
Baskara begitu antusias melakukan apa saja yang tersisa dari persiapan untuk pernikahan mereka.
Melakukan fitting baju. Membuat daftar siapa saja yang ingin ia undang. Mengecek gedung, catering, dan bertemu WO yang orang tuanya sewa untuk menanyakan sudah sejauh mana persiapan.
Ia begitu sibuk hingga bahkan jarang bertemu Senja. Baskara sibuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Meminta doa restu langsung ke sanak saudara terutama omanya. "Kamu yakin akan menikah di usiamu yang belum matang ini?" oma terlihat tidak suka dengan keputusan sang cucu. Lebih tidak suka lagi ketika anak dan menantunya tidak meminta pendapatnya terlebih dahulu dalam mengambil keputusan.
"Kamu masih terlalu muda, Baskara! tugas kamu hanya kuliah yang baik dan menggantikan posisi kakekmu yang tak ingin ayahmu gantikan! kamu harapan oma satu-satunya sebagai penerus keluarga Lazuardi! cucu oma satu-satunya!"
Baskara tak gentar. Ia sudah dengan susah payah melamar Senja. Menunggu gadis itu hingga mau menerimanya. Jadi ia tidak mungkin mundur begitu saja hanya karena ibu dari ayahnya menentang keputusannya.
"Baskara akan tetap kuliah, oma." sopan santun tetap ia jaga. Berbeda jika ia tengah berhadapan dengan keluarga ibunya yang lebih santai. Keluarga sang ayah sangat keras dan harus penuh dengan tatakrama.
"Baskara janji akan lulus kuliah dengan baik dan meneruskan perusahaan yang Almarhum kakek wariskan untuk ayah." ia tak hanya datang seorang diri. Tentu saja dengan kedua orang tua yang menemaninya. Tapi keduanya tak berani angkat suara karena itu hanya akan semakin membuat oma marah. "Tapi nanti! setelah Baskara mampu dan Baskara pantas untuk menjabat sebagai seorang CEO."
"Kalau begitu, kamu tidak boleh menikah! Kecuali kamu mau terjun langsung di bisnis yang dibangun kakekmu dengan susah payah!"
Kakeknya adalah seorang pengusaha batu bara. Namun sang ayah yang ingin menyelamatkan banyak nyawa memilih menjadi seorang dokter.
Kakek tidak pernah melarang apa pun keputusan ayahnya. Bahkan kakek membangun beberapa rumah sakit untuk ayah kelola.
Tapi Oma tidak pernah satu pemikiran dengan sang kakek. Oma lebih tegas dan keras. Apa yang beliau mau, harus dituruti.
"Oma kan dulu sudah janji sama, Bas. Kalau Bas boleh menentukan masa depan Bas sendiri sampai umur Bas 35 tahu. Dan Bas menyanggupi di usia itu untuk meneruskan usaha kakek. Jadi oma nggak bisa melarang seperti itu."
"Ini semua demi kebaikan kamu, Baskara!!"
"Kebaikan Baskara adalah menjalani apa yang Bas suka. Dan Bas nggak suka oma ngelarang Bas seperti ini! dengan atau tanpa restu dari oma, pernikahan Bas akan tetap terlaksana."
Pemuda itu melenggang pergi meninggalkan rumah megah milik keluarga Lazuardi. Tak peduli jika nanti oma menganggapnya cucu durhaka atau tak berguna. Ini adalah pertama kalinya ia menentang sang oma.
Ia hanya menginginkan Senja saat ini. Ia akan memperjuangkan gadis itu hingga akhir.
Mungkin orang tuanya bisa diam saja ketika oma sudah angkat bicara. Tapi tidak dengannya.
Ia sudah dewasa. Mampu dan berhak menentukan keputusannya sendiri. Apalagi ketika kedua orang tuanya saja memberikan restu.
***
"Yeaaayy!" sorak Senja begitu gaun yang ia buat telah selesai dan siap pakai di hari pernikahannya nanti. Gaun impian yang akan menjadi saksi bisu ikrar pernikahannya dengan Baskara.
__ADS_1
Tak menyangka jika cinta pertamanya yang tak berbalas dulu justru akan menjadi cinta terakhir dalam hidupnya.
Senja melempar tubuhnya di kasur empuk miliknya. Memejamkan mata menghilangkan lelah setelah melakukan finishing.
Satu bulan lebih ia curahkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk membuat gaun itu. Tapi rasa lelahnya terbayar dengan melihat hasil akhirnya.
Ting.
