Langit Senja

Langit Senja
Kencan


__ADS_3

Senja yang baru keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit tubuh juga rambutnya bertanya pada sang suami yang sudah lebih dulu mandi dan tengah memainkan ponsel di atas ranjang yang masih berantakan. "Baju dari mana mas?" melihat satu stel baju wanita diatas ranjang. Ia merasa tidak meninggalkan pakaian di lemari yang ada diruang istirahatnya itu. Ia selalu pulang tepat waktu sebelum suaminya pulang dan mandi di rumah. Jadi sejauh ini, ia tidak membutuhkan pakaian ganti disana.


"Minta Inggrid ambilin dibawah." jawab Baskara yang sudah rapi memakai baju casual. "Tenang. Aku bayar kok meskipun ambil di butik kamu sendiri." imbuhnya menatap sang istri dengan senyuman.


Senja tertawa sembari mengeringkan rambut. Bukan karena itu adalah butik miliknya sehingga ia bebas mengambil yang mana saja. Setiap pakaian yang dipajang sudah masuk dalam sistem komputer. Begitu juga uang penjualan yang masuk untuk mencocokan antara stok dan pendapatan tidak ada selisih yang merugikan.


Akan kasihan karyawannya yang harus bertanggung jawab untuk mengganti, jika Baskara tidak membayar apa yang diambilnya dari butik. Terlebih harga baju yang tidaklah murah.


"Terus baju kamu?" tanyanya heran, karena baju yang dikenakan suaminya adalah baju yang sudah ia kenal dan memang milik suaminya.


"Aku kan baru pulang dari luar kota sayang.. Masih banyak baju bersih di koper." baju Baskara diantarkan sopir tadi ketika selesai mandi.


Senja mengangguk dan kembali mengeringkan rambut sebelum mengenakan pakaian agar pakaiannya tidaklah basah.


Tak lama dari itu terdengar pintu ruang kerjanya di ketuk.


"Kamu pakai bajunya. Dandan yang cantik.. Biar aku yang buka pintu." memasukan ponsel kedalam saku celana dan keluar dari ruang istirahat sang istri.


"Emang mau kemana?" pertanyaan Senja tak mendapatkan jawaban karena Baskara yang sudah tidak terlihat. Membukakan pintu siapa pun yang datang di luar sana.


Diruang kerja Senja. Baskara membuka pintu untuk Andi asistennya.


"Semua sudah siap, pak." lapor Andi langsung tanpa basa-basi.


Baskara mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum bangga. "Tinggalkan mobil yang kamu pakai. Kamu pulang dengan sopir kantor didepan."


Andi mengangguk patuh dan menyerahkan kunci mobil Baskara yang ia gunakan untuk mengantar jemput atasannya itu.


"Kamu sudah bekerja keras. Kamu boleh libur dua hari." imbuh Baskara sebelum Andi pamit.


"Terimakasih, pak. Kalau begitu saya pamit."


Baskara mengangguk dan mengibaskan tangannya mengusir Andi yang sudah menyelesaikan apa yang ia perinthahkan bahkan saat mereka baru tiba dari luar kota.

__ADS_1


Baskara bahkan yakin, di dalam hati Andi menyumpah serapah dirinya. Dan karena ia bukan atasan yang tidak tahu terimakasih, untuk itu ia memberi Andi libur. Dan berjanji dalam hati akan memberikan bonus saat gajian nanti.


***


Senja mengeriting sedikit ujung rambut panjangnya yang indah. Jika diingat kembali, ia merasa berterimakasih pada keluarganya yang selalu melarang ia untuk memangkas pendek rambut itu dulu.


Dia merasa geli sendiri mengingat betapa tomboy dia dimasa remajanya saat itu. Tidak terbayang dengan penampilan seperti itu dan ia juga memotong rambutnya.


Tidak heran jika Baskara lebih menyukai Jingga yang feminim dan lemah lembut dulu. Tapi ia tak merasa kalah cantik, karena dulu ia juga peduli dengan penampilan meskipun acuh terhadap apa yang ia kenakan. Toh dia tetap cantik dengan gaya apa pun. Senja terkikik dengan pemikiran terakhirnya itu. Percaya diri harus nomor satu bukan?


"Selesai!" monolognya setelah selesai memoles wajahnya dengan make up tipis seperti biasa.


