Langit Senja

Langit Senja
SIM (Surat Izin Menikah)


__ADS_3

Senja terbangun begitu ada pergerakan yang menyentuh tubuhnya. Ketika gadis yang semalaman demam tinggi itu membuka mata dengan kepala berdenyut nyeri. Yang pertama ia lihat adalah sang ibu yang tengah memeriksa kondisinya.


"Maah.." panggilnya lirih.


Tiara tersenyum dengan jari yang ditempelkan ke bibir. "Ssttt.. Babas belum lama tidur. Kasihan jangan berisik." bisiknya dengan tangan yang berpindah mengelus lembut kepala putrinya.


Senja mengernyit dan menatap sisi tempat tidurnya yang lain. Dimana kepala seorang pria bersandar pada tempat tidur dan menggenggam tangannya.


"Dari kapan?" balas Senja sama berbisik.


"Semalam adek demamnya tinggi. Bunda Pricilla yang periksa dan infus adek. Kata papa, Babas tinggal buat jagain adek semalaman dan nggak tidur. Baru tidur belum lama sebelum mama pulang." jawab Tiara dengan tangan yang bergerak melepas jarum infus ditangan sang putri. Karena kondisi Senja sudah lebih baik. Meski masih sedikit panas, namun tidak lagi mengkhawatirkan.


"Kok mama udah pulang?" Senja melihat jam diatas nakas yang baru menunjukan pukul lima pagi. Biasanya jam piket ibunya akan berakhir pukul tujuh atau delapan pagi.


"Mama nggak tenang adek sakit begini. Lagian nggak ada pasien mama yang di ruang ICU. Jadi bisa ditinggal sebentar sebelum yang menggantikan mama datang." jawab Tiara membereskan bekas infus. "Tapi karena sekarang adek sudah baikan. Mama mau tidur dulu sebentar ya sayang?" imbuhnya seraya menguap dan langsung Senja angguki.


Setelah sang ibu pamit untuk istirahat, tangan Senja yang bebas dari genggaman Baskara bergerak menyentuh rambut lembut pemuda itu. Ia cukup tersentuh tapi juga merasa kasihan pada Baskara yang tidak tidur semalaman untuk menjaganya. Ia jadi merasa bersalah beberapa hari ini mengabaikan pemuda itu.


Bukannya ia tak tahu Baskara yang setiap malam menunggunya didekat kolam yang ada dibawah kamarnya. Ia tahu selama ia belum tidur, selama itu pula Baskara menemaninya dari jauh.


Security rumah yang memberitahunya. Memberitahu bahwa Baskara akan berpindah ke dekat kolam ketika sudah di usir oleh orang tuanya untuk pulang.


Sebenarnya Senja juga ingin sekali menemui Baskara. Memarahi pemuda itu yang bertindak membahayakan dirinya sendiri.


Pasti angin malam diluar sana sangat dingin dan tidak baik untuk kesehatan. Tapi sayangnya Senja tidak berani menemui Baskara karena belum siap untuk memberi jawaban atas lamaran pemuda itu.


Jahat memang. Ia menggantungkan Baskara selama berminggu-minggu. Seakan ia tak menghargai apa yang sudah Baskara lakukan untuknya.


Ditengah kegiatannya memainkan rambut Baskara. Pemuda itu menguap lebar dan membuka matanya. Dan secara otomatis Senja menjauhkan tangannya.


Senyum Baskara mengembang begitu mendapati Senja sudah membuka matanya dan terlihat lebih baik tak sepucat mayat hidup. Tangannya bergerak kedahi Senja. Memeriksa suhu gadis itu yang sudah tidak lagi diinfus.


"Akhirnya cantikku udah nggak demam." ucap Baskara dengan binar yang tulus melihat kesembuhan gadisnya.

__ADS_1


Senja tersipu dalam hati melihat Baskara yang begitu bahagia. "Demam doang elah.. Kayak gue nggak pernah sakit aja." jawabnya datar. Menyembunyikan rasa dalam hatinya.


Baskara membantu gadis itu yang beranjak untuk duduk. Menyimpan bantal senyaman mungkin dibelakang punggung gadisnya.


"Tapi tetap aja gue khawatir. Tapi syukurlah lo udah sehat sekarang." Baskara kembali meraih tangan Senja untuk ia genggam. Mengusapnya lembut memberi kehangatan yang menjalar hingga hati Senja. "Ngomong-ngomong, Ja?"


"Hem?"


"Ini maksudnya lo udah nerima lamaran gue?"


Senja tertegun dan menatap jari dimana tersemat cincin berlian yang tengah Baskara usap. Ia gelagapan sendiri. Bingung akan menjawab apa.