Senja meraih ponsel di atas nakas yang berbunyi tanda ada pesan masuk.
Senyumnya mengembang begitu melihat nama pengirim.
BASo Jelek.
Lagi apa cantik?
^^^Lagi tiduran aja. Baru nyelesein gaun.^^^
Waah udah jadi? mau liaaat (emot puppieyes)
^^^Gak boleh! nanti aja di hari-H.^^^
^^^Waktu itu kan udah lihat.^^^
Tapi nggak papa. Biar nanti pangling lihatnya.
^^^Lagi dimana? ^^^
^^^udah ketemu WO-nya?^^^
Lagi jalan ke rumah calon istri.
Tunggu ya, bentar lagi sampai.
Baskara memang ada di minimarket depan perumahan mereka. Menenangkan diri setelah perdebatannya dengan sang oma.
Sepertinya melihat senyum Senja bisa membuat hatinya yang tengah buruk menjadi lebih baik. Lagi pula ia juga rindu dengan calon istrinya itu.
Sudah hampir satu minggu mereka tidak bertemu. Itu pun waktu itu bertemu sebentar hanya untuk menulis list undangan yang dibutuhkan WO karena undangan milik mereka sudah jadi. Tingga menunggu nama dan alamat yang di undang.
Mobil melaju pelan menyusuri jalanan komplek. Banyak anak-anak berlarian bermanin bersama ditemani ibu atau suster mereka.
__ADS_1
Melihat anak laki-laki sekecil Sisi membuatnya ingin cepat-cepat menikah dan memilikinya sendiri.
Sepertinya akan menyenangkan jika anak pertama mereka nanti laki-laki. Biasa ia ajak mabar ketika sudah lebih besar.
Baskara tersenyum malu dengan pemikirannya sendiri. Menikah saja belum sudah membayangkan akan memiliki anak. Bisa-bisa Senja lari ketakutan.
Rumah Senja masih sepi. Kedua calon mertuanya tentu saja masih bekerja. Begitu juga dengan Farri. Sedangkan Jingga ia lihat ada di taman tadi dengan Sisi dan seorang suster.
Beberapa kali memencet bell, pintu baru terbuka. Menampilkan gadis yang beberapa hari ini sudah ia rindukan.
"Cepet amat? dari mana emang?" tak menyangka Baskara akan secepat itu sampai di rumahnya.
Senja bahkan tak sempat mengganti pakaiannya. Ia hanya memakai celana diatas lutus serta kaos oblong dengan rambut di cepol asal. Benar-benar bukan dandanan yang pas untuk menyambut calon suami yang beberapa hari tak bertemu.
"Tadi lagi di minimarket depan, makanya cepet." pemuda itu menyerahkan kantung plastik berisi ice krim coklat vanilla kesukaan Senja. Ada juga beberapa softdrink dan cemilan untuk menemani mereka.
Senja mempersilahkan Baskara untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Gadis itu sendiri duduk tak jauh dari Baskara yang bangkir untuk menutup kaki Senja yang terekspos denga jaket miliknya. Senja sendiri sudah sibuk membuka bungkus ice krim yang datang di waktu yang tepat. Tepat ketika ia tengah merasa lelah.
"Ja?"
"Hm." jawab Senja masih sibuk dengan ice krimnya.
"Kata orang, lima tahun pertama pernikahan adalah ujian. Apa pun ujian kita nanti, janji sama aku kalau kamu akan selalu mendampingi aku dan nggak akan ninggalin aku."
Barulah atensi Senja beralih pada Baskara ketika mendengar obrolan kali ini cukup serius.
"Gue nerima lamaran lo. Gue siap nikah sama lo. Berarti gue harus siap dengan segala konsekuensinya." jawab Senja yang mulai membersihkan mulutnya dengan tisu yang Baskara sodorkan. "Dan gue udah mikirin itu semua mateng-mateng kok. Jadi jangan takut gue bakal ninggalin lo gara-gara masalah yang mungkin sepele."
Baskara tersenyum senang mendengarnya. Kini ia memiliki kekuatan lebih untuk memperjuangkan gadis itu.
Obrolan berlanjut dengan yang lebih ringan. Entah persiapan pernikahan atau hal lain yang membuat keduanya tertawa ditemani cahaya senja yang menerobos masuk membiaskan cahayanya.
*
*
*
Buat yang merasa belum dapat undangan, cek lagi bab kemarin. Ada kok undangan di bagian bawah.
Buat dres code-nya kita pakai warna pastel. oke gaes..
__ADS_1
Ditunggu kehadirannyaa.... muehehehe