
"Selamat siang Tuan Muda William." Seorang pria yang kisaran berumur 40 tahunan itu menghentikan obrolan Langit juga Dylan. pria itu adalah Tuan Baskoro, klien Langit yang dari Bandung.
"Selamat siang Tuan Baskoro." balas Langit, lalu berdiri dan menyalami kliennya diikuti oleh Dylan.
mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, Senja mendongakkan kepalanya yang dari tadi menunduk menikmati makanannya. Netra gadis itu membulat kala netra hazel nya bersibobrok dengan Netra elang milik Langit. Langit tersenyum kecil melihat istrinya, tapi tidak dengan Senja, wajah gadis itu semakin pucat.
"Nja, lo kenapa?" melihat Senja semakin pucat membuat Alya semakin panik.
"A...Al, k...kita pergi dari sini." gagap Senja. gadis itu merogoh beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam tasnya lalu meletakkannya di atas meja. dengan cepat Senja keluar dari dalam restoran itu tanpa menunggu Alya yang masih bingung melihat Senja yang tiba tiba terlihat seperti ketakutan.
begitu juga Langit, terlihat khawatir melihat istrinya yang seperti ketakutan itu.
"Mau kemana lo." bisik Dylan, mencegah Langit yang sepertinya akan pergi dari sana.
"gue mau kejar Senja." Langit balik berbisik.
"ingat, lo ada meeting penting. biar gue yang susul Senja."
"apa ada masalah Tuan muda William?" tanya Tuan Baskoro, yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Langit juga Dylan yang berbisik.
"oh, tidak ada Tuan, mari kita lanjutkan meeting nya. saya permisi sebentar." pamit Dylan, di angguki oleh Tuan Baskoro. sementara Langit, dia mencoba menetralkan ekspresinya yang tadinya terlihat panik menjadi datar dan dingin seperti biasa.
Dylan pun pergi meninggalkan Tuan Baskoro juga Langit. Ia mencoba menyusul Senja dan sahabatnya tadi.
"Nona tunggu." panggil Dylan yang sudah berhasil menyusul Alya sahabat Senja yang tertinggal oleh Senja yang sudah masuk kedalam mobil Alya.
Alya menghentikan langkahnya berbalik kebelakang. "Tuan memanggil saya?" tanya Alya menunjuk pada dirinya Sendiri.
Dylan menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapapun, karena ini sudah berada di area parkir.
"di sini tidak ada siapapun selain kita berdua Nona, sudah pasti saya memanggilmu." sarkas Dylan. Alya mendengus sebal dengan jawaban pria yang ada dihadapannya sekarang ini. tinggal jawab 'Iya' kenapa harus panjang lebar seperti itu.
"ada apa." ketus Alya, dia tidak ingin lagi berbaik baik dengan pria didepannya ini.
__ADS_1
"ketus sekali kamu Nona, jadilah wanita yang lembut di hadapan laki laki." Komentar Dylan.
"tidak perlu berkomentar dengan sikap saya Tuan. cepat katakan, ada keperluan apa Anda memanggil saya." protes Alya. "saya masih ada urusan yang lebih penting dari pada meladeni Anda." lanjutnya.
"gadis remaja sepertimu punya kepentingan apa sampai tidak bisa di tunda?" Sepertinya Dylan sengaja memancing kekesalan Alya.
"oh, baiklah kalau begitu saya pergi dulu Tuan." tidak ingin menanggapi ucapan Dylan ia segera berbalik pergi ke arah dimana mobilnya terparkir.
dengan cepat Dylan menghadang langkah Alya. "Tunggu tunggu." Alya dibuat semakin jengkel menghadapi Dylan.
"ada apa lagi sih, saya buru buru Tuan, tolong minggir lah." Alya menyingkir dari hadapan Dylan, dia kembali melangkahkan kakinya.
Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar pertanyaan dari Dylan. "apa kamu Sahabatnya Nona Senja?"
