Langit Senja

Langit Senja
Perubahan


__ADS_3

Dapat menginjakan kakinya lagi di Jakarta adalah suatu kebahagiaan untuk Senja. Setelah satu tahun di negara orang, akhirnya ia bisa kembali berkumpul dengan keluarganya walau hanya untuk sementara.


Setelah hampir satu bulan selama exam week Senja menghilang untuk fokus belajar juga mengerjakan paper, yang benar-benar menyita hampir seluruh waktunya. Bahkan selama itu pula ia selalu kurang tidur.


Kini setelah ujian selesai, ia bisa bernapas lega dan menyambut hari bahagianya. Bahagia berkumpul dengan keluarga lagi.


Melenggang dengan langkah ringan menuju lobby yang seharusnya salah satu kakaknya sudah menunggu, Senja mengembangkan senyumnya. Tidak sabar bertemu kakak yang tidak pernah mengunjunginya.


Selama ini hanya kedua orang tuanya saja yang berkunjung. Sedangkan Farri tidak mungkin berkunjung dengan kondisi Jingga yang hamil besar saat itu. Begitu juga Vindra yang belum lama ini menyelesaikan studinya dan lebih fokus dengan karirnya di rumah sakit.


Sebenarnya Vindra menawarkan untuk menjemput langsung ke NY. Namun Senja menolak dan mengatakan jika ia berani pulang sendiri tanpa perlu mereka jemput.


Kepulangan pertamanya ini benar-benar Senja persiapkan dari jauh-jauh hari. Karena libur musim dingin kemarin, Senja lebih memilih untuk berlibur dan mengenal NY bersama Maureen yang menjadi tour guide untuknya berkeliling NY dan sekitarnya. Belum lagi libur musim dingin yang hanya sebentar membuatnya enggan untuk pulang.


Baru libur musim panas ini ia memutuskan untuk pulang. Setidaknya ia bisa berkumpul dengan keluarganya selama dua bulan.


Jika teman-temannya lebih memilih untuk mengambil kelas khusus atau magang dan mencari pengalaman. Ia lebih memilih untuk pulang.


Selain merindukan rasanya berkumpul. Ia juga ingin bertemu dengan keponakannya secara langsung. Juga menghadiri pernikahan Vindra yang tinggal beberapa minggu lagi.


Sampai di lobby tempat janjiannya dengan sang kakak, Senja tak menemukan siapa pun yang ia kenal. Padahal Senja sudah memberitahu jadwal penerbangannya.


Gadis itu mendecak kesal. Ia juga sudah lelah setelah mengudara cukup lama. Ingin cepat sampai rumah dan istirahat dengan nyaman. Karena ia hanya memilih penerbangan dengan satu kali transit.


"Pada kemana sih?!" gerutu Senja dengan mencari ponselnya.


***


Pukul tiga dini hari Baskara bangun dengan kesal karena sang ibu yang tak hentinya mengetuk-lebih tepatnya menggedor-pintu kamarnya.


"Kenapa sih, buuunn?" rengeknya dengan mata yang masih sangat mengantuk.


Pricilla malah tersenyum tanpa rasa bersalah telah membangunkan putranya di waktu yang tak lazim.


"Bisa tolong bantuin bunda?"


"Tolongin apa jam segini?" keluh Baskara. "Bunda ngidam? aku mau dikasih adek?"


Baskara terkekeh dengan tebakannya juga dengan sang ibu yang langsung memukul pelan lengannya.

__ADS_1


"Iish kamu tuh! harusnya kamu yang kasih bunda cucu! Tiara aja udah punya cucu masa bunda belum." celetuk Pricilla tak sadar dengan ucapannya yang membuat putranya seketika murung. Mengingat Jingga yang belum lama memiliki seorang putri.


"Tolong ke bandara jemputin Senja." imbuh Pricilla masih tidak menyadari ekspresi putranya.


Baskara mengernyit pada ibunya. "Kenapa harus Babas yang jemput? dia kan punya keluarga. Kenapa kita yang repot?"


Kali ini punggung Baskara yang menjadi sasaran pukulan sang ibu. "Pokoknya bunda nggak mau tahu. Kamu harus jemput Senja! bunda nggak terima penolakan. Jam lima nanti, dia sudah sampai di bandara. Jadi sekarang kamu siap-siap jemput dia, sana!"


"Buuunn... Ini masih jam tiga lho? lagian aku nggak mau, bun."


"Kalau kamu nggak mau jemput, balik aja lagi ke Massachuset sana!" ancam Pricilla berlalu meninggalkan Baskara, baru beberapa langkah Pricilla menoleh. "Ajakin dulu dia kemana gitu. Jangan dibawa pulang dulu. Kita mau kasih kejutan di rumahnya."


Dan disinilah Baskara sejak setengah jam yang lalu. Tanpa bisa membantah untuk menjemput gadis kesayangan ibunya.


