Langit Senja

Langit Senja
Tentang Rasa


__ADS_3

Senja mengajak Baskara untuk menjadi temannya menghadiri pesta pernikahan orang yang menggunakan desainnya untuk acara penting ini.


Meski Senja sudah tidak lagi menjadi asisten sang desainer karena sudah kembali kuliah. Namun ia tetap mendapatkan undangan. Hubungannya dengan sang desainer juga masih berjalan baik. Kadang Senja berkunjung untuk meminta pendapat tentang tugas, seperti apa yang desainer itu katakan kepadanya sebelum masa belajarnya usai.


"Mewah banget ya, Bas, pestanya." bisik Senja begitu mereka memasuki ballroom yang sudah di hias semewah mungkin. Warna putih mendominasi ruangan. Dipadukan dengan warna emas dibeberapa bagian. Bunga-bunga hampir memenuhi setiap dekorasi. Membuat ruangan semerbak dengan wewangian bunga-bunga yang ada.


"Nanti kalau lo nikah sama gue, gue bisa bikin semewah ini." jawab Baskara juga berbisik. "Bahkan lebih kalau lo mau." entah untuk apa mereka berbisik. Toh orang-orang disana tidak ada yang mengerti apa yang mereka katakan.


Senja melirik sinis dan mencibir. "Duit orang tua aja bangga!" padahal jantungnya sudah jedag jedug.


"Nggak pa-pa duit orang tua buat bikin lo jadi ratu sehari dan berlanjut jadi ratu hatiku selamanya." gombalnya diwarnai kekehan.


Senja hanya berdecih. Tidak tahukah Baskara jika apa yang pemuda itu ucapkan membuat perasaannya tak karuan.


Ingin membuka hati, takut jika Baskara hanya bercanda dan berujung kecewa. Tapi jika Baskara terus-terusan menggombalinya seperti itu, tak baik untuk kesehatan jantungnya.


"Dua tahu lagi." bisik Baskara tepat ditelinga Senja.


Gadis itu mengerutkan dahi menatap Baskara. "Apanya?"


Bukannya menjawab, Baskara justru melebarkan senyumnya dan menggenggam tangan Senja untuk mengambil minuman. Ada rasa hangat yang menjalar dari genggaman tangan mereka. Hangat yang menyentuh hati keduanya.


Jika dipikir dua tahun lagi mereka akan lulus kuliah. Apakah itu yang di maksud oleh sahabatnya yang semakin tidak jelas itu. Senja yang tak ingin ambil pusing hanya mengedik. Mengikuti saja kemana Baskara menuntun langkahnya.


Baskara mengambil minuman yang non alkohol untuk mereka berdua. Baru akan beranjak, suara berbas menahan keduanya dan berbalik menatap kesumber suara.


"Wah... Wah... Wah... Tidak ku sangka akan bertemu pasangan bodyguard dan tuannya yang memenjarakanku di pesta pernikahan ayahku sendiri."


Baskara melirik Senja tajam. Merasa tak suka dengan sebutan bodyguard. Tapi rasa kesalnya luruh ketika gadis itu mengamit lengannya. Tangan gadis itu juga terasa dingin dan sedikit bergetar.


Baskara menyentuh tangan yang berada di lengannya. Memberi tepukan pelan untuk menenangkan. Sepertinya Senja masih trauma dengan kejadian beberapa bulan yang lalu.


"Suatu kehormatan kami bisa hadir di pesta ini. Kami mendapat undangan dari Mr. Vincent. Kebetulan Senja pernah menjadi asistennya saat libur musim dingin." jawab Baskara lugas. Dalam hati sebenarnya pemuda itu sangat muak kembali bertemu dengan Robert. Jika mengingat apa yang pria itu lakukan pada Senja, ingin rasanya ia menghajarnya lagi hingga lenyap dari dunia ini.

__ADS_1


Senja sendiri tidak tahu jika mempelai pria itu adalah ayah dari Robert. Ada sorot kecewa dan sendu di mata Robert yang sedikit disamarkan. Tapi Senja sedikit lebih mengerti. Anak mana yang tidak sedih jika posisi ibunya digantikan wanita lain.


Mungkinkah ayah Robert tidak peduli lagi dengan anaknya karena sudah menemukan keluarga baru?


"Wah tidak ku sangka gadis yang tidak pernah hidup susah sepertimu mau menjadi asisten." ejek Robert dengan tawa remehnya.