"Bu-bukan kok!" sangkalnya dengan menyentak tangannya agar terbebas dari genggaman Baskara.


"Jangan bohong sayaaaang." goda Baskara dengan suara mendayu. "Itu cincin gue pesan khusus dari perancang berlian di NY. Didalamnya ada tanggal lahir kita."


"Ohya?" tanya Senja tak percaya. Ia bahkan tidak sadar jika cincin itu ada ukiran didalamnya.


Dengan penasaran, Senja melepas cincin untuk melihat apakah yang dikatakan Baskara tidak bohong.


"Sekarang lo nggak bisa nyangkal lagi! jadi maksudnya apa?" desak Baskara yang sudah menunggu sejak semalam untuk mengetahui apa yang ia tidak ketahui.


"E-enggak ada maksud apa-apa. Gue cuma nyoba aja kemarin." Senja menatap kemana saja asal bukan pada wajah milik pemuda yang kini duduk di depannya.


"Masa?" godanya semakin menjadi. "Kok ngeliat gelagat lo yang salah tingkah gini, bikin gue makin yakin kalau lo udah nerima lamaran gue, AKHH!" ia yang awalnya menggoda kini memekik ketika sebuh tangan menarik telinganya.


"Papa sudah bilang. Kamu boleh tanya tapi nanti kalau Senja sudah sehat!" tangan Alvaro terus menarik telinga Baskara hingga pemuda yang mengaduh kesakitan dan meminta tolong untuk dilepaksan itu berdiri.


"Bas penasaran, Pah?" rengeknya sembari mengusap telinganya yang serasa hampir putus dan memerah.


"Biarkan Senja tenang dulu! biar dia sehat dulu! kalau kamu yang maksa terus seperti ini. Lama-lama malah papa yang nggak kasih restu!"


Bola mata Baskara membulat. Pemuda itu menggeleng dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Jangan pah! Bas janji nggak akan maksa Senja buat jawab. Tapi jangan cabut surat ijin menikahi anak gadis papa ini."

__ADS_1


Senja hanya bisa menggeleng dan terkekeh melihat kelakuan ayah dan sahabatnya itu.


"Ya sudah. Papa nggak akan cabut restu papa." ucap Alvaro melegakan hati Baskara. "Tapi sekarang kamu lebih baik pulang dan tidur! kesini lagi kalau kamu sudah cukup istirahat."


Baskara menggeleng dan kembali duduk di dekat Senja. "Aku mau disini aja pah, jagain calon istri aku."


"Cih. Calon istri!" cibir Alvaro. "Dia masih putri papa. Biar papa yang jagain!"


Baskara sudah akan membantah tapi perkataan Senja menghentikannya. "Benar kata papa. Lo lebih baik pulang dulu, Bas. Jangan sampai setelah gue sembuh malah elo yang sakit."


Dengan wajah tertunduk lesu, Baskara berjalan lunglai menuju pintu kamar Senja.


"Bas." panggil Senja sebelum sahabatnya itu hilang di telan pintu. Tak tega membiarkan Baskara menunggu terlalu lama, Senja kemudian berucap.


"Jangan sampai telat di hari pernikahan kita, bulan depan." ucapnya malu-malu. "Kalau lo sampai telat apa lagi nggak datang. Jangan harap gue bakal kasih kesempatan kedua." imbuhnya.


Baskara mematung. Seluruh sendinya seakan tak berfungsi lagi hanya untuk sekedar berjalan menghampiri gadisnya dan memeluk erat.


Padahal ia sudah mempersiapkan diri dengan apa pun jawaban yang akan Senja berikan padanya. Namun nyatanya ia tak bisa bereaksi apa pun selain terpaku ditempat.


Dadanya membuncah berkali-kali lipat dibanding semalam saat ia tahu Senja telah mengenakan cincin yang ia gunakan untuk melamar gadis itu.


Sepertinya banyak kupu-kupu yang memenuhi perutnya. Ia sungguh sangat merasa bahagia. Ini adalah hal yang paling membahagiakan yang pernah ia rasakan.


Tak pernah ada rasa yang sama. Tak pernah ada bahagia sebahagia yang ia rasakan saat ini.


Senja. Dia. Benar. Akan. Menjadi. Istrinya. Menemani. Ia. Hingga. Menua. Dan. Bahagia. Bersama.


"SENJA BENAR MENJADI MILIKNYA!!" Baskara bahkan hanya mampu menjerit dalam hati. Kali ini lidahnya teramat kelu hanya untuk sekedar bertanya 'serius?'. Ia terlalu bahagia. Dan Baskara harap, kebahagiaan ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka kedepannya.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2