Baskara sudah melihat Senja begitu gadis itu keluar dari terminal kedatangan. Tapi pemuda itu sengaja tidak langsung menghampiri. Ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan ketika tidak ada yang menjemput.


Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas begitu menyadari penampilan Senja kini. Dengan sepatu boots yang dipadu dengan celana jeans serta kaos dan diberi outer, Senja lebih terlihat feminin. Padahal dulu gayanya jika memakai kaos selalu di gulung lengannya meski pendek.


Dan yang paling menonjol adalah rambut yang dulu selalu di ikat asal atau tidak di cepol, kini tergerai indah melewat bahu.


Bukan gaya yang dipaksakan yang justru membuat Senja terlihat lebih dewasa dari usianya. Senja terlihat anggun dengan natural.


"Dia tumbuh dengan baik ternyata." gumam Baskara dengan senyum tipis yang masih bertahan.


Setelah merasa cukup membuat Senja kesal, Baskara mendekat dengan tangan yang ia masukan dalam kantung hoodie miliknya.


Baskara yang sudah merubah raut wajahnya menjadi datar, berdiri di depan gadis yang tengah menunduk mengutak-atik ponselnya. Diam tak mengucapkan kata apapun, bahkan sekedar sapaan.


"Nga-ngapain lo disini?" tanya Senja begitu mendongak menatap orang yang berdiri tak jauh di depannya. Tidak percaya orang yang amat membencinya sejak Jingga menikah dengan kakaknya kini berdiri disana.


"Jemput lo. Udah ayo buruan! Capek tau nunggu."


Senja masih diam di tempat dengan kepala menggeleng. "Gue udah ngabarin orang rumah kok. Abang juga bilang mau jemput." tolaknya keras.


"Coba aja sekarang lo telfon. Mau lo tunggu sampe besok juga nggak bakal ada yang jemput." cara bicara Baskara masih saja ketus dan dingin padanya. Seakan dulu mereka bukan seorang sahabat.


Senja mencari nomor sang kakak di ponsel yang ia genggam. Menghubungi nomor Farri yang berjanji akan menjemputnya.


"Hallo dek. Udah sampai?" sapa Farri di seberang. Dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

__ADS_1


"Udah. Kok abang belum jemput siiiihh?" rengeknya masih manja seperti biasa.


Diam-diam Baskara memperhatikan Senja. Dari dekat, ia bisa melihat jika gadis itu kini juga sudah peduli dengan penampilan wajahnya. Sudah menggunakan make-up tipis dan memakai lipstick. Tidak seperti dulu yang polos tanpa sentuhan make-up apa pun.


Baskara turut bahagia. Ia harap, luka yang pernah ia torehkan untuk gadis yang masih bersungut-sungut pada orang yang tengah di hubunginya itu telah hilang.


Mungkin kehadiran cinta dalam hidup Senja bisa menghapus sakit hatinya dulu. Seperti ia berharap akan ada wanita yang membantunya mengobati luka yang Jingga tinggalkan untuknya.


Satu tahun menjauh ternyata tidak berarti apa pun. Cinta dan lukanya tetap sama. Ia seakan tidak bisa melihat wanita lain selain Jingga-nya dulu. Jingga yang kini sudah hidup bahagia dengan suami dan anaknya.


Ia bersyukur Senja bisa hidup jauh lebih baik darinya. Terlihat dari perubahan gadis itu.


"Gimana?" tanya Baskara dengan tangan yang yang masih berada dalam saku hoodie dan kedua alis yang terangkat.


Senja berdecak. "Bang Farri baru pulang jam 2 tadi, jadi nggak bisa jemput."


Kakaknya yang lain juga memberitahu jika hari ini ada operasi besar dan tidak bisa menjemputnya. Vindra butuh istirahat cukup agar bisa menangani operasi dengan baik.


Beginilah ia yang terbiasa di manjakan kedua kakaknya. Merasa susah ketika keduanya tidak ada untuknya.


"Ya udah ayo buruan, gue laper!"


tadi bilang capek. Dan sekarang lapar. Dasar cowok nggak konsisten. cebik Senja dalam hati.


"Gue pulang sendiri aja deh, Bas. Gue masih tau jalan pulang kok." tolaknya lagi. Masih ada rasa tidak nyaman berdekatan dengan Baskara. Jangan-jangan malah ia di turunkan di tengah jalan untuk balas dendam.


"Gue juga sebenernya males jemput lo. Tapi bisa di usir dari rumah sama bunda, kalau gue nggak bawa lo pulang dengan selamat."


Mau tak mau, Senja mengikuti langkah Baskara menuju mobil pemuda itu di parkir. Kasihan juga sudah datang subuh-subuh tapi ia tidak menghargai, jika ia pulang dengan taxi.


*


*


*



Senja menyapa bersama othor yang moodyan.. wkwkwkwk

__ADS_1


Jejaknya ya gaes.. Ini lebih panjang dari biasanya lho..


__ADS_2