Langit Senja

Langit Senja
Aku Tak Tahu


__ADS_3

Tepat pukul lima sore acara selesai. Tamu undangan satu persatu meninggalkan ballroom. Pasangan pengantin baru dan keluarga juga mulai kembali ke kamar yang mereka tempati. Ada beberapa juga yang langsung pulang ke rumah. Seperti Vindra dan sang istri yang langsung pulang ketika kakak kedua Senja itu ada panggilan dari rumah sakit untuk operasi darurat. Dan Fani jelas saja memilih pulang. Tidak ingin iri dengan pasangan-pasangan yang berbahagia disana.


"Nanti makan malam barsama ya Babas, Senja." ucap Aldo-ayah Baskara-sebelum mereka berpisah di pintu kamar masing-masing.


Senja dan Baskara yang akan memasuki kamar yang sebelumnya ditempati Senja pun mengiyakan.


Kamar pengantin hanya akan mereka tempati nanti malam. Lagi pula Senja sudah ditunggu MUA untuk membersihkan make up juga membantu Senja melepas gaunnya.


"Kamu masuk dulu." ucap Baskara mencium dahi istrinya untuk kedua kalinya. Melepas genggaman tangan mereka dengan berat meski hanya sejenak. Baskara ingin Senja selalu berada didekatnya kemana pun ia pergi. Namun itu terlalu berlebihan dan terlalu membatasi sang istri. "Aku mau ambil koper dulu di kamar." imbuhnya.


Senja yang masih belum terbiasa dengan skin to skin diantara mereka hanya mampu mengangguk dengan rona wajah yang sudah semerah tomat dan menjungkir balikan jantungnya.


Perlakuan Baskara hari ini padanya sungguh manis. Seperti ketika ada sela disaat tamu mengucapkan selamat, Baskara tanpa diminta langsung mengambilkan Senja minum. Melepas stilleto milik sang istri dan memijatnya lembut meski sudah berulang kali Senja mengatakan jika dirinya tidak apa-apa.


"Jangan bilang nggak pa-pa! dari tadi kamu berdirinya gelisah gerakin kaki terus." tegas Baskara dengan suara lembut namun tak terbantahkan. Hingga Senja hanya pasrah meski pun malu banyak yang melihat mereka, tapi Senja cukup tersanjung dengan perhatian yang Baskara berikan padanya.


"Gimana perasaannya kak, punya suami seganteng dan seperhatian mas Baskara?" pertanyaan dari asisten MUA yang tengah membersihkan make up-nya menyadarkam Senja yang hampir terlelap karena kelelahan. Untung gaunnya sudah dilepas terlebih dahulu, hingga ia bisa duduk bersandar dengan nyaman.


"Darimana tahu kalau Babas perhatian?" tanya Senja dengan kekehan dan senyum sipu. Bahkan orang lain saja bisa merasakan jika suaminya itu perhatian.


"Cuma orang buta kak yang nggak tahu betapa Mas Bas mencintai kakak dan begitu perhatian!" gadis yang sepertinya dua tahun dibawah Senja menjawab dengan menggebu. "Bahkan diatas pelaminan, Masnya terus ngelirik kakak. Matanya ya ampuuun ada blink-blinknya pas ngelihat kakak!"


Meski masih cukup muda namun kerjanya cukup bagus dan profesional juga mudah berbaur. Senja bahkan seperti tengah mengobrol dengan temannya sendiri. Ia semakin tergelak mendengar kehebohan gadis itu. Apa dua tahun lalu ia juga sebersemangat ini?


"Masa sih ngelirik aku terus? tadi kan banyak tamu. Bisa aja Bas ngelirik tamu yang kebetulan aja posisinya diarah aku." Senja memang tidak menyadari jika Baskara tak henti melirik dan mengaguminya.


"Kakak mana tahu! kakak kan fokus ke tamu. Aku lebih tahu kak!" Senja kembali menggeleng dan memejamkan mata saat Mia-asisten MUA-akan membersihkan area matanya. "Jadi pengen deh nikah muda kayak kakak. Tapi yang suaminya kayak Mas Bas. Udah mah ganteng. Perhatian lagi. Paket komplit banget sih kak! doanya apa biar bisa dapat suami kayak gitu?"

__ADS_1


Duh anak ini. Tak hentinya Mia membuat Senja tertawa dengan kekaguman gadis itu pada suami rasa sahabatnya itu.


Senja terkikik sendiri dengan sebutannya. Tapi memang benar. Meski Baskara sudah menjadi suaminya, tapi ia masih merasa pemuda itu sahabatnya. Atau karena mereka baru menikah beberapa jam dan tak ada yang berubah kecuali Baskara yang sering mencuri cium meski hanya di dahi?


