Langit Senja

Langit Senja
Dilema Orang Tua 2


__ADS_3

"Daddy pulaaaang..."


Anna langsung meninggalkan mainannya begitu mendengar suara ayahnya. Berlari dengan tergesa seakan mereka sudah lama tidak berjumpa.


Senja hanya bisa menggeleng melihat tingkah putrinya. Menggandeng tangan Kaisar untuk ikut bergabung dengan ayah dan anak yang tengah berpelukan di ruang keluarga.


"Tumben, mas, masih siang udah pulang?" Senja membantu suaminya melepas jas dan mengambil tas yang tergeletak diatas sofa. Meminta pekerja rumah tangga mereka untuk membawanya ke kamar. "Apa karena merasa bersalah habis kencan?"


Baskara terkekeh dan mencium dahi istrinya. "Senengnya ada yang cemburu. Besok-besok kencan lagi ah biar dicemburuin." godanya.


Cubitan keras diperut membuat Baskara mengaduh dan meminta ampun. "Berani kamu jalan sama perempuan lagi? aku tinggal pulang kerumah papa!"


Anna sudah ingin membantu sang ayah dari siksaan ibunya, tapi tangannya dicekal oleh Kaisar yang menggeleng padanya.


"Ampun.. Ampun sayang.." Baskara memegang tangan istrinya yang masih mencubitnya kuat. "Mana berani aku ninggalin berlian ini demi debu jalanan."


Senja masih meliriknya tajam sebelum melepaskan jemari dari perut sang suami.


"Aku pulang ingin main sama anak-anak." imbuh Baskara yang mengambil paperbag yang juga ada diatas sofa. "Lihat, apa yang daddy bawa? Taraaa." menyerahkan pada anak-anak mereka, masing-masing satu mainan. Anna berseru antusias begitu juga dengan Kaisar yang meski tidak heboh seperti kakaknya, tapi raut bahagia terlihat jelas diwajah polosnya.


"Kalo ngikutin kerjaan, nggak akan pernah ada habisnya sayang." Baskara mendekat kearah sang istri. Merangkul pinggang Senja yang sudah duduk. Meninggalkan kedua buah hati mereka yang tengah sibuk membuka mainan yang Baskara minta untuk dibungkus kado. "Tapi waktu anak-anak akan habis. Tau-tau mereka udah besar dan kita akan menyesal karena melewatkan masa anak-anak mereka."


Tatapan Senja berubah sendu. Apa yang suaminya katakan memang sepenuhnya benar. Mereka tidak dapat mengulang waktu dimana anak-anak masih menggemaskan seperti saat ini. Masih membutuhkan perhatian mereka. Masih mau untuk mereka cium tanpa protes karena malu sudah besar seperti dirinya dulu.


Waktu yang mereka miliki hanya akhir pekan yang tak jarang juga masih digunakan untuk bekerja di rumah. Setiap malam setelah bekerja, mereka hanya memiliki waktu sedikit sebelum anak-anak tidur setelah makan malam.


"Walaupun kita nggak bisa setiap hari pulang cepat seperti ini. Seenggaknya, kita bisa ngeluangin waktu saat sempat." kali ini Baskara benar-benar memeluk istrinya dari samping.


"Kamu benar mas. Harusnya aku sebagai ibu yang harus lebih banyak ngeluangin waktu buat mereka." sesal Senja. Ia berjanji dalam hati, ketika tempat baru sudah finish, ia akan lebih banyak bekerja dari rumah. Setidaknya bisa menjemput anak-anak pulang sekolah dan bermain bersama mereka sebelum keduanya tidur siang. "Nanti aku banyakin kerja dirumah, deh."


"Nggak perlu dipaksain, sesempatnya kamu aja, ayy."

__ADS_1


"Daddy.. Ini apa?" seru Anna menjauhkan mainan yang Baskara belikan. "Anna nggak suka! Anna nggak mau adik bayi!"


Senja menatap suaminya dan menggelengkan kepala. Sudah tahu putri mereka paling tidak ingin memiliki adik. Bisa-bisanya suaminya membelikan boneka baby reborn.


"Ini kan lucu, sayang." Baskara mengambil boneka yang sangat menyerupai bayi itu dan berlutut didepan anaknya. "Anna bisa main bayi-bayian. Anna mandiin, Anna kasih susu. Anna pakaikan baju kaya barbie Anna."


Anna menggeleng. "Barbie Anna cantik. Ini nggak cantik."