Tidak ingin Robert semakin berkata yang tidak-tidak dan menyulut emosi Basakara, Senja memutuskan untuk mengajak sahabatnya menjauh.


"Permisi, kami datang bukan untuk membuat keributan." segera Senja menarik tangan Baskara untuk menjauh dari Robert sebelum keributan terjadi. Mereka tidak tahu jika memang itu tujuan Robert. Membuat keributan di pesta pernikahan ayahnya sendiri.


***


Tiba waktu berdansa, Baskara menarik tangan Senja untuk turun ke lantai dansa. Dimana orang-orang mulai bergerak seirama musik dengan pasangannya masing-masing.


Ada pasangan muda seperti mereka. Ada juga pasangan yang sudah lanjut usia namun masih terlihat romantis dan ada cinta dari pancaran mata keduanya.


"Eh. Eh. Mau kemana?" tanya Senja panik tahu tujuan Baskara kemana.


Senja mendengus dan menghempaskan tangan Baskara. Senja merasa kesal karena sahabatnya itu tak hentinya berkata omong kosong. Senja takut jika dirinya berharap pada kata-kata yang asal ucap itu. Gadis itu sudah berbalik dan akan kembali ketempatnya semula, namun Baskara menahannya.


"Eeeh mau kemana? mari dansa denganku cantikk." ucap Baskar semanis mungkin.


Dengan terpaksa Senja menuruti kemauan Baskara. Hitung-hitung ia membalas kebaikan Baskara yang selalu baik padanya selama ini.


Meski saat remaja ia merupakan gadis tomboy, tapi Senja juga bisa berdansa. Karena sering menghadiri pesta bersama kedua orang tuanya. Juga pernah diikutkan les dansa beski tak bertahan lama.


Baskara memposisikan posisi mereka. Menggenggam tangan kanan Senja dan mengangkatnya. Dan sebelah lagi ia gunakan untuk memeluk pinggang ramping sang sahabat. Mengikis jarak mereka hingga tubuh mereka saling melekat.


Senja yang tidak siap reflek meletakan tangannya di dada Baskara, menahan jarak dianatara mereka agar tak semakin mendekat.


Dengan lembut Baskara membawa tubuh mereka bergerak kekiri dan kanan mengikuti irama. Sedangkan jantung keduanya sudah tidak bisa mereka kondisikan sejak jarak keduanya yang berubah begitu dekat.


"Nagapain ikut dansa segala sih?" protes Senja merubah kecanggungan yang sempat tercipta.

__ADS_1


"Dibilang latihan sebelum kita dansa dipesta kita sendiri." jawab Baskara santai. Masih membimbing Senja dalam bergerak.


"Stop sama omong kosong lo! nggak usak ngelantur kemana-mana." geram Senja dengan sahabatnya yang tak henti menggodanya.


"Kalu gue serius giman?" ucapnya dengan wajah jenaka. Siapa saja yang melihat wajah itu tidak akan percaya dengan apa yang Baskara ucapkan.


"Nggak percaya gue."


Baskar tak memberikan respon apa pun. Ia menikmati saat-saat langka untuk berdansa dengan Senja.


"Ternyata lo cukup jago dansa." ucap Baskar takjub.


"Makanya jangan ngeremehin gue."


Baskara yang kedua orang tuanya berprofesi sebagai dokter memang jarang menghadiri pesta yang sama dengan Senja yang sering menghadiri pesta dari klien-klien ayahnya.


Jadi tak heran jika Baskara merasa terkejut begitu melihat Senja bisa berdansa. Dan lagi Senja tidak pernah mengatakan jika ia ikut kelas dansa. Senja takut diejek sahabatnya itu dulu.


Keduanya hanyut dengan suasana romantis yang tercipta. Baik dari alunan musik atau pun dengan banyak orang yang berdansa dengan tatap penuh cinta. Bahkan tak jarang Baskara melihat ada yang berciuman disela gerakan mereka.


Hingga entah apa yang mendorongnya untuk mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibir lembutnya di dahi Senja yang malam ini terlihat begitu cantik.


Senja membulatkan kedua bola matanya. Terkejut dengan apa yang tengah terjadi. Dan jangan tanyakan kondisi jantung keduanya. Karena bukan hanya Senja, Baskara juga merasa kaget dengan apa yang ia lakukan.


*


*


*


Dapet feel-nya nggak sih huaaa..


Digangguin bocil mulu.. bocilku nggak tidur-tidur masa 😌

__ADS_1


__ADS_2