Langit Senja

Langit Senja
Pelan-Pelan


__ADS_3

"Aku nggak pa-pa.. Terusin aja." ucap Senja mencoba semeyakinkan mungkin.


Setelah kepergian Alvaro, Baskara kembali melanjutkan kegiatan mereka yang terganggu. Bahkan lebih bersemangat karena kesal berkali-kali gagal.


Senja yang awalnya kewalahan mulai bisa mengimbangi dengan membalas ciuman Baskara meski dengan gerakan kaku.


Baskara juga sebenarnya sangatlah gugup. Tapi sebisa mungkin ia mencoba terlihat ahli demi menjaga harga dirinya. Mengikuti insting kelelakiannya tentang apa yang harus ia lakukan.


Bagi Senja itu adalah ciuman pertama. Begitu juga bagi Baskara. Apa yang mereka lakukan malam itu adalah hal baru baginya. Ketika menjalin hubungan dengan Jingga dulu, ia tak seberani itu.


Baskara tak melewatkan tubuh Senja sedikitpun. Ia bahkan yakin jika Senja juga merespon dengan perasaan yang sama dengannya.


Namun, ketika ia akan melakukan penyatuan. Tubuh istrinya bergetar. Tangannya mencengkeram seprai kuat. Begitu juga dengan mata yang terpejam rapat.


Awalnya Baskara kira istrinya tegang. Membuatnya kembali mencari titik lemah istrinya agar lebih relaks. Namun tak membuahkan hasil. Bahkan keringat dingin mulai bermunculan.


"Tapi kamu takut, ayy... Aku nggak bisa melakukannya. Aku takut nyakitin kamu." Baskara masih berada diatas tubuh Senja. Mereka sudah sama-sama polos. Bahkan tubuh Senja sudah dipenuhi tanda kepemilikannya. Tapi Baskara tak tega untuk melanjutkan kegiatan mereka.


"A-ku nggak pa-pa, Bas. A-ku cu-cuma gugup aja." jawab Senja yang kini membuka matanya. Melihat pahatan sempurna diatas tubuhnya.


"Kamu takut Senja... Kamu tegang." ucap Baskara lembut. Ia seka keringat didahi istrinya yang terlihat pucat. "Nanti kalau dipaksain takutnya malah kamu lebih sakit."


Malam pertama saja sudah menyakitkan dari yang ia dengar. Apa lagi jika hal itu dilakukan dengan dipaksa.


Senja memejamkan mata ketika bibir lembut Baskara singgah didahinya. Menghangatkan hatinya. Membuat bulir air mata mengalir dikedua sudut matanya. "Maaf.." cicitnya menyesal. Takut membuat suaminya kecewa.


"Aku udah berusaha.. Tapi aku takut." tubuhnya bergetar karena isak tangis. Menyesal tak bisa memberikan hak suaminya pada malam pertama mereka.


"Sssstt.. Jangan nangis sayang." Baskara yang sudah berbaring di samping Senja membawa tubuh istrinya dalam rengkuhan. Mendaratkan kecupan dipuncak kepala sang istri. "Aku nggak pa-pa.. Kita bisa mencobanya pelan-pelan."


"Aku tahu hubungan kita terlalu mendadak buat kamu."


"Nggak ada kisah romansa dihari yang kita lalui sebelum datangnya pernikahan."


"Mungkin kamu kaget."


"Jadi lebih baik kita mencoba bertahap aja."


"Maaf ya.. Aku kurang peka. Cuma mikirin diri sendiri." Senja menggeleng dalam rengkuhannya. Gadis itu semakin terisak dengan Baskara yang begitu pengertian.


"Apa yang kamu lalukan itu wajar. Aku aja yang nggak bisa ngimbangin." jawab Senja dengan suara serak.


"Kata siapa nggak bisa ngimbangin?" sahuta Baskara tak setuju. "Tadi itu udah luar biasa banget sayang." bisiknya dengan suara menggoda.

__ADS_1


Senja tersipu dan memukul dada suaminya pelan. Membuat pemuda itu tergelak melihat wajah malu sang istri ditengah isak tangis.


"Maaf ya, Bas. Malam pertama kita jadi gagal gara-gara aku." ucap Senja sekali lagi dengan menatap wajah sang suami yang tersenyum tulus padanya.


"Nggak pa-pa. Kita bisa belajar tiap hari sampai kamu bisa melawan rasa takut kamu."


Ada rasa senang ketika Baskara mengatakannya. Sekaligus malu membayangkan apa yang akan mereka lakukan. Mengingatkannya kembali kepada apa yang Baskara lakukan padanya tadi. Hal yang membuatnya berkali-kali mengeluarkan suara kenikmatan.


"Masih ada beberapa hari sebelum kita balik ke Amerika." ucap Baskara mengalihkan topik. Agar sang istri tak terus menerus merasa bersalah. Juga agar adiknya dibawah sana bisa ditidurkan kembali.


Jujur saja Baskara sedikit merasa kecewa. Tapi ia tak ingin egois dengan memaksa Senja untuk kesenangannya sendiri.


Ia ingin malam pertama mereka menjadi malam luar biasa yang tak akan terlupakan. Bukan hanya untuk dirinya. Tapi juga untuk Senja.


Ingin menjadikan penyatuan mereka menjadi hal yang membahagiakan bukan hal yang menyiksa sang istri. Bukan hanya fisik namun mental juga.


"Kamu mau kemana?" tanya Baskara. "Honeymoon mungkin?" goda Baskara dengan menaik turunkan kedua alisnya.


Senja menggeleng sebagai jawaban. Untuk apa bulan madu kalau ia belum bisa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Tak akan ada bedanya jika dilakulan dirumah.


"Aku pengen keliling Jakarta aja." jawab Senja antusias dengan tubuh polosnya yang sudah tertutup selimut. "Jalan. Nonton. Ke Dufan. Pokoknya ngelakuin hal yang biasanya orang pacaran lakuin. Aku kan belum pernah ngerasain." gadis itu mengerucutkan bibirnya di kalimat terakhir.


"Duhduhduh kaciannya istriku sayang belum pernah ngerasain kencan." goda Baskara dengan mengapit wajah Senja dan menggerakannya kekanan dan kiri. "Oke. Mulai besok Baskara Lazuardi akan menyajikan tour kencan terbaik didunia untuk istri tercinta."


Baskara mengangguk dengan bangga. "Keren kan kita?"


Senyum Senja semakin merekah. Dadanya berbunga-bunga. Ia tak menyesal menikah dengan Baskara sekarang.


Ia juga tak menyesal meski masa mudanya tak diisi dengan kisah romansa dan menghabiskan weekend dengan berkencan.


Karena kini ia bisa melakukan semuanya dengan Baskara. Teman kencan halalnya.


"Tapi sebelum kencan. Nanti kita kerumah oma dulu ya?" ajak Baskara ragu-ragu.


Oma Baskara tidak hadir dalam pernikahan mereka. Wanita itu masih tak merestui pernikahannya.


Sebenarnya Baskara tak ingin membawa Senja kesana. Takut jika nanti akan ada perkataan dari omanya yang melukai hati istrinya.


Namun ayahnya menyuruh membawa Senja. Agar oma tidak semakin membenci pernikahan mereka. Dan berharap Senja bisa mengambil hati oma dan merestui mereka.


"Oh iya. Oma kamu nggak kelihatan tadi." Senja bahkan baru menyadarinya saat ini. Dipesta pernikahan mereka. Senja terlalu gugup untuk memikirkan hal lain.


"Oma lagi kurang enak badan." jawab Baskara sedikit berbohong. "Juga sedikit kurang setuju."

__ADS_1


Kenyitan muncul didahi Senja. "Kurang setuju apa?" tanyanya. "Nggak setuju kamu nikah sama aku?"


"Bukan!" Baskara menyentil dahi istrinya pelan. "Oma pikir, aku masih terlalu muda untuk menikah."


Bibir Senja membentuk huruf 'o' dan mengangguk paham. Mereka memang masih terlalu muda untuk menikah.


Apa lagi pernikahan mereka karena keinginan mereka sendiri. Bukan karena accident atau perjodohan.


"Oma pengen aku fokus kuliah terus gantiin posisi Opa sebagai CEO yang udah lama kosong sejak beliau meninggal." tidak benar-benar kosong. Karena ada orang kepercayaan keluarga yang menjabat, hanya belum ada posisi penerus secara resmi.


"Kan apa ayah?"


"Ayah lebih suka kerja dirumah sakit nyelamatin nyawa manusia. Dari pada duduk dibalik meja CEO dengan dokumen yang nggaka ada habisnya."


Ada perasaan takut dalam hati Senja. Entah takut untuk menemui oma Baskara. Atau takut dengan hal lain. Ia memiliki firasat tak enak dalam benaknya. Entah untuk alasan apa.


"Cieeee suamiku calon CEO." goda Senja. Membuang jauh pikiran buruknya yang tak beralasan. "Jadi ini alsan kamu ambil Bisnis?"


Baskara mengedik. "Awal aku milih Bisnis ya karena pelarian. Kamu kan tau aku pengen jadi dokter sama kaya ortu."


Senja berdecih. "Segitu brokenheart-nya sama lari dari mantan!"


"Cieee yang cemburu?" goda Baskara mentoel dagu istrinya yang langsung ditepis. "Kayak kamu kabur ke NY bukan karena lari dari aku aja!"


"Sory ya tuan Baskara yang terhormat. Tolong jangan kepedean!" jawab Senja kesal dan langsung memunggungi Baskara.


Baskara tak mempedulikan kekesalan istrinya. Ia malah semakin ingin menggodanya lagi. Memeluk tubuh polos dibawah selimut dengan erat.


"Segitu cintanya ya dulu sama suamimu yang ganteng ini, ayy?" bisiknya ditelinga Senja. Membuat gadis itu bergidik geli.


"ENGGAK!! JANGAN KEPEDEAN!!" teriaknya kesal terus digoda.


"Kenapa sih? padahal aku suka lho?" cebik Baskara memajukan bibirnya.


"I Love You sayang. Cantiknya Baskara. Nyonya Senja Lazuardi."


Senja diam tak menjawab. Tapi bibirnya tak bisa berbohong untuk tak mengulas senyuman.


Juga kondisi jantungnya yang sudah menabuh genderang. Yang Senja yakin Baskara dapat merasakannya lewat pelukan pria itu padanya. Begitu juga ia dapat merasakan debar jantung suaminya yang tak kalah menggila dipunggung polosnya.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2