak?"
Senja menggeleng. "Besok nggak ada bimbingan. Lagian badanku rasanya udah nggak enak banget."
"Ya udah nanti aku bantu pijat." ucapnya dengan mengedipkan sebelah mata sebelum berlalu.
Senja tersenyum dan berdecih mendengarnya. Pandangannya beralih pada putri kecilnya yang sudah kembali terlelap.
Ia dekatkan bibirnya kearah dahi sang putri. Menciumnya hangat cukup lama. "Maafkan mommy sayang... Mommy janji setelah kita kembali ke Jakarta, mommy akan lebih banyak lagi waktu bareng Anna. Untuk menebus waktu yang sudah mommy lewati."
***
Esok harinya katika bangun di pagi hari, Senja merasa rumahnya berputar. Kepalanya berdenyut kuat. Untuk kekamar mandi saja ia harus berpegangan jika tidak ingin terjatuh.
__ADS_1
"Kamu yakin nggak mau ke dokter, ayy? wajahmu pucet banget gitu." Baskara sudah lebih dulu bangun. Ia tengah menunaikan tugasnya sebagai umat beragama ketika istrinya terbangun. Kini ia membantu istrinya kembali ke tempat tidur dan mendudukannya disana.
Senja menggeleng dengan tenaga yang tersisa. "Aku udah biasa gini kan kalau beberapa hari kurang tidur? minum obat juga nanti sembuh."
Baskara tahu istrinya akan mengalami hal demikian jika terlalu lelah dan terlalu lama begadang. Untuk itu ia tidak suka jika istrinya sudah memaksakan dirinya.
"Tapi kan biasanya kamu sendiri. Nggak ada Anna yang juga bergantung hudup sama kamu!" ucapnya sedikit tegas.
Ia memejamkan mata untuk menurunkan emosinya dan kembali berkata dengan lembut. "Kedokter ya?"
Senja tetap menggeleng. Ia masih percaya setelah meminum obat, ia akan kembali sehat.
"Apa sih ayy yang kamu permasalahin kalau ke dokter?" tanyanya tak habis pikit. "Padahal mama sama bang Vindra juga dokter. Dan pasti mereka sudah menanamkan sejak kamu kecil kalau sehat itu penting."
"Sama aja kan, mas? nanti juga kalau ke dokter juga ujung-ujungnya di kasih obat."
"Tapi kita jadi nggak tahu sebenarnya kamu kenapa! dokter lebih tahu mana obat yang tepat untuk keluhan kamu! nggak bisa sembarangan makan obat tanpa kita tahu pusat sakitnya itu apa!"
"Tapi kan ini udah biasa, mas. Nanti juga kalau udah istirahat, sembuh sendiri."
"Jangan egois, ayy! kamu nggak hidup sendiri! ada Anna yang bergantung hidup sama kamu! Kamu harus mikirin dia juga!" Baskara terlihat emosi. "Kamu nggak sakit aja, ASI buat Anna berkurang. Apa lagi kamu sakit kaya gini! kamu mau dia lepas ASI diusia dia sekarang?!"
Mata Senja berkaca-kaca. Mentalnya tengah tidak stabil. Energinya sudah terkuras untuk mengerjakan skripsi. Ia juga tak lepas tanggung jawab begitu saja terhadap suami dan anaknya, meskipun tidak full menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Dan saat ini ketika ia sakit, suaminya justru memarahinya. Meskipun itu akibat dari kekeras kepalaanya, tapi kenapa rasanya tetap saja sakit.
*
*
*
__ADS_1