Langit Senja

Langit Senja
Zio


__ADS_3

Farri benar-benar merasa mengasuh anak kecil. Niatnya memberi hukuman untuk istri dan adiknya. Mereka malah mengacaukan dapur dan tak menjalankan hukuman dengan baik.


"Kalau kalian nyucinya seperti itu, yang ada dapur bisa jadi kapal pecah!" Farri yang sudah berganti baju santai, berkacak pinggang melihat kekacauan yang keduanya lakukan.


Busa sabun berceceran dilantai. Baju, bahkan rambut Jingga dan Senja juga ikut basah. Bukannya menjalankan hukuman dengan baik, kedua ibu hamil itu justru saling menyerang dengan air dan sabun.


"Udah lah bang, lagian kasihan mereka lagi hamil disuruh kerja. Sesekali makan begitu masih aman lah." bela Baskara, meski ia sendiri lebih tidak menolerir apa saja yang tadi kedua perempuan itu makan. Untung saja istrinya hanya icip-icip, jadi ia masih bisa berbaik hati.


"Kalo cuma sesekali, abang juga kasih, Bas! tapi istri kecilku itu sering curi-curi kesempatan!" lirik Farri pada istrinya yang melempar senyum tak berdosa. Padahal baru tahu hamil beberapa minggu, tapi Farri sudah beberapa kali mendapati istrinya makan makanan yang terlihat aneh dan rata-rata bercita rasa pedas. "Dan sekarang mereka malah berantakin dapur!" geleng Farri tak habis pikir. Sama seperti apa yang Baskara pikir.


Selama menikah, Senja bisa bersikap lebih dewasa. Meski tak jarang ada momen-momen manja yang ia rasa memang perlu.


Tapi melihat istrinya hari ini, ia sadar dengan fakta bahwa diluar sana teman-teman mereka masih banyak yang bermain dan menikmati masa muda. Tapi Senjanya sudah harus bersikap dewasa untuk status yang disandang. Meskipun ia tak pernah menuntut akan hal itu.


"Diam disitu! jangan kemana-mana. Nanti terpeleset!" Farri mengingatkan ketika istrinya akan mendekat. Membuat perempuan itu berhenti seketika.


Pria itu meminta asisten rumah tangga untuk mengambilkannya alat pel. Tanpa ragu, ia mengepel lantai yang basah karena sabun. Tak ingin istri dan adiknya terpeleset dan jatuh.


Baskara membantu membawakan handuk untuk kedua ibu hamil yang sudah basah itu. Spesial untuk istrinya, ia langsung menggendongnya dan membawa naik ke kamar mereka.


"Puas mainnya?" tanyanya lembut tapi ada sindiran didalamnya. "Nanti kamu masuk angin, basah-basahan gini! kalau mau main air, di kolam renang sekalian!"


Senja malah merenges dan memeluk sang suami. "Kangen masa lima tahun lalu, sayang." jawab Senja dengan mendayu.


Ya. Senja merindukan masa-masa ketika mereka bertingkah konyol. Waktu yang tak bisa ia lewati dengan baik. Mengingat hubungannya dengan Jingga sempat retak. Namun setelah kembali baik, ia sudah harus pergi jauh demi pendidikan.


Padahal persahabatan paling seru adalah saat-saat kita remaja. Dan Senja banyak melewatkannya tanpa Jingga.


"Ya tapi nggak harus main air kayak gini!" Baskara menyentil dahi istrinya lembut. "Mandi sana! sebelum benar-benar masuk angin!"

__ADS_1


Bukannya menurut, Senja justru semakin mengeratkan pelukannya. "Mandiin." pintanya manja. Menarik kepalanya dari bersandar nyaman didada bidang sang suami untuk dapat menatap wajah tampan suaminya dengan ekspresi andalan.


Baskara mengangkat sudut bibirnya melihat tingkah nakal sang istri. "Kalau kamu minta aku mandiin, nanti bisa-bisa kita keluar kamar mandi pas makan malam!" ancamnya.


"Siapa takut!"


