Langit Senja

Langit Senja
Bab 22


__ADS_3

Ujian akhir sekolah SMA WILLIAM SCHOOL telah usai. satu persatu siswa siswi yang menyelesaikan soal ujian terakhir keluar kelas. Senja, siswi beasiswa berprestai itu keluar lebih dulu, di susul sahabatnya Alya.


"Senja tunggu!" Senja menghentikan langkahnya menoleh kebelakang dimana Alya yang tadi memanggilnya.


"kenapa Al?" tanya Senja, setelah Alya berhasil menyusulnya. kini dua gadis remaja itu berjalan beriringan.


"ini belum terlalu siang, masih jam 11:00, gimana kalau kita nongkrong dulu. ajak Jingga sama Tania." Ajak Alya. Senja menimbang tawaran sahabatnya. "gue traktir deh." lanjutnya, seperti mengerti dengan keadaan Senja. Alya tau kalau selama ini Langit tidak pernah memberikan uang pada Senja. bahkan setelah Langit memberikan ATM pada Senja, gadis itu tidak pernah menyentuhnya sama sekali, dia hanya menyimpan kartu itu dengan rapi. lalu dari mana Senja mendapatkan uang? Senja mendapatkan uang hasil dari ia menulis novel di sebuah aplikasi online. Namun, tidak ada yang tau jika Senja menjadi penulis novel selain Alya.


"eh nggak usah, gue ada kok duit. baru gajian kemaren." tolak Senja, sekaligus memamerkan kalau dia baru saja gajian.


"wah, siapa nih yang baru gajian?" Jingga tiba tiba muncul dari belakang Senja dan Alya.


"Lo Jing, ngagetin aja." Jingga langsung membrengut kesal mendengar ucapan Alya.


"Alya, sebut nama gue lengkap."


"Iya JINGGA ADISTY WIJAYA anaknya pak Handoyo wijaya." ucap Alya, membuat Jingga semakin kesal di buatnya.


"maksud gue Jingga aja Alya, nggak selengkap itu atau sesingkat tadi ege." gerutu Jingga. Senja terkekeh mendengar perdebatan dua sahabatnya itu.


"eh ngomong ngomong Tania mana?" tanya Senja. membuat Alya dan Jingga berhenti beredebat dan menoleh kearah Senja.


"Tania di sini..." batu saja Jingga membuka mulutnya akan mengatakan sesuatu, orang yang mereka cari tiba tiba nongol dari dalam kelas yang hampir mereka lewati itu.


"ada yang rindu Tania?" tanya gadis itu penuh percaya diri.


"NGGAK!" jawab tiga gadis remaja di hadapannya dengan kompak. senyum Tania luntur seketika mendengar jawaban tiga sahabatnya itu.


"padahal Tania rindu kalian." gumamnya lirih. gadis itu menunduk lesu.


"gue juga rindu lo Tani" ucap Senja, dia langsung memeluk Tania dari Samping.


"gue juga."


"gue juga kangen lo"


susul Jingga dan Alya. keempat gadis remaja itu berpelukan.


"lo yang paling jarang ngumpul sama kita." Lanjut Senja, di angguki kedua sahabatnya.


"Sorry ya Girls. tapi hari ini Tania bisa nih hang out bareng kalian, yuk kita ke cafe biasa." ajal Tania dan di angguki oleh ketiga gadis remaja yang sudah melepas pelukan mereka itu.


"oh ya, ada yang habis gajian. siapa nih? boleh dong, traktir kita kita kita." Alya dan Senja saling pandang. kalau Jingga masih mengingatnya, bahkan kembali membahasnya.


menyadari keterdiaman dua sahabatnya yang berjalan di belakangnya, membuat Jingga menoleh ke belakang dan berjalan mundur. Tania juga ikut menoleh kebelakang.


merasa terintimidasi, akhirnya Senja lah mengangkat tangannya ke atas sambil meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

__ADS_1


"Senja kerja?" bukan Jingga yang bertanya, melainkan Tania. gadis polos yang saking polosnya terlihat seperti orang bodoh. tapi jangan salah ya, sikap polosnya yang menghampiri bodoh ini hanya terlihat saat bersama sahabatnya saja. berbeda jika dia tanpa sahabat sahabatnya ini.


Senja menggeleng cepat. "nggak, maksudnya bukan gajian dari kerja, tapi gajian dari suami gue, bonus gitu lah." bohong. tentu saja gadis ini berbohong, di tambah dengan di angguki oleh Alya, yang semakin membuat Jingga dan Tania yakin.


"berarti hari ini kita dapat traktiran dong." semangat Jingga. ya, sekaya apapun mereka, tidak akan pernah menolak yang namanya traktiran.


dengan senyuman teduhnya, Senja mengangguk. dia sangat senang bisa mentraktir teman temannya.


"Tania mau makan banyak banyak lah mumpung dapat traktiran."


keempat gadis itu pun berjalan beriringan menuju ke parkiran. lebih tepatnya ke arah mobil Alya, karena di antara mereka hanya Alya saja yang di bebaskan membawa mobil sendiri. Jingga? Dia di antar jemput oleh sopir pribadinya. saat akan hang out bersama temannya, dia sudah izin pada orang tuanya. kalau Tania? dia juga di antar jemput oleh tunangannya, Rendy. dia juga sudah menghubungi kekasihnya itu untuk hang out lebih dulu dengan para sahabatnya sebelum pulang ke rumah.


