
Sebelumnya Senja dan Baskara sudah berbelanja kebutuhan mingguan untuk bahan masakan. Dan stok bulanan seperti camilan dan minuman ringan untuk ditempat Senja.
Minuman dingin, susu, yogurt, anekan snack, permen dan coklat dan berbagai manacam sayur, aneka daging dan hewan laut serta telur juga buah memenuhi lemari dingin empat pintu milik Senja.
Berbeda kali ini ketika mereka berbelanja kebutuhan untuk mengisi apartemen Baskara. Pemuda itu tidak ingin terlalu banyak menyetok makanan dan minuman ringan. Baskara menganggap itu tak terlalu penting meningat jarang ada yang berkunjung ke tempatnya. Bahkan tidak pernah karena ia yang tidak memiliki teman dekat. Weekend ia habiskan ditempat Senja, jadi tidak ada waktunya untuk memakan camilan seorang diri.
Senja menatap sepanjang perjalanan. Mengamati keindahan kota Cambridge Massachusetts. Jika New York City dipenuhi dengan bangunan pencakar langit. Ditempat suaminya tinggal justru hanya ada beberapa bangunan seperti itu yang bahkan tidak lebih dari 30 lantai. Selebihnya hanya bangunan dengan tiga sampai enam lantai dengan gaya khasnya.
"Kenapa nggak kuliah di Harvard aja, mas?" tanya Senja begitu mereka melewati Harvard University.
Baskara yang berada dibelakang kemudi hanya mengedik. "Management MIT bagus. Meskipun awalnya pengen kuliah disana karena abang kamu."
Ya. Farri dulu kuliah di MIT dengan jurusan Arsitektur-nya.
"Abang dulu tinggal diasrama yang itu." tunjuk Senja ketika melewati asrama anak MIT yang tidak jauh dari kampus.
"Aku tahun pertama juga diasrama. Tapi nggak betah aja harus berbagi kamar mandi. Meskipun ada senengnya juga sih, bisa belajar barengnya."
Baskara baru pindah ke apartemen studio ditahun kedua. Bukan hanya masalah kamar mandi, namun juga karena dia yang cukup anti sosial.
"Kayaknya aku juga punya firasat bakal cepet nikah deh, ayy."
"Kenapa begitu?" kernyitan muncul didahi Senja. Menatap suaminya dibalik kemudi.
"Ya kalau aku belum pindah, mana mungkin aku bisa bawa kamu nginep sayang."
Kali ini Senja mengangguk. Asrama hanya diperuntukan untuk mahasiswa MIT. Tak mengizinkan keluarga untuk menginap. Terlebih memang mereka harus sharing kamar dan hanya ada tempat tidur kecil untuk setiap orangnya.
Diapartemen Baskara sekarang juga banyak mahasiswa dari Indonesia. Meskipun ia tak mengenal dekat dan hanya tahu nama. Kecuali orang-orang yang satu jurusan dengannya di tahun yang sama.
Senja membantu membawa belanjaan yang cukup ringan. Berjalan bersisian menuju flat tempat Baskara tinggal.
__ADS_1
Dari flat tepat disebelah milik Baskara, keluar seorang gadis muda dengan model rambut bob yang cocok dengan wajahnya yang kecil. Kulitnya tak telalu putih tapi terlihat manis.
Mata gadis itu berbinar mengetahui keberadaan tetangganya yang ternyata sudah kembali.
"Kamu sudah datang, Bas?" raut bahagia terlihat jelas tanpa disembunyikan. Dan itu sedikit membuat Senja kesal. Menyadari ada gadis yang begitu bahagia dengan kehadiran suaminya. "Biasanya mepet masuk kuliah baru pulang?" imbuhnya yang kini hanya berjarak satu meter didepan Baskara dan Senja.
Tapi Senja yakin, gadis itu pasti tidak menyadari kehadirannya. Dimata gadis itu hanya terisi sosok Baskara didalamnya. Membuat ia mencebik dalam hati dan mengerucutkan bibirnya.
"Iya. Mau jalan-jalan dulu sebelum masuk kuliah." Senja memang ingin berkeliling di Cambridge. Masih ingin menikmati kencan berbalut bulan madu dengan sang suami. Dan tentu saja Baskara langsung menyetujui.
Mata gadis yang masih menatap Baskara intens itu berbinar semakin cerah. "Wahh kebetulan sekali. Aku juga bosan nggak kemana-mana. Aku boleh ikut nggak?" tanyanya penuh harap.