Mendengar jawaban sang istri yang seperti menantang, Baskara dengan sigap kembali menggendong Senja untuk memasuki kamar mandi. Menerima tawaran serta tantangan yang istrinya layangkan.


***


Senja tengah mengeringkan rambutnya ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Atau lebih tepatnya digedor dengan tidak sabar.


Mengerutkan alis, Senja beranjak membuka pintu. Karena suaminya masih berada dalam kamar mandi. Dan tidak biasanya orang rumah mengetuk pintu seperti itu.


"Abang?" panggilnya bingung mendapati wajah Farri yang terlihat panik. "Ada apa?"


Baskara yang baru keluar dari kamar mandi juga ikut bergabung dengan istrinya. Ia juga kaget mendengar gedoran pintu tadi.


Baskara dan Senja dengan cepat mengambil tas dompet dan apa saja yang wajib mereka bawa. Menyusul Farri yang sudah lebih dulu turun dan memasuki mobilnya.


"Satu mobil aja biar cepat!" perintah Farri begitu melihat Baskara akan memasuki mobilnya sendiri.


Tak ingin membantah, Senja langsung masuk dan duduk di jok belakang yang ternyata sudah ada Jingga di dalamnya. Menyusul Baskara yang duduk di jok penumpang sebelah pengemudi.


"Anak-anak?" tanya Senja saat sadar meninggalkan baby Anna, begitu juga Sisi yang tidak terlihat.


"Anna sama Sisi ada di rumah mami. Aku minta tolong mami buat jagain sebentar." jawab Jingga.


"Emang siapa yang sakit sih? kenapa abang panik gitu? bukan papa atau mama kan, bang?" tanya Senja tak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.

__ADS_1


"Bukan, bukan mama atau papa. Tapi Zio." jawab Jingga dengan meremat tangan Senja yang kini juga terlihat khawatir.


Zio adalah putra dari Vindra dan Fani. Anak kecil itu terlihat murung belakangan ini.


Vindra dan istrinya mengira anak mereka masih merajuk, pasalnya anak berusia tiga tahun itu meminta ayah dan ibunya untuk libur dan menemaninya di rumah.


Namun profesi Vindra dan sang istri yang sama-sama dokter membuat keduanya sangat jarang ada waktu dirumah. Jarang ada waktu untuk memperhatikan sang putra yang hanya ditemani pengasuh.


Tak hanya murung, dalam beberapa minggu berat badan anak itu juga terlihat turun. Vindra dan istrinya masih mengira anak mereka mogok makan karena kesibukan orang tuanya. Sesuai seperti apa yang susternya laporkan setiap hari.


Untuk itu mereka mengambil cuti agar bisa berlibur bersama. Menghabiskan waktu untuk putra semata wayang mereka.


Pagi sebelum mereka berangkat berlibur, Zio munta-muntah. Vindra sempat memberi anaknya obat, tapi semakin siang semakin sering muntah dan langsung dilarikan ke rumah sakit.


Ibunya-Tiara-langsung yang menangani. Awalnya tidak ada yang curiga dengan penurunan berat badan dan murungnya Zio. Begitu juga dengan muntah. Vindra dan Fani mengira itu sakit yang wajar.


Tapi hal yang sangat menyakitkan hati baru mereka ketahui setelah Tiara memeriksa cucu lelakinya itu.


Ada beberapa luka lebam yang mulai menguning di punggung, lengan atas dan paha Zio. Luka lebam yang Tiara yakin itu adalah bekas pukulan dan cubitan.


Fani langsung histeris melihatnya. Merasa gagal sebagai orang tua. Bahkan untuk memandikan putranya saja ia tak sempat. Karena pagi ketika Zio akan berangkat ke Daycare semua menjadi tugas susternya yang menyiapkan, ia hanya membuatkan sarapan dan mengantarnya kesekolah.


Andai saja ia sesekali memandikan putranya, pasti kejadian seperti itu bisa lebih awal diketahui.


Pantas saja Zio begitu lama merajuk. Ternyata itu bukan karena Zio marah. Tapi ternyata itu bentuk trauma yang dialami oleh pemuda kecil itu.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2