"Sudah siap, ayy?" tanya Baskara yang hanya melongokan kepalanya di pintu yang setengah tertutup.


Baskara ingin mengajak istrinya kencan hari ini. Memanjakan istrinya dan melupakan sejenak status mereka sebagai orang tua. Karena hari ini ia hanya ingin ada dirinya dan sang istri. Hanya ada mereka tanpa harus memikirkan anak-anak.


Lagi pula anak-anak sudah berada di tempat aman dengan kedua orang tuanya yang memang sudah memberinya izin dan dengan senang hati menjaga kedua cucu yang menggemaskan.


"Mau kemana sih mas?" tanya Senja ketika sudah berada di dalam mobil. Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan pertama yang Senja ajukan. Entah sudah berapa kali Senja menanyakan hal yang sama tanpa mendapatkan jawaban selain senyum suaminya yang tak memberinya jawaban.


"Nanti kamu juga akan tahu sayang.. Dan kamu harus dihukum karena melupakan sesuatu."


Senja menoleh menatap suaminya dengan bingung. Mencoba mengingat apa yang ia lupakan hari ini.


Sebelum suaminya berangkat keluar kota, ia memang mengatakan akan menjemput di bandara saat suaminya kembali. Tapi dia kan tidak tahu jika suaminya akan pulang lebih cepat dari jadwal. Jadi bukan salahnya kan tidak menjemput?


Disisa perjalanan, Senja hanya bisa diam dan menebak akan dibawa kemana. Karena bertanya pun tidak pernah mendapat jawaban. Hingga akhirnya mobil memasuki pintu gerbang sebuah taman hiburan.


"Taman hiburan?" tanyanya heran. "Nggak salah kita kesini mas?"


Lag-lagi Baskara hanya tersenyum lembut kearahnya. Membelai rambut panjangnya dan kembali menjalankan kemudi setelah membayar tiket masuk.


Ketika mereka akan memasuki area taman hiburan-setelah berhasil mendapatkan tempat parkir- Senja tercengang. Melihat beberapa orang memegang balon huruf yang jika dirangkai akan membentuk kata Happy Anniversary lengkap dengan foto pernikahan mereka dikanan dan kiri.

__ADS_1


"Mas?" dengan mata berkaca-kaca Senja menoleh pada pria yang menggenggam tangannya erat.


"Jangan nangis.. Nanti jelek." ledek Baskara menghapus setitik air mata haru yang jatuh di pipi mulus sang istri. "Aku tahu kamu terharu punya suami kaya aku." guraunya tertawa kecil. Tapi Senja memang merasa beruntung memiliki Baskara dalam hidupnya.


Baskara kaget ketika Senja langsung memeluknya erat. Tangannya yang sebelumnya menggantung di sisi tubuh, kini membalas pelukan istrinya tak kalah erat. Berbisik dengan lembut ditelinga istrinya.


"Happy anniversary sayang.. Terimakasih untuk enam tahunnya."


"Maaf mas.. Aku lupa." ujar Senja mengangkat wajahnya menatap sang suami.


"Terimakasih udah kasih princess dan pangeran yang lucu dan menggemaskan." lanjut Baskara mengindahkan apa yang istrinya katakan. "Nggak akan pernah ada wanita yang lebih baik dari kamu dalam hidupku. Nggak akan ada gadis yang lebih baik dari Senja untuk Baskara."


"Maaf, kalau selama enam tahun ini aku belum bisa bahagian kamu dan anak-anak."


"Belum bisa jadi suami dan ayah yang baik."


"Tapi aku janji... Aku akan berusaha yang terbaik untuk kalian."


"Dan hari ini, izinkan aku, seorang Baskara Lazuardi untuk mengajak Senja Maharani untuk kencan sehari."


Senja terkekeh. Melepaskan pelukannya dan menghapus air mata diwajahnya. Mengangguk dan menerima sebuket bunga yang baru saja suaminya dapatkan dari salah satu orang-orang yang tadi berdiri memberikan surprise untuk dirinya.


Saling bergandengan tangan, mereka memasuki taman hiburan.




*


*


*

__ADS_1


Ketik hapus ketika hapus dari kemarin.. Cari diksi yang pas biar bisa kasih bacaan yang enak dan gambaran yang kalian juga bisa bayangin. Ternyata tetap aja mentoknya begini.. Hihihi


__ADS_2