Langit Senja

Langit Senja
Asing Sendiri


__ADS_3

Suasana rumah Senja pagi itu semarak dengan keluarganya yang berkumpul. Ada mommy Shevi dan daddy Alvin juga disana. Begitu juga dengan keluarga Jingga dan Baskara yang ikut berkumpul.


Taman belakang di rubah menjadi ruang makan outdoor. Dengan meja panjang serta belasan kursi yang mengelilinginya.


"Tau gini tadi kenapa sarapan duluuu..." keluh Senja begitu melihat banyak menu favoritnya tersaji di atas meja.


"Lho emang kamu udah sarapan?" tanya Tiara.


Senja mencebik dan menunjuk Baskara. " Tuh.. Ada yang jemput tapi kelaperan."


Yang di tunjuk meringis ke arah ibunya yang memberikan tatapan tajam. "Kan bunda cuma nyuruh ngajak Senja kemana dulu. Nggak bilang jangan sarapan di luar." Prisilla dan yang lain hanya menggeleng geli.


Karena rasanya Senja tidak akan sanggup jika harus makan nasi. Jadi gadis itu hanya mengambil gurame asam manis, beberapa tusuk sate ayam, juga semangkok kecil soto bumbu kacang khas Banyumas tanpa ketupat.


Ayahnya sering bepergian keberbagai penjuru Indonesia untuk pekerjaan. Dan Alvaro jika ke suatu tempat harus mencoba masakan khas daerah tersebut. Dan jika sudah kembali ke Jakarta, selalu meminta orang rumah memasakannya.


Jadi Senja sejak kecil sudah banyak mencicipi masakan nusantara meski belum pernah pergi ke daerah asal masakan yang ia makan.


Obrolan lebih banyak tentang Senja yang menceritakan kesehariannya selama kuliah. Dari sedih yang juga membuat yang mendengar bisa ikut merasakannya. Juga kebahagiaan yang ia dapatkan yang membuat yang lain kadang tertawa dengan cerita konyol yang Senja ceritakan.


Tapi celotehan Senja tidak mengalihkan pandangan Baskara yang menatap Jingga yang tengah bercanda dengan anak dan suaminya.


Sakit? jangan di tanya. Tapi Baskara sudah mencoba mengikhlaskan bahwa Jingga bukan jodohnya. Meski belum bisa melupakan. Tapi setidaknya ia turut bahagia dan lega melihat gadis itu mendapatkan pria yang tepat untuk menjadi suami. Pria yang bisa membahagiakan Jingga. Terlihat jelas dari pancaran bahagia di kedua mata gadis itu.


Mungkin memang sudah saatnya ia untuk berdamai dengan keadaan. Toh semua tidak akan bisa kembali seperti dulu. Ia sadar, ia bukan lagi alasan Jingga untuk tertawa. Gadisnya sudah bahagia. Jadi apa yang membuatnya bertahan dalam keterpurukan.


Sudah waktunya ia menjemput kebahagiaannya sendiri. Membangun kembali masa depannya yang sempat runtuh.

__ADS_1


Jingga yang tengah tertawa bersama Farri ketika putri mereka menguap lucu tak sengaja menoleh dan menatap Baskara yang tengah menatapnya. Gadis itu memberikan senyum manisnya. Senyum persahabatan. Jingga tidak ingin mereka terus bermusuhan. Sedangkan hubungan keluarga mereka saja sehangat saat ini.


Dengan kaku, Baskara menarik kedua sudut bibirnya. Ia sudah memutuskan untuk berdamai, jadi tak ada salahnya memulai dari sekarang bukan?


"Gue berasa asing sendiri sekarang." celetuk Pricilla pada dua sahabatnya.


"Kenapa? Ada yang nyuekin lo disini?" sahut Tiara yang di angguki oleh Sheril.


Pricilla menggeleng. "Kalian berdua udah besanan. Sheril udah jadi bagian dari keluarga mommy. Lha gue..?"


Yang lain tertawa mendengarnya. Sedangkan Baskara hanya melirik ibunya dengan mulut yang mencebik.


"Nikahin saja Senja dengan Baskara, biar kalian semua jadi keluarga." ucap mommy Shevi yang sukses membuat Senja tersedak kuah soto terakhirnya. Begitu juga Baskara yang tersedak air minumnya, karena kebetulan pemuda itu tengah minum.


"Mommy apaan dah.. Males banget Senja nikah sama cowok model kaya dia!" tunjuk Senja pada Baskara dengan tatapan kesal mengarah pada neneknya.


Farri memilih diam. Tak ingin ikut campur jika itu menyangkut Baskara. Karena sejujurnya pria itu masih menyimpan rasa bersalahnya.


"Yeee.. Dulu mah adek aja yang buta nggak bisa lihat keburikan Babas dengan baik." cebik Senja tidak terima. Karena memang pada dasarnya perasaannya untuk Baskara sudah tidak lagi bersisa. Kecuali rasa persahabatan yang masih ia simpan rapi, sekalipun dulu saat ia membenci pemuda itu.


Baskara melotot mendengar dirinya disebut burik oleh Senja. Yang benar saja, kulitnya bahkan putih bersih. Wajahnya tak kalah tampan dari artis-artis Korea yang di gandungi gadis-gadis jaman sekarang.


"Sabar ya, Bas. Kamu perlu berjuang kalau mau dapetin Senja." Pricilla mengusap lembut bahu putranya.


"Apaan sih, bun." kedik Baskara tak nyaman. Apa-apaan coba, ia di kasihani seperti itu. "Lagian siapa juga yang mau sama dia." Baskara memeletkan lidahnya pada Senja. Membuat Senja mendengus. Meski dalam hati Senja tersenyum. Senang melihat Baskara yang dulu mulai kembali.


Gelak tawa memenuhi taman belakang rumah keluarga Alvaro pagi itu. Obrolan berlanjut pada persiapan pernikahan Vindra yang hanya tinggal beberapa minggu lagi. Yang kemudian beralih pada Jingga dan Farri tentang bagaimana repotnya mereka mengurus bayi kecil mereka.

__ADS_1


"Capek sih mom.. Apalagi kalau malam pasti bangun ngajak main. Tapi untung abang pengertian jadi abang yang ngajak main. Paling kalau pengen nen baru bangunin aku." tanpa sungkan Jingga melingkarkan sebelah tangannya di pinggang sang suami. Juga menyandarkan kepalanya di bahu Farri.


Jingga sudah tidak malu-malu lagi menunjukan kemesraan mereka didepan keluarga seperti saat ini. Ia ingin keluarganya tahu jika rumah tangganya berjalan cukup bahagia.


"Memang harus begitu, gantian. Jingga kan udah capek jagain siang. Jadi Farri bantuin pas dirumah. Bukan berarti Jingga nggak kerja terus dia nggak capek. Justru Jingga lebih capek di rumah." nasehat mommy Shevi.


"Apa lagi anak pertama, kita belum tahu apa pun. Kadang takut salah, kadang juga ikut nangis kalau si kecil nangisnya nggak mau diem. Makanya dulu mommy lanjut kuliah pas Tiara udah enam bulanan. Udah gedean dikit, soalnya kan mommy kuliah jauh dari keluarga, nggak ada yang bantuin kecuali si mbok." imbuh mommy Shevi menceritakan pengalaman pertamanya dulu.


"Beruntungnya Tiara anak yang baik dulu. Nggak rewel dan nggak banyak nuntut kalau mommy tinggal kuliah atau kerja. Padahal dulu waktunya lebih banyak bareng si mbok. Sama mommy cuma malam pas tidur aja."


Dapat yang lain lihat sorot sendu ketika mommya bercerita. Disebelahnya, sang suami yang merasa bersalah membawa tubuh istrinya yang tak lagi muda itu dalam dekapan. Membenamkan ciuman di puncak kepala istrinya.


"Cieeee yang nggak mau kalah sama yang muda. Udah kakek nenek aja masih pamer kemesraan.. Senja kan jadi iri dadddd..." goda Senja berusaha mencairkan suasana yang tadi sempat sendu.


"Kayaknya jiwa jomblo model kita perlu menyingkir dari pasangan-pasangan bahagia disini deh, Bas?" ucap Senja mencoba mengajak Baskara berbicara. "Sebelum hati kita meronta ngeliat mereka."


Baskara merotasikan kedua matanya malas. "Lo aja yang iri. Gue biasa aja tuh."


Lagi. Semua tergelak mendengar kedua pasangan jones pagi itu. Kecuali Senja yang mendelik kesal karena Baskara yang tidak bisa diajak kerja sama.


*


*


*


Seneng deh kalian semangat kasih like.. Jadi semangat nulis bab selanjutnya kaannn 😘

__ADS_1


__ADS_2