"Tapi lucu." sahut Kaisar mengambil boneka ditangan sang ayah. "Mirip kamu pas bayi."


Gadis kecil itu berkacak pinggang. "Aku cantik! nggak jelek seperti dia!" Anna sudah akan membuang boneka ditangan adiknya ketika suara ibunya terdengar.


"Anna. Nggak boleh kasar sayang.." interupsi Senja dengan lembut dan membawa putrinya kehadapannya. Menatap mata kecil yang jernih itu.Mata yang terlihat sangat indah ketika berbinar bahagia. "Bagaimana perasaan Anna kalau teman-teman Anna nggak mau main dengan Anna?"


"Anna akan sedih, mom." jawab Anna dengan sisa-sisa kekesalannya.


"Itu juga yang dirasakan sama boneka yang daddy beli. Dia akan sedih karena Anna berteriak tidak suka sama dia. Anna nggak mau main sama dia. Apa lagi kalau Anna melempar dia. Dia pasti sangat sedih."


"Tapi Anna nggak suka, mom." cicitnya. "Anna nggak mau adik bayi."


"Itu kan bukan adik bayi. Itu hanya boneka untuk menemani Anna bermain." Senja bawa tubuh kecil putrinya yang menunduk sedih kedalam pelukan.


"Tapi nanti daddy bawa adik bayi yang hidup kalau Anna suka sama boneka itu." mata dan hidung Anna mulai memerah. Anak itu sangat sensitif jika menyangkut adik bayi.


"Mommy nggak akan memaksa Anna untuk menjadi kakak dari adik bayi." ujar Senja masih dengan kelembutannya. "Kalau Anna tidak mau, mommy sama daddy tidak akan memberi Anna adik bayi, sayang."


Anna melepas pelukan mereka untuk menatap wajah ibunya. "Mommy janji?"


Senja mengangguk dengan tersenyum. "Mommy janji." sahutnya. "Sekarang, bilang terimakasih sama daddy dan jaga baik-baik mainannya."


Anna mengusap matanya yang sudah berkaca. Tidak jadi menumpahkan tangisnya.

__ADS_1


Dari pelukan sang ibu, Anna beralih memeluk dan mencium pipi ayahnya. "Thankyou daddy.. Anna janji akan bermain dengan baby Elika."


"Elika?" beo Baskara dan Senja bersamaan.


Putri mereka mengangguk dan menunjuk boneka yang kini tengah Kai beri botol susu kosong.


"Namanya Elika. Eliana dan Kaisar."


Kedua orang dewasa itu tertawa. Setelah menolak keras, Anna justru sudah menyiapkan nama untuk boneka itu.


Memang kebiasaan gadis kecil itu untuk memberi nama pada setiap boneka yang ia miliki.


"Tapi Kai mau adik, mom." ucap Kaisar tanpa disangka. "Ini lucu." imbuhnya terlihat gemas dengan mainan baru kakaknya.


"Kenapa kamu selalu nggak kompak!" seru Anna kembali berkacak pinggang dan terlihat galak. Persis Senja saat masih bar-bar.


"Kenapa? ini memang lucu." Kaisar menatap Anna bingung. "Apa lagi kalau hidup dan bergerak-gerak. Pasti lebih lucu."


Anna berdecak. "Kamu nggak tahu, Kai!" protes gadis itu. "Nanti kalau mommy dan daddy memiliki adik bayi, kita tidak akan disayang lagi. Sama seperti Jiel saat adiknya dibawa pulang." Anna menyebut nama salah satu temannya disekolah yang memiliki adik bayi.


"Kata Jiel, mama dan papanya lebih sering menggendong adik bayinya! apa lagi kalau adiknya menangis. Jiel meminta makan saja tidak didengar dan hanya ditemani suster. Pokoknya aku nggak mau!"


Anna kembali memeluk Baskara. "Anna ingin selalu daddy gendong! daddy nggak boleh gendong yang lain! Anna juga ingin bermain dengan mommy dan daddy. Ingin ditemani tidur dengan dibacakan dongeng atau menyanyi seperti biasa." ungkap gadis kecil itu yang tak tahu harus Baskara jawab apa.


"Anna tidak ingin seperti Jiel yang sedih karena mama dan papanya tidak bisa menemaninya bermain dan harus tidur sendiri, dad. Anna ingin selalu seperti ini. Dengan mommy, daddy, Kai. Selalu berempat."


Dari penuturan sang putri, membuat Senja semakin yakin untuk memutuskan bekerja dari rumah setelah kondusif nanti.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2