
Ketika Baskara kembali ke ruang rawat istrinya, Senja tengah menyusui baby Kai ditemani Pricilla.
"Darimana Bas?" tanya sang ibu pada putranya yang baru kembali dengan wajah tak sebahagia sebelum ia tinggalkan. Kebahagiaan atas lahirnya baby Kai yang bahkan masih bertahan hingga beberapa jam yang lalu.
"Nemenin Andi, bun. Ada kerjaan yang harus dibahas." jawabnya mendekat kearah istri dan putranya. Memberikan ciuman didahi masing-masing.
"Kalau emang mas udah harus kerja, kita pulang aja. Aku udah sehat kok mas, buat pulang. Toh masih bisa dipantau sama kak Fani, sama bunda atau mama juga."
Baskara menggeleng tegas. "Tekanan darah kamu masih naik turun. Rumah sakit tempat teraman karena peralatannya lengkap. Nanti aja pulangnya kalau kamu udah benar-benar sehat."
Senja memang sudah bisa beraktifitas tanpa terganggu dengan luka bekas operasinya. Namun tekanan darah yang belum stabil membuat Baskara tidak ingin mengambil resiko. Apa lagi baik kakak ipar, mertua dan ibunya tidak bisa selalu ada untuk Senja. Lain dengan rumah sakit yang 24 jam selalu ada dokter dan perawat.
"Sini baby Kai aku gendong. Kamu istirahat aja." imbuhnya begitu melihat sang istri yang melepas dadanya dari kuasa putra mereka.
Baru dihari ketujuh Baskara membolehkan istrinya untuk pulang. Bertepatan dengan tali pusat baby Kai yang terlepas pagi harinya.
Jika dimana-mana keputusan untuk boleh pulang ditangan dokter. Untuk kasus Senja, keputusannya boleh pulang atau tidaknya ada ditangan suami yang merupakan anak dari pemilik rumah sakit.
Beberapa staf tinggi rumah sakit, dokter dan perawat mengiringi kepulangan mereka dengan berjajar rapi di lorong ruang rawat Senja.
Memberikan selamat dan doa pada kelahiran cucu pemilik rumah sakit. Membuat Senja merasa sungkan dengan perlakuan seperti itu. Karena meski silsilah keluarganya juga dari kalangan atas. Tapi tak sekalipun ada acara seperti itu. Menegaskan jika mereka memiliki kekuasaan. Dan Senja tidak suka ada kesenjangan seperti itu. Ia lebih suka diperlakukan biasa saja. Kecuali jika yang memperlakukannya seperti putri adalah suami, ayah dan kedua kakaknya. Itu lain cerita lagi.
Baby Kai pulang dengan digendong Oma Baskara. Yang baru kembali dari luar negeri. Wanita yang berusia 75 tahun itu sangat senang dengan kelahiran cicit keduanya. Tak menyangka akan secepat ini ia memiliki dua cicit. Terlebih jenis kelamin yang melengkapi sebelumnya.
"Kalau bisa, tahun depan ada lagi ya, Ja? biar rumah makin rame sama anak-anak."
Senja tersenyum horor dengan permintaan Oma Baskara itu. Untung saja Oma tak melihat reaksinya. Kehadiran baby Kai yang tidak terencana saja sudah membuatnya goyah dan hampir membunuhnya bahkan sebelum lahir. Apa lagi diminta untuk hamil lagi.
Tidak. Ia ingin mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya untuk kedua putra dan putrinya itu. Ia tidak ingin baby Anna dan baby Kai merasa kurang kasih sayang dari orang tuanya.
Ia juga ingin melanjutkan mimpinya untuk menjadi designer terkenal. Menciptakan mode yang bisa menjadi sebuah tren dimasa yang akan datang.
"Nggak bisa." sahut Baskara tegas. "Aku udah nggak kasih izin Senja untuk hamil lagi. Baby Kai akan menjadi anak bungsu kami." ia usap kepala istrinya yang duduk di kursi roda yang ia dorong.
__ADS_1
"Lho kenapa? banyak anak tuh banyak rezeki tahu tidak?" lirik Oma kesal pendapatnya langsung ditepis begitu saja. "Oma saja sampai mengadopsi anak."
"Rezeki Bas udah banyak. Nggak perlu banyak anak juga. Anna sama Kai nggak akan pernah kekurangan sampai mereka tua."
Oma mencibir cucunya. "Iya. Dengan harta yang Opamu kumpulkan."
Baskara tertawa dan merangkul sang Oma. Tak lupa mencium pipi yang sudah mulai keriput itu. "Karena Opa sayang sama Bas, Oma... Opa nggak mau Bas dan keturunannya kekurangan."
"Terserah kamu saja. Tapi Oma masih berharap kamu akan memberi Oma banyak cicit."
"Kalau itu tetap TIDAK! Grace aja suruh nikah dan kasih Oma banyak cicit."
Oma menghela napasnya panjang. "Anak itu tidak bisa diharapkan. Sudah banyak laki-laki yang Oma jodohkan dengan dia. Tapi dia terlalu dibutakan sama kamu."
Baskara tidak bisa berkata-kata untuk itu. Karena sekalipun ia sudah meminta Grace untuk tidak mengganggu dan menyukainya lagi. Perasaan seseorang tidak ada yang bisa memaksa.
Meskipun jika dilihat, Grace tidak pernah sekalipun mengganggunya sejauh ini. Hanya sesekali menyapa yang masih dalam batas wajar. Terutama di perusahaan. Dimana mereka tidak pernah bersinggungan secara langsung.
Ditempat lain, Andi tengah pusing sendiri mengurus masalah perusahaan yang belum selesai.
Baskara baru menyelesaikan masalah pengganti sapi-sapi mereka yang mati. Baru menyelesaikan masalah dasarnya. Belum masalah lainnya yang bersangkutan dengan klien.
Meskipun ayah Grace sudah menangani beberapa klien, tapi masih ada beberapa lagi yang harus Baskara pegang. Terutama pasokan susu UHT dan formula yang sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan pasar. Bahkan beberapa mini market sudah kehabisan stok produk mereka.
"Kirim berapa pun stok yang tersedia di gudang untuk beberapa swalayan di XXX." Andi menyebutkan daerah yang sudah mendesak perusahaan untuk segera memenuhi pesanan mereka. Memerintahkan bawahannya untuk bertindak cepat.
"Katakan juga pada mereka, mungkin butuh satu hingga dua bulan untuk kondisi kembali stabil. Minta mereka bersabar dan tawarkan produk kita lainnya yang masih tersedia banyak."
Kepala staf sekretarisnya mencatat semua instruksi yang Andi berikan.
"Minta juga orang lapangan untuk menjaga kebersihan dan kesterilan susu yang kita ambil dari koperasi. Jangan sampai produk yang kita hasilkan turun kualitasnya."
Alasan kakek Baskara membangun peternakan sendiri adalah untuk memastikan susu hasil perah benar-benar steril. Karena peternakan mereka sudah menggunakan alat paling mutakhir yang tercipta abad ini. Juga kebersihan kandang yang selalu terjaga dengan baik. Membuat sapi-sapi yang mereka miliki sehat dan berkualitas.
__ADS_1
"Untuk meeting dengan pemilik cafe XX yang seharusnya nanti malam bagaimana, pak?"
Cafe XX adalah salah satu cafe terbesar yang tersebar di seluruh negeri. Cafe itu berencana untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan milik mereka.
Tapi pemiliknya ingin bertemu langsung dengan Baskara. Tidak ingin perjanjian kerjasama mereka dipegang oleh orang lain. Sekalipun itu pemimpin perusahaan saat ini yaitu ayah Grace.
"Atur kembali jadwalnya untuk hari jumat. Lusa Pak Baskara sudah masuk kembali."
"Baik pak."
"Sudah itu saja. Kamu boleh kembali bekerja."
Kepala staf sekretaris itu menunduk dan pamit. Begitu juga Andi yang kembali disibukan dengan berkas-berkas yang harus ia periksa sebelum diserahkan kepada Baskara ketika sudah masuk nanti.
Beberapa adalah copy dari laporan perusahaan. Beberapa lainnya adalah berkas kerjasama untuk klient yang Baskara pegang. Dimana keseluruhannya masih harus Andi bantu karena Baskara belum bisa betul jika harus dilepaskan begitu saja.
Alsan itu juga yang membuat Oma dan pejabat tinggi perusahaan belum mempercayakan Baskara untuk duduk dipimpinan tertinggi perusahaan.
Tapi Oma juga memberikan waktu satu tahun untuk Baskara belajar. Setelah satu tahun, bisa tidak bisa, Baskara harus tetap memimpin perusahaan. Membuat ayah muda itu sedikit merasa tertekan. Karena itu berarti berjalan atau tidaknya perusahaan nanti ada ditangannya.
*
*
*
Mau disematin dibab sebelumnya tapi kelupaan hihihi
ekspresi bahagia Bas
__ADS_1