Baskara tak benar-benar menatap tetangga sekaligus teman kuliahnya itu. Pandangannya melewati kepala gadis yang bernama Lura, menatap tembok kosong didepannya.
Ia hanya ingin melihat reaksi istrinya begitu ia didekati perempuan. Sesekali ia melirik lewat ekor mata. Dalam hati tersenyum senang begitu mendapati wajah istrinya yang masam.
Untuk pertama kalinya Senja cemburu padanya. Dan hati Baskara rasanya berbunga-bunga mengetahui hal tersebut. Menegaskan jika Senja benar-benar cunta padanya.
Lura mendesah kecewa. Tapi secepat kilat ia kembali merekahkan senyumnya. "Nggak pa-pa deh. Tapi lain kali kalau kamu mau jalan-jalan dan butuh teman, aku siap lho." tawarnya. Karena setahunya Baskara tak memiliki teman dekat dan selalu kemana-mana seorang diri. Membuatnya begitu percaya diri menawarkan diri.
Senja merotasikan bola matanya. Bagaimana mungkin ada gadis yang menyukai laki-laki dengan begitu jelasnya. Tanpa ditutup-tutupi sama sekali.
Ia semakin kesal dan menyikut pinggang suaminya karena tak mengenalkannya juga.
"Maaf, Ra. Tapi aku sudah ada partner yang siap menemani aku kemana aja dan kapan aja." tangannya merangkul bahu sang istri yang langsung dibalas dengan Senja memeluk pinggang suaminya. Menunjukan pada gadis didepan mereka bahwa Baskara sudah ada yang punya.
Senyum diwajah Lura seketika surut begitu menyadari seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang dengan kulit putih mulus yang dirangkul Baskara dengan begitu posesif.
Lura bahkan sampai mengucek kedua matanya. Merasa penglihatannya salah.
Baskara yang ia kenal adalah pemuda dingin yang jarang sekali bicara. Baskara adalah pria cuek dan teramat cuek dengan sekelilingnya.
__ADS_1
Banyak gadis yang mendekati pemuda itu namun tak pernah ada yang kuat dengan sikap acuh tak acuh Baskara yang menganggap mereka tak ada.
Satu-satunya gadis yang berhasil berbicara dengan Baskara adalah Lura. Itu pun karena mereka pernah satu kelompok untuk membuat riset tentang bisnis.
Lura yang memang gadis bebal, tak pernah putus asa mengejar Baskara. Tidak menyerah meski pemuda itu hanya akan menjawab satu kata untuk apa yang ia katakan.
Lura juga tak pernah menyerah meski ajakannya berangkat kuliah bersama selalu ditolak oleh pemuda itu.
Lura bahkan rela keluar dari asrama begitu mendengar Baskara pindah. Ia langsung mencari flat yang saat itu keberuntungan ada dipihaknya. Karena ia mendapatkan kamar yang berada disebelah Baskara dengan sewa yang lebih mahal dari pada ketika ia diasrama.
Jadi Lura merasa tidak mungkin apa yang ada dihadapannya adalah nyata. Pasalnya jangankan merangkul atau memeluk wanita. Menatap saja Baskara sangat jarang.
Dan lagi senyum dan tatapan hangat yang Baskara berikan hanya untuk gadis disebelahnya. Senyum dan tatapan hangat yang semakin membuat Lura jatuh cinta. Namun sayangnya senyum dan tatapan itu bukanlah untuknya.
"Siapa, Bas?" tanya lirih namun masih terdengar oleh lawan bicaranya itu.
"Ini istri aku, Senja." tak segan Baskara mencium puncak kepala istrinya meski sekilas dan tak ketara. Tapi Lura yang menatap intens keduanya jelas melihat dengan jelas hal tersebut. Hal yang membuat hatinya berdenyut nyeri.
"Ayy. Kenalin, ini tetangga sekaligus teman sejurusan aku, namanya Lura.."
*
*
*
Hihihi.. Othor nih kalau udah serius baca sampai lupa buat nulis. Maaf ya reader tersayangnya othor 😘
Nanti kalau selesai ngetik lagi, langsung up deh ✌
Tapi likenya harus imbang ya. Jangan kaya kemarin yang banyakan bab terakhir like-nya. huhuhu...
__ADS_1