Alya langsung berbalik dan menghampiri Dylan. "Siapa Anda sebenarnya? dan kenapa Anda bisa mengenal sahabat saya? apa Anda ini penguntit?" bukannya menjawab apa yang Dylan tanyakan, gadis itu malah mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
Dylan menghela nafas nya pelan, sepertinya dia harus mempunyai stok kesabaran jika menghadapi gadis di hadapannya ini. nggak kebalik apa ya? wkwk
"sekarang jawab pertanyaan saya Nona." pinta Dylan.
Alya mendengus kesal menghadapi pria satu ini. "tanpa saya jawab Anda pasti sudah tau bukan?" gerutu Alya.
kenapa dari tadi membahas pertanyaan terus ya?
"oke oke, saya minta maaf." Dylan mengatupkankedua tangannya didepan dadanya. "kalau boleh tau kenapa Nona Senja terlihat seperti ketakutan begitu?" Alya bingung harus menjawab apa. apakah jika dia jujur akan membantu Senja, atau membuat Senja semakin sakit.
melihat keraguan di wajah Alya membuat Dylan semaki penasaran. "Nona tolong jawab jujur, saya berjanji tidak akan membuat Nona semakin takut dengan apa yang ditakutkan."
Alya melihat kesungguhan dimata pria itu. "Dia...."
"Alya cepat." teriak Senja yang sudah keluar dari mobil Alya lagi. Alya menoleh kearah Senja.
"iya sebentar." Alya balik berteriak. ia lalu menoleh kearah Dylan. "maaf sahabat saya membutuhkan saya sekarang, lain kali akan saya ceritakan." Alya pergi meninggalkan Dylan yang masih berdiri disana.
__ADS_1
ia menatap punggung kecil gadis itu sampai menghilang didalam mobil. "sepertinya dia tau semuanya." gumam Dylan lirih. pria itu kembali masuk kedalam restoran menghampiri Langit yang sedang meeting.
"Nja lo kenapa tiba tiba keluar?" tanya Alya yang masih penasaran dengan sikap Senja yang tadi tiba tiba berubah.
Sebelum menjawab, Senja mencoba merilekskan dirinya dari rasa takut yang menderanya. "tadi gue lihat Kak Langit." jawab Senja, setelah dirinya kembali rileks.
Alya mengangguk, pantas saja tadi ada asistennya, pikir Alya.
"tapi Lo nggak papa kan?"
Senja menggelengkan kepalanya dengan menyunggingkan senyum tipis di bibir nya yang masih terlihat pucat itu.
"gue nggak papa Al, udah mendingan dari sebelumnya. udah bisa ngontrol kok."
Alya menoleh sekilas kearah Senja, lalu menepikan mobilnya dan berhenti, di tepi jalan yang agak sepi.
"kenapa berhenti Al?" heran Senja, ini jalanan lumayan sepi dan tidak ada rumah penduduk.
tak menjawab pertanyaan Senja, gadis itu mlah meletakkan punggung telapak tangannya di dahi Senja. dengan polosnya, Senja mengikuti apa yang Alya lakukan. gadis itu menempelkan telapak tangannya di keningnya sendiri setelah tangan Alya turun.
"Gue nggak demam Al. kenapa sih?" Senja semakin penasaran karena Alya menatapnya dengan lekat.
"lo emang nggak demam, tapi kenapa wajah lo masih pucat Nja? kita kerumah sakit aja ya, takutnya lo kenapa kenapa lagi." Ajak Alya. Senja menggelengkan kepalanya.
"kan gue udah bilang Al, gue cuma masuk angin. ini aja rasanya masih mual. nanti kalau buat istirahat juga sembuh sendiri."
"tapi Nja..."
"udah deh gue nggak papa Al. mending sekarang anterin gue pulang, gue capek banget." Senja terus meyakinkan Alya kalau dia tidak apa apa.
akhirnya Alya mengalah dan kembali menjalankan mobilnya menuju ke mansion keluarga William.
Bersambung...
__ADS_1