Langit Senja

Langit Senja
Merubah Suasana Hati


__ADS_3

Kepala Senja rasanya ingin meledak ketika pagi-pagi saat ia baru tiba di kantor dan salah satu desainer mendatangi dirinya. Menyampaikan kabar buruk yang sangat berdampak pada usahanya.


"Bagaimana bisa?!" Senja membanting iPad yang desainernya tunjukan keatas meja. Memijat kepalanya yang ia rasa mendidih dan siap memuntahkan segala isinya.


Merek lokal saingan mereka meluncurkan produk terbaru. Dan desain pakaian yang baru semalam saingannya luncurkan sama persis dengan desain yang akan mereka luncurkan untuk bulan depan.


Dan hal yang semakin membuat Senja frustasi adalah, ruang produksi sudah memotong kain sesuai pola dalam jumlah yang tidak sedikit. Tapi mereka tidak mungkin meluncurkan produk yang sama yang membuat mereka harus menanggung kerugian yang cukup besar.


"Kakak sudah lihat feed ig kita?" Senja memang menolak di panggil ibu karena perbedaan usia mereka yang tidak terlalu jauh.


Senja mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Dahinya mengernyit menatap bawahannya itu. "Feed? apa hubungannya?"


Semenjak Jingga yang memegang penuh untuk semua sosial media, Senja tidak pernah lagi mengurusi masalah itu. Ada banyak pekerjaan yang lebih penting untuk ia lakukan.


Menjawab dengan gerakan, desainer yang bernama Dea itu membuka salah satu media sosia milik perusahaan dan menunjukan isi didalamnya yang seketika membuat Senja tercengang dengan menutup mulutnya menggunakan kedua tangan.


"Si-siapa yang upload?"


Dea menggeleng. Foto itu sudah di upload seminggu yang lalu. Bagi orang yang tidak teliti, mereka hanya akan melihat kumpulan orang yang tengah meeting. Tapi untuk orang yang mengamati tiap detailnya, background dibelakang mereka adalah contoh desain yang ditampilkan melalui projektor. Desain yang akan mereka luncurkan bulan depan dan kini hanya menjadi angan.


"Tapi Jingga nggak sebodoh itu." Senja mengenal Jingga. Meski sahabatnya itu terkesan lambat dalam berpikir, tapi Jingga tahu mana batasan antara boleh dan tidak boleh. Apalagi ini menyangkut kerugian perusahaan.


"Kami memang tidak menuduh kak Jingga. Tapi yang mengambil foto hanya dia kak." Dea mencicit di akhir. "Sebenarnya ada bagusnya juga, sebagai bukti kita untuk menuntut mereka. Karena dilihat dari tanggal kita lebih dulu upload dibanding mereka launcing produk."


Senja menggeleng. "Itu nggak bisa kita jadiin bukti. Karena mereka sudah berani mengambil resiko dengan mencuri ide desain kita, mereka juga pasti sudah menyiapkan berbagai skenario untuk memanipulasi fakta."


"Lalu kita harus bagaimana kak? kain yang sudah terpotong akan sia-sia."


Senja menjawab dengan helaan. "Meski kain yang mereka gunakan tidak sebagus milik kita, tapi tetap saja kostomer akan memilih mereka sebagai yang pertama dan harga yang lebih terjangkau. Kita nggak mungkin nurunin harga demi bisa seimbang dengan mereka. Semua kerja keras kita akan sia-sia untuk menutupi kerugian itu."


Senja mengetukan kuku-kukunya diatas meja. Berpikir mencari jalan keluar terbaik dan tidak merugikan. Tanpa harus menjual kain yang mereka dapatkan secara import dengan kualitas terbaik.


"Kamu sudah stop bagian produksi?"

__ADS_1


"Sudah kak."


"Kamu boleh keluar. Biar nanti aku pikirkan jalan keluarnya."


Dea mengangguk dan pamit undur diri. Meninggalkan Senja dengan segala keruwetan didalam kepalanya.


"Ini yang harus tanggung jawab malah nggak balik-balik liburannya." gerutu Senja mengutuk Jingga yang hanya izin empat hari tapi belum juga kembali setelah satu minggu.


***


Senja hanya bertahan hingga jam makan siang. Suasana hatinya tak mendukung untuk melanjutkan pekerjaan. Segala sesuatu yang ia lakukan terasa salah dan tidak benar.