Ah jangan lupa juga, tentang hatinya yang kian besar mencintai pemuda itu.


"Aku aja nggak tahu kesalahan apa yang aku perbuat dimasa lalu sampai bisa jadi istri sahabat aku sendiri." Senja terkekeh diakhir jawaban setelah cukup lama terdiam. "Rasanya tuh kayak mimpi. Kayak sesuatu yang mustahil buat terjadi. Sampai sekarang aja kayaknya aku masih didunia mimpi deh."


Gerakan tangan dipermukaan wajahnya sudah berhenti. Namun Senja enggan membuka matanya yang terasa berat.


"Emang kakak nggak cinta sama dia?" suara Mia terdengar cukup jauh dari posisinya.


"Cinta sih." jawab Senja yang sudah akan hanyut ke alam mimpi. "Dia itu cinta pertama aku. Cinta pertama yang nggak berbalas. Yang berimbas sama hati aku yang enggan membuka diri buat cowok lain."


Meski tak ada jawaban dari Mia, Senja terus saja bermonolog diambang kesadarannya.


"Bikin kacau perasaan aku yang udah berhasil aku tata dengan rapi."


Senja mengangguk sendiri dan semakin ingin terlelap tapi berusaha menuntaskan ceritanya.


"Tapi caranya kembali hadir di hidup aku cukup manis sih, Mia." senyum Senja mengembang mengingat hari dimana ia bangun dan mendapati Baskara ada didalam apartemennya. Pertemuan pertama setelah sekian lama mengibarkan bendera perang.


"Kalau nggak ada dia, mungkin aku udah hancur banget! atau bahkan mungkin aku sudah terdaftar jadi salah satu penghuni tetap rumah sakit jiwa."


Robert memang brengsek! jika ia tak menghargai pria itu yang juga termasuk kedalam teman-teman yang sering berkumpul dengannya, ia lebih memilih menjauh. Dan beruntungnya pria itu tak lagi mendekatinya.


"Dan cara dia ngerubah aku dari cewek manja yang nggak bisa masak tuh sweet banget nggak sih, Mia?" tanya Senja yang masih tak mendapat jawaban. "Harusnya aku yang lebih jago masak. Eh malah dia yang dengan sabar ngajarin aku masak sampai yaaa lumayan lah biar pun nggak bisa disebut jago."

__ADS_1


"Mia?" panggil Senja karena ruangan terasa sunyi tanpa pergerakan dan jawaban yang gadis itu berikan. "Kamu-" belum sempat Senja melanjutkan pertanyaanya dan membuka mata, sebuah tangan kekar melingkat ditubuhnya dari belakang. Wangi maskulin yang sudah ia hafal membawa Senja untuk memisahkan kedua kelopak matanya yang terasa tak mau berpisah.


"Da-dari ka-kapan elo disini?" Senja tergagap setelah menolehkan kepalanya dan menatap wajah Baskara yang disandarkan dibahunya.


"Sama Mia aja aku-kamu! masa sama suami sendiri elo-gue!" protes Baskara dengan nada merajuk yang bukannya Senja takut tapi malah terkekeh.


"Iya iya maaf. Jadi dari kapan kamu disini?" Baskara masih memakai baju tadi. Hanya tanpa jas. Menyisakan kemeja putih yang bagian lengannya digulung hingga siku. Membuat pemuda itu naik satu level kadar ketampanannya.


"Dari sejak kamu bilang dosa apa yang kamu perbuat dimasa lalu sampai dapat suami kayak aku."


Mulut Senja menganga. Rasanya ia sangat malu Baskara mendengar semua yang ia katakan. Yang isinya hampir 90% adalah pernyataan cinta.


Dan sekarang Senja ingin memiliki jubah menghilang milik Doraemon agar ia tak kasat mata saat ini juga.


"Mia dimana?" melihat keseluruh ruangan dan tak mendapati gadis itu berada disana.


"Udah pergi." jawab Baskara santai dengan mengedikan bahu.


"Makasih ya sayang atas cintanya. Dan maaf atas luka yang pernah aku toreh buat kamu." Baskara mengatakan itu dengan tulus. Senja bisa melihat itu.


"I Love You." imbuhnya berbisik dengan mengecup lembut leher jenjang Senja. Mengalirkan getaran yang terasa baru bagi gadis itu. "Percaya sama aku kalau dihati aku sekarang, besok dan sampai akhir cuma ada kamu." suara Baskara berubah serak dan terdengar seksi di telingat Senja.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2