
Tuhan percaya kita mampu, maka Tuhan menghadirkannya.
Kehadiran anak bisa menjadi sebuah ujian, jika kita menganggapnya beban. Tapi kehadiran anak bisa menjadi berkah, jika kita mensyukurinya.
Cukup lama Baskara membiarkan sang istri tergugu dalam pelukannya. Hingga wanita muda itu tertidur karena kelelahan setelah beberapa hari tak cukup istirahat dan hanya menghabiskan waktunya untuk menangis.
Ponsel istrinya kembali bergetar ketika ia mulai membaringkan istrinya dan menyelimutinya sebatas dada. Nama ayah mertua tertera dilayar ponsel.
Tak ingin keluarga di tanah air mengkhawatirkan mereka, Baskara keluar untuk mengangkat panggilan agar tidak mengganggu istrinya yang baru saja terlelap.
Setelah ia menyapa, suara ayah mertua langsung terdengar. "Gimana kabar Senja?" suara itu terdengar sarat akan kekhawatiran. Dengung suara dibelakangnya membuat Baskara tahu jika disana tengah berkumpul banyak orang dan ayah mertua menggunakan mode pengeras suara.
Sebelum menjawab, Baskara mengehela napasnya berat. Mengingat bagaimana kondisi istrinya kini.
Tak ingin ada yang ditutupi, Baskara mengatakan dengan jujur semua detailnya. Selain tidak ingin disalahkan karena ia tidak berterus terang, Baskara juga berharap keluarga bisa membantunya untuk memberi semangat sang istri.
Ia tidak ingin kondisi istrinya semakin buruk. Ia ingin istrinya kembali sehat dan ceria.
"Beruntung Senja menyayangi calon anak kami. Jadi dia nggak sampai hati buat gugurinya." jika dihadapan sang istri ia bisa terlihat tegar, kini ia melepas topengnya. Memperlihatkan apa yang sebenarnya ia rasakan. Menujukan bahwa dirinya juga tengah merasa lemah. Bukan lemah karena kehadiran anak keduanya, tapi lemah melihat istrinya yang kehilangan senyum dan semangatnya.
Ia juga khawatir tentang Anna. Tapi ia juga bahagia mendengar istrinya tengah hamil lagi. Meskipun ketika ia mengingat bagaimana proses istrinya ketika melahirkan saat itu, ia merasa amat bersalah.
Mereka memang sama-sama salah karena tidak merencakan kehamilan dengan baik. Tidak mengonsultasikan dengan ahlinya tentanga apa yang seharusnya mereka lakukan ketika ingin memberi jarak untuk anak kedua tanpa obat-obatan yang mungkin bisa memberikan efek samping pada rahim sang istri. Mereka terlalu percaya diri jika kejadian Anna akan terulang kembali.
"Tolong pastikan asupan makannya tetap baik, Bas. Kasih dia vitamin juga susu." suara ibu mertua terdengar. "Kasih pengertian ke Senja kalau itu demi kebaikan mereka bertiga. Senja, Anna dan calon anak kedua kalian. Jangan sampai kamu menuruti Senja yang pasti sedang enggan buat makan. Atau kamu akan kehilangan istri dan anak dalam kandungannya."
__ADS_1
Baskara yang sempat meneteskan air matanya ketika mengadu, kini menghapusnya sigap. Ia harus kuat. Bagaimana istri dan anak-anaknya bergantung pada dirinya kini. Jika ia menyerah, maka bisa saja ia kehilangan semuanya. Ia harus lebih kuat dari sebelumnya untuk menjaga harta paling berharga dalam hidupnya yang juga semakin bertambah.
"Besok dipenerbangan pertama, mama, papa sama bunda kamu langsung berangkat ke situ. Ayahmu nggak bisa ikut soalnya ada operasi penting."
Baskara mengangguk, meski ia tahu ibu mertuanya tidak dapat melihatnya. Sebelumnya ibunya juga sudah mengatakan kabar tersebut ketikamereka bertukar kabar dipagi hari.
"Tolong kamu awasi Senja baik-baik. Psikisnya lagi nggak stabil. Mama takut dia berbuat yang enggak-enggak."