"em, gue mau ngomong sama kalian guys." ucap Jingga setelah mereka duduk di tempat biasa saat nongkrong di cafe langganannya ini. atensi ketiga gadis yang duduk melingkar itu pun mengarah pada Jingga.


Jingga menarik nafas panjang lalu melepaskannya secara perlahan sebelum mengatakan sesuatu.


"nanti malam gue terbang ke Australia."


"berarti hari ini kita terakhir ngumpul dong." celetuk Tania. Jingga mengangguk lemah.


"dan saat perpisahan lo nggak ikut dong Jingga?" Sambung Senja, kembali Jingga mengangguk dengan lemah.


Alya menghela nafas pelan. "yang penting jangan lupain kita kita."


"Pasti." Jingga mengangguk dengan senyuman yang terpatri di bibirnya.


"guys gue balik duluan ya." celetuk Senja saat dia mengingat sesuatu. tawa yang tadinya menggema seketika berhenti dan mengalihkan atensi tiga gadis remaja itu terhenti.


"ada apa Nja?" tanya Alya, ia merasa Senja sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Emmmm, gu...gue... ada perlu." Senja langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar Cafe.


"mencurigakan." gumam Tania tiba tiba. Namun di angguki juga oleh Jingga juga Alya.


"Gimana Lan, lo udah ketemu gadis itu?" tanya Langit, ketika dia bertemu Dylan di loby perusahaan saat Langit dan sekertarisnya akan keluar untuk meeting.


Dylan menggeleng lemah. sebelum mengatakan sesuatu, Dylan menatap Mila, sekertaris Langit yang berdiri di belakang Langit. mengetahui arti tatapan dari Dylan, Mila pun pamit lebih dulu menuju ke mobil perusahaan yang sudah menunggu.


"Cepat katakan"


"gue kalah cepat." ucap Dylan.


Flashback on


tidak lama setelah mobil Alya keluar dari SMA WILLIAM SCHOOL, sebuah mobil sport putih berhenti di depan gerbang sekolah tersebut. seorang pria dengan memakai kemeja berwarna navy turun dari mobil itu dan menghampiri seorang security di dekat gerbang.


"permisi pak numpang tanya." ucap pria itu yang tidak lain adalah Senja.

__ADS_1


"iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"apa anak kelas XII yang sedang ujian sudah pada pulang?"


"ada yang sudah pulang, ada juga yang belum. apa Tuan sedang menunggu seseorang?" beritahu security itu dan balik bertanya.


"iya pak, saya sedang menunggu gadis bernama Senja Az-Zahra dan temannya, apa mereka sedang pulang pak?" dengan semangat Dylan mengatakannya, dia berdoa semoga satpam ini mengenal Senja juga temannya.


security itu terdiam sejenak, ia mencoba mengingat nya. "ooo Senja siswa prestasi itu ya?" tanya security itu setelah mengingat sosok gadis ramah yang namanya di sebut oleh Dylan.


Dylan menggaruk keningnya yang tidak gatal. dia bingung, karena dia tidak tau menahu tentang Senja. yang dia tahu, namanya Senja Azzahra, istri Langit, gadis yang penurut dan juga lemah lembut. "sepertinya iya pak, memang di sekolah ini ada berapa orang yang namanya Senja Az-Zahra pak?" semoga saja Dylan tidak salah meng iya kan nya.


security itu meringis. "hehe cuma satu sih Tuan, cuma Senja Az-Zahra itu saja. yang namanya Senja saja cuma dia."


Dylan membelalakkan matanya. dia merasa di kerjain oleh security itu. Dylan menghembuskan nafas nya kasar. "kalau begitu apa Senja dan temannya sudah keluar pak." akhirnya Dylan hanya bisa menahan emosinya pada pria berusia sekitar 40 tahunan itu.


"kalau temannya saya lihat tadi mobilnya baru saja keluar pak, sepertinya Senja juga ikut, soalnya dimana ada Senja di situ ada temannya." jelas security itu.


"ya sudah terima kasih pak." ucap Dylan, pria itu pun pamit untuk pergi dari tempat itu.


tanpa mereka ketahui, sepasang mata menatap tajam kearah Dylan.


"tunggu!" orang itu langsung keluar dari persembunyian dan menghentikan Dylan yang akan masuk kedalam mobilnya.


Dylan memicingkan matanya menatap pada seorang laki laki berseragam putih abu abu yang menghentikannya tadi.


"Siapa?" tanya Dylan, menunjukkan wajah dinginnya.


"ada urusan apa kamu mencari Senja?" bukan menjawab laki laki itu malah bertanya pada Dylan.


"ada urusan apapun saya sama Senja itu bukan urusan kamu." jawab Dylan.


"siapapun yang berurusan dengan Senja akan berurusan dengan Saya." tekan pria itu.


"siapa Anda?"


"perkenalkan, Saya Daniel Nugroho calon pacar Senja Az-Zahra." dengan penuh percaya diri, Daniel, laki laki yang menghentikan Dylan itu mengulurkan tangannya pada Dylan memperkenalkan dirinya.


Dylan? bukannya menyambut uluran tangan Daniel, pria itu malah tersenyum mengejek pada laki laki remaja itu. "Sebelum kamu mengungkapkan perasaanmu pada Senja, siapkan hatimu untuk langsung patah. dan ingat, jangan sampai bunuh diri." setelah mengatakannya, Dylan langsung memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan Daniel yang masih mematung di tempat itu.


Flashback off


***Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


HAPPY READING

__ADS_1


jangan lupa like dan komen ya***...


__ADS_2