Langit Senja

Langit Senja
Pemilik Hatimu


__ADS_3

Kini hari-hari Senja sudah kembali disibukan dengan kegiatan kuliahnya. Begitu juga Baskara yang mengambil banyak kelas agar ia bisa cepat lulus dan kembali ke tanah air. Karena pemuda itu baru tahu, ternyata hidup jauh dari keluarga dan tinggal seorang diri ternyata tidak enak. Ia merindukan kecerewetan ibunya setiap ia bangun siang atau pulang malam setelah berkumpul dengan teman-temannya.


Untung saja kini ada Senja yang hampir setiap hari menghubunginya jika gadis itu ingin memasak. Meskipun hal itu mulai jarang karena jika Senja sudah lelah dengan kuliahnya dan pulang malam hari, gadis itu lebih memilih memesan makanan dari luar.


Tapi meski demikian, Baskara tetap menghubungi sahabatnya itu untuk memastikan keadaannya. Dan untuk memastikan apa gadis itu makan dengan baik setiap harinya.


"Lagi apa?" jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Baskara bahkan sudah siap diatas tempat tidur untuk menyambut mimpinya.


Terdengar Senja yang mengerang frustasi. "Tugasnya harus di kumpulin dua hari lagi. Tapi gue bahkan baru selesai jahit sebagian."


Bakara bisa membayangkan wajah frustasi Senja. Gadis itu memang sering kali menyepelekan tugas yang diberi waktu lama untuk pengerjaannya. Gadis itu sering dikejar deadline dari sikapnya itu sejak jaman mereka di bangku menengah dulu.


"Udah malam, Ja. Yang ada tugas lo malah nggak kelar sesuai apa yang lo bayangin sebelumnya. Karena sesuatu hal yang dikerjakan dengan tergesa nggak akan menghasilkan hasil yang maksimal."


"Tapi kalau nggak gue selesain malam ini, Gue jadi nggak ada kesempatan buat memperbaiki kalau ada yang salah." bantah Senja dengan suara bergetar. Meski gadis itu terbilang cukup kuat, tapi jika sudah masalah tugas dan masa depan seperti ini, gadis itu kadang bisa menjadi gadis yang lemah dan membutuhkan banyak support.


"Tapi lo udah cape, cantiik. Mending sekarang lo mandi pakai air hangat, terus tidur. Istirahatin tubuh lo sebelum besok lo lanjutin untuk selesaiin itu tugas."


Diseberang sana Senja menghela napas mengalah. "Kayaknya lo bener. Gue udah butuh istirahat sebelum gue gila."


Baskara mengangguk dengan senyumnya. "Lo pasti bisa, Ja!" ucap pemuda itu memberinya semangat. "Kapan sih seorang Senja gagal ngumpulin tugas?" imbuhnya lagi. "Sesulit apa pun pasti lo bisa kerjain dengan baik. Kalau lo aja nggak bisa percaya sama kemampuan yang lo miliki, gimana dosen bisa percaya kalau lo mampu."


Senja menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Benar. Dia harus memberikan kepercayaan penuh pada dirinya. Ia harus yakin kalau dia mampu dan dia bisa.


"Makasih, Bas. Seenggaknya gue lebih tenang. Nggak terlalu stres kayak tadi." Senja jujur mengatakannya. Ia memang merasa lebih tenang saat ini.

__ADS_1


"It's okey. Bukannya itu gunannya sahabat."


Kali ini Senja yang mengangguk dengan senyumnya. Meski ia tahu Baskara tidak mungkin melihatnya. "Gue seneng lo balik jadi sahabat gue kayak dulu. Jangan pernah berubah lagi, Bas."


Baskara terkekeh. "Emang gue Bumblebee bisa berubah." kelakar Baskara dengan menyebut mobil yang dapat berubah jadi robot kesukaannya itu.


"Tapi lo deketin gue bukan karena lo pengen lari dari masa lalu lo sama Jingga, kan?" tuduh Senja hanya candaan belaka.