Desain yang sudah mendekati deadline pun seakan tak tergambar di otaknya untuk ia buat seperti apa. Tangannya tak selincah biasa dalam mendesain.


Menyerah. Senja memilih menemui suaminya untuk ia ajak makan siang bersama. Tapi sayang. Ketika sampai di kantor, ternyata suaminya tengah makan siang dengan klient yang di lanjut meeting.


"Ibu diminta menunggu di ruangan bapak.. Sudah dipesankan makan siang juga untuk menemani ibu menunggu." begitu kata sekretaris Baskara ketika menghubungi suaminya.


Melihat-lihat sosial media milik usahanya. Kadang tersenyum ketika ada yang memuji produknya. Kadang juga helaan napasnya terdengar ketika membaca komen yang menganggap harga yang ia jual terlalu tinggi di banding merek lain.


Padahal ia sudah memperhitungkan semuanya. Harga yang ia jual juga sebanding dengan desain dan juga bahan yang ia gunakan.


"Kenapa belum dimakan?"


Suara yang begitu familiar membawa Senja mendongak dari layar gawainya. Membalas senyum sang suami yang bergabung duduk disebelahnya setelah melepas jas yang dikenakan.


"Kenapa belum dimakan sayang?" ulang Baskara. Kali ini dengan kecupan di pelipisnya.


"Males makan sendiri mas."


"Tapi aku udah makan. Kalau aku suapin aja gimana?" tawar Baskara yang langsung dijawab anggukan antusias.


Sesuap demi sesuap ditelan Senja. Tak tergambar yang katanya malas makan. Bahkan ia sampai tak sadar jika makanan dalam piring sudah berpindah semua kedalam perutnya.

__ADS_1


"Jadi kenapa nyonya Baskara yang katanya lagi banyak kerjaan tapi malah duduk malas-malasan di kantor orang tanpa bilang-bilang?"


Baskara tahu ada alasan kenapa istrinya berada disana. Terlebih ketika ia memasuki ruangan tadi, raut wajah istrinya terlihat sekali tertekan dengan masalah.


Tapi Baskara tidak berani bertanya ketika tengah menyuapi istrinya makan. Tidak ingin menghilangkan selera makan Senja.


"Vogi terancam rugi besar." ucap Senja dengan lesu. Tak ada lagi semangat dan senyum yang sebelumnya hadir untuk sang suami.


"Kok bisa?" Baskara tentu terkejut. Senja memiliki staf profesional yang diambil dari Kaisar Grup. Jadi bisa sampai ada kerugian terlebih lagi besar, menjadi hal yang sulit dipercaya.


Tapi kemudian Baskara mengerti setelah istrinya menceritakan detail dari masalah yang membawa kerugian itu.


"Harus aku apain kainnya, mas?" keluh Senja dengan mata berkaca. Bukan hanya karena kerugian yang ia tanggung. Tapi kekecewaan karyawannya yang sudah membuat desain selama berminggu-minggu tapi harus berakhir ikhlas diambil orang lain. Menjadi beban terbesar di hati Senja.


"Kalau desainnya dirubah sedikit bisa nggak? yang sekiranya masih bisa menggunakan kain yang udah di potong itu?"


"Aku udah coba rubah tadi. Tapi yang ada kesel sendiri karena nggak nemu yang pas." keluh Senja dengan bersandar didada bidang Baskara.


"Kalau kamu nyobanya saat hati dan emosi kamu lagi nggak baik, kamu juga nggak akan bisa ngerjain dengan baik sayang.. Tenangin dulu pikiran kamu, dinginin dulu emosi kamu, bawa happy dulu hatinya." usapan-usapan lembut sang suami terasa menenangkan di kepalanya.


"Gimana caranya?"


"Mm.." Baskara barpikir apa yang sekiranya bisa meredam emosi sang istri dan bisa membuatnya senang.


"Nggak mungkin keluar kota, besok aku ada meeting. Jadi gimana kalau jalan-jalan ke mall aja?"


Senja tak perlu berpikir untuk menjawab. Ia langsung mengangguk menyetujui ajakan suaminya. Karena dari semua ajakan jalan-jalan suaminya, tak pernah berakhir dengan mengecewakan.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2