
Pada akhirnya Senja mengurungkan lagi niatnya pergi ke dokter. Kondisinya membaik setelah sarapan bubur dan minum obat.
Ia lebih memilih menghabiskan waktu satu hari penuh dengan anak dan suaminya. Hal yang jarang terjadi. Karena biasanya di hari libur jika mereka tidak jalan ke luar, Senja akan kembali disibukan dengan tugas kuliahnya.
Waktu satu hari itu sudah cukup menyuntikan semangat untuk bekalnya menyelesaikan tugas.
Namun beberapa hari kemudian, kejadian serupa kembali terulang beberapa kali. Senja kembali tumbang dan akan kembali sembuh setelah cukup istirahat dan minum obat.
Kala itu Baskara tidak dapat memaksa istrinya untuk pergi ke dokter. Karena waktu untuk menyelesaikan skripsi hanya tersisa beberapa hari.
Dengan tubuh lemahnya, Senja paksa untuk bekerja lebih keras lagi. Menambahkan vitamin dan makan makanan bergizi yang selalu suaminya siapkan. Meski itu semua tak mempengaruhi apa pun.
Ia akan kembali drop setelah begadang terlalu lama. Puncaknya adalah pagi ini, dimana ia memuntahkan semua isi perutnya hingga tak mampu berdiri. Ia hanya bisa menangis dan berteriak dengan tubuh yang sudah lemas untuk memanggil suaminya.
"Ini yang terakhir kamu drop gini. Pokoknya kita ke rumah sakit sekarang! Baby Anna bisa kita titipkan sebentar sama Maureen. Dia pasti mau bantu jagain sebentar."
Kali ini Senja tak lagi mendebat. Ia mengangguk pasrah. Tubuhnya juga merasa tak berdaya dan membutuhkan pertolongan. Tapi ia harap, ia tak sampai harus dirawat dirumah sakit.
Alasan lain ia mau ke rumah sakit juga karena tugasnya sudah selesai. Meski ia tak yakin dengan nilai yang nantinya ia dapatkan. Setidaknya ia sudah berjuang dan berusaha. Ia hanya perlu memeriksa ulang apakah ada kesalahan ketik sebelum ia mengumpulkan tugas sebelum sidang.
"Ya udah. Aku telfon Maureen dulu." ucapnya lemah.
Selama istrinya menghubungi Maureen. Baskara menyiapkan keperluan Senja. Baju ganti untuk pergi, tas, sepatu dan segala keperluan istrinya.
Ia bahkan sampai membantu istrinya berganti pakaian meskipun Senja sudah menolaknya.
"Aku bisa sendiri, mas." tolaknya dengan rasa panas yang menjalar disepanjang wajahnya begitu sang suami mencoba melepas piyama yang ia kenakan.
"Udah diam! kamu lemes gitu. Mending aku aja yang bantu!"
Meski sudah berkali-kali suaminya melihat setiap inci tubuhnya. Namun rasanya tetap saja malu ketika keadaannya tengan seperti saat ini. Terasa aneh dan tidak nyaman.
"Gimana? Maureen bisa datang kan? kalau enggak kita titipin ke ibunya Maureen aja."
__ADS_1
Ibu dari Maureen yang sejak awal sudah sangat baik pada Senja dan menganggapnya anak, kini wanita paruh baya itu juga amat menyayangi baby Anna seperti cucunya sendiri.
Wanita paruh baya itu bahkan sesekali datang untuk bermain dengan baby Anna.
"Maureen bisa datang kok. Dia juga katanya skripsinya udah selesai."
Tak lama sejak Senja menghubungi sahabatnya itu, bell rumah terdengar.
Baskara membantu istrinya untuk pindah ke ruang televisi sekaligus membukakan pintu untuk tamu yang sudah ia tunggu.
"Sakit apa anak nakal itu?" todong tamu yang datang begitu ia membuka pintu. Tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Aku harap dia hanya kelelahan mom. Mom tahu sendiri jika Senja dan Maureen tengah menyelesaikan tugas akhirnya." jawab Baskara pada tamu yang ternyata tak hanya Maureen yang ada disana. Namun juga turut serta pula ibunya.
"Lho mom? kenapa disini?" tanya Senja begitu para tamunya sudah menghampirinya.
Ibu Maureen menepuk pelan punggung Senja. "Berapa lama kita tidak bertemu?! kenapa kau jadi sekurus ini?!" seru wanita paruh baya itu dengan kesal.
"Apa suamimu tidak memberimu makan?!" tatapan ibu Maureen berpindah kearah Baskara dengan tajam. "Apa dia tidak memberimu uang yang cukup untuk kau makan dengan baik?!" Ibu Maureen tahu bukan itu alasannya.
"Lantas kenapa? suamimu sudah begitu baik dan kau malah menyia-nyiakannya?! Kau tidak merawat dirimu sendiri?! kau mengabaikan kesehatanmu dan bahkan melupakan keberadaan cucuku yang sangat butuh kesehatanmu untuk kesehatannya juga?!"
Senja hanya menunduk ketika dimarahi seperti itu. Ia tak kesal. Ia justru rindu ada yang memarahinya. Suara wanita paruh baya yang berteriak kesal ketika ia mengabaikan kesehatan. Berteriak kesal ketika ia bertingkah.
Aaah ia rindu dimarahi ibu kandungnya..
Berbeda dengan marahnya seorang suami. Karena yang ia harapkan hanya tutur lembut dan mesra dari suaminya.
Meskipun ia tahu takan selamanya Baskara berkata lembut. Pasti akan ada saat dimana keadaan seperti kemarin. Disaat mereka bertengkar.
"Sudah mom. Kasihan istriku. Dia sedang sakit. Jangan kau marahi seperti itu." lerai Baskara yang tidak tega melihatnya.
Baby Anna yang sebelumnya tidur diatas stroller bahkan terbangun dan kini tengah digendong dan dibawa kebalkon apartemen mereka oleh Maureen.
__ADS_1
"Jangan kau bela gadis manja ini!" sentak ibu Maureen. "Aku ingin ia sadar akan kesalahannya! Agar dia berpikir dulu sebelum memutuskan untuk begadang! agar dia berpikir dulu sebelum mengabaikan kesehatannya sendiri!"
"Maaf mom." cicit Senja.
"Maaf? memang dengan maaf kau akan sehat?! kalau kau tidak mengabaikan kesehatanmu sendiri, hal seperti ini tidak akn terjadi."
Diperjalanan menuju apartemen Senja, Maureen sudah bercerita kalau beberapa kali Senja juga sakit dan menolak untuk pergi ke dokter.
Ibu Maureen memang cukup lama tak bertemu dengan Senja. Karena jika ia berkunjung, Senja tengah kuliah. Sedangkan ia hanya datang satu atau dua jam saja disana.
"Sekarang pastikan kau benar-benar sehat sebelum kau kembali beraktifitas! atau aku tidak akan menganggapmu anak lagi!"
"Mooom." rengek Senjak.
Ibu Maureen mengibaskan tangannya. "Sudah sana pergi. Semakin siang, rumah sakit akan semakin ramai."
Senja tak pernah menganggap ibu Maureen ikut campur dalam kehidupannya. Ia tahu wanita paruh baya itu hanya peduli dan ingin yang terbaik untuknya. Jadi ia langsung menuruti perintah wanita itu dan pergi bersama sang suami.
Sesampainya dirumah sakit, antrian cukup banyak. Selain hari yang sudah cukup siang, juga karena rumah sakit yang mereka kunjungi adalah salah satu rumah sakit terbesar di NY.
Bahkan dokter tempat Senja mendaftar adalah salah satu dokter terbaik di sana. Jadi tak heran jika banyak yang mengantri dan ingin di tangani oleh dokter tersebut.
Setelah menunggu kurang lebih satu jam, nama Senja dipanggil.
Dokter Imanuel menanyakan keluhan serta melakukan pemeriksaan. Setelah mendapatkan hasil diagnosanya. Dokter Imanuel justru merujuk mereka kedokter lain.
"Kenapa dok? apakah istri saya sakit serius?"
Dokter Imanuel hanya tersenyum tipis yang sulit dipahami apa artinya. Entah senyum itu bertanda buruk atau baik. Semakin membuat Baskara cemas akan keadaan istrinya.
*
*
__ADS_1
*