"Gue nggak sejahat itu lah, Ja. Jingga ya Jingga. Lo ya lo. Kalian punya tempat masing-masing di hati gue. Dia pernah ada sebagai sahabat, kekasih, mantan kekasih, dan sekarang gue udah ikhlasin dia untuk kembali jadi sahabat gue meski pun hubungan gue sama dia belum baik."


Bukan tak ingin memperbaiki hubungannya dengan Jingga. Tapi ia sadar diri jika gadis itu sudah menjadi istri orang. Dan ia tidak ingin menjadi masalah dalam rumah tangga mereka yang sudah bahagia.


Karena meski pun ia hanya menganggap Jingga sebagai sahabat, tetap saja pasti Farri akan salah paham apa lagi statusnya yang pernah menjadi mantan kekasih gadis itu. Dan bukankah tidak akan persahabatan yang benar-benar murni antara laki-laki dan perempuan?


Ia sudah pernah merasakannya. Bagaimana persahabatannya dan Jingga berubah menjadi cinta. Begitu juga Senja yang juga memiliki perasaan untuknya.


"Terus gue dihati lo apa?" pertanyaan Senja membuyarkan lamunannya dari masa lalu yang sudah mereka lalui.


"Lo adalah sahabat, adik, sempat jadi musuh meski pun gue nggak bener-bener bisa benci sama lo. Dan sekarang lo kembali jadi sahabat dan adik gue."


Senja tidak tersinggung dengan pernyataan Baskara tentang apa arti dirinya di hidup pemuda itu. Ia justru tertawa mendengarnya.


"Heh begoo. Kita aja lahirnya barengan! Gimana bisa gue jadi adek lo?"


Baskara mencebik. "Nggak peduli usia lo berapa, Ja. Ada rasa ingin melidungi dan buat lo jadi gadis yang lebih baik. Seperti seorang kakak yang menginginkan yang terbaik untuk adiknya."

__ADS_1


Senja mencibir. "Kurang baik apa gueeee?"


Baskara terkekeh membayangkan wajah kesal Senja diseberang sana. "Banyak lah." jawab Baskara santai. "Suka main ke club malam. Ceroboh sampai nggak sadar minumannya ada yang kasih obat. Nggak bisa masak. Tukang ngambek. Nggak bis-"


"STOPP!" pekik Senja yang semakin membuat Baskara tergelak. "Cukup lo ketawain dan nyebutin semua kejelekan gue!"


Baskara masih belum bisa mengendalikan tawanya. Akhir-akhir ini ia jadi mudah tertawa berkat Senja. Jika ibunya melihat, pasti wanita yang sudah melahirkannya itu akan merasa senang dan terharu sekaligus.


"Nyadar non banyak kejelekannya?" goda Baskara.


"Lo makin lama makin ngeseli yee!" Senja kembali mencibir. "Mending balik lagi deh lo dingin kayak kemaren-kemaren. Gedeg juga gue dengernya lo nyebelin begini."


Senja masih dapat mendengar kekehan Baskara. "Nyebelin begini juga dulu lo cinta mati." semakin gencar Baskara menggodanya.


"Iyuuhhhh... Ogah banget gue cinta mati sama cowok modelan lo! ditinggal kawin aja galaunya kayak orang yang udah mau mati besok." sindir Senja mengingatkan Baskara betapa menyedihkannya pria itu di hari pernikahan Jingga dan kakaknya.


"Alaaah. Kayak lo nggak aja waktu tahu gue sama Jingga jadian." Baskara tentu saja tidak mau kalah dengan Senja. Sejak dulu dia memang tak pernah mau mengalah jika berdebat dengan sahabatnya yang satu ini.


"Hellooo.. Gue nggak mewek-mewek kayak lo ya! setidaknya gue patah hati malah banyak kemajuan baik. Nggak kayak lo gini. Masa cita-cita mau jadi dokter malah lari kesini ambil management. Mau jadi apa, lo?"


Baskara kembali terkekeh mendengar Senja yang emosi menjawabnya. "Mau jadi pemilik hati lo."


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2