Langit Senja

Langit Senja
Bab 31


__ADS_3

Seorang pria yang dari tadi berjalan mondar mandir di dalam ruangannya dan sesekali ia menatap ke arah ponsel nya dan menempelkannya ke telinga seperti sedang menghubungi seseorang tapi tak kunjung mendapatkan dari orang yang ia hubungi.


"Nih orang ke mana sih, di telpon nggak di angkat, di chat cuma centang satu. di ruangannya juga nggak ada. sampai gue mau nggak mau harus batalin semua meeting hari ini." gerutu pria itu yang tidak lain adalah Dylan. sahabat sekaligus asisten pribadi dari Langit. Ya, setelah tadi pagi ia menemui seseorang, Dylan langsung pergi ke kantor untuk bertemu dengan sang Bos. dia ingin membicarakan sesuatu, tapi ketika sampai di ruangan Langit, rupanya ruangan itu masih kosong. saat dia menanyakan pada Mila sang sekertaris, wanita itu mengatakan jika Tuan nya belum datang juga. padahal hari sudah beranjak siang. bahkan sampai sore dan jam kerja habis Langit tak kunjung datang ke kantor tanpa ada kabar apapun sampai Dylan menghubungi nya pun tak ada jawaban.


pria itu menghembuskan napasnya kasar, dia benar benar di buat kesal dengan kelakuan Langit seperti ini. kalau begini caranya, pria itu tidak akan tau di mana Langit sekarang dan apa yang sedang ia lakukan.


Ah, lebih baik Dylan pergi ke mansion keluarga William saja. memastikan keadaan Bosnya yang tidak mengabari nya seharian.


Dylan langsung beranjak dari sana dan meraih kunci mobilnya yang ia letakkan di atas meja kerjanya itu. pria itu lalu keluar dari ruangannya. kantor sudah mulai sepi, para karyawan sudah pada pulang selain yang lembur, karena jam pulang kerja sudah dari tadi.


Sampai di mansion keluarga William, Dylan sudah di sambut oleh para pengawal yang berdiri di depan mansion itu.


"Tuan kalian di mana?" tanya Dylan dengan wajah dingin nya.


"Ada di dalam Tuan, beliau tidak keluar sejak tadi pagi." jawab salah satu pengawal.


tanpa basa basi lagi, Dylan langsung masuk ke dalam. Sepi, itu yang Dylan rasakan setelahasuk ke dalam mansion mewah itu. semakin ke dalam, akhirnya dia melihat Bik Sumi dan juga Siska sedang menata makan malam di meja makan.


"malam Bik, Sis." sapa Dylan ramah. Dylan memang sangat ramah pada dua orang kepercayaan di mansion ini.


dua wanita beda generasi itu pun menoleh secara bersamaan. "Malam Tuan." balas mereka bersama.


"Langit ada?" tanya Dylan.


Siska dan Bik Sumi saling memandang. kemudian mereka mengangguk secara bersamaan menghadap ke arah Dylan lagi.


Dylan mengerutkan keningnya merasa ada yang aneh di sini. pria itu menatap dua pelayan di hadapannya penuh dengan intimidasi.

__ADS_1


"ada masalah?" tanya Dylan lagi.


"A...anu Tuan. Tuan Muda setelah marah marah tadi pagi belum turun sampai sekarang." lapor Siska.


"tahu penyebabnya kenapa dia marah?"


Siska pun menceritakan jika Langit merah karena ia tidak memberikan makan malam untuk Senja, setelah itu Langit kembali naik ke lantai atas dan tidak kunjung turun sampai sekarang.


Dylan menghembuskan napas nya kasar. ia lalu pergi meninggalkan dua pelayan itu dan masuk ke dalam lift menuju lantai atas.


Ceklek


Dylan membuka pintu kamar Langit yang di sana juga sudah ada sidik jari nya. kosong, Dylan tidak menemukan Langit di sana. pria itu terus memeriksa setiap sudut ruang kamar Langit, mulai dari kamar mandi sampai walk in closet. tapi nihil, Dylan tidak menemukan siapapun di sana.


Dylan pun keluar dari kamar Langit dan menuju ke ruang kerja sahabatnya itu. Namun, langkah kakinya terhenti tepat di depan kamar dengan pintu ber cat pink yang pintu nya sedikit terbuka itu.


huuuhhhh Dylan menghela napas panjang. dia merasa sangat kasihan dengan sahabatnya itu. tapi mau bagaimana lagi, ia pun tak bisa berbuat apa apa.


pria itu duduk di kursi belajar milik Senja. ia belum ingin mengeluarkan suara nya, biarkan saja Langit tetap seperti itu dulu, Dylan juga sedang kesal dengan sahabat sekaligus bos nya itu.


tiba tiba netra pria itu menangkap sebuah dokumen yang tergeletak di atas meja belajar itu. Dylan meraihnya dan membacanya satu persatu.


"keinginan lo sudah terwujud ya Ngit, buat cerai in Senja." ujar Dylan setelah membaca dokumen itu.


dengan cepat Langit langsung menyeka air matanya saat mendengar suara asisten sekaligus sahabat nya yang sudah berada di ruangan yang sama dengannya.


"Dylan." panggil Langit dengan suara parau nya karena seharian menangis. mata pria itu juga memerah dan membengkak.

__ADS_1


"iya, ini gue. gue udah dari tadi di sini, udah lihat juga dengar lo nangis." ujar Dylan dengan senyum mengejek nya menutupi rasa kasihan nya terhadap sang sahabat.


"Senja Lan, istri gue, dia pergi ninggalin gue, dan...." adu Langit, namun ucapannya terhenti kala Dylan mengangkat surat cerai milik Langit. Langit mengangguk lesu menatap surat cerai itu.


"bukannya lo yang menginginkannya? dan Senja hanya menuruti keinginan lo." pungkas Dylan dengan senyum sinis nya. "dan lo tau, Senja pergi bukan ninggalin lo, melainkan menyelamat kan diri nya dan janinnya dari monster seperti lo." lanjut nya.


Netra elang pria itu berkilat marah mendengar semua ucapan dari Dylan.


"tapi gue udah nggak menginginkan perceraian itu Dylan, gue juga menginginkan anak itu, gue bahagia mendengar kehamilannya Dylan. gue mencintai Senja juga anak yang di kandungnya. harusnya lo tau itu Lan." teriak Langit dan di akhiri dengan ucapan yang sangat lirih di akhir.


Dylan mengangguk, dia tau. dia tau apa yang sahabatnya rasakan saat ini, karena Langi selalu bercerita padanya.


"gue tau Ngit. yang gue katakan tadi adalah apa yang ada di pikiran Senja. coba saja lo ada di posisi dia, pasti pikiran lo kayak gitu juga." ujar Dylan, pria itu berjalan menghampiri sahabat nya yang duduk di sisi ranjang dan menepuk pundak Langit.


"tadi gue udah ketemu Alya."


"gue nggak peduli lo bertemu dengan wanita mana pun. gue bener bener lagi nggak mood denger curhatan lo." Langit menepis tangan Dylan yang masih bertengger di pundak nya. "gue cuma mau Senja Lan." lanjut nya, dengan suara yang begitu lirih.


"Alya itu sahabat Senja Ngit, satu satunya orang yang tahu segalanya tentang Senja."


Langit seketika mengangkat kepalanya yang dari tadi tertunduk. "itu berarti lo ketemu istri juga."


***Bersambung...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


HAPPY READING 😊***

__ADS_1


__ADS_2