Meski kemungkinan Senja terkena Baby blues syndrome sangat kecil, mengingat usia Anna yang sudah akan menginjak usia enam bulan. Tapi bukan berarti Senja tidak dapat terserang stres dan depresi karena perasaan tertekan dan bersalah yang terlalu berlebihan seperti saat ini.
"Iya, mah. Bas pasti jagain."
Bas hanya berharap keluarganya mampu membuat sang istri lebih kuat dan menerima apa yang terjadi. Bisa kembali seperti Senja-nya yang biasa. Bukan Senja yang redup tertutup awan kelabu.
Setelah sambungan terputus, Baskara kembali masuk kedalam kamar. Berjalan kemeja belajar dan membuka laptop milik istrinya.
***
Awalnya Senja memang benar-benar tidur. Namun dengan kondisi jiwa yang tengah tidak baik-baik saja, membuat fungsi pendengarannya meningkat berkali-kali lipat. Seakan dalam setiap kondisi ia harus selalu siaga. Siap dengan senjata jika ada musuh yang menikamnya ketika ia bahkan hanya mengerjap.
Jadi begitu mendengar suara pintu terbuka dan tertutup, ia langsung kembali terjaga.
Senja yang merasa heran sang suami meninggalkannya ketika tidur menjadi penasaran. Membuatnya bangun dan melangkah mendekati pintu. Karena semenjak Baskara tahu istrinya hamil lagi, pemuda itu tak pernah meninggalkannya sendirian. Keuali panggilan alam.
Belum sampai tangannya pada gagang pintu, suara tangis sang suami yang tengah mengadukan kondisinya terdengar.
__ADS_1
Sepertinya Baskara berdiri tepat didepan pintu, hingga membuat suara pemuda itu terdengar meski masih terdengar samar.
Air matanya mengalir begitu mendengar apa yang suaminya ceritakan. Ia merasa menjadi wanita egois, manja dan selalu ingin didengar. Tanpa ia tahu apa yang sebenarnya suaminya rasakan. Yang ia tahu dan ia ingin hanya ketika ia bersedih, suaminya ada untuk menghibur dan memeluknya.
Dengan tangan gemetar, untuk pertama kali ia mengusap perutnya dengan segenap perasaan.
"Maaf.." ujarnya lirih. "Maafkan mommy karena sempat berpikir untuk menghilangkan kamu bahkan sebelum kamu lahir ke dunia."
Dadanya semakin terasa sesak begitu menyadari betapa kejamnya dirinya sebagai seorang ibu. Ia tega berpikir untuk menghilangkan anaknya demi anaknya yang lain. Yang ia yakin akan ia sesali seumur hidup jika hal itu sampai terjadi. Ia pasti akan membenci dirinya sendiri dengan hal itu.
Tak terbayang bagaimana perasaan calon anaknya jika mengetahui itu semua. Bagaimana jika ia yang berada diposisi itu Bagaimana jika ibunya-Tiara-berpikir untuk membunuhnya demi bisa memberikan perhatian penuh pada kedua kakak kembarnya.
Ia pasti akan merasa sangat sakit hati. Sakit hati karena tidak diharapkan dan hanya dianggap sebagai pengganggu.
"Maaf mommy sudah jahat, Nak." ucapnya masih dengan suara yang selembut bisikan. Tak ingin suaminya yang berada diluar sana tahu jika dirinya terbangun.
Senja buru-buru berdiri ketika mendengar suaminya sudah akan mengakhiri panggilan pada ponselnya. Ia kembali naik keatas tempat tidur dan memejamkan mata. Tak lama setelahnya Baskara terdengar memasuki kamar.
Karena tak merasakan guncangan pada tempat tidur-yang menandakan suaminya tidak beranjak tidur disampingnya-Senja mengintip dan menjelajah kamar mencari suaminya yang ternyata tengah duduk dimeja belajar dengan laptop miliknya yang menyala.
Entah apa yang suaminya kerjakan. Tapi begitu lama ia menunggu dan Baskara masih diam ditempat, membuatnya kembali mengantuk dan tanpa sadar hanyut kedalam mimpi.
*
*
__